Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Semangat Sepasang Kakek dan Nenek Sakti


__ADS_3

Cakra Buana tidak mengejar Ki Ragen Denta dan Iblis Pengejar Nyawa sebab keduanya langsung menghilang begitu saja. Selain itu, dia juga mengkhawatirkan kondisi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti yang kini semakin melemah.


Kedua orang tua itu terlihat terus menahan rasa sakitnya, darah tak henti-hentinya keluar.


Cakra Buana segera menghampiri mereka setelah dipastikan bahwa situasi aman.


"Kakek dan nenek, bertahanlah. Aku akan membantu kalian sekuat tenaga," kata Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon itu membaringkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti di tanah. Dia langsung menyalurkan hawa murni ke tubuh kedua orang tua tersebut.


Ada hawa hangat yang mulai merasuki tubuh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Perlahan tapi pasti, rasa sakit yang mereka rasakan mulai berkurang.


Kedua orang tua itu sudah merasa mendingan. Tapi mereka belum berani membuka matanya, karena Cakra Buana belum selesai. Sekitar lima belas menit menyalurkan hawa murni, Cakra Buana baru mengangkat kembali tangannya yang daritadi menempel di dada.


Dia sendiri langsung bersemedi untuk kembali mengumpulkan tenaga dalam. Sepuluh menit kemudian, Cakra Buana sudah selesai. Berbarengan dengan itu, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti pun sudah duduk berdampingan.


"Ah … kakek dan nenek sudah sadar. Mohon maaf karena aku sudah berlaku kurang ajar," kata Cakra Buana sambil memberi hormat.


"Aishhh … tidak … tidak. Justru kau sudah menolong kami, kalau kau tidak ada, mungkin sekarang kami sudah tewas," jawab Kakek Sakti.


"Yang harusnya berterimakasih adalah aku kek. Kalau tadi tidak ada kakek dan nenek, pasti aku sudah tewas daritadi," kata Cakra Buana tak mau kalah.


"Eh sudah, sudah. Yang penting kita sudah sama-sama membantu. Setiap manusia memang harus saling tolong-menolong. Sekarang, katakan siapa namamu anak muda?" tanya Nenek Sakti kepada Cakra Buana.


"Namaku Cakra Buana nek. Aku berasal dari Pasir Maung,"


"Pasir Maung …" Nenek Sakti seperti mengingat-ingat nama tempat tersebut.


"Ah … aku ingat dimana itu Pasir Maung. Tapi, bagaimana bisa kau sampai ke sini? Bukankah jarak Pasir Maung itu sangat jauh dari sini?" tanya Nenek Sakti kebingungan.


"Aku seorang pengembara nek. Belum nama ini aku baru turun gunung kembali karena mendapatkan perintah dari guruku," kata Cakra Buana.

__ADS_1


"Wah, pasti gurumu seorang pendekar yang hebat. Muridnya saja mempunyai kekuatan seperti ini, apalagi gurunya," ucap Kakek Sakti memuji.


"Ah, kakek terlalu berlebihan. Guruku sama saja, semua ini hanyalah kebetulan,"


"Kau memiliki sifat rendah hati anak muda. Bagus, memang seharusnya begitu. Jangan sombong, karena apa yang bisa di sombongkan? Toh semuanya hanyalah titipan semata,"


"Setelah ini, kau akan menuju ke mana?" tanya Nenek Sakti.


"Entahlah nek. Aku sendiri belum tahu pasti. Mungkin aku akan mengembara mengikuti langkah kakiku. Kata guruku, Pasundan saat ini sedang dalam keadaan kacau balau. Maka dari itu aku ditugaskan turun gunung untuk membantu yang membutuhkan," kata Cakra Buana.


"Bagus. Kami setuju, sebagai seorang pendekar, memang itulah yang harus dilakukan. Apa yang dikatakan oleh gurumu memang benar Cakra, saat ini tanah air kita sedang dalam keadaan kacau. Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma tidak mampu memimpin dengan baik, sehingga rakyat dibuat sengsara. Bahkan hampir semua rakyat sudah tidak mau Pasundan di pimpin oleh Prabu Ajiraga. Tapi apa daya? Mereka tak dapat berbuat apa-apa," kata Kakek Sakti.


"Ternyata kondisi Pasundan benar-benar parah. Kalau seperti ini kenyataannya, aku tidak bisa bersantai lagi. Aku harus cepat mendatangi setiap daerah yang tertindas," ujar Cakra Buana penuh tekad.


"Benar. Kami pun sudah bertekad untuk kembali turun gunung. Walaupun sudah lama kami mundur dari dunia persilatan, tapi karena keadaan semakin kacau, terpaksa kami harus mengotori kembali kedua tangan ini," kata Kakek Sakti sambil memandangi dua tangannya.


"Apa yang dikatakan oleh kakang memang benar. Meskipun kami sudah tua renta, tapi kami akam berjuang membela rakyat sampai titik darah penghabisan," Nenek Sakti menimpali ucapan suaminya tersebut.


"Kakek dan nenek benar. Kalau seperti ini, aku menjadi semakin bersemangat. Aku pamit dulu kek, nek," kata Cakra Buana.


"Mau kemana lagi?"


"Seperti yang aku katakan tadi. Aku akan pergi mencari tempat-tempat yang tertindas,"


"Baiklah kalau begitu. Semoga kita berjumpa lagi, Sang Hyang Widhi selalu melindungi orang-orang yang menjaga kebersihan hatinya," ucap Kakek Sakti.


"Terimakasih kek. Sampurasun …" kata Cakra Buana yang langsung pergi dari hutan tersebut.


"Rampes. Pemuda yang luar biasa, aku yakin suatu saat nanti dia akan terkenal di seluruh tanah Pasundan," kata Nenek Sakti sambil memandangi kepergian Cakra Buana.


"Kau benar nyai. Aku pun merasakan demikian. Ada aura berbeda yang terpancar keluar dari dirinya, seolah pemuda itu bukanlah pemuda biasa," ucap Kakek Sakti.

__ADS_1


"Begitulah. Terlebih aura yang terpancar dari pedang pusakanya,"


"Ehhh … sebentar, apakah kau mendengar perkataan orang-orang tentang pedang itu ketika dia bertarung di kadipaten tadi?" tanya Kakek Sakti.


"Iya, aku mendengarnya. Kalau tidak salah, pedang itu adalah Pedang Pusaka Dewa,"


"Ouh …"


"Hahhh … Pe-pedang Pusaka Dewa?" Kakek dan Nenek Sakti berteriak berbarengan sambil saling pandang.


Keduanya baru ingat akan hal tersebut.


"Kakang, bukankah Pedang Pusaka Dewa adalah lambang kajayaan (kejayaan)?"


"Benar. Berarti kalau begitu, pemuda tadi dalam bahaya. Nyai, ayo kita pergi dari sini," ajak Kakek Sakti.


Si Nenek Sakti mengangguk. Tanpa banyak cakap lagi, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti langsung pergi dari tempat tersebut. Entah ke mana. Mereka hilang dari pandangan ditelan gelapnya malam.


###


Btw, kalau cerita ini jarang ada sisi romantis mohon maaf ya, karena cerita ini mirip cersil jadul.


Sebuah perjuangan, jadi kalau masalah percintaan akan sedikit. Tapi tetep ada, cuma tidak banyak seperti fantasi umumnya.


O iya, kalau masalah pertarungan banyak ini itu mohon maaf ya. Karena ini cersil, bukan xianxia. Pertarungan yang terjadi memang lebih mirip ke dunia nyata.


Kecuali ada beberapa ajian yang memang berkekuatan besar, tapi itu juga konon katanya ada di zaman dahulu kala.


Author menjelaskan gerakan pertarungan supaya pembaca lebih bisa membayangkan dan tidak berimajinasi liar. Coba deh sesekali baca cersil karya penulis ternama zaman dulu, kurang lebihnya mungkin seperti ini😁


Jadi yang kurang suka, mohon maaf ya hehe🙏

__ADS_1


__ADS_2