
Kelebatan tangan mulai menyambar tubuh Cakra Buana dengan sangat ganas. Bahkan kesiur angin tajam pun sangat terasa. Sebelum tangan kedua lawannya mengenai tubuh Cakra Buana, Pendekar Maung Kulon itu merasakan adanya hawa panas yang menyerangnya lebih dahulu.
Cakra Buana sudah siap. Dia mengambil langkah dengan gesit. Tepat ketika serangan lawan hampir mengenai tubuhnya, pemuda serba putih itu mengelak dengan cara menggerakkan tubuhnya berputar satu kali ke arah kiri.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Kedua serangan berupa tapak dan kepalan tangan yang di isi tenaga dalam besar pun luput. Cakra Buana langsung bersiap kembali karena pada saat serangan pertamanya gagal, si Golok Setan dan Tapak Maut sudah kembali menggempur Cakra Buana.
Keduanya menyerang dari dua sisi. Sisi kanan dan sisi kiri. Si Tapak Maut langsung mengerahkan jurus tapaknya yang sudah terkenal di dunia persilatan. Si Golok Setan menggempur dengan pukulan-pukulan berbahaya.
Pertarungan langsung berjalan sengit. Cakra Buana di kepung dari dua arah berlawanan. Tapi dia tetap tenang, setenang air di tengah lautan. Cakra Buana memang bagaikan air. Dia bisa memberikan kesejukan, tapi bisa juga memberikan bencana bagi siapa saja.
*Dalam kehidupan pun harus begitu. Kita harus bisa jadi segalanya bagi segalanya. Jika kita bisa jadi segalanya, maka segalanya bisa jadi kita. Ibarat kata air. Kau pun harus bisa jadi air. Air bisa menyejukkan, bisa memberikan kesegaran. Bisa juga memberikan ketenangan. Air akan tetap diam meski di perlakukan apapun. Belajarlah sabar kepada air. Tapi di saat air sudah muak dengan semua perlakuan yang ia terima, maka air akan memberikan sebuah peringatan yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya.
Ingat!!! Jadilah segalanya supaya segalanya bisa jadi engkau*.
Cakra Buana menangkis semua serangan lawan dengan santai. Tangannya bergerak ke sama kemari mengikuti arah serangan. Tapak Maut dan Golok Setan mulai geram. Sebab semua pukulan dan tendangan yang mereka lancarkan bisa di tangkis dengan mudah oleh Cakra Buana.
Tiba-tiba Cakra Buana memberikan serangan dengan kedua tangannya. Pendekar Maung Kulon itu menghentakkan tapaknya ke depan dengan tenaga dalam cukup besar.
"Wuttt …"
"Desss …"
Secepat kilat tangan Tapak Maut dan Golok Setan menyambut serangan tersebut. Ketiganya mengadu tenaga dalam beberapa saat. Tubuh mereka sama-sama bergetar. Tapi dua lawan Cakra Buana, bergetar lebih hebat lagi.
"Haaa …"
Cakra Buana menambah jumlah tenaga dalamnya dengan sekali hentakan. Seketika dua lawannya terpental ke belakang. Tapak Maut dan Golok Setan terjengkang sedikit ke atas. Keduanya bersalto di udara sekali sebelum akhirnya mendarat dengan mulus.
__ADS_1
"Ternyata ilmunya memang tinggi. Kalau seperti ini terus, rasanya akan percuma saja jika aku menggempur dua hari dua malam sekali pun," gumam Golok Setan yang kini berdiri sejajar dengan Tapak Maut.
"Tapak Maut, kerahkan seluruh kemampuanmu untuk bertempur melawannya. Ilmu pemuda itu tidak bisa di pandang sebelah mata," kata Golok Setan kepada Tapak Maut.
"Baik. Kau benar, dia memang bukan pemuda sembarangan. Tenaga dalamnya sungguh besar, aku yakin dari tadi dia belum serius," ucap Tapak Maut membenarkan perkataan Golok Setan.
Sekejap kemudian, Golok Setan mencabut senjata pusakanya yang berupa golok panjang dengan gagang berbentuk tengkorak manusia. Golok itu lebih panjang satu jengkal daripada golok pada umumnya.
Dengan golok itulah dia mendapat Gelar si Golok Setan. Sedangkan pusakanya sendiri bernama Golok Tengkorak, sesuai dengan gagangnya.
"Wushh …" Golok Tengkorak tercabut sampai menimbulkan suara sedikit menyeramkan.
Golok itu memiliki hawa panas. Bahkan bau hangus langsung segera tercium saat pusaka tersebut di cabut dari sarungnya.
Di sisi lain, Tapak Maut pun mulai menyalurkan segenap tenaga dalamnya ke telapak tangan sehingga menjadikan telapak itu memerah seperti bara api.
"Hiattt …"
Keduanya kembali menyerang secara bersama-sama. Satu sisi golok panjang berkelebat dengan sangat cepat mengarah ke leher Cakra Buana. Di sisi lain, dua serangan tapak beruntun mengincar tubuh lainnya.
Cakra Buana sudah siap. Dia pun turut mengeluarkan ilmu yang dimilikinya.
"Ajian Tapak Amarah Dewa Nanggala …"
"Wuttt …"
Kedua tangannya mengandung hawa yang sangat panas. Tiga hawa panas akan bertemu. Sebentar lagi akan terlihat hawa siapa yang lebih panas.
"Wuttt …"
"Desss …"
__ADS_1
"Tappp …"
Tangan kanan Cakra Buana menahan tangan kiri si Tapak Maut. Keduanya beradu tapak. Sedangkan tangan si Tapak Maut yang satu lagi, berhasil mengenai ulu hati Cakra Buana. Di sisi lain, tangan kiri Cakra Buana berhasil menangkap sabetan golok yang dilancarkan oleh si Golok Setan.
Semua itu dalam waktu sekejap berbarengan. Mereka kembali adu tenaga dalam. Kali ini lebih menegangkan. Sebab mereka sama-sama sudah mengeluarkan ilmunya masing-masing.
Si Golok Setan sungguh terkejut melihat aksi nekad Cakra Buana. Seumur hidupnya, baru sekarang dia mengalami kejadian seperti ini. Di mana lawannya memilih untuk menangkap sabetan goloknya daripada berusaha untuk menghindar. Begitu pun halnya dengan si Tapak Maut.
Lagi-lagi kedua murid Penguasa Gunung Waluh dibuat terkejut oleh seorang pendekar muda.
Cakra Buana terus menyalurkan tenaga dalam ke kedua telapak tangannya. Sebab dia sendiri sangat faham bahwa tindakan ini memiliki resiko yang sangat fatal jika tenaga dalamnya di bawah lawan. Untung saja dia sudah memperhitungkan semuanya.
"Haaa … patah …"
"Krakkk …" Cakra Buana menggebrak hingga golok pusaka itu patah jadi dua bagian.
Si Golok Setan langsung mematung. Bahkan dia tidak menyadari bahwa telapak tangan Cakra Buana berhasil menembus pertahanannya. Dia menyerang dengan telak dada kiri lawan.
"Ahhh …" si Golok Setan terpental bahkan sampai bergulingan. Dari mulutnya langsung menyembur darah kehitaman.
Bersamaan dengan itu pula, Cakra Buana menghentakkan telapak tangannya yang satu lagi. Si Tapak Maut terpental tiga langkah dan langsung jatuh berlutut. Dia merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia muntah darah, sama seperti kawannya. Cakra Buana terpental dua langkah.
Dia tidak terluka. Hanya saja pemuda serba putih itu merasakan betapa telapak tangannya bergetar sampai mati rasa untuk beberapa saat.
Pertarungan berhenti sejenak. Kedua lawannya sudah terluka dalam cukup parah. Bahkan mereka beberapa kali batuk darah. Penguasa Gunung Waluh ingin menghentikan pertarungan tersebut sebab bisa membahayakan nyawa kedua muridnya.
Namun niatnya itu segera di urungkan ketika si Golok Setan dan Tapak Maut berdiri lagi secara bersamaan meskipun harus bersusah payah.
"Sayangi nyawa kalian. Kalian berdua sudah terluka dalam cukup parah. sudahi pertarungan ini sebelum aku berubah pikiran," kata Cakra Buana memberikan peringatan kepada kedua lawannya.
"Jahanam. Jangan sombong kau bocah tengik. Aku belum serius tadi," kata Tapak Maut menutupi rasa malunya.
__ADS_1
"Berani kau mematahkan golok kesayanganku, berarti kau berani pula menantangku untuk mencabut nyawamu," ucap Golok Setan dengan amarah yang menggebu.