Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan di Kediaman Adipati


__ADS_3

Sebelumnya, Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma memang memberikan kabar kepada para punggawanya bahwa Eyang Resi Patok Pati merupakan pengkhianat.


Kakek tua itu disebut-sebut ingin membunuh Prabu Ajiraga, padahal yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya.


Entah apa tujuannya menyebarkan kabar yang sangat bertolak belakang itu. Mungkin dia menyebarkan kabar itu supaya tidak terbongkar siapa Prabu Ajiraga yang sebenarnya.


"Maksud adipati? Eyang guru bukanlah seorang pengkhianat," tegas Cakra Buana sambil terlihat kebingungan.


"Diam kau. Segera pergi atau terpaksa aku akan menangkapmu untuk dijatuhi hukuman," kata adipati Surya Wilaloni sambil memberikan isyarat dengan telunjuk kanannya.


Tentu saja Cakra Buana tidak akan pergi begitu saja, apalagi hanya karena ancaman. Dia sudah menduga bahwa akhirnya pasti akan seperti ini.


"Kenapa adipati mengancamku? Aku datang baik-baik, hanya ingin bertanya. Dan akupun bicara dengan tutur kata yang sopan. Akut tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan," ujar Cakra Buana.


"Keparat …"


"Prajurit …" adipati Surya Wilaloni berteriak dengan marah memanggil prajuritnya.


Tanpa menunggu lama, sepuluh prajurit sudah tiba disana. Mereka bersenjatakan lengkap, dengan pakaian yang seragam. Bahkan tinggi para prajurit itupun hampir sama.


"Tangkap dua manusia keparat ini!!!" kata adipati memberikan perintah.


Cakra Buana dan Ayu Pertiwi masih diam tanpa bicara. Bahkan keduanya hanya berdiri tenang.


Kesepuluh prajurit bergerak untuk menangkap dua pendekar muda itu. Tapi ketika jarak mereka dengan Cakra Buana semakin dekat, tiba-tiba saja pemuda serba putih itu menghentakkan kaki kanannya.


Seketika kesepuluh prajurit yang berniat menangkap dirinya langsung terjengkang beberapa langkah. Melihat kejadian ini, adipati Surya Wilaloni benar-benar dibuat marah.


"Ki Begang … Ki Jangkung …" adipati kembali berteriak.


Dua sosok keluar lagi dari kanan dan kiri ruangan. Tapi kali ini bukan lagi prajurit, melainkan dua sosok orang tua yang umurnya kira-kira sudah mencapai lima puluhan tahun.


Wajah mereka sudah berkeriput, bahkan rambutnya sudah dipenuhi oleh uban. Kulitnya agak gelap. Keduanya memakai pakaian hitam ala petani yang gombrang (longgar).


Satu sosok bertubuh pendek dan kurus, itulah Ki Begang, sesuai namanya. Sedangkan yang satu lagi lebih tinggi dan sedikit lebih berisi. Itulah ki Jankung.

__ADS_1


Agaknya mereka merupakan kaki tangan adipati Surya Wilaloni. Atau … bisa jadi juga bahwa mereka merupakan pengawal pribadinya. Entahlah, yang jelas kedua orang tua itu begitu menghormati sang adipati.


"Ada apa kanjeng adipati?" tanya Ki Begang.


"Berikan pelajaran kepada dua orang muda itu. Mereka mencari gara-gara disini," kata adipati memberi perintah.


"Baik kanjeng, itu perkara mudah. Kanjeng adipati tinggal duduk saja menyaksikan pertunjukan yang menarik yang akan segera dimulai," kata Ki Begang.


"Bagus." jawab adipati singkat.


"Bersiaplah kalian orang muda …" kata Ki Begang.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Ki Jangkung langsung mengeluarkan senjatanya yang berupa dua buah belati.


Begitupun dengan Ki Begang. Dia langsung mengeluarkan sebuah cambuk berwarna hijau gelap, diujungnya terdapat bulu-bulu halus yang banyak. Sepertinya cambuk itu mengandung racun, pikir Cakra Buana.


Cakra Buana mengambil sikap waspada, begitupun dengan Ayu Pertiwi.


"Hiaaa …"


Kedua pendekar tua itu melompat secara bersamaan. Langlang Cakra Buana menghadapi Ki Begang. Sedangkan Ayu Pertiwi menghadapi Ki Jankung.


Cakra Buana dan Ayu Pertiwi lalu melompat ke luar mencari tempat yang lebih leluasa lagi. Pada akhirnya mereka bertarung dihalaman kadipaten.


Para prajurit yang melihat hal ini tentu saja kebingungan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tidak bergerak, hanya saja membuat lingkaran yang agak besar.


"Semuanya … berkumpul. Kepung kedua pendekar muda itu supaya tidak kabur," kata adipati Surya Wilaloni memberikan perintah kepada para prajurit.


Para prajurit semuanya sudah berkumpul. Pertarungan Cakra Buana dan Ayu Pertiwi seolah seperti sebuah tontonan saja. Sorak-sorai para prajurit mulai menggema.


Di gelanggang pertarungan, Ki Begang memutar-mutarkan cambuknya sedemikian cepat hingga terlihat cambuk itu mirip kitiran (kincir dari bambu).


Cambuk pun menyambar-nyambar mengarah ke titik lemah Cakra Buana.


"Tarrr …"

__ADS_1


"Tarrr …"


Suara cambuk menggelegar memekakkan telinga. Cambuk itu meliuk-liuk seperti ular kesana-kemari. Gerakannya yang cepat dan jarak yang agak jauh, membuat Cakra Buana harus berada pada posisi bertahan terus-menerus.


Suara cambuk terus menggelegar. Ki Begang benar-benar berniat untuk membunuh Cakra Buana, serangannya tak pernah berhenti.


Sementara itu, pertarungan antara Ayu Pertiwi melawan Ki Jangkung pun tak kalah serunya. Pendekar tua itu terus menyerang dengan belati kembar miliknya. Belati itu bergerak demikian cepat, untung saja Ayu Pertiwi memiliki kepandaian yang lumayan.


Sehingga dia bisa memberikan perlawanan meskipun lebih sering dalam posisi bertahan. Pendekar wanita itu menggunakan selendang jingga miliknya. Selendang itu dia gerakan kesana-kemari.


Gerakannya lincah, cepat, juga berbahaya. Karena selendang itu bisa dibentuk sedemikian rupa, bisa lemas bisa juga keras. Tentulah hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah ahlinya.


Beberapa kali Ayu Pertiwi berhasil membelitkan selendang jingganya ke pergelangan tangan Ki Jangkung, namun dengan mudah saja orang tua itu melepaskan lilitan selendang tersebut.


Ki Jangkung melompat mundur ke belakang. Dia melakukan gerakan yang sedikit aneh. Pisau belatinya diputar-putarkan dengan cepat. Tak lama kemudian belati kembar itu nampak menyala seperti bara api.


"Belati Kembar Api Neraka …"


"Wuttt …"


Ki Jangkung melesat. Belati ditangan kanan ditusukkan mengincar ulu hati. Sedangkan yang ditangan kiri dimiringkan mengincar leher.


Karena memang sudah siap, maka Ayu Pertiwi tidak kaget. Dengan gerakan yang lincah dan indah, dia melenting lalu salto satu kali dan melewati kepala Ki Jangkung, mendarat tepat dibelakangnya dengan indah.


Serangan Ki Jangkung luput. Tapi belum sempat Ayu Pertiwi berbalik badan, Ki Jangkung sudah menyerangnya lagi. Belatinya bergerak sedemikian cepat mengincar tengkuk.


Kali ini Ayu Pertiwi kaget karena tidak pernah menyangka bahwa pendekar tua itu memiliki kecepatan yang mengerikan.


Pendekar wanita itu melompat kepinggir menghindari dua buah belati yang siap mengoyaknya itu. Buru-buru dia menggunakan selendangnya lalu mulai membalas serangan. Keduanya pun kini kembali bertarung dengan sengit.


Disisi lain, pertarungan Cakra Buana melawan Ki Begang semakin menegangkan. Beberapa kali ujung cambuk beracun milik Ki Begang hampir mengenai tubuhnya.


Untung saja Cakra Buana bisa menghindari serangan yang sangat berbahaya tersebut. Akan tetapi meskipun Ki Begang menang dalam serangan, namun semua serangan mematikannya semuanya gagal. Hanya serangan ringan saja yang beberapa kali mendarat di tubuh Cakra Buana.


Sebaliknya, meskipun Cakra Buana kalah dalam jumlah serangan, tapi beberapa kali serangan berbahayanya mengenai lawan. Puluhan jurus sudah mereka lalui, tapi belum ada yang terluka ataupun terdesak. Karena Cakra Buana sudah mengetahui sampai dimana tingkat kekuatan lawan, maka dia tak ragu lagi untuk mencabut keluar Pedang Pusaka Dewa.

__ADS_1


"Sringg …"


__ADS_2