
"Ternyata mereka benar-benar bukan binatang biasa. Hemm, kalau begitu sekarang aku tidak akan sungkan lagi," gumam Cakra Buana.
Setelah berhasil menghentikan pendarahan di pangkal lengan yang terus keluar, dia segera menghimpun kembali tenaga dalamnya. Sekali melompat, Cakra Buana sudah memberikan terjangan kembali.
Serangannya seperti seekor harimau menerkam. Tiga binatang itu sudah siap dari tadi. Walaupun terjangan Cakra Buana sangat cepat, tapi gerakan menghindar mereka lebih cepat lagi.
Dua kera menyerang dari sisi kanan dan sisi kiri. Sedangkan si harimau dari tengah. Pertarungan kembali sengit. Cakra Buana harus bisa menangkis tiga serangan yang mengandung tenaga dahsyat tersebut.
Sudah empat puluh jurus mereka bertarung. Bahkan bebatuan sudah ada yang hancur karena menjadi serangan salah sasaran. Cakra Buana mulai terdesak. Cakaran dua ekor kera dan terkaman harimau benar-benar membuatnya kelimpungan.
Di saat digempur seperti ini, untuk sesaat dia hanya bisa bertahan sekuat mungkin. Begitu melihat ada kesempatan, Cakra Buana langsung melancarkan jurusnya.
"Naga Menerjang Mengeluarkan Badai …"
"Wushh …"
Dia menerjang. Kali ini dari terjangan tersebut mengeluarkan sebuah kekuatan dahsyat. Bagaikan seekor naga yang mengamuk. Sepert namanya, dia benar-benar mengeluarkan badai besar.
Pusaran angin terbentuk menggulung mereka. Untuk beberapa jurus, Cakra Buana berada di atas angin. Namun selang sesaat kemudian, dia dibuat terdesak kembali.
'Gila. Mereka benar-benar mampu menahan semua jurus dahsyat itu. Hemm, baiklah, biar aku coba jurus yang lain,' batin Cakra Buana.
"Harimau Menyongsong Rembulan …"
"Grrr …"
Cakra Buana menggeram. Tubuhnya meluncur deras bagaikan sebuah anak panah lepas dari tali busur. Kedua tanganya terbuka membentuk cakar harimau. Sodokan demi sodokan mulai dia keluarkan.
Tenaganya bertambah dahsyat sesuai tingkatan jurusnya. Cakra Buana menggempur si harimau. Keduanya bertarung dengan sengit. Si harimau tetap bisa menghindar walaupun pemuda itu sudah mencecarnya.
Harimau itu sangat gesit dan ganas. Setiap cakarannya menimbulkan angin menderu-deru dengan dahsyat. Setiap raungannya menghasilkan sebuah gelombang kejut.
Harimau itu melompati kepala Cakra Buana. Begitu sampai di belakangnya, dia menendang dengan dua kaki belakang sehingga tubuh Cakra Buana melambung tinggi ke udara.
Begitu melambung, dua ekor kera turut melompat. Anehnya, mereka malah melebihi kecepatan melambung Cakra Buana. Setelah posisi mereka lebih atas sedikit, keduanya segera menghantamkan pukulan telak.
"Bukkk …"
__ADS_1
"Bukkk …"
Tubuh Cakra Buana segera meluncur ke bawah lebih cepat. Dia tidak sempat melawan karena serangan dua ekor kera tersebut terlampau cepat dan dahsyat.
Akibatnya tubuh pemuda itu jatuh ke danau bahkan sampai ke dasar. Sedangkan tiga sahabat mereka sedang menanti di daratan.
Sorak sorai dari kawanan kera terdengar nyaring. Mereka ada yang mentertawakan Cakra Buana, ada juga yang gembira karena dua kera berhasil mengalahkannya.
Cakra Buana tidak mau kalah tentunya. Begitu tubuhnya sudah mencelat ke atas, dia langsung mengeluarkan tenaga dahsyat dari tubuhnya.
Tenaga dalam dua hawa berbeda mengalir deras dari dalam tubuh. Cahaya merah dan biru sekilas terlihat menyelimuti tubuh Cakra Buana.
"Naga dan Harimau Bersatu Padu …"
"Roarrr … grrrr …"
Tangan kirinya menyala merah. Tangan kanan menyala biru. Dia meluncur secepat kilat ke daratan dan berniat melancarkan serangan dahsyat dari jurus terakhir yang baru dia pelajari.
Melihat hal ini, si kera dan harimau tidak mau gegabah. Ketiganya memandang tajam tanpa berkutik. Tetapi begitu tubuh Cakra Buana hampir tiba, keadaan berubah.
Semua bulu dua ekor kera mendadak mengeras dan berdiri. Bahkan terasa mengeluarkan aura agung tersendiri. Sedangkan si harimau, kukunya terlihat menyala merah membawa.
"Duar …"
Empat jurus dahsyat bertemu di udara. Ketiganya beradu tenaga dalam untuk beberapa saat.
Dua ekor kera mendecit. Si harimau mengaum. Sedangkan Cakra Buana berteriak.
Mereka seperti berusaha mengeluarkan kekuatan maksimal.
Detik berikutnya, keempatnya segera terpental ke belakang.
Tidak ada yang terluka dalam kejadian ini sebab mereka nampaknya seimbang. Semua kera berloncatan melihat hasil Cakra Buana yang sangat memuaskan. Tiga harimau mengaum gembira dan menghampiri Cakra Buana untuk menjilatinya.
Si kera menari dan bertepuk tangan. Mereka semua bersorak sorai melihat keberhasilan Cakra Buana.
"Hahaha, teman-teman, terimakasih karena kalian sudah mengajariku," kata Cakra Buana sangat senang.
__ADS_1
Tak terasa latihan mereka menyita waktu dan tenaga. Saat selesai berlatih, ternyata hari sudah malam.
Cakra Buana lalu pergi berburu ke hutan dengan menaiki harimau sahabatnya. Dua ekor kera sahabatnya juga menaiki harimau lainnya.
Mereka masuk ke tengah hutan. Walaupun keadaan mulai gelap, tetapi hal itu bukanlah masalah bagi Cakra Buana. Apalagi ada binatang-binatang sakti sahabatnya.
Beberapa saat berburu, mereka mendapatkan dua ekor kijang cukup besar. Cakra Buana segera mengolah seperti biasanya. Setelah selesai pesta makan, semuanya tertidur lelap.
Keesokan harinya, Cakra Buana disuruh berlatih kembali. Kali ini bukan jurus-jurus yang kemarin. Tetapi sekarang jurus pedang lah yang akan dia latih.
Kera paling besar sudah berdiri di hadapannya. Sedangkan kawanan kera dan harimau mengelilingi mereka menjadi penonton.
Lawan Cakra Buana hanya kera itu saja. Tetapi di sendiri sudah tahu bahwa walaupun lawannya satu, tapi kemampuannya sangat hebat.
Si kera memberikan ranting pohon sebagai pengganti pedang.
Mereka telah bersiap dengan ranting di tangan. Keadaan sunyi untuk beberapa saat. Ketegangan menyelimuti tempat tersebut.
Kali ini Cakra Buana tidak mau kecolongan lagi. Begitu suasana seperti itu, dia memilih untuk menyerang terlebih dahulu. Pemuda tersebut segera menyalurkan tenaga dalamnya ke batang ranting. Tenaga dalam sudah terkumpul, maka waktunya untuk beraksi.
"Kilat Menyambar Bumi …"
"Wushh …"
Dia bergerak. Sebuah tusukan secepat dan sebahaya kilat menyambar tubuh si kera besar. Andai kata itu orang lain, mustahil mereka bisa menghindarinya.
Tapi si kera berbeda dengan yang lain. Begitu tusukan tiba, tubuhnya sudah menghilang dari posisi awal. Belum sempat Cakra Buana melepaskan jurus lainnya, si kera telah bergerak lebih dulu.
Sebuah sabetan datang dari arah belakang. Entah bagaimana cara kera itu bisa tiba-tiba ada di belakang tubuhnya.
Namun Cakra Buana tidak kaget. Dia segera mengayunkan ranting tersebut untuk menangkis.
"Trakkk …"
Tubuh Cakra Buana tergetar. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa kera itu ternyata lihai juga dalam bermain pedang.
Karena melihat sahabatnya hebat, Cakra Buana tidak sungkan lagi. Setelah beradu ranting, dia menyerang kembali. Sabetan dan tusukan ranting mulai memecah suasana. Gerakannya secepat kilat. Hembusan angin yang dihasilkan dari gerakannya mampu merobek kulit manusia.
__ADS_1
Biss dibayangkan betapa hebatnya jurus itu. Tapi sayangnya semua itu seperti tidak ada artinya bagi si kera.
Ke mana pun dia menyerang, ke situ juga si kera akan menangkisnya dengan tepat waktu.