
Untuk sesaat, Cakra Buana tidak mampu bersuara. Lidahnya benar-benar kelu dan mulutnya terkunci. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tak ada suara isak tangisan.
Tapi yang pasti, air matanya jatuh menetes membasahi pipi hingga jatuh ke lantai.
Hatinya benar-benar perih. Lebih perih dari pada apapun.
Dia baru saja mempunyai seorang sahabat sejati. Walaupun umur keduanya berbeda sangat jauh, tapi mereka tidak mempermasalahkan itu. Bahkan keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Mereka sama-sama belajar kepada sahabat barunya.
Persahabatan Cakra Buana dan Pendekar Pedang Kesetanan memang baru berjalan singkat. Seumur jagung pun belum. Tapi walaupun begitu, bukti persahabatan keduanya mampu mengalahkan mereka yang sudah bersahabat selama puluhan tahun.
Saat ini, Cakra Buana benar-benar tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Entah itu sedih, bahagia karena memiliki sahabat seperti Pendekar Pedang Kesetanan, atau malah senang. Dia tidak tahu. Tapi yang pasti, hatinya sangat perih.
Pendekar Pedang Kesetanan benar-benar membuktikan semua ucapannya. Sebelumnya dia pernah berkata kepada Cakra Buana akan membantu mengurangi masalahnya. Siap saling melindungi satu sama lain walaupun nyawa sebagai taruhan. Siap menghadapi masalah apapun bersama-sama.
Dan Giwangkara Baruga benar-benar membuktikan itu semua.
Ucapan yang keluar dari mulutnya, dia buktikan lewat tindakan.
Manusia dipercaya karena ucapannya. Kalau ucapan itu terbukti nyata, maka siapapun akan percaya kepadanya. Tapi kalau hanya sekedar ucapan bualan belaka, jangan pernah berharap untuk mendapat kepercayaan seseorang.
Satu atau dua kali mungkin masih ada harapan. Tapi kalau terus di ulangi, jangan pernah bermimpi akan ada orang lain yang percaya kepadamu.
Siapapun mereka, tidak ada yang hanya membutuhkan ucapan. Yang dibutuhkan hanyalah pembuktian. Dalam hal apapun itu.
Apalagi dalam hal persahabatan. Lebih baik pahit mulut tapi manis bukti. Daripada manis mulut tapi pahit bukti.
Dan Pendekar Pedang Kesetanan adalah orang yang pahit mulutnya, tapi manis buktinya.
Dia tewas.
Tewas sebagai pendekar. Sebagai pria jantan. Dan tentunya, tewas sebagai seorang yang membela sahabatnya.
Dialah contoh sahabat sejati.
Cakra Buana mengusap air matanya. Dia perlahan membopong jasad Pendekar Pedang Kesetanan ke pinggir. Dia menaruh jasad sahabatnya di tempat yang lebih aman.
Anehnya, selama dia meratapi kepergian sahabatnya, semua orang yang ada di sana terdiam. Tidak ada yang menyerang. Jangankan menyerang, bergeser sedikitpun tidak ada yang berani melakukannya.
__ADS_1
Dalam jiwa Cakra Buana, sekarang sedang terjadi badai yang sangat besar. Gemuruh terjadi sangat dahsyat. Darahnya mendidih. Amarahnya berkobar bagaikan kobaran api neraka.
Seluruh tubuhnya mengeluarkan asap putih.
Setelah memindahkan jasad sahabatnya ke tempat aman, Pendekar Tanpa Nama mulai bangkit berdiri kembali. Pedang Haus Darah milik sahabatnya dia ambil. Langsung dikeluarkan dari sarungnya malah.
Tampak kilatan cahaya pedang yang sangat tajam dan mengerikan. Apalagi saat ini pedang tersebut di pegang oleh pendekar yang hampir mencapai puncaknya. Tinggal menambah pengalaman dan menyempurnakan semua bekal, sudah pasti Cakra Buana akan sampai ke tahap pendekar tanpa tanding.
Saat melihat Cakra Buana berjalan ke arah orang-orang Organisasi Tengkorak Maut, mereka semua sudah bersiap.
Seorang wanita maju ke depan dengan santai. Seolah dia tidak takut kepada Cakra Buana.
Ratih Kencana.
Wanita itu masih memakai pakaian seperti mirip sebelumnya saat bertemu dengan Cakra Buana. Wajahnya masih anggun dan penuh daya pikat. Dia berjalan mendekati Cakra Buana dengan penuh rasa percaya diri.
Namun sebelum jaraknya lebih dekat, sebuah suara lembut tapi mengandung tenaga sakti segera terdengar.
"Sekali kau melangkah lagi, aku pastikan kau tidak akan selamat,"
Ratih Kencana melirik ke asal suara lembut itu. Di lihatnya seorang wanita bercadar di belakang Cakra Buana. Tingginya hampir sama dengan dia sendiri, hanya saja, bentuk tubuh dan setiap lekukannya, kalah jauh dengan wanita bercadar tersebut.
"Siapapun aku, bukanlah persoalan penting bagimu,"
"Kita tidak punya urusan sebelumnya. Bahkan bertemu pun baru kali ini, kenapa kau melarangku mendekati dia?" tanyanya sambil menunjuk Cakra Buana.
"Memang benar, sebelumnya kita tidak pernah bertemu dan tidak punya masalah apapun. Tetapi kalau kau bersikeras mendekati kakang Cakra Buana, kau punya urusan denganku. Dan aku jamin, nyawamu akan melayang," tegas wanita bercadar alias Bidadari Tak Bersayap.
"Bangsat, sombong benar kau. Apakah kau pengawalnya?"
"Bukan. Aku kekasihnya,"
Bagaikan sebuah petir yang menyambar dirinya. Tubuh Ratih Kencana bergetar. Harapannya untuk mendapatkan Cakra Buana walau dengan cara apapun, sirna sudah.
Matanya mendelik memandangi Pendekar Tanpa Nama. Tapi yang di pandang justru malah memejamkan matanya. Seolah dia tidak merasa khawatir terhadap bahaya yang bisa datang kapan saja.
"Perempuan jalang. Berani kau merebut dia dariku," teriak Ratih Kencana penuh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak merebutnya. Kita memang saling mencintai,"
"Bangsat. Tutup mulutmu!" kata Ratih Kencana.
Selesai berkata, gadis itu langsung mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh yang lumayan dahsyat. Sebuah kekuatan hebat meluncur deras ke arah Bidadari Tak Bersayap.
Tapi gadis yang dituju masih diam. Bahkan tampak tenang, tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Tangan kanannya hanya di julurkan ke depan. Begitu serangan jarak jauh tiba, tangan tersebut dengan sengaja dibenturkan.
"Blarr …"
Ledakan cukup keras terdengar. Bidadari Tak Bersayap masih berdiam di tempatnya. Dia tidak bergeser sedikitpun.
Tapi Ratih Kencana, dia sempat terpundur satu langkah. Hal ini jelas menandakan bahwa si wanita bercadar memang memiliki bekal yang lebih dari cukup.
Sebab barusan saja, Ratih Kencana sudah mengeluarkan seperempat kekuatannya. Tak nyana dia masih bisa terdorong. Walaupun hanya satu langkah, namun itu saja sudah cukup membuktikan bahwa wanita bercadar itu setidaknya berada di atasnya.
Dalam hatinya, Cakra Buana sendiri terkejut melihat kekuatan Ratih Kencana. Dia jadi tersadar bahwa ternyata waktu bertemu pertama kali di rumah makan, gadis tersebut menyembunyikan kekuatan aslinya.
Karena merasa dipermalukan, Ratih Kencana langsung memburu ke arah Bidadari Tak Bersayap. tubuhnya melesat seperti kilat memberikan pukulan dan tamparan keras.
Bidadari Tak Bersayap masih menunggu serangan yang datang.
Begitu tiba, kedua tangannya segera bergerak untuk memapak serangan lawan. Dua serangan pertama terjadi. Lagi-lagi Ratih Kencana merasa kalah. Sebab begitu beradu, kedua tangannya bergetar dan kesemutan.
'Siapa gadis itu? Kekuatannya bahkan di atasku. Hemm, tapi bagaimanapun juga, aku harus bisa membunuhnya. Berani sekali dia merebut kakang Cakra Buana dariku,' batin gadis itu.
"Mampus kau perempuan jalang …" teriaknya.
"Jangan banyak bualan perempuan busuk …" teriak Bidadari Tak Bersayap tidak kalah garangnya.
Dua pendekar wanita sudah memulai pertarungan pertama mereka. Keduanya bertarung di tengah ruangan bangunan tua yang cukup lebar.
Pertarungan baru berjalan. Tapi sudah sangat seru, sebab masing-masing perempuan itu sudah mengeluarkan jurus-jurus.
Dua wanita sedang bertarung demi cinta mereka.
__ADS_1
Hahhh … cinta memang bisa memperdaya manusia.