Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Usaha Untuk Menyelamatkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti


__ADS_3

Sepasang orang tua itu menyadari akan adanya bahaya yang melesat ke arah mereka. Namun untuk menghindari serangan tersebut, keduanya sudah tak mampu lagi. Karena tanpa sadar, racun yang berasal dari Cambuk Elang Kematian milik Elang Merah Jantan, kini sudah menjalar ke seluruh tubuh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Keduanya langsung terduduk lemas menahan menggunakan lututnya. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti merasakan tubuhnya panas dingin. Keringat pun sudah membanjiri tubuh. Wajah mereka langsung pucat pasi.


Dari mulutnya keluar darah hitam dengan jumlah banyak. Bahkan darah tersebut berbau busuk.


Di sisi lain, serangan jarak jauh tadi sudah dekat sekali jaraknya dengan mereka. Serangan itu mengandung kekuatan yang hebat, mustahil bagi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bisa selamat dari serangan tersebut.


Tapi untungnya, di saat energi itu hampir menghantam dua tokoh tua tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan putih melesat dengan sangat cepat.


Bayangan putih tersebut tak lain adalah Cakra Buana. Dengan menggunakan sisa tenaga dalamnya, Cakra Buana langsung menahan serangan tersebut.


"Desss …"


Kedua tangannya di condongkan ke depan. Tubuhnya bergetar, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap bertahan.


"Haaa …"


"Duarrr …"


Dua tenaga dalam terpental ke atas hingga menimbulkan suara keras di udara. Beberapa pohon langsung tumbang dan gosong. Cakra Buana terpental tiga langkah. Dari sudut bibirnya keluar sedikit darah.


Ternyata serangan jarak jauh tadi berasal dari Pendekar Pantai Selatan. Dia sengaja menggunakan sisa kekuatannya untuk membunuh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Akibatnya, begitu serangan terakhir itu tercipta, saat itu pula nyawa Pendekar Pantai Selatan melayang.


Dia tewas dengan luka dalam yang parah akibat pertarungannya melawan Cakra Buana. Guru dan murid akhirnya harus tewas di tempat yang sama.

__ADS_1


Setelah mementalkan serangan hebat tadi, Cakra Buana lalu menghampiri Sepasang Kakek dan Nenek Sakti yang saat ini sudah tergeletak tak berdaya. Pendekar Maung Kulon itu dibuat terkejut ketika melihat ada genangan darah di bawah tubuh kedua tokoh tua tersebut.


"Ling Zhi, cepat bantu aku menolong mereka. Cari goa di sekitar hutan ini. Kita bawa mereka ke sana, aku yakin di sini terdapat goa," kata Cakra Buana sambil berusaha mengangkat Kakek Sakti.


"Baik kakang, aku segera membantumu," kata Ling Zhi sambil mengangguk lalu berusaha membawa Nenek Sakti.


Setelah itu, keduanya pun kemudian melesat pergi untuk mencari sebuah goa yang nantinya akan dijadikan tempat penyembuhan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Kini di Bukit Maut tak ada lagi manusia. Tak ada pertarungan, dan tidak ada lagi kekacauan. Yang ada di sana hanyalah udara dingin serta hawa kematian yang masih mencekam pekat.


Tepat ketika Cakra Buana dan Ling Zhi pergi, rembulan pun langsung tertutup awan kelabu. Seolah dia merasa malu, merasa iba akan makhluk yang bernama manusia. Karena manusia selalu berlomba-lomba dalam menggapai ambisinya.


###


Keduanya masuk, lalu kemudian membaringkan dua orang tua itu. Cakra Buana tidak langsung mengobati, dia lebih memilih untuk memeriksa dahulu keadaannya.


"Ling Zhi, baringkan juga Nenek Sakti. Aku akan memeriksa luka mereka," kata Cakra Buana menyuruh Ling Zhi.


"Baik kakang,"


Setelah berkata demikian, Cakra Buana lalu bersila sambil memejamkan matanya. Kedua tangannya di julurkan memeriksa bagian dada. Selama pemeriksaan, wajah Cakra Buana menampakkan keterkejutan.


"Bagaimana keadaan Kakek dan Nenek Sakti akang?" tanya Ling Zhi khawatir.


"Parah. Lukanya parah. Aku baru melihat ada racun seperti ini, tapi aku yakin mereka bisa di selamatkan," tutur Cakra Buana.

__ADS_1


Ling Zhi kebingungan atas apa yang di ucapkan Cakra Buana barusan, selain kurang jelas, dia juga sama sekali tidak mengerti tentang dunia pengobatan.


"Memangnya parah kenapa kakang?" tanya Ling Zhi yang tidak bisa menahan kekesalannya.


"Tenaga dalam Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tidak beraturan, luka dalamnya juga parah. Aku jadi tidak yakin bisa menyembuhkan mereka," kata Cakra Buana. Ada rasa penyesalan dalam ucapannya barusan.


"Jangan bicara begitu sebelum mencoba. Aku yakin kau pasti bisa, ayo kakang bantu mereka,"


"Hemmm … baiklah, aku akan mencobanya," jawab Cakra Buana.


Dia lalu duduk bersila di belakang kakek dan nenek tua tersebut. Cakra Buana menarik nafas dalam-dalam sebelum menempelkan kedua tangannya ke kepala sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Sedangkan Ling Zhi, dia hanya melihat Cakra Buana dari dekat pintu goa. Wanita itu tidak mau mengganggu kekasihnya, sebab jika ada gangguan maka hasilnya akan fatal. Bukan hanya Sepasang Kakek dan Nenek Sakti saja yang bakal celaka, bahkan Cakra Buana pun bisa tewas akibatnya.


Pendekar Maung Kulon itu sudah masuk ke dalam konsentrasi lahir batin. Tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang cukup menyilaukan goa tersebut, dari tangannya keluar energi putih transparan.


Semakin lama, semakin dalam, maka cahaya yang keluar pun semakin terlihat jelas. Ling Zhi menyaksikan kekasihnya itu sedang berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan dua tokoh tua tersebut.


Sudah tiga puluh menit Cakra Buana menyalurkan tenaga dalamnya, tapi belum ada tanda-tanda membaik dari Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Bahkan kedua wajah tokoh tua itu terlihat semakin pucat wajahnya. Sedangkan Cakra Buana sendiri, sudah mulai kelelahan. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya..


Cakra Buana terus mempertahankan posisinya, dia tetap berusaha untuk menguatkan. Meskipun tenaganya sudah terkuras banyak, namun dia tidak ingin menyerah. Karena sebentar lagi, perjuangannya akan membuahkan hasil.


Akan tetapi di saat detik-detik yang menentukan itu, goa dan tempat sekitar bergetar. Seperti ada sesuatu yang besar sedang mengarah ke tempat tersebut.


Ling Zhi langsung bersikap waspada. Wanita itu keluar goa dan melihat ke sekeliling tempat tersebut. Awalnya tak ada apa-apa, tapi tak lama kemudian muncullah sesuatu yang mengagetkannya.

__ADS_1


__ADS_2