Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pengintaian Yang Gagal


__ADS_3

"Kau benar Langlang. Tapi apa yang harus kita lakukan? Mereka mempunyai pendekar yang hebat. Sedangkan aku tidak punya pasukan," kata Ki Jaya Wikalpa kebingungan.


"Tenang saja, aki beritahu saja dimana rumah kepala desa itu. Aku akan pergi kesana sendiri," ucap Langlang Cakra Buana dengan yakin.


Darahnya sudah merasa mendidih saat mendengar bagaimana kelakuan kepala desa itu. Bagaimana pun juga, ini adalah salahsatu kewajibannya. Setelah urusan ini selesai, mungkin dia akan langsung menuju ke istana kerajaan supaya bertemu dengan gurunya, Eyang Resi Patok Pati.


Ki Jaya Wikalpa nampak berfikir untuk menimbang-nimbang dahulu. Dia tahu betul para kaki tangan kepala desa itu, semuanya adalah pendekar aliran hitam yang tak bisa dianggap remeh.


Setelah lima tarikan nafas berfikir, akhirnya dia menyetujui usul Langlang Cakra Buana. Dia bersedia untuk memberitahu dimana rumah sang kepala desa.


"Baik, aku akan menujukkan dimana rumahnya. Tapi usahakan kau harus bisa kembali dengan selamat, meskipun kau gagal membunuh para pendekar aliran hitam itu, tapi setidaknya minimal kau bisa membawa kepala desa itu supaya diadili," ucap Ki Jaya Wikalpa memperingatkan pemuda serba putih itu.


Sebenarnya dia sendiri belum mengetahui sampai dimana kepandaian Langlang Cakra Buana. Karena memang baru kali ini saja mereka bertemu, tapi entah kenapa Ki Jaya Wikalpa mau dan menuruti apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada dihadapan nya kini.


Disaat keduanya tengah asyik ngobrol, tiba-tiba saja masuk seorang gadis cantik berumur kira-kira dua puluh tiga tahun, bibirnya merah merekah. Hidungnya mancung, pipinya lesung dan matanya agak sipit. Dengan rambut merumbai dan senyum selalu ditampilkan, wanita itu terlihat layaknya seorang dewi.

__ADS_1


###


Malam pun datang. Rembulan terlihat samar-samar memberikan sinarnya. Bintang pun tak terlihat, rembulan yang biasanya ditemani bintang, kini dia hanya ditemani oleh awan yang kelabu.


Disebuah rumah yang agak besar, seorang pemuda berpakaian serba putih sudah siap untuk menjalankan misinya. Dia akan mendatangi rumah seorang yang tersohor di deda Karangpaningal ini.


Pemuda itu adalah Langlang Cakra Buana, dia tetap nekad untuk mendatangi rumah sang kepala desa seorang diri. Berbekal modal nekad dan sebilah pedang pusaka, pemuda itu akan berangkat sekarang juga ke rumah kepala desa.


"Hati-hati Langlang, semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungimu," kata Ki Jaya Wikalpa sebelum pemuda itu pergi.


"Baik, aku pergi dulu ki. Sampurasun …" kata Langlang Cakra Buana yang langsung pergi dengan cepatnya.


Didepan gerbang terdapat dua orang penjaga bersenjatakan golok yang agak panjang. Langlang Cakra Buana terus memperhatikan keadaan sekitar dari pohon yang berjarak tidak jauh dari rumah kepala desa itu.


Setelah bisa dipastikan keadaan sepi dan aman terkendali, Langlang Cakra Buana langsung melompat dari pohon dan mulai berlari diatas benteng menuju ke bagian ujung.

__ADS_1


Setelah tiba di ujung benteng, pemuda itu langsung naik ke atas genteng dan mulai mengendap-endap. Seperti pencuri saja memang, tapi hanya ini cara satu-satunya supaya bisa mengetahui keadaan didalam sana.


Langlang Cakra Buana mulai menjalankan misinya, dia memasang telinga tajam dengan Ajian Sapta Pangrungu. Pemuda itu mulai berjalan mengelilingi rumah kepala desa dari atas genteng. Hingga akhirnya dia tiba di sebuah ruangan ujung pojok sebelah kiri.


Disana dia mendengar suara amat berisik dari bawah. Pemuda itu berhenti, lalu mencongkel satu buah genteng supaya bisa melihat kedalamnya. Dan benar saja, dibawah sana memang sedang ada yang melakukan pesta.


Ada empat orang wanita telanjang dan empat orang pria diatasnya. Sedangkan sisanya sedang mabuk-mabukan sampai berdiri pun tidak kuat. Jumlahnya kira-kira ada dua belas orang ditambah tiga orang pemimpin. Terlihat karena ada tiga orang seperti berkepandaian tinggi dengan tubuh tegap berotot serta penuh dengan luka masih sadar diri meskipun sudah minum sedemikian banyaknya.


Langlang Cakra Buana terus memperhatikan keadaan itu cukup lama. Hingga akhirnya pemuda itu menghentikan pengintaiannya ketika ada sebuah suara dari dalam yang mengejutkannya.


"Berani sekali kau bocah menyusup kesini dan mengintai kegiatan kami. Setan alas …," kata seseorang berpakaian hitam seperti pendekar yang tiba-tiba ada dibelakang Langlang Cakra Buana.


Sontak saja Langlang Cakra Buana kaget. Pemuda itu segera membalikkan tubuhnya ke belakang dan ingin tahu siapa yang bicara seperti itu barusan.


"Siapa kau?" tanya Langlang Cakra Buana kaget.

__ADS_1


"Tidak usah banyak mulut. Terimalah akibat kelancanganmu ini …" tanpa basa-basi lagi orang berpakaian hitam tersebut langsung menyerang Langlang Cakra Buana.


Mau tidak mau akhirnya pemuda itu harus menyambut serangan yang akan datang. Rencana pengintaiannya ternyata gugur ditengah jalan. Kini, dua orang pendekar mulai bertarung diatas genteng sang kepala desa.


__ADS_2