Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kegaduhan di Istana Kerajaan Kawasenan


__ADS_3

"Kau dan temanmu," kata Prabu Ajiraga sambil menunjuk Pendekar Tangan Seribu menggunakan jari telunjuknya. Matanya langsung mencorong tajam menahan amarah.


"Tunggu, kenapa Yang Mulia menuduh bahwa aku dan rekanku pelakunya?" tanya Pendekar Tangan Seribu.


"Karena memang kalian berdua lah pelakunya," kata sang raja tetap ngotot.


Suasana bertambah tegang. Kini para pendekar sudah memegangi senjata mereka masing-masing. Tinggal menunggu perintah, mereka langsung bergerak.


"Apakah ada bukti kuat kalau memang benar kami telah membunuh sepuluh pendekar itu?"


"Tentu saja ada,"


"Apa?"


"Saat setelah kejadian, kau dan temanmu tidak ada di penginapan. Padahal semua pendekar yang saat ini hadir, mencarimu ke semua penjuru. Bahkan ke beberapa daerah terdekat,"


"Bukankah tadi sudah bilang bahwa kami ada urusan?" Pendekar Tangan Seribu berkata sedikit lantang.


Dia sendiri tidak khawatir jika Prabu Ajiraga sudah tahu kalau memang dia dan Cakra Buana pelakunya. Namun yang dikhawatirkan oleh Pendekar Tangan Seribu adalah bagaimana nasib Cakra Buana nantinya? Kalau dis harus tewas, tak mengapa. Tapi kalau Cakra Buana? Ini tida bisa dibiarkan. Bagaimanapun juga, pemuda serba putih itu tidak boleh berada dalam bahaya.


"Benar, tapi sayangnya aku tidak percaya atas ucapanmu itu," kata Prabu Ajiraga semakin dingin.


"Aku menanyakan bukti kuat, dari tadi kau tidak menunjukannya. Bukankah ini konyol?"


"Karena aku tidak perlu membutuhkan bukti itu. Aku akan langsung membuatmu untuk mengakui bahwa memang kaulah pelakunya,"


"Dengan cara?"


"Memaksamu untuk bicara," ucapnya semakin dingin.


Cakra Buana sudah curiga dari awal mula. Dan sekarang sudah terbukti. Bagaimanapun dirinya dan Pendekar Tangan Seribu mengelak, tetap akan percuma. Sebab semua ini sudah direncanakan dengan matang. Tak ada jalan keluar kecuali dua cara. Pertama mengakui lalu melawan, yang kedua mengakui lalu menyerah.


Dan atas hal ini, tentu saja Cakra Buana memilih untuk mengaku lalu melawan. Pantang bagi seorang pendekar sepertinya jika harus menyerah kepada musuh. Daripada menyerah, lebih baik mati.


"Paman, akui saja. Percuma, semua jawabanmu hanya sia-sia," kata Cakra Buana lewat batin. Sehingga hanya didengar oleh orang yang dia tuju.


"Tapi pangeran, aku tidak ingin membuatmu berada dalam bahaya," jawab Pendekar Tangan Seribu.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Aku harap kali ini kau menuruti semua kataku. Biar aku yang mengambil alih," ucap pemuda serba putih itu.


"Apakah kau yakin kita bisa keluar dari sini?"


"Sangat yakin. Aku tanggungjawab," tegasnya.


"Baik, aku menurutimu,"


Cakra Buana lalu memandang tajam ke arah Prabu Ajiraga dari balik topengnya. Tatapan mata mereka bertemu. Keduanya merasakan ada hawa ingin membunuh yang kental. Saat musuh ketemu musuh, kalau bukan hawa membunuh yang keluar, memangnya apalagi?


"Bagaimana, apakah sekarang kau sudah mengakui?"


"Baik, kami mengakui bahwa memang kami pelakunya. Kami membunuh karena melindungi diri," kata Cakra Buana.


"Tidak peduli apa alasanmu. Yang jelas itu artinya, kalian berdua telah berani menantangku,"


"Lalu kau mau apa?" tanya Cakra Buana.


"Aku mau tahu siapa dirimu yang sebenarnya," kata Prabu Ajiraga dengan sorot mata yang semakin tajam.


"Tidak ada kata menyesal bagiku,"


"Bagus. Lihatlah baik-baik,"


Cakra Buana lalu membuka jubahnya sehingga terlihat pakaiannya yang serba putih bersih. Sebilah pedang tersoren di di punggungnya di bungkus kain putih. Kemudian ia membuka topeng kayunya secara perlahan.


Begitu semuanya terbuka dan tampak jelas, semua orang yang di sana kaget bukan kepalang. Awalnya mereka hanya menduga bahwa orang itu Cakra Buana. Tak disangka dugaannya sangat tepat.


"Ca-cakra Buana …" ucap Prabu Ajiraga sedikit gugup.


"Benar. Ini aku, apakah kau kaget?"


"Hahaha … aku sudah menduganya dari awal. Bagaimana mungkin aku bisa kaget? Tanya raja itu.


"Wajahmu yang mengatakannya. Wajahmu pucat pasi, dan tatapan matamu menggambarkan kekagetan,"


Prabu Ajiraga bungkam. Ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya memang kaget. Bahkan sangat kaget. Tak disangka bahwa pemuda itu masih hidup dan Pedang Pusaka Dewa masih berada dalam genggamannya. Bahkan yang lebih membuatnya terkejut adalah kekuatan Cakra Buana sudah meningkat pesat. Mungkin hanya satu atau dua tingkat di bawahnya.

__ADS_1


"Punya nyali juga kau berani datang ke sini," kata Prabu Ajiraga sambil tersenyum sinis. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kau pikir aku takut? Jangan mimpi. Sekarang kalian sudah tahu siapa pembunuhnya dan siapa aku, lantas apa yang kalian inginkan lagi?" tanya Pendekar Maung Kulon sambil memandang berkeliling.


"Nyawamu … aku menginginkan nyawamu," kata Prabu Ajiraga sambil memberikan perintah kepada semua pendekar untuk menyerang.


Sebelas pendekar langsung bergerak. Mereka mencabut senjata masing-masing lalu maju menyerang Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


Pendekar Maung Kulon tidak tinggal diam. Ia tahu, kalau tidak segera berlaku serius, maka nyawanya jadi taruhan. Tanpa sungkan lagi Cakra Buana langsung mencabut Pedang Pusaka Dewa.


"Sringg …"


Pedang pusaka tercabut dari sarungnya. Kain pembungkus jatuh tepat di belakang kaki Cakra Buana. Pedang Pusaka Dewa langsung menunjukkan taringnya. Pamor senjata itu membuat suasana semakin tertekan.


Kelebatan senjata telah terlihat berkilat. Suara mendesing terdengar jelas.


"Trangg …"


"Trangg …"


Benturan logam terjadi saat itu juga. Tujuh senjata pusaka beradu dengan Pedang Pusaka Dewa. Cakra Buana menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah besar kepada pedang itu. Asap hitam mulai mengepul. Para pendekar yang senjatanya menempel di batang pedang tersebut, mulai bergetar. Bahkan tubuh mereka bergetar.


Cakra Buana menghentakkan pedangnya sehingga ketujuh senjata lawan terpental. Bahkan ada juga yang sempat terlepas. Suasana yang tadi hening, kini mulai gaduh oleh sebuah pertarungan.


Pendekar Tangan Seribu pun mengeluarkan jurusnya. Tangan pria itu berubah menjadi seperti sebuah baja. Empat senjata lawan, ia tahan dengan dua tangannya. Beberapa saat kemudian, mereka terpental ke belakang. Tak terkecuali Pendekar Tangan Seribu sendiri.


Ruangan tersebut cukup luas, sehingga pertarungan pun bisa dilaksanakan di dalamnya. Hanya saja, barang-barang antik milik istana pasti akan hancur. Walaupun agak sedikit sempit, tapi Cakra Buana sengaja tidak keluar. Ia memang ingin menghancurkan apa saja yang ada di sana.


Tujuh pendekar berdiri dengan garang. Sorot mata mereka sangat tajam bagaikan sebuah pisau yang siap menusuk jantung. Cakra Buana tidak kalah garang. Matanya memandang lurus melambangkan harimau yang sedang marah. Pedang Pusaka Dewa terus mengeluarkan asap hitam. Ia telah bersiap untuk menyambut serangan semua lawan.


Detik berikutnya, tiga orang lawan bergerak. Senjata mereka di ayunkan dari berbagai sisi. Ulu hati, paha dan perut jadi incaran ketiganya. Gerakan mereka sangat cepat. Bahkan dari kekuatan serangan, para pendekar ini lebih hebat satu tingkat daripada sepuluh pendekar yang sudah ia bunuh bersama Pendekar Tangan Seribu.


Cakra Buana tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua. Tapi kalau untuk berusaha keluar atau melukai di antara mereka, dia masih sanggup.


"Wushh …"


Cakra Buana bergerak cepat menyambut serangan tiga lawan sebelum mencapai sasarannya. Pedang Pusaka Dewa mulai dimainkan. Asap hitam semakin lama semakin pekat. Sehingga pedang pusaka itu terlihat bagaikan senjata iblis karena hawanya yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2