Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Gelombang Pantai Selatan


__ADS_3

Pendekar Pantai Selatan merasakan keterkejutan di dalam hatinya. Sebab baru kali ini dia melihat seorang pendekar muda yang tatapan matanya begitu tenang sekaligus tajam. Bahkan dibalik tatapan itu, ada sesuatu yang tak dapat di ukur bagaikan sebuah sumur yang dalam.


Hal itu menandakan bahwa Pendekar Pantai Selatan tak mampu mengukur sampai di mana kekuatan Cakra Buana. Berbeda dengan Pendekar Maung Kulon sendiri, dia bisa mengukur sekiranya sampai kekuatan lawan.


Menurut penglihatan Cakra Buana, Pendekar Pantai Selatan setidaknya berada setengah tingkat di bawah dirinya sendiri. Memang bukan hal mudah untuk bisa mengalahkannya, tapi jika dia berlaku sungguh-sungguh, maka bukan suatu hal mustahil juga untuk bisa membunuhnya.


Setelah sekian lama keduanya saling tatap dan saling ukur, akhirnya Pendekar Pantai Selatan merasa gentar sendiri. Tapi untuk memperlihatkan perasaan itu, rasanya tidak mungkin. Mengingat bahwa dia sendiri merupakan seorang pendekar kenamaan.


"Apakah kau benar pemuda yang bernama Cakra Buana? Yang memegang Pedang Pusaka Dewa?" tanya Pendekar Pantai Selatan. Suaranya pelan, tapi bisa terdengar jelas.


"Benar. Aku bernama Cakra Buana, dan aku juga yang memegang Pedang Pusaka Dewa. Kenapa?" tanya balik Cakra Buana dengan tenang.


"Hemmm … berani juga kau menampakkan diri. Perkenalkan, aku dikenal dengan sebutan Pendekar Pantai Selatan. Hampir semua pendekar tahu siapa aku," katanya dengan nada angkuh.


"Aku sudah tahu. Katakan saja apa alasanmu mencariku. Tidak perlu basa-basi,"


"Sombong. Tentu saja aku ingin kau menyerahkan Pedang Pusaka Dewa kepadaku sekarang. Jika kau memberikannya kepadaku, maka aku akan mengampunimu,"


"Lalu jika aku tak mau?" tanya Cakra Buana dengan nada menantang.


"Cihhh … terpaksa aku akan merebut secara paksa. Bahkan aku tak menjamin kau bisa selamat. Apalagi sekarang banyak para pendekar yang berkumpul di sini. Tentu saja mereka tidak bisa tinggal diam karena sudah mengetahui siapa kau,"


"Rebut saja jika kau mampu. Untuk itu aku tidak perlu takut, aku tidak khawatir akan banyaknya pendekar yang sekarang di sini. Aku yakin, tidak semua pendekar memiliki sifat yang sama sepertimu," balas Cakra Buana dengan sorot mata yang tajam.


"Benar-benar sombong. Apa kau pikir aku takut kepadamu? Kau belum tahu siapa Pendekar Pantai Selatan. Mungkin aku harus menunjukkannya kepadamu supaya kau tahu,"


"Silahkan," jawab Cakra Buana sambil memberikan isyarat dengan tangan yang di sodorkan ke depan.


Pendekar Pantai Selatan semakin geram. Giginya sudah gemeretak dan matanya melotot seperti hendak keluar. Perkataan Cakra Buana barusan, sama artinya dengan tantangan.

__ADS_1


"Sejak kapan kau ada di sini Cakra?" tanya Nenek Sakti.


"Sebelum kalian sampai, aku sudah lebih dulu di sini,"


"Gegabah. Apa kau tidak takut kepada para pendekar di sini?"


"Tenang saja nek. Aku sudah mengukur sampai di mana kekuatan mereka. Kita berempat pun sanggup, aku yakin kalian bisa dengan mudah mengalahkan Sepasang Elang Merah dari Selatan. Tapi untuk saat ini, kalian minggirlah. Biar aku yang akan menghadapi kakek bau tanah itu. Jika situasi tidak terkendali, maka kita harus bertindak lebih jauh," ucap Cakra Buana sedikit berbisik kepada Nenek Sakti.


"Baiklah. Aku percaya padamu," jawabnya lalu melangkah mundur beberapa jarak diikuti yang lainnya.


Pendekar Pantai Selatan sudah siap untuk bergerak. Dia bersenjatakan pedang dengan sarung dan gagang berwarna biru tua, senjata itu di taruh pada punggungnya. Akan tetapi sepertinya dia masih belum percaya dengan kekuatan Cakra Buana yang dia lihat. Sehingga dirinya tidak langsung menggunakan pedang pusakanya tersebut.


Cakra Buana pun sudah siap dengan kuda-kuda yang mirip dengan seekor harimau siap memangsanya. Dua pendekar pilih tanding siap untuk memulai pertarungan. Hawa dingin yang di suguhkan oleh sang malam, seketika lenyap ketika dua pendekar itu mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah besar.


Tubuh Cakra Buana dan Pendekar Pantai Selatan terlihat sedikit bercahaya. Ada aura tersendiri yang keluar dari dalam tubuh keduanya. Mau tak mau, pendekar yang merupakan kelas tengah ke bawah, harus mengakui bahwa mereka merasa ngeri karena aura tersebut.


"Haittt …"


Keduanya melompat serempak. Mereka bertemu di udara lalu beradu pukulan. Terus saling pukul hingga akhirnya mendarat kembali. Setelah menapak ke tanah, pertarungan semakin berlangsung seru. Pukulan dan tendangan mulai beradu dengan keras.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Desss …"


Dua telapak tangan bertemu. Menimbulkan sambaran angin besar yang dingin menerbangkan dedaunan. Cakra Buana dan Pendekar Maung Kulon melompat mundur.


Cakra Buana merasakan telapak tangannya sedikit ngilu. Sedangkan Pendekar Pantai Selatan lebih parah, dia merasakan seperti tersetrum hingga pangkal lengannya. Ada hawa panas yang menjalar. Tapi dengan mudah bisa dia singkirkan karena segera menyalurkan hawa murninya.

__ADS_1


Pendekar Pantai Selatan semakin geram. Kekuatan yang ia keluarkan lebih besar lagi. Tangannya mengeluarkan asap putih. Udara pun menjadi semakin dingin. Seolah mereka sedang berada di tengah laut.


"Gelombang Pantai Selatan …"


"Wuttt …"


Dia bergerak menyerang. Kedua tangannya membentuk tapak, gerakannya tidak cepat. Hanya sedang saja. Tapi di balik itu semua, ada sebuah kekuatan besar yang tersembunyi. Serangan Pendekar Pantai Selatan mengalir seperti air. Kadang ia lentur, kadang keras. Kadang santai, kadang menjadi lebih cepat dan ganas seperti ombak.


Cakra Buana sedikit kewalahan. Dia baru menemukan sebuah ilmu silat yang seperti ini. Ruang gerakanya seolah terkunci. Tak ada celah untuk lepas dari kurungan serangan yang datang bagaikan hujan itu. Pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga dalam besar sudah beberapa kali bersarang di tubuhnya.


"Plakkk …"


"Desss …"


"Ughhh …"


Cakra Buana terpental tiga langkah. Serangan miring dari telapak tangan Pendekar Pantai Selatan, berhasil telak mengenai uli hatinya. Cakra Buana merasakan sesak nafas. Dadanya bagaikan membeku. Dia mengigil beberapa saat sebelum menyalurkan hawa panas.


"Gila, ilmu macam apa ini. Pola serangannya sulit dibaca," gumam Cakra Buana.


Dia berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya turut mengeluarkan jurus yang jarang dia pakai pula.


"Sembilan Gerak Penghancur …"


"Wuttt …"


Cakra Buana bergerak. Dia mengeluarkan jurus ciptaannya sendiri sewaktu belajar kepada Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dulu. Jurus ini hanya memiliki sembilan gerakan, tapi setiap kali naik tingkatan, maka hasilnya akan semakin hebat lagi.


Ini adalah pertama kalinya dia mengeluarkan jurus ini. Entah akan berhasil atau tidak, tapi dia memutuskan untuk mencoba.

__ADS_1


###


Satu atau kalau sempat dua lagi, nanti nyusul ya. Untuk menggantikan yang kemarin tidak up😁


__ADS_2