
Pertarungan di kerajaan kecil itu semakin kacau balau. Korban terus berjatuhan. Mayat manusia bergelimpangan bagaikan domba yang mati kelaparan. Semakin larut malam, suasana semakin mencekam. Api berkobar semakin besar. Hawa panas dari kebakaran itu, terasa ke segala penjuru.
Ling Zhi masih terus mencari lawannya. Wanita cantik itu benar-benar berubah menjadi Dewi Kematian. Semua prajurit yang bertarung dengannya tidak ada yang bisa selamat dari maut.
Entah sudah berapa banyak nyawa prajurit yang mati di ujung Pedang Bunga. Sekarang, Ling Zhi masih berlari untuk mencari sasaran berikutnya.
Tak lama, dia di hadang oleh tiga puluh prajurit lagi. Tiga puluh prajurit ini dipimpin oleh dua orang pendekar berkepandaian kelas pilih tanding.
"Sepertinya perjalananmu akan berakhir sampai nona manis," kata salah satu pendekar yang memimpin bicara kepada Ling Zhi.
"Hemm … benarkah ucapanmu itu?"
"Tentu saja. Apakah kau pikir dirimu begitu hebat karena bisa menghabisi nyawa seratusan prajurit? Hemm …"
"Tentu saja. Dan kalian akan menjadi korban berikutnya," kata Ling Zhi penuh semangat.
Selesai berkata seperti itu, aura berwarna merah muda dari tubuh Ling Zhi segera keluar. Matanya menyorot tajam kepada tiga puluh dua orang itu.
"Wuttt …"
Ling Zhi bergerak. Tubuhnya meluncur deras ke arah lawan. Pedang Bunga sudah ia sabetkan hingga menebarkan hawa pedang. Setiap sabetan pedangnya mengeluarkan sinar merah menyala. Dalam tiga kali tebasan, tiga nyawa sudah melayang.
Puluhan orang tersebut lalu membentuk sebuah barisan untuk menghadang Ling Zhi. Kilatan perak menyilaukan mata. Ling Zhi mendengus dingin saat melihat gerak-gerik mereka.
"Mau menahanku? Masih jauh dari kata cukup," katanya lalu kembali melesat.
"Wushh …"
Sinar-sinar perak mulai beterbangan di udara. Benturan logam terdengar memekakkan telinga. Puluhan orang tersebut menyerang Ling Zhi secara bersamaan dari segala penjuru. Sayangnya itu semua tidak cukup untuk menahan Ling Zhi.
Bidadari Penebar Maut mengeluarkan jurusnya.
Dia menyabetkan pedang dengan pengarahan tenaga dalam besar. Sekali sabet, lima kepala menggelinding. Semua orang bergidik ngeri. Dia terus menerjang menghancurkan barisan tersebut.
__ADS_1
Tapi lawan juga tidak mau menyerah. Walaupun rekan mereka sudah banyak menjadi contoh, tapi apa boleh buat. Untuk mundur pun percuma. Maka dengan nekad, mereka terus berusaha memojokkan Ling Zhi.
Kelebatan sinar perak menggempur Ling Zhi. Semua serangan datangnya bagaikan badai sebuah badai yang besar. Ling Zhi terkurung dalam badai serangan tersebut.
Namun Ling Zhi juga bukanlah pendekar wanita yang lemah.
Dia adalah Bidadari Penebar Maut!
Dengan gerakan ringan, Ling Zhi mampu menghindari semua serangan. Walaupun dia harus bersusah payah terlebih dahulu, tapi akhirnya dia bisa aman tanpa mengalami luka sedikitpun.
"Tarian Bunga Kamboja …"
"Wushh …"
Ling Zhi sudah kelewat emosi. Pada akhirnya, jurus dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang, dia keluarkan. Tak tanggung-tanggung, jurus keenam yang terkenal sangat bahaya sudah keluar.
Keadaan menjadi berbalik dalam sekejap. Ling Zhi kembali berada di atas angin. Tubuhnya dengan sigap menghindar lalu menyerang. Satu-persatu, kepala manusia menggelinding terkena tebasan Pedang Bunga.
Tiga puluh prajurit itu, kini hanya tersisa tiga orang saja. Nyali mereka hilang ditelan bumi saat melihat bagaimana sepak terjang Ling Zhi. Bahkan pakaian mereka sudah banyak bercak-bercak darah rekannya sendiri.
"Mati …"
"Wuttt …"
Ling Zhi berkelebat. Ketiga prajurit itu tidak mampu melihat gerakan Ling Zhi. Mereka hanya melihat satu sinar merah memanjang yang datang dengan cepat bersama suara bergemuruh bagaikan guntur. Detik berikutnya, tubuh ketiga prajurit tersebut sudah ambruk ke tanah tanpa kepala.
Dua pendekar yang menjadi pemimpin tiga puluh prajurit itu, kaget melihat cara Ling Zhi bertarung. Mereka tidak menyangka bahwa wanita secantik dirinya bisa sekejam itu. Menurut keduanya, Bidadari Penebar Maut memang benar-benar sadis.
Ling Zhi tersenyum dingin kepada dua orang tersebut.
"Anak buah kalian telah pergi ke neraka. Selanjutnya adalah giliran kalian," katanya sambil tersenyum penuh arti.
Senyuman Ling Zhi yang biasanya menawan dan mampu menggetarkan hati kaum pria, saat ini telah berubah sebaliknya. Saat tersenyum, dia bagaikan iblis yang amat kejam. Apalagi ditambah darah yang sebagian menempel di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Persetan dengan ucapanmu. Kau pikir kami sama dengan mereka yang tidak becus mengatasi seorang wanita ****** sepertimu? Cihhh … kau salah besar," kata seorang diantara keduanya.
"Sama atau tidak, bagiku tidak berarti apa-apa. Yang harus diketahui bahwa kalian akan segera menyusul mereka," jawab Ling Zhi.
"Tutup mulutmu wanita ******!"
"Wuttt …"
Keduanya menyerang Ling Zhi secara bersamaan. Tubuh mereka melayang sambil memberikan sebuah tusukan pedang dan tombak. Gerakannya cukup gesit, namun itu semua bisa dihindari oleh Ling Zhi dengan tenang.
Pertarungan mereka terus berlanjut. Ketiga pendekar tersebut sudah berada dalam gulungan sinar kematian. Hawa pedang dan tombak merembes keluar dari ketiganya.
Di sisi lain, pertarungan pun berjalan dengan sengit. Para pendekar yang dipimpin oleh Cakra Buana, membabi buta menyerang setiap lawan yang ditemui.
Malam semakin larut. Suasana justru semakin mencekam. Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tempat ini. Yang jelas, semuanya tewas membela apa yang menurut mereka benar.
Sinar kelebatan senjata pusaka dan suara bergemuruh dari setiap jurus, terdengar saling susul-menyusul. Teriakan untuk membuat ciut nyali lawan, bergema ke seluruh jagat raya.
Setiap detik pasti ada nyawa melayang. Lebih dari seribu prajurit kerajaan telah tewas. Kematian mereka tak ada yang tenang. Semua mati mengenaskan.
Perang malam ini lebih pantas disebut dengan pembantaian besar-besaran. Sebab kedua belah pihak terlihat tidak seimbang. Pihak musuh sudah ribuan yang tewas. Sedangkan di pihak Cakra Buana, paling banyak hanya sepuluh orang yang menjadi korban.
Hal ini wajar, sebab seperti diceritakan sebelumnya bahwa para pendekar yang menyerang, hampir semuanya merupakan pendekar kelas pilih tanding.
Seratus pendekar pilih tanding, bukan apa-apa jika dibandingkan dengan seribu prajurit.
Tapi seratus pendekar ini, tidak ada apa-apanya jika menyerang kerajaan sebesar Kerajaan Kawasenan. Oleh karena itulah tidak semua pendekar turun tangan.
Di sebelah barat, Cakra Buana pun tak berbeda jauh dengan Ling Zhi. Pendekar Maung Kulon itu sudah membunuh banyak prajurit. Tak kurang dari seratus lima puluh prajurit jadi korban keganasannya.
Pedang Pusaka Dewa masih belum keluar dari sarung. Tapi Cakra Buana sudah mampu membantai nyawa manusia sebanyak itu. Yang paling membuat lawan tercengang adalah mereka tidak melihat rasa lelah di wajah Cakra Buana.
Sebaliknya, semakin banyak dia membunuh musuh, maka semakin terlihat ganas sepak terjangnya. Tak ada yang mampu selamat dari cengkraman Pendekar Maung Kulon.
__ADS_1
Semuanya merasa jeri. Semuanya bergidik melihat bagaimana dengan mudahnya dia mengakhiri hidup musuh.
Ling Zhi dan Cakra Buana tampil bagaikan dua ekor harimau. Mereka menerjang ke segala arah. Menggigit semua lawan. Dan menerkam siapa saja yang mereka temui.