
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Desiran angin kencang langsung terasa saat senjata kelima belas pendekar beradu dengan senjata lawan. Debu mengepul tinggi, menutupi pandangan mata para pendekar.
Sepuluh pendekar yang menyerang Cakra Buana dibuat tak berdaya. Mereka terpaku di tempat dengan keterkejutan saat melihat ada tiga sosok Cakra Buana dengan senjata pusaka yang berbeda-beda.
"Ajian Pecah Raga … tidak mungkin," gumam salah seorang pendekar seperti ketakutan.
Karena suasana di sekitar Cakra Buana hening, maka ucapan itu bisa terdengar jelas oleh para pendekar lainnya. Sembilan pendekar yang lainnya pun sama terkejutnya ketika mengenali salah satu ajian legendaris tersebut.
"Kaget ya? Tak ada gunanya. Semua sudah terlambat, saatnya akan dimulai," kata Cakra Buana yang asli.
Setelah selesai berkata demikian, tiga Cakra Buana langsung melesat menyerang sepuluh pendekar. Masing-masing mendapatkan tiga lawan. Hanya Cakra Buana asli saja yang mendapatkan empat lawan.
Dentingan senjata pusaka bertemu menggema di Bukit Maut. Angin berhawa panas dan dingin terasa silih berganti. Udara mencekam, hawa kematian semakin terasa. Sepertinya, malam ini akan ada banyak korban berjatuhan.
Lima belas pendekar yang menyaksikan pertarungan itu, semakin bergidik ngeri saat melihat sepak terjang Cakra Buana dan Ling Zhi. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sudah pergi. Para pendekar itu mungkin takut menjadi korban, sehingga mereka memilih untuk pergi daripada harus mati konyol.
Di sisi lain, Ling Zhi sedang bertarung melawan empat pendekar kelas menengah dan satu pendekar kelas atas. Dia seperti tidak kewalahan meskipun sebenarnya gadis itu harus mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Lima pendekar tersebut menyerang secara serentak. Meskipun berbeda perguruan, namun kelimanya bisa memberikan serangan beruntun yang cukup merepotkan.
Untung lawannya Ling Zhi, murid dari Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Jika bukan, tak ada jaminan dia mampu bertahan sampai sejauh ini. Pertarungan itu sudah berjalan hampir dua puluh menit. Puluhan jurus sudah berlalu.
Tapi sampai detik ini, kelima pendekar tersebut belum mampu memberikan luka kepada Ling Zhi, kecuali luka goresan pedang di beberapa titik. Hanya di bagian punggung kanan saja yang sedikit parah, tapi itu bukan masalah. Gadis itu benar-benar lincah. Gerakannya persis seperti seseorang yang sedang menari.
Dan memang begitulah kenyataannya. Ling Zhi sebenarnya sedang memperagakan ajaran Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang. Sehingga wajar jika gerakan gadis itu begitu indah, bahkan seperti mampu menghipnotis lawan.
"Bunga Mawar Merekah Saat Purnama …"
"Wuttt …"
Ling Zhi seperti bercahaya. Gerakannya menjadi lebih lincah dan gesit. Dia bergerak ke sana ke sini bagaikan sebuah bayangan. Pedangnya di gerakan sedemikian rupa sehingga membingungkan semua lawan.
Ini adalah jurus ke lima dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang. Baru kali ini Ling Zhi menggunakannya, tapi karena sudah sempurna, maka hasilnya jangan ditanya lagi.
__ADS_1
Kelima pendekar itu mulai kewalahan karena serangan Ling Zhi tiada hentinya.
"Tarian Bunga Kamboja …"
"Wuttt …"
Jurus keenam dikeluarkan. Ling Zhi semakin mendominasi pertarungan. Dua lawan sudah tergores oleh Pedang Bunga dengan luka cukup dalam.
"Amarah Dewi Bunga …"
"Werrr …"
Ling Zhi lenyap dari pandangan semua lawan. Kelima pendekar tak mampu melihat di mana keberadaan gadis itu. Sebenarnya Ling Zhi tidak menghilang, hanya saja dia menggunakan jurus ilusi. Sehingga lawan tak dapat melihat dirinya.
Bau semerbak bunga mulai masuk ke hidung kelima pendekar. Perlahan tapi pasti, mereka mulai merasa ngantuk dan lemas. Mereka terlihat tenang, bahkan ekspresi wajahnya pasrah. Seolah tak ada ancaman, yang ada hanyalah kenikmatan.
Hingga pada akhirnya ….
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Slebbb …"
"Ahhh …"
Tanpa menunggu waktu lama, kelima pendekar tewas tanpa sempat bersuara. Ling Zhi benar-benar seperti menjelma jadi Dewi Kematian. Para pendekar yang menyaksikan pertarungannya, tak ada yang mampu bersuara.
Berbarengan dengan Ling Zhi, tiga Cakra Buana sedang bertarung. Sama seperti wanitanya, Cakra Buana menikmati pertarungan itu. Karena pendekar yang melawannya jauh lebih hebat, terpaksa dia harus mengeluarkan tenaga dalam yang tidak sedikit.
Tapi itu bukanlah masalah besar. Apalagi Pedang Pusaka Dewa sudah keluar. Jurus demi jurus dia ladeni dengan santai. Seolah dirinya sedang melakukan latihan.
Keempat pendekar terkuat menyerang dengan cara membabi buta. Mereka tak lagi memikirkan keindahan serangan. Mereka hanya ingin Cakra Buana mati, bagaimana pun caranya.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Wuttt …"
Tiga Cakra Buana bergerak secara serempak. Ketiganya sudah bosan, sehingga mereka mulai mengeluarkan jurus-jurus yang berbahaya.
__ADS_1
Masing-masing lawannya mulai terpojok. Dentingan logam pusaka terus bertemu di udara. Menimbulkan hawa kematian dan percikan kembang api yang indah.
Malam semakin larut. Rembulan purnama pun mulai condong ke barat. Lolongan suara serigala jauh di dalam hutan, menambah ke angkeran Bukit Maut.
Dua Cakra Buana bergerak tanpa memberikan ruang bagi lawan untuk membalas. Hanya beberapa saat saja, enam pendekar tewas secara mengenaskan.
Setelah lawan mereka tewas, maka keduanya pun langsung lenyap dari pandangan mata.
Tinggal Cakra Buana asli saja yang masih bertarung. Sepertinya dia masih menikmati pertarungan itu. Hanya saja karena terlalu menikmati, beberapa kali dia hampir terkena sengatan senjata lawan.
"Kakang cepatlah! Sekarang bukan waktunya untuk main-main," kata Ling Zhi sedikit berteriak karena gemas menyaksikan pertarungan itu.
"Hahahah …, maafkan aku Ling Zhi. Baiklah, aku akan segera menyelesaikan pertarungan ini," jawab Cakra Buana yang langsung berlaku serius.
"Hiattt …"
"Langkah Dewa Angin … Pedang Seribu Bayangan …"
"Wuttt …"
Cakra Buana bergerak lebih cepat. Langkahnya bagikan angin. Keempat pendekar kelas atas itu bahkan dibuat kebingungan karena tidak bisa melihat dengan jelas gerakan Cakra Buana. Mereka hanya merasakan adanya desiran angin dingin yang bergerak ke arahnya.
Memang, semenjak tenaga dalamnya meningkat pesat dan ilmunya sudah mumpuni, kekuatan Cakra Buana dari setiap jurus yang ia hasilkan akan bertambah hebat beberapa kali lipat. Seperti sekarang ini, jika dahulu mungkin dia susah untuk mengeluarkan dua jurus sekaligus dengan sempurna.
Tapi sekarang beda lagi. Apalagi setelah dia berguru kepada Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Mungkin kekuatannya mampu mengimbangi satu datuk dunia persilatan. Sedangkan untuk kekuatan datuk saja, menghadapi dua puluh pendekar kelas atas bukanlah hal sulit. Dengan catatan tenaga dalamnya masih utuh.
Dengan gerakan secepat angin itu, Cakra Buana langsung mengubah keadaan. Dia seperti membalikan bumi, yang tadinya di desak, sekarang malah mendesak. Bahkan lebih hebat lagi.
"Wuttt …"
"Trangg … Clangg …" patah.
Keempat senjata pusaka lawan langsung patah ketika beradu dengan Pedang Pusaka Dewa. Setelah di patahkan, tanpa basa-basi Cakra Buana lalu melibas keempatnya.
"Srett …"
"Ahhh …" mati.
Satu-persatu dari keempat pendekar itu langsung tewas mengenaskan. Ada yang di tusuk di bagian dada, perut, bahkan di gorok lehernya. Mengerikan.
Seekor harimau yang diganggu, memang dapat berbuat kejam diluar perkiraan manusia.
__ADS_1
###
Satu lagi nanti ya😄satu-satu di cicil🙊