
Kakek tua itu memiliki postur tubuh sedang. Alisnya putih tebal. Jenggotnya juga cukup panjang sampai melebihi dagu. Walau sudah berusia lanjut, tapi rona wajahnya belum banyak keriput. Sinar matanya bening seperti air di sumur. Sorot matanya tajam penuh kelicikan dam kekejaman. Dalam bola mata itu, terlihat sebuah kekuatan yang sinar unruk di perkirakan.
Dia berjalan perlahan menghampiri Cakra Buana dan yang lainnya dengan angkuh.
"Eyang Batara Bodas …" kata keempat lawan Cakra Buana lalu segera menyambut kedatangan kakek tua itu. Sedangkan yang satu lagi, dia hanya bisa memberikan hormatnya di tempat semula sebab seluruh tubuhnya sudah tidak bertenaga.
Kakek tua itu hanya mendengus dingin lalu berjalan dan menghampiri Cakra Buana. Begitu tatapannya beradu pandang, mata dua pasang orang itu seketika mengandung hawa kebencian yang teramat sangat. Terlebih lagi Cakra Buana.
"Hemm, ternyata kau belum ****** juga manusia tidak tahu balas budi," kata kakek tua tersebut yang memang dialah Eyang Batara Bodas.
"Aku tidak mau mati sebelum mampu membunuhmu dengan tanganku sendiri," ucap Cakra Buana.
Perkataannya terdengar kencang, sehingga semua pendekar yang di sana bisa mendengarnya dengan jelas. Para pendekar yang tidak tahu itu masih belum mengerti apa yang terjadi antara Cakra Buana dan Eyang Batara Bodas.
Tapi yang pasti, semua orang yang ada di sana jelas mengetahui bahwa dua pendekar tersebut mempunyai masalah pribadi yang terus menaburkan benih-benih dendam.
"Bagus, aku suka ucapanmu. Tapi jangan berharap bisa membunuhku semudah yang kau kira. Sekalipun kau memegang Pedang Pusaka Dewa, tidak ada rasa gentar sedikitpun dalam hatiku," kata Eyang Batara Bodas. Suaranya terdengar sangat ditekan, bisa ditebak bahwa kakek tua itu sedang menahan amarah yang besar.
"Justru itu yang aku harapakan. Supaya aku bisa membunuhmu lebih sadis lagi,"
"Hemm, hemm, masih bocah tapi sudah berani kurang ajar di depanku," ejek Eyang Batara Bodas.
"Kenapa tidak? Kau hanyalah seorang kakek tua bau tanah yang sebentar lagi akan aku kirim ke alam baka,"
"******* …" bentak Eyang Batara Bodas.
Kakek tua itu seketika langsung naik pitam. Darahnya terasa bergejolak bagaikan sebuah lahar gunung berapi. Matanya semakin berkilat tajam memandang Cakra Buana.
"Lihat serangan …"
Tanpa panjang lebar, kakek tua itu tiba-tiba melesat cepat ke arah Cakra Buana. Tongkat pusakanya ia sapukan dari kanan ke kiri. Sapuan tongkat tersebut mengandung tenaga dalam dahsyat. Kecepatan jurusnya pun sulit dilihat mata biasa. Sehingga tahu-tahu sudah hampir mengenaii bahu kanan Cakra Buana.
__ADS_1
Namun Pendekar Maung Kulon masih berada pada posisi semula. Sedikit pun tidak ada rasa takut dalam wajahnya.
Detik berikutnya sapuan tongkat tadi hanya mengani tempat kosong. Cakra Buana tiba-tiba menghilang dari pandangan Eyang Batara Bodas.
"Kau mencariku kakek tua?"
Disaat kebingungan seperti itulah, tiba-tiba sebuah suara cukup mengejutkan kakek tua tersebut. Tahu-tahu Cakra Buana sudah berdiri di belakangnya dan sudah siap untuk memberikan serangan.
Dalam hati, Eyang Batara Bodas merasa gentar juga. Apalagi dia masih bingung karena hanya dalam waktu singkat, ilmu Cakra Buana sudah mengalami kenaikan yang luar biasa.
Eyang Batara Bodas buru-buru memberikan lagi sebuah serangan berbahaya kepada Cakra Buana. Tongkatnya ia ayunkan dengan kecepatan tinggi.
Kelebatan sinar kuning menyapu arena sekitar. Cakra Buana hanya memiringkan tubuhnya sedikit sehingga serangan kali ini pun mengalami kegagalan lagi.
Setelah itu, kini giliran Pendekar Maung Kulon yang mengambil tindakan. Pedang Pusaka Dewa perlahan ia ayunkan mengincar ke pergelangan tangan kanan Eyang Batara Bodas.
Melihat datangnya serangan musuh begitu lambat, kakek tua itu kembali mengejek Cakra Buana.
Akan tetapi baru saja selesai dia bicara demikian, tiba-tiba Pedang Pusaka Dewa yang digenggam oleh Cakra Buana mengubah gaya serangannya.
Eyang Batara Bodas terkesiap, dia tidak menyangka bahwa jurus pedang Cakra Buana ternyata sehebat ini. Kalau kekuatan lawannya di bawah Eyang Batara Bodas, sudah pasti dia tidak akan mampu menghindari serangan berbahaya ini.
Tapi lawan Cakra Buana kali ini adalah seorang kakek tua berkepandaian sangat tinggi, sehingga tidak mudah unruk merobohkannya.
Begitu serangan Cakra Buana hampir tiba, dengan gerakan mendadak, Eyang Batara Bodas mengayunkan kembali tongkat pusakanya.
"Trangg …"
Dua buah pusaka berbenturan. Pijarat kembang api langsung memercik ke udara. Keduanya sama-sama terpundur ke belakang.
'Tak disangka ilmu bocah ini sudah sangat tinggi. Aku tidak yakin bisa mengalahkannya dalam waktu singkat,' batin kakek tua tersebut.
__ADS_1
'Ternyata kekuatan orang tua bau tanah itu sudah memiliki kemajuan juga ya, hemmm. Kalau begitu aku tidak akan membuang waktu lagi,' batin Cakra Buana.
Detik berikutnya, mereka sudah saling serang lagi. Tongkat dan pedang terus beradu di pertarungan tersebut. Eyang Batara Bodas mengeluarkan segenap kemampuannya. Bagaimanapun, dia harus bisa mengalahkan Cakra Buana.
Pendekar Maung Kulon sudah mengeluarkan jurus-jurus Kitab Dewa Bermain Pedang.
"Dewa Pedang Mengoyak Gunung …"
Cakra Buana mulai menggempur Eyang Batara Bodas. Jurus ini adalah jurus maut urutan kedelapan dari kitab tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya jurus ini.
Pedang Pusaka Dewa menari-nari di atas gulungan tongkat. Tubuh Cakra Buana sudah tertutup sinar hitam dan kuning. Keduanya bertarung sengit di dalam gulungan sinar itu.
Lima pendekar yang menjadi lawan Cakra Buana, saat ini masih berdiri mematung di pinggir arena. Mereka merasa tegang melihat pertarungan hebat ini.
Eyang Batara Bodas yang dari tadi berada dalam posis bertahan, kini sedikit demi sedikit mulai melangkahkan kakinya untuk menyerang.
Tongkat pusaka masih dia mainkan. Pusaka itu seperti memiliki mata, walaupun Cakra Buana sudah menggempurnya tanpa kendor, tetap saja tongkat itu bisa menahan semua serangannya.
Ke mana perginya pedang Cakra Buana, maka tongkat di tangan Eyang Batara Bodas sudah siap menahannya.
Cakra Buana membentak keras. Tubuhnya meluncur sambil terus menyabetkan Pedang Pusaka Dewa ke segala arah. Suara bergemuruh bagaikan gunung runtuh mulai terdengar dari setiap ayunan pedang yang ditimbulkan dari jurus Cakra Buana.
Hawa pembunuhan terasa kental di saja. Eyang Batara Bodas mulai merasa kewalahan. Gerakannya masih kalah cepat satu tingkat dari Cakra Buana. Dengan tongkat yang lumayan berat, tentu hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Pendekar Maung Kulon.
Bentakan demi bentakan terus mereka keluarkan untuk mengagetkan lawan. Akan tetapi semua itu rasanya hanya percuma, sebab kedua pendekar yang sedang bertarung ini memiliki kemampuan tinggi. Sehingga keduanya masih bisa berkonsentrasi kepada pertarungannya.
Disaat seperti itulah tiba-tiba lima pendekar yang sebelumnya bertarung dengan Cakra Buana, melompat secara bersamaan ke arena pertarungan.
Kelimanya melihat bahwa Eyang Batara Bodas terus berada dalam posisi tidak menguntungkan. Karena itulah mereka berinisiatif untuk membantu kakek tua itu.
"Bagus. Lebih cepat, lebih baik," kata Cakra Buana sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1