
"Ka-kau Cakra Buana?" tanya wanita itu.
"Kau …, Irma Sulastri?" tanya Cakra Buana.
"Benar. Ini aku, aish tidak kusangka akan bertemu denganmu," ucapnya kegirangan.
"Aku kira kau sudah lupa kepadaku," kata Cakra Buana dengan tenang.
"Ti-tidak. Aku sama sekali tidak melupakanmu,"
"Syukurlah. Bagaimana dengan keadaan gurumu?"
"Guru baik-baik saja. Bahkan aku sedang menjalankan tugas guru. Tetapi gagal," kata Irma Sulastri dengan nada sedih.
Cakra Buana ingin menanyakan hal tersebut lebih lanjut. Tetapi rasanya itu adalah hal yang tidak sopan. Maka untuk mengalihkan pembicaraan, kemudian dia segera memberikan serbuk dari balik saku bajunya.
Serbuk tersebut merupakan sebuah obat luka.
"Terimakasih," kata Irma Sulastri lalu segera mengobati lukanya.
Setelah selesai, dia berjalan lalu kembali mengobati luka si pria muda. Karena lukanya lebih parah, maka pria muda itu kini sedang berada dalam keadaan pingsan.
"Siapa dia?" tanya Cakra Buana.
Dalam hati, dia merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan gadis ini. Dulu, dia sempat mencari-cari dirinya. Tetapi sayangnya ia tidak menemukannya. Dulu saat bertemu melawan empat datuk dunia persilatan, mereka tidak sempat bercakap-cakap walau sepatah kata pun.
Terlebih lagi, waktu itu Irma Sulastri terlihat sangat berbeda dan menjadi pendiam. Tidak disangkanya saat bertemu lagi, ternyata gadis itu sudah kembali ke sifatnya yang dulu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Irma Sulastri terlihat bingung untuk menjawabnya. Tetapi kalau tidak dijawab, Cakra Buana justru akan merasa tersinggung.
Bagaimanapun juga, kedua orang muda ini dulu sempat bertemu dan merasakan ada hal lain dalam pertemuan pertamanya. Maka ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, cukup untuk membuat Irma Sulastri kelimpungan.
"Dia, dia suamiku," jawabnya sambil menundukan kepala.
Seketika tubuh Cakra Buana langsung mematung. Dia merasa adanya sebuah petir yang dengan tepat menyambar jantungnya. Dia merasa telah terbang tinggi karena bertemu sosok yang dia cari selama ini dengan harapan bisa menempuh hidup baru.
Tak disangka, dirinya langsung jatuh terhempas ke sebuah jurang tanpa dasar. Tetapi bagaimanapun, Cakra Buana berusaha untuk menguatkan dirinya.
"Oh, kau sudah menikah? Selamat ya," ucapnya sambil berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Senyumannya memang terdengar tulus. Tapi di balik senyuman tersebut, terdapat sebuah perasaan yang sulit digambarkan. Untuk ketiga kalinya, Cakra Buana terluka karena cinta.
Beberapa waktu lalu, dia pernah mencintai seseorang. Tapi dia pergi karena dijodohkan oleh gurunya. Belum lama ini, dia ditinggal pergi jauh oleh kekasih hatinya juga. Dan sekarang, Cakra Buana merasakan hal yang sama.
Gadis yang dulu dia cari, kini sudah menikah. Sudah mendapatkan kehidupan baru. Sudah mendapatkan pendamping hidup yang baru.
"Ma-maaf. Aku pikir kau sudah melupakanku," kata Irma dengan suara lirih. Air matanya segera mengalir membasahi pipi.
"Sudahlah. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama," kata Cakra Buana.
Irma Sulastri tidak berkata lagi. Karena dia sendiri bingung mau menjawab apa. Tak ada suara, tak ada apapun. Yang ada hanyalah kesedihan dan tangisan.
"Dalam beberapa saat lagi luka kalian akan mengering. Maaf aku tidak bisa menemani lebih lama lagi. Masih ada urusan yang ditugaskan oleh guruku," ucap Cakra Buana.
"Baiklah. Terimakasih kakang. Aku harap kau selalu dilindungi Sang Hyang Widhi,"
"Terimakasih. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Cakra Buana.
Tak lama, dia segera pergi dari tempat itu. Mau tidak mau, hatinya terasa sakit kembali seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Yang paling menyakitkan adalah luka karena cinta. Luka ini memang tidak terlihat dan bahkan tidak menimbulkan darah.
Tapi luka ini teramat sangat menyakitkan. Bahkan sampai mati pun, mungkin lukanya tidak juga hilang.
Berapa banyak manusia di dunia ini yang terluka karena cinta?
Cakra Buana menggunakan ilmu meringankan tubuh secepat yang dia bisa. Entah ke mana tujuannya. Bahkan dia sendiri tidak tahu mau melakukan apa. Tugas yang tadi dia ucapkan hanyalah sebuah alasan semata.
Cukup lama Cakra Buana berlari tanpa arah tujuan sehingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari kampung dan sebuah kedai.
Menjelang siang hari, dia sudah mencapai sebuah perkampungan lagi. Tak berapa lama, sebuah kedai terlihat di depan. Cakra Buana segera ke sana.
Bukan untuk makan, melainkan untuk minum arak.
Ia memasuki kedai lalu segera memesan arak. Kedai itu terlihat cukup ramai. Ada beberapa orang di sana, dan kebanyakan mereka yang datang ini orang-orang dunia persilatan. Terlihat dari penampilan mereka yang menyandang berbagai macam senjata.
Dia memilih untuk duduk di sebuah pojok ruangan. Tak lama arak pun datang. Lantas dia meminumnya langsung dari kendi. Saat sedang asyik minum, tiba-tiba keadaan menjadi ricuh.
Dua orang pendekar yang baru datang sedang adu mulut.
"Aku yang datang duluan. Jadi ini tempatku. Kau pergilah mencari tempat lain," kata seorang yang sudah tua.
__ADS_1
"Enak saja. Aku datang lebih dulu, apa kau tidak mau mengalah kepada yang lebih muda?"
Keduanya terus cekcok hanya gara-gara sebuah bangku. Memang di kedai itu saat ini sedang ramai sehingga tidak ada bangku yang kosong, mungkin hal inilah yang membuat mereka adu mulut.
Bahkan si pemilik kedai yang merupakan sepasang suami istri tua pun tidak berusaha melerai keduanya. Sebab mereka tahu bahwa dua pendekar ini mempunyai nama yang cukup terkenal.
Semua orang yang ada di sana mengenali keduanya. Sehingga tidak ada yang berani memisahkan. Mungkin hanya Cakra Buana saja yang tidak mengenali mereka.
"Diam!!!" bentak Cakra Buana dengan sangat marah.
Hatinya sedang terluka. Perasaannya sedang campur aduk, dia butuh sebuah ketenangan. Oleh sebab itu dia memilih untuk mabuk. Tapi siapa sangka, dirinya malah terasa terganggu oleh dua orang itu.
Keadaan seketika menjadi hening. Semua mata menatap tajam kepadanya. Terlebih lagi dua orang yang adu mulut tersebut.
Dalam hati, meraka berpikir bahwa jika orang yang berteriak barusan itu, kalau tidak gila, pasti orang tersebut sudah bosan hidup.
"Siapa kau berani sekali membentakku?" tanya si orang dengan nada tinggi.
"Tidak perlu kau tahu siapa aku. Kalau mau minum, minumlah. Jangan membuat keributan di sini. Aku butuh ketenangan," ucap Cakra Buana dengan tegas.
"Lancang sekali mulutmu. Kau tidak tahu siapa aku heh?"
"Tidak peduli siapa kau. Kalau ingin membuat keributan, jangan di sini. Kalau memang kau ingin duduk, duduklah di tempatku," kata Cakra Buana.
"Aku tidak pantas duduk dengan orang rendahan sepertimu," kata si orang tua.
"Bocah bau kencur, berani sekali kau," ucap pendekar yang lebih muda.
"Kenapa tidak? Toh kalian sendiri yang membuat keributan,"
"Tapi kau yang mencari masalah,"
Suasana di kedai itu mendadak ricuh. Para pendekar yang tadi minum, satu-persatu mulai keluar kedai. Mereka tidak ingin terlihat dalam masalah ini.
Si pemilik kedai pun berusaha menenangkan mereka. Tetapi justru dia malah mendapat sebuah hantaman keras dari si pendekar muda yang tadi cekcok.
"Banyak bicara. Sepertinya kau sudah memakan nyali harimau," kata si orang tua.
Selesai berkata seperti itu, dia melemparkan sebuah cangkir bambu didekatnya. Cangkir itu melayang keras ke arah Cakra Buana. Dalam satu kedipan mata, cangkir tersebut hampir mengenai sasaran.
__ADS_1
Tapi siapa sangka, di saat seperti itu Cakra Buana mengangkat tangannya. Hanya dengan satu tusukan jari, dia menahan cangkir bambu itu sehingga membuatnya hancur berantakan.