Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertempuran di Hutan Larangan II


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama bertemu dengan sepuluh anggota Organisasi Tengkorak Maut yang setara dengan pendekar kelas bawah. Tanpa menunggu waktu yang lama, dia sudah maju menerjang sepuluh orang tersebut.


Jurus Harimau Mabuk Berat segera dia keluarkan bersama dengan jurus Ajian Tapak Dewa Nanggala.


Gempuran hantaman tapak dan cakaran langsung menghujani sepuluh orang tersebut. Walaupun Cakra Buana hanya mengeluarkan kekuatan sedapatnya, tapi hasilnya langsung terbukti.


Hanya dalam waktu singkat, sepuluh anggota langsung tewas ambruk di tanah. Ada yang terluka karena goresan cakar memanjang, ada juga yang tewas karena dadanya gosong di hantam Pendekar Tanpa Nama.


Bidadari Tak Bersayap tidak kalah dengan sepak terjang kekasihnya. Dua belas anggota Organisasi Tengkorak Maut menghadang jalan gadis maha cantik itu.


Tanpa banyak berkata ba-bi-bu, dia langsung mencabut Pedang Cantik dari Kahyangan. Pedang biru muda itu langsung membelah hutan. Batang pedang memancarkan sinar terang untuk sesaat kemudian lenyap kembali.


Hanya terlihat empat kali cahaya biru di Hutan Larangan. Setelah itu langsung lenyap tanpa jejak.


Tentu saja, sebab dua belas anggota itu kini telah terkapar tanya nyawa. Dua belas pendekar mengalami luka yang sama.


Sebuah luka lebar dari dada kiri hingga dada kanan.


Hanya empat kali tebas, dua belas nyawa dibuat melayang oleh seorang wanita cantik berjuluk Bidadari Tak Bersayap.


Sementara itu, lima tokoh lain juga berpencar. Mereka turut melakukan hal yang sama seperti Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap.


Menyusuri bagian hutan lalu melibas habis para pendekar kelas bawah Organisasi Tengkorak Maut.


Dengan kemampuan mereka yang sudah tidak diragukan lagi, menghabisi nyawa puluhan pendekar kelas bawah bukanlah perkara sulit.


Hanya membutuhkan beberapa jurus dan lima bagian tenaga dalam, puluhan pendekar kelas bawah berhasil mereka ratakan.


Hanya dalam waktu sekitar tiga puluh menit, tak kurang dari seratus nyawa telah dibuat melayang oleh pihak Nyai Tangan Racun Hati Suci.


Lima puluhan anggota yang mereka bawa, kini turut andil dalam pertempuran. Sepak terjang mereka cukup untuk menggetarkan mental lawannya.


Dengan senjata bermacam-macam, puluhan orang tersebut bertarung dengan setiap anggota Organisasi Tengkorak Maut yang mereka temukan.


Lima tokoh sudah berkumpul di satu titik. Mereka akan langsung menuju ke titik utama untuk bertempur melawan dua puluh pendekar kelas atas.


Entah apa yang akan terjadi sebentar lagi. Mereka sendiri tidak yakin akan menang.


Meskipun kemampuannya sudah tidak terukur, tapi jumlah lawan jauh lebih banyak.

__ADS_1


Kalau melawan pendekar kelas menengah masih bisa meraih kemenangan, tapi kalau pendekar kelas atas, tidak ada jaminan.


Berhasil mengalahkan mereka, belum tentu dapat berhasil mengalahkan tokoh utama dari Organisasi Tengkorak Maut.


Seperti yang diceritakan Cakra Buana sebelumnya, di dalam bangunan masih ada seorang wanita cantik yang diduga dalang dari organisasi tersebut. Selain itu, ada juga beberapa pendekar lain yang mendampinginya.


"Apakah kita akan menyerang sekarang juga?" tanya Kakek Sakti Alis Tebal kepada empat tokoh lainnya.


"Menurutku, lebih cepat lebih baik. Aku tidak suka berlama-lama di hutan seperti ini," ucap Raja Tombak Emas dari Utara.


Semua orang tahu bahwa sifat kakek tua itu tidak jelas. Kadang lemah lembut, terkadang juga keras. Kadang senang, kadang sedih tidak karuan.


Sehingga mendengar perkataannya barusan, empat rekannya terlihat biasa saja. Tidak ada yang marah sedikitpun karena mereka sudah mengenalnya.


"Orang tua bodoh, kau sabarlah sebentar. Semuanya harus memakai perhitungan yang tepat dan akurat. Memangnya kau mau mati di tempat seperti ini?" tanya Nyai Tangan Racun Hati Suci kepada kakek tua itu.


Ketiga tokoh yang tidak terkena semprotan wanita tua itu tertawa. Nyai Tangan Racun Hati Suci adalah satu-satunya datuk rimba hijau berjenis kelamin wanita.


Selain itu, kekuatannya juga di atas Raja Tombak Emas sendiri. Mengetahui perkataannya salah, kakek tua tersebut langsung meminta maaf saat itu juga.


"Baiklah, baiklah. Maafkan aku. Terserah apa katamu saja. Aku hanya mengikuti," kata Raja Tombak Emas dari Utara sedikit ketus.


"Baik," jawab empat tokoh serempak.


Mereka menunggu di sana. Walaupun terkesan hanya berdiri tenang tanpa persiapan, tapi sesungguhnya mereka telah meningkatkan kewaspadaan sampai ke titik tertinggi.


Jangankan suara orang berlari, suara helaan nafas saja, mereka dapat mendengarnya.


Orang-orang seperti lima tokoh tersebut, adalah orang-orang yang sudah di atas rata-rata. Tubuh mereka telah terlatih secara maksimal dalam menghadapi bahaya.


Jangankan saat sadar, saat tertidur sekalipun, mereka dapat mengetahui kalau ada bahaya yang sedang mengancam.


"Mereka datang," kata seorang pendekar pilihan yang dulu pernah datang ke Perguruan Tunggal Sadewo.


Usianya baru sekitar tiga puluh lima tahun. Tapi kemampuannya sudah terbilang tinggi, namun, belum mampu untuk mengalahkan Pendekar Tanpa Nama.


Cakra Buana sendiri tidak termasuk ke dalam lima tokoh penting, karena memang dia yang meminta. Pemuda itu lebih memilih menjadi orang yang menjaga keamanan para anggota bersama kekasihnya.


Baginya, hal tersebut lebih menyenangkan.

__ADS_1


Yang bicara barusan, biasa disebut Pendekar Belati Kembar.


Senjatanya memang hanya dua bilah belati. Tetapi bukan belati biasa.


Karena dua belati tersebut, sudah banyak sekali mencabut nyawa manusia.


Bukan hanya itu saja, belati tersebut juga dapat kembali ke pemiliknya jika dilemparkan.


Terbilang aneh, tapi memang nyata.


Karena jiwanya sudah menyatu dengan kedua belati kembar tersebut.


Kini semua tokoh telah bersiap. Mereka mengambil posisi masing-masing untuk menyambung orang-orang yang sebentar lagi akan datang.


Tidak terlalu lama kemudian, yang ditunggu datang juga. Sekitar tiga puluh anggota Organisasi Tengkorak Maut langsung menyerang lima tokoh kelas atas itu.


Di saat mereka riuh mengacungkan senjatanya masing-masing, dua buah sinar berkelebat sangat cepat membelah gelapnya Hutan Larangan.


Dua sinar tersebut berwarna putih terang. Melesat cepat mengelilingi orang-orang yang datang.


Beberapa saat kemudian, sepuluh orang telah tewas dengan luka di leher.


Belati kembar.


Belati itulah yang tadi melesat menjadi dua sinar putih.


Tidak berselang lama, sepuluh orang tewas kembali. Semakin berjalannya waktu, semakin bertambah juga jumlah korbannya yang dibunuh oleh kelima tokoh penting tersebut.


Hanya dalam waktu singkat, tak kurang dari lima puluh pendekar kelas bawah, terkapar tak bernyawa.


Sekarang berbeda dengan tadi. Tadi, tiga tokoh hanya bermain-main, sehingga pertarungan mereka sedikit lebih lama.


Tapi sekarang, mereka semua sudah serius. Kalau sudah seperti ini, seratus anggota sekalipun, akan dilibas habis tanpa sisa.


"Apakah ada lagi?" tanya Raja Tombak Emas dari Utara


Entah kepada siapa dia bertanya. Yang jelas, suara itu cukup untuk membuat seisi hutan dipenuhi oleh suaranya.


"Wushh …"

__ADS_1


Baru saja selesai berkata demikian, tiga batang jarum hitam melesat dengan sangat cepat ke arah kakek tua tersebut.


__ADS_2