Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sungguh Tidak Tahu Malu, Beraninya Mengeroyok Anak Muda


__ADS_3

Cakra Buana perlahan bangun. Dadanya terasa sesak, seperti di tindih dengan batu seukuran gubuk. Sakitnya bukan kepalang. Tapi semua rasa itu seketika sirna ketika Pendekar Maung Kulon kembali tersadar dengan keadaan yang harus dia hadapi.


Cakra Buana berdiri beberapa saat sambil menyalurkan seluruh tenaga dalam. Dia berniat mengeluarkan kemampuan sebenarnya setelah seluruh tubuhnya dialiri dengan bahwa murni.


Ketika semuanya sudah selesai, dia melompat tinggi. Sekali loncatan, Cakra Buana sudah berada sepuluh langkah di depan si Tengkorak Muka Putih dan Raja Sembilan Nyawa, dua datuk persilatan yang sangat ditakuti lawan dan disegani kawan.


"Maaf, apa maksud ki dulur menahan seranganku? Bukankah ki dulur hanya ingin menyaksikan pertarunganku saja?" tanya Cakra Buana berbasa-basi. Dia ingin mengulur waktu untuk menyempurnakan persiapannya.


"Tidak ada salahnya bukan? Tadi iya. Tapi sekarang tidak, biarkanlah kami bermain-main sebentar dengamu anak muda," kata Tengkorak Muka Putih menjawan pertanyaan Cakra Buana.


"Apakah kalian berdua tidak malu jika harus mengeroyokku?"


"Kenapa harus malu? Di sini tidak ada siapa-siapa selain kita. Jadi aku rasa … apa yang terjadi hari ini bisa menjadi rahasia kita saja," jawab Raja Sembilan Nyawa.


"Aku rasa kalian sudah faham bahwa mengeroyok itu adalah perbuatan seorang pengecut. Dan sekarang, dua datuk dunia persilatan ingin melakukan hal pengecut itu? Sungguh tidak tahu malu,"


"Terserah kau mau bicara apa. Kami melihat kemampuanmu yang begitu tinggi, sehingga sampai membuat kami harus memujimu anak muda,"


"Aku tidak butuh pujian kalian,"


"Baiklah, terserah kau saja. Sekarang, mari kita bermain-main sebentar. Keluarkan seluruh kemampuanmu, kami ingin melihat sampai di mana kehebatan seorang pemuda yang membawa Pedang Pusaka Dewa. Apakah kau memang pantas membawa pedang pusaka itu, atau sebaliknya," ucap Raja Sembilan Nyawa.


"Hemmm … majulah!" tantang Cakra Buana menutupi rasa gentarnya.


"Haittt …"


"Tahan serangan pertama …"


Dua detik menyerang. Raja Sembilan Nyawa memberikan sebuah pukulan energi dari jarak jauh. Sedangkan Tengkorak Muka Putih memberikan serangan dari dekat.


Cakra Buana pun mulai bergerak. Tubuhnya berjumpalitan beberapa kali untuk menghindari serangan Raja Sembilan Nyawa. Sayangnya, sebelum kakinya mendarat, Tengkorak Muka Putih sudah tiba di depannya. Sebuah pukulan sudah siap bersarang di dadanya.


"Utsss …"


Cakra Buana melompat dan bersalto kembali. Tapi sebelum mendarat, lagi-lagi lawan sudah berada di hadapannya. Kali ini dua datuk itu menyerang bersama dari jarak yang dekat.


Pukulan beruntun sudah di lancarkan oleh Tengkorak Muka Putih dan Raja Sembilan Nyawa. Setiap serangan mereka mampu menghancurkan batu sebesar kerbau, bisa di bayangkan betapa tingginya kanuragan dua datuk tersebut.


"Wuttt …"

__ADS_1


"Wuttt …"


Suara deru angin mulai terdengar seiring pertarungan yang semakin hebat. Ketiganya berkelebat kesana kemari dengan gerakan yang sangat cepat. Saking cepatnya, ketiga pendekar tersebut lebih mirip seperti bayangan.


Raja Sembilan Nyawa menyerang dari sisi kanan. Sedangkan Tengorak Muka Putih dari samping kiri. Serangan dua datuk bagaikan kilat yang menyambar Sangat cepat dan berbahaya sekali.


Sejauh ini Cakra Buana terus mencoba untuk menghindari adu tenaga dengan dua datuk itu. Dia memang sengaja melakukan hal tersebut, sebab sebelumnya Cakra Buana sudah mencoba beradu tenaga. Sayangnya dia tak kuasa, tubuhnya bergetar hebat seperti tersetrum.


Maka langkah yang paling tepat adalah menghindari setiap serangan, dan menyerang disaat ada kesempatan. Sayangnya kesempatan itu bisa di hitung dengan jari, sebab pertahanan dua tokoh itu sangat mustahil untuk ditembus dengan mudah. Tentu saja, sebab mereka seorang datuk dunia persilatan.


Melihat bahwa Cakra Buana terus menghindar, Tengkorak Muka Putih dan Raja Sembilan Nyawa semakin geram. Hal ini bagi keduanya sama saja dengan sebuah ejekan.


Maka oleh karenanya, dua tokoh tersebut mempercepat serangan dan sedikit mengubah polanya. Tubuh keduanya lenyap ditelan sinar yang menyambar ke segala arah.


Cakra Buana mulai kewalahan, betatapun dia mengeluarkan seluruh kemampuan, tetap saja dirinya tidak sanggup untuk menandingi mereka.


"Amarah Dewa …"


"Wuttt …"


Cakra Buana memberikan sebuah serangan jarak jauh yang berbahaya setelah sebelumnya melompat mundur. Dua buah bola energi berwarna putih terlihat melesat dengan cepat ke arah lawan.


Jika orang lain, maka pastilah sangat sulit untuk menghindari serangan tersebut. Tapi karena mereka seorang datuk, hanya dengan menyodorkan telapal tangan, dua bola energi itu langsung berhenti dan meledak hingga menimbulkan dentuman yang keras.


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"Ahhh …"


Sebuah tendangan yang tak disangka-sangka berhasil mengenai tulang rusuk kanannya. Serangan itu datang dari kaki Tengkorak Muka Putih.


Akibatnya, Cakra Buana langsung terlempar beberapa tombak. Padahal tendangan itu terlihat sangat pelan, tapi efeknya sungguh luar biasa.


Pendekar Maung Kulon itu merasakan beberapa tulang rusuknya remuk.


"Jika terus seperti ini, aku bisa mati," gumam Cakra Buana.


Dia kemudian bangkit perlahan. Dadanya mulai panas seperti terbakar. Waktu seolah terhenti. Udara mencekam. Angin menghilang, lenyap entah kemana.

__ADS_1


Cakra Buana jongkok dengan ditopang oleh lutut kanan yang di taruh di pinggir dada. Lutut kirinya di tekuk ke belakang. Kedua telapak tangannya di tempelkan ke tanah.


Kemudian, Cakra Buana berteriak dengan sangat keras, "Ajian Rengkah Gunung …"


"Wuttt …"


Sukamnya keluar dari tubuh. Sukma itu melesat menyerang Raja Sembilan Nyawa dengan sangat cepat.


"Pukulan Dewa Api …"


"Wuttt …"


"Blarrr …"


Kejadian yang sangat tak disangka-sangka terjadi. Di saat Ajian Rengkah Gunung hampir mengenai sasaran, di saat itu juga Raja Sembilan Nyawa mengeluarkan ilmunya. Kedua tangannya mengeluarkan api, lalu menahan sukma Cakra Buana yang akan menyerang dirinya.


Sontak saja sukma itu langsung terlempar dan langsung masuk ke tubuh Cakra Buana. Begitu sukmanya masuk secara "terpaksa", Cakra Buana terpental kembali.


Begitu berhenti, darah segar dengan jumlah cukup banyak segera keluar dari mulutnya. Dia muntah darah kehitaman. Pertanda bahwa tubuhnya terluka dalam.


"Uhukkk …" Cakra Buana kembali batuk darah.


Baru sekali menerima jurus yang tak disangka, dia langsung mengalami efek fatal, padahal Raja Sembilan Nyawa hanya mengeluarkan setengah dari kekuatan aslinnya, Entah seperti apa jadinya jika dia menyerang dengan kekuatan penuh.


"Bangun anak muda. Aku yakin kau belum mau mati kan? Hahahaha …" Raja Sembilan Nyawa tertawa menggelegar menyaksikan Cakra Buana yang sedang menahan sakit.


Tapi tiba-tiba …"


"Wuttt …"


"Utsss …"


"Blarrr …"


"Blarrr …"


Dua buah sinar kuning dan biru melesat ke arah Tengkorak Muka Putih dan Raja Sembilan Nyawa. Untung saja keduanya segera menghindar sehingga sinar tersebut hanya mengenai batang pohon hingga hancur berkeping-keping. Terlambat sedikit saja, maka mereka pasti sudah terkena serangan yang entah siapa pengirimnya tersebut.


"Sungguh tidak tahu malu, beraninya mengeroyok anak muda. Dasar orang tua t*lol …"

__ADS_1


Di tengah kebingungannya, dua datuk persilatan itu di kagetkan lagi dengan suara kakek-kakek yang menggema di seluruh penjuru hutan. Entah siapa, sebab ada suara tanpa wujud.


"Keluar kau! Perlihatkan batang hidungmu keparat …" maki Tengkorak Muka Putih.


__ADS_2