Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan di Bukit Maut I


__ADS_3

Dua belah pihak sudah mengambil sikap kuda-kuda. Sepasang Elang Merah dari Selatan memiliki kuda-kuda mirip burung elang yang siap mencakar mangsanya.


Tiga jari kedua tangannya membentuk cakar elang. Kaki kanannya di tarik ke depan agak condong. Kaki kiri di tarik ke belakang.


Sedangkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, mengambil sikap kuda-kuda dengan santai. Sebelah tangan di kepalkan, dan sebelah tangan lagi membentuk tamparan. Dua pihak sudah bersiap untuk memulai pertarungan. Penonton pun bersorak semakin ramai.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Sepasang Elang Merah dari Selatan lebih dahulu menyerang. Mereka melompat lalu memberikan serangan dengan kedua tangannya. Si Kakek Sakti melawan Elang Merah Jantan, sedangkan si Nenek Sakti melawan Elang Merah Betina.


Kesiur angin tajam dari pasangan pendekar tua itu mulai terasa. Para penonton pun sedikit menjauh supaya tidak terkena efeknya.


Elang Jantan Merah menyerang langsung dengan jurus tingkat tinggi. Kaki dan tanganya seperti menyatu. Kadang mencakar, kadang pula menampar mengincar bagian berbahaya dari lawannya.


Tapi meskipun begitu, Kakek Sakti bukanlah pendekar tua yang bisa di anggap enteng. Pengalamannya dalam bertarung hidup dan mati sudah tidak terhitung lagi. Tubuhnya sudah terbiasa berada dalam situasi berbahaya.


Sehingga Kakek Sakti selalu bisa menghindari serangan beruntun yang diberikan oleh Elang Merah Jantan.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Plakkk …"


Dua tangan dan kaki mereka terus beradu dengan keras. Semakin malam, udara semakin dingin dan mencekam. Orang-orang yang melihat tidak ada yang bicara, bahkan rasanya berkedip pun tidak. Mereka takut terlewat walau satu serangan di antara pertarungan kali ini.


Sebab bagi pendekar yang usianya masih muda, pertarungan tokoh tua ini bisa menjadi pembelajaran untuk mereka nantinya. Sehingga rasanya sayang kalau sampai mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Jurus demi jurus terus berlalu. Tapi Elang Merah Jantan merasa sangat kesulitan untuk menembus benteng pertahanan Kakek Sakti. Beberapa kali dia mencoba untuk memaksakan dengan memberikan serangan beruntun yang berbahaya, sayangnya semua itu bisa dihalau dengan mudah.


"Elang Merah Mengoyak Bebatuan …"


"Wuttt …"


Elang Merah Jantan mengubah pola serangan. Tenaga dalam yang terkandung pun semakin besar. Kedua tangannya bergerak lebih cepat dan lebih lincah. Dia seperti terbang, gerakannya benar-benar mirip seekor elang yang sedang mengoyak mangsanya.


Kakek Sakti tak mau kalah, sebagai tokoh yang sudah mempunyai nama, dia pasti menyimpan jurus-jurus berbahaya yang jarang di keluarkan.


"Membalikan Awan di Langit …"


"Wuttt …"


Kakek Sakti mengambil tindakan. Tangannya bergerak dengan lentur. Sekilas gerakan itu sangatlah lambat, tapi anehnya bisa menghalau semua serangan Elang Merah Jantan yang datang begitu cepat.


Keduanya terus bertempur dengan segenap kekuatan. Semakin lama, semakin nampak bahwa Kakek Sakti perlahan mulai menguasai keadaan.


Walaupun usianya sudah lanjut, tapi ternyata Nenek Sakti masih memiliki tenaga dalam yang sukar diukur. Elang Merah Betina sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya sedari awal pertandingan dengan maksud untuk mempercepat.


Sayangnya perkiraan dia salah, yang ada justru semakin lama. Karena ketika dia berlaku lebih serius, Nenek Sakti pun lebih serius lagi.


"Sudahilah semua ini nenek tua. Apakah kau tidak malu dengan mereka yang muda-muda? Kita bertarung hanya karena masalah sepele, ingatlah akan umurmu," kata Nenek Sakti ditengah-tengah gempurangan serangan Elang Merah Betina.


"Diam kau nenek bau tanah. Kau sendiri lebih tua dariku. Kau pikir aku tak mampu mengalahkanmu? Terima ini …"


"Sayap Elang Mengibas Daun Kering …"


"Wuttt …"

__ADS_1


Desiran angin tajam tiba-tiba muncul dan bergerak dengan cepat ke arah Nenek Sakti. Jurus ini bukanlah jurus sembarangan, karena jika lawan tidak kuat, maka dia bisa terkoyak oleh angin tajam yang di hasilkan dari jurus tersebut.


"Tamparan Dewi Maut …"


"Wuttt …"


Nenek Sakti mengeluarkan jurusnya yang tak kalah hebat. Dia memberikan serangan jarak jauh berupa tamparan yang mengandung tenaga dalam besar. Kedua tangannya di kibaskan, begitu juga dengan Elang Merah Betina.


Dua tokoh wanita sedang bertarung jurus jarak jauh. Semua penonton semakin terkesima melihat pertarungan ini. Sebab semakin larut malam, jurus-jurus yang jarang di perlihatkan oleh dua pasang tokoh tersebut, kini mulai bermunculan satu-persatu.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Desss …"


Adu tenaga dalam semakin lama semakin menarik. Sinar-sinar berkelebat di bawah gelapnya malam. Kadang kala, dua pasang pendekar itu bergerak dengan cepat mirip sebuah bayangan.


Beberapa batang dahan pohon patah karena terkena sambaran tenaga dalam yang tidak mengenai sasaran. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah berdiri berdampingan kembali. Begitupun dengan Sepasang Elang Merah dari Selatan.


Keempatnya memperlihatkan wajah kelelahan. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh. Nafas pun sudah tersengal-sengal. Di tubuh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tampak ada beberapa luka ringan.


Sedangkan di beberapa bagian tubuh Sepasang Elang Merah dari Selatan, nampak luka-luka yang agak parah. Darah perlahan terus merembes keluar membasahi pakaian.


"Bagaimana, apakah kalian masih keras kepala?" tanya Kakek Sakti.


"Cihhh … jangan sombong kau orang tua. Semua ini belum apa-apa, pertarungan yang sesungguhnya baru akan segera di mulai sekarang," jawab Elang Merah Jantan.


Setelah berkata demikian, dia menarik nafas dalam-dalam. Matanya di pejamkan, sedangkan mulutnya komat-kamit. Entah apa yang terjadi, angin dingin tiba-tiba menerpa tempat tersebut. Setelah angin itu lenyap, semua luka yang di derita Sepasang Elang Merah dari Selatan pun ikut hilang tanpa bekas.

__ADS_1


Agaknya, pertarungan di Bukit Maut ini akan kembali berlangsung lebih seru lagi. Karena kini dua pasang pendekar tersebut sudah lebih serius daripada sebelumnya.


__ADS_2