
"Muridku, kau carilah tempat untuk memulihkan tubuhmu bersama Adipati. Serahkan bocah ini kepadaku, dalam dua puluh jurus aku akan membawa kepalanya untukmu," kata Ki Ragen Denta dengan nada menyombongkan diri.
Munding Aji tidak berani membantah. Lagi pula, luka yang dia terima akibat serangan Cakra Buana tadi memang terbilang parah. Maka tanpa banyak bicara lagi, Munding Aji langsung berjalan mendekati pohon asem yang ada disana diikuti oleh Adipati Wulung Sangit yang dibopong anaknya, Raden Buyut Sangkar.
Tapi sebelum Ki Ragen Denta maju menyerang, tiba-tiba saja Nyai Kembang Ros Beureum bersama dua muridnya maju menghadang kakek tua itu.
"Sebaiknya aki diam saja, biarkan kami yang akan menghadapi pemuda itu dahulu. Kami memiliki urusan pribadi dengannya. Jika terbukti bahwa dia sangat kuat, maka aku mohon kemurahan hati aki untuk membantu," kata Nyai Kembang kepada Ki Ragen Denta.
"Hemmm … baiklah kalau begitu. Karena aku memandangmu, aku menuruti kemauanmu Nyai Dewi," ucap Ki Ragen.
"Terimakasih aki," jawab Nyai Kembang.
Nyai Kembang membalikan tubuhnya sehingga kini dia dan dua muridnya sudah menghadap ke arah Cakra Buana.
"Mari Citra, Dyah, kita habisi pemuda sialan itu,"
"Baik guru," jawab Citra Kirana dan Dyah Rengganis secara bersamaan.
Tapi lagi-lagi, gerakan mereka terhenti ketika mendengar teriakan dari belakang.
"Tunggu Nyai. Kau jangan melupakanku, aku juga masih mempunyai urusan dengan pemuda keparat itu," kata Raden Buyut Sangkar sambil mendekati mereka.
"Ah kau benar. Baik Raden, mari kita serang dia bersama-sama,"
Sementara itu, Ayu Pertiwi pun turut mendekati yang lainnya. Tapi wajahnya jelas menggambarkan kebimbangan.
"Ayo istriku, kau ikutlah dengan kami untuk menyerang pemuda itu," kata Raden Buyut Sangkar mengajak Ayu Pertiwi.
Di sisi lain, Cakra Buana yang sedari tadi sudah bersiap untuk menghadapi semua lawan, kini menjadi lebih terkejut. kuda-kudanya sedikit goyah. Tubuhnya bergetar ketika mendengar kata yang di ucapkan oleh Raden Buyut Sangkar.
Istriku? Jadi … Ayu Pertiwi benar-benar sudah menikah dengan Raden Buyut Sangkar?
Bisa dibayangkan betapa sakit hati Pendekar Maung Kulon tersebut. Cintanya kepada Ayu Pertiwi bahkan tidak berubah, justru lebih besar lagi. Tapi kenyataan berkata lain. Cinta dan rindu yang sudah dia pendam selama ini, terpaksa harus kandas ditengah jalan.
Wanita yang dia mimpikan akan menjadi pendamping hidupnya, sudah diambil orang. Bunga yang selalu terbayang di matanya sudah dipetik. Apa boleh buat, dia harus bisa menerima semuanya.
"Ba-baik kakang," kata Ayu Pertiwi menjawab ajakan suaminya, Raden Buyut Sangkar, untuk menyerang Cakra Buana.
"Bagus, kita habisi dia bersama-sama," kata Nyai Kembang.
"Heh pemuda sialan, bagaimana, apakah kau berani menghadapi kami secara bersamaan?" tanya Nyai Kembang kepada Cakra Buana dengan suara lantang.
__ADS_1
Cakra Buana baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Nyai Kembang. Hatinya sekarang sudah bulat, dia harus bisa melupakan Ayu Pertiwi.
"Hemmm … jangan sebut aku Cakra Buana jika takut menghadapi manusia busuk seperti kalian ini," kata Cakra Buana dengan garang untuk menutupi hatinya yang kini bergejolak.
"Bagus. Mulutmu memang pantas aku robek …"
"Bersiaplah!"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Lima orang termasuk Ayu Pertiwi sendiri maju menyerang Cakra Buana. Kelimanya langsung mencabut senjata masing-masing. Gerakan mereka sangat teratur, sehingga serangan pertama yang datang pun terbilang sangat berbahaya.
Cakra Buana sudah bersiap menyambut semua serangan itu. Tapi meskipun begitu, tetap saja hatinya masih dilanda gejolak asmara. Hasilnya adalah rasa semangat Cakra Buana seperti hilang.
Sehingga pertahanan yang seharunya kuat dan bisa membendung semua serangan lawan, kini menjadi lebih lemah.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Trangg …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Senjata jarak jauh itu bukan lain adalah sebuah selendang pusaka milik Nyai Kembang Ros Beureum.
"Wuttt …"
Selendang pusaka itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Selendang tersebut begitu lemas seperti seekor ular menari. Tapi ketik jaraknya sudah semakin dekat, selendang pusaka milik Nyai Kembang tiba-tiba berubah keras dan tajam.
"Brettt …"
"Ahhh …"
Selendang pusaka berhasil melukai perut Cakra Buana. Dia segera melompat mundur. Darah segar keluar lumayan banyak dari luka tersebut. Rasa perih mulai menggerogoti dirinya.
Tak berhenti sampai disitu saja, kelima lawannya sudah kembali maju menyerang. Bahkan Ayu Pertiwi pun turut menyerang dirinya dengan ganas. Seolah Cakra Buana merupakan musuh besarnya.
__ADS_1
Suara benturan senjata pusaka mulai terdengar kembali. Keenam pendekar yang kini sedang bertarung sengit itu, perlahan lenyap ditelan gulungan sinar yang tercipta oleh senjata mereka sendiri.
Malam semakin mencekam karena dentingan senjata terus berbenturan tiada hentinya. Percikan kembang api nampak semakin indah tapi menakutkan. Rembulan semakin meninggi, semakin malam, pertarungan semakin menggila.
Cakra Buana terus didesak oleh kelima lawannya. Namun dia juga tetap bisa mengimbangi mereka. Jika kondisinya segar bugar, mungkin Cakra Buana bisa menggunakan jurus tingkat tinggi yang diberikan oleh ki Wayang kepadanya, karena saat-saat seperti sekarang merupakan saat yang tepat untuk menggunakan ilmu dahsyat tersebut.
Sayang, Cakra Buana juga seorang manusia biasa seperti pada umumnya. Hanya saja dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Jadi meskipun kekuatannya luhur (tinggi), tetap saja Cakra Buana merasa kelelahan. Tubuhnya sudah letih, keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
Cakra Buana benar-benar kerepotan. Selain harus menahan serangan semua lawan, dia juga harus menahan serangan rasa sakit akibat semua luka yang kini dideritanya.
Ditengah-tengah pertarungan yang berjalan semakin seru tersebut, tiba-tiba Nyai Kembang Ros Beureum dan Raden Buyut Sangkar melompat mundur.
"Selendang Kematian …"
"Pukulan Brajamusti …"
"Wuttt …"
Dua buah ajian menyerang Cakra Buana dari jarak jauh. Kali ini, Cakra Buana tidak dapat lagi menghindari dua ajian tersebut karena dia sendiri sedang kesalahan. Tapi ketika dua ajian tersebut sudah semakin dekat, tiba-tiba …
"Blarrr …"
"Siuttt …"
"Blarrr …"
"Rrrggghhh …"
Dari belakang sebelah atas, dua buah sinar meluncur deras menahan dua ajian yang menuju ke arah Cakra Buana hingga menimbulkan ledakan yang membuat suasana terang beberapa saat. Bahkan ada auman seekor harimau yang menimbulkan angin kencang hingga mementalkan tiga murid Nyai Kembang Ros Bereum.
Pertarungan berhenti sejenak. Entah sejak kapan, tiba-tiba di pinggir Cakra Buana sudah ada seorang pria dan wanita yang sudah tua. Di depan Cakra Buana, ada juga seekor maung (harimau) yang berukuran sebesar kerbau. Dialah Maung Sukma. Peliharaan ki Wayang Rupa Sukma Saketi yang disuruh untuk menjaga Cakra Buana.
Kali ini bergantian, giliran pihak lawan yang kaget ketika mengetahui siapa gerangan yang berdiri bersama Cakra Buana saat ini.
"Sepasang Kakek dan Nenek Sakti …" kata Ki Ragen Denta dan yang lainnya secara bersamaan. Raut wajah mereka langsung menggambarkan kecemasan ketika melihat dua sosok tua tersebut.
###
Maaf ya kalau belakangan ini up cuma satu bab, mood agak turun karena ada beberapa masalah. Lagi pula author sedang merevisi novel LPH, semoga bisa difahami ya🙏tapi jumlah kata dikasih lebih kok😁kalau sudah beres, in shaa allah bakal dua bab lagi dalam sehari.
Mohon dimengerti gengs😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya😜