
Danuarta dan Magenda maju menyerang. Keduanya langsung mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Pedang yang tergenggam sudah di aliri tenaga dalam dengan jumlah besar, sehingga pedang tersebut terlihat sedikit bercahaya.
Kesiur angin menderu ke arah Cakra Buana. Sebelum pedang Danuarta dan Magenda tiba, angin tersebut lebih mendahului menyerang Pendekar Maung Kulon itu.
Cakra Buana tak tinggal diam. Begitu angin yang tajam akan menyambar, dia melompat mundur ke belakang, menjejakkan kakinya ke batang pohon. Lalu dengan gerakan cepat, dia berbalik menyerang kedua lawannya.
Tubuhnya meluncur deras bagaikan anak panah. Kedua tangannya di kembangkan, siap untuk menyerang lawan. Melihat ini, Danuarta dan Magenda langsung mengambil langkah inisiatif.
Mereka yang tadi berniat menyerang, terpaksa serangan tersebut harus di gagalkan. Keduanya lebih memilih untuk menunggu serangan dengan pertahanan kokoh.
"Wuttt …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Kedua tangan Cakra Buana menyambar pedang Danuarta dan Magenda. Kedua pendekar itu lagi-lagi dibuat tertegun oleh Cakra Buana. Bahkan, para datuk dunia persilatan pun sama halnya. Mereka memuji Pendekar Maung Kulon itu secara diam-diam.
Akan tetapi meskipun pedang itu di sambar memakai kedua tangannya dengan keras, pusaka tersebut tidaklah patah seperti pusaka para pendekar sebelumnya. Kedua pedang itu hanya tergetar hebat, membuat Danuarta dan Magenda harus menyalurkan kembali tenaga dalam yang lebih besar supaya senjata mereka tidak terlempar.
"Trangg …"
Kedua tangan Cakra Buana dan dua pedang itu seperti menempel ketika beradu sekali lagi. Untuk beberapa saat, tiga pendekar tersebut mengadu tenaga dalam. "Saling dorong" satu sama lain, siapa yang terpental, maka dia yang akan kalah.
"Wuttt …"
Ketiga pendekar itu sama-sama terpental tiga langkah. Dari sini saja bisa prediksi, bahwa kekuatan gabungan antara Danuarta dan Magenda, setidaknya mampu menyeimbangi Cakra Buana, meskipun tidak ada jaminan untuk menang.
Tanpa mengulur waktu, ketiganya sudah melompat kembali. Ketiga pendekar muda tersebut melanjutkan pertarungan hidup dan mati. Yang dua demi sebuah kepuasan duniawi, sedangkan yang satu demi mempertahankan diri.
__ADS_1
Pedang Danuarta dan Magenda berkelebat tiada hentinya. Merobek udara dan memecah keheningan dengan suara desingannya. Kedua pendekar itu bergerak dengan lincah. Serangan pedang mereka sama sekali tidak bisa dipandang remeh. Sebab jika Cakra Buana sampai melakukan kesalahan, maka bisa dipastikan tubuhnya akan tergores.
Ternyata, Danuarta dan Magenda bisa melakukan kolaborasi serangan dengan sangat baik. Satu menyerang, satu menjadi benteng pertahanan. Satu di serang, maka yang satu akan maju membantu. Keduanya terus bergerak seperti demikian sampai beberapa saat lamanya.
Sudah dua puluh jurus berlalu. Tapi belum ada dari pihak mana pun yang sanggup memberikan serangan dengan tepat sasaran. Bahkan Cakra Buana hingga dibuat kesal karenanya, akibat hal inilah dia menjadi nekad.
Pendekar Maung Kulon itu mengambil ancang-ancang. Dia melompat mundur ke belakang, lalu mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar.
Ketika semuanya sudah siap, dengan gerakkan mantap Cakra Buana langsung melompat menerjang.
"Ajian Amarah Dewa Tapak Nanggala …"
"Wuttt …"
Cakra Buana memberikan serangan berupa ajian yang sudah dia sempurnakan. Ajian itu memang bernama Dewa Tapak Nanggala, tapi dulu ketika dirinya masih berlatih di bawah bimbingan Ki Wayang Rupa Sukma Saketi, dia menyempurnakan ajian tersebut.
Sehingga jadinya, ajian tersebut kini lebih sempurna dan tentunya lebih mematikan. Tapi Pendekar Maung Kulon itu belum yakin sepenuhnya, sebab ini adalah kali pertama dia mencobanya setelah dulu pernah sekali ketika di temani Ki Wayang.
Angin besar menyambar keduanya. Udara sesak kembali. Telapak tangan Cakra Buana bersinar merah. Semakin dekat jarak Cakra Buana, maka Danuarta dan Magenda semakin merasakan hawa panas yang teramat sangat.
Tapi meskipun keduanya kaget, secara refleks keduanya langsung mengeluarkan ajian yang hebat pula. Tubuh mereka sudah dilatih dalam berbagai kondisi, sehingga ketika nyawanya terancam, maka mereka sudah terbiasa. Tentu saja, apalagi mereka merupakan seorang pendekar.
Danuarta dan Magenda menyilangkan pedang di dada bersamaan dengan tangan kirinya. Secepat mungkin mereka merapalkan ajian yang bisa diandalkan untuk menghalau serangan Cakra Buana.
"Tangan Brajasuta …"
"Ajian Batu Sangkar …"
"Wuttt …"
__ADS_1
"Wuttt …"
Energi yang membentuk setengah lingkaran berwarna putih keperakan terlihat melindungi Danuarta dan Magenda. Maka ketika serangan cakra Buana tiba, terjadilah pertemuan antara tiga ilmu tingkat tinggi.
"Blarrr …"
Suara keras langsung terdengar menggelegar. Merobohkan beberapa pohon dan menyapu dedaunan sekitar arena pertandingan.
Empat datuk dunia persilatan terkejut kembali. Mereka tidak menyangka bahwa ketiga pendekar muda yang sedang bertarung itu ternyata masing-masing memiliki kekuatan mengerikan.
Di tempat kejadian, Cakra Buana, Danuarta dan Magenda, sama-sama terlempar. Ketiganya menabrak sebatang pohon hingga roboh. Tidak ada yang tewas dari benturan tersebut. Hanya saja, Danuarta dan Magenda langsung muntah darah. Keduanya mengalami luka dalam karena tidak kuat menahan sepenuhnya serangan Cakra Buana.
Sedangkan Cakra Buana, dia hanya mengalami sesak nafasnya untuk beberapa saat. Tapi setelah itu, dia kemudian bangun secara perlahan. Berniat untuk mengakhiri pertarungan ini.
"Bersiaplah untuk menuju ke akhirat …"
"Wuttt …"
Dia melompat kembali sambil menjulurkan kedua tangannya. Dari telapak tangan itu, terlihat ada dua cahaya putih keluar. Mengarah ke Danuarta dan Magenda yang kini masih kesakitan.
"Blarrr …"
Benturan dan suara yang menggelegar terdengar kembali. Tapi kali ini, giliran Cakra Buana yang terlempar. Bahkan lebih jauh daripada sebelumnya. Tubuhnya meluncur deras menabrak beberapa pohon hingga tumbang. Dia baru berhenti ketika menabrak sebatang pohon asem dengan ukuran tiga lingkaran tangan orang dewasa.
Danuarta dan Magenda yang tadi merasa sudah tidak ada harapan untuk hidup sehingga menyebabkan wajah mereka semakin pucat, kini mendadak cerah kembali ketika menyadari di depannya ada dua sosok yang berdiri membelakangi.
"Kalian mendekatlah ke Dewi Maut dan Kera Gila. Mintalah kepada mereka untuk mengobati luka kalian," kata seorang kakek dengan tubuh mirip tengkorak dan wajahnya putih pucat.
Benar, dia bukan lain adalah salah satu dari datuk dunia persilatan. Dia terkenal dengan julukan si Tengkorak Muka Putih. Di pinggirnya, seorang pria tua dengan pakaian serba merah dan memakai kalung dari jantung berdiri dengan tatapan menyerangkan mengarah ke Cakra Buana yang kini sedang berusaha untuk bangun. Dialah si Raja Sembilan Nyawa.
__ADS_1
Keadaan menjadi tegang kembali. Bahkan beberapa kali lebih tegang. Terlebih Cakra Buana, hatinya benar-benar tergetar ketika menyadari bahwa dia harus berhadapan dengan dua detik dunia persilatan sekaligus.
Dua datuk dunia persilatan sudah turun tangan. Otomatis Pendekar Maung Kulon itu akan berada dalam keadaan tidak menguntungkan. Bahkan mungkin dia harus bertarung mati-matian supaya minimal bisa kabur dari sana, meskipun tidak ada jaminan untuk menang.