Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tiga Sinar Emas


__ADS_3

"Terimakasih, aku sebagai maha guru Perguruan Tunggal Sadewo, sangat berterimakasih sekali kepada tuan-tuan sekalian. Semoga rencana kita ini dapat berjalan sesuai rencana. Hanya saja, masih ada satu masalah lain yang belum dapat kami pecahkan," ucap Tuan Santeno.


Para tamu penting itu seketika mengerutkan keningnya. Baru saja merasa gembira karena semua orang setuju, ternyata masalah lain sudah muncul. Hanya saja, kali ini mereka tidak tahu masalah apakah itu.


"Masalah apa yang tuan maksudkan?" tanya Kakek Sakti Alis Tebal.


Tuan Santeno melirik Cakra Buana terlebih dahulu. Seolah orang tua itu meminta persetujuan dari si pemuda. Karena itu, Pendekar Tanpa Nama menganggukkan kepalanya.


"Begini tuan, dari pihak kami, sesungguhnya belum ada yang mengetahui secara pasti di mana markas pusat Organisasi Tengkorak Maut itu. Bahkan, markas cabangnya saja sangat sulit diketahui. Tempo hari, hanya Pendekar Pedang Kesetanan yang dapat menemukan markas cabang organisasi itu. Sayangnya, beliau telah tewas," ucap Tuan Santeno sedikit bersedih.


"Apa? Si tua bangka itu tewas?" Raja Tombak Emas dari Utara terkejut mendengarnya.


Seperti yang disebutkan sebelumnya, pemakaman Pendekar Pedang Kesetanan, sesungguhnya diadakan secara sederhana. Hanya dihadiri para murid perguruan, tanpa melibatkan orang luar. Jadi rasanya wajar kalau banyak yang belum mengetahuinya.


"Benar tuan. Dan beliau tewas sebagai ksatria sejati,"


"Aishh, Giwangkara, kenapa kau tewas terlalu cepat. Perjanjian kita belum selesai, katanya kau ingin berduel denganku sampai tewas supaya tahu ilmu senjata siapa yang paling hebat. Sayang, sayang sekali kau pergi lebih dulu," kata Raja Tombak Emas menyesalkan.


"Maaf, tuan punya janji akan berduel dengan sahabatku?" tanya Cakra Buana tiba-tiba.


"Benar, dia temanku. Dan sedari kecil, kami selalu bersaing bersama. Sayangnya, kini dia telah tiada,"


"Bagaimana kalau aku menggantikannya? Kebetulan sekali, dia sahabat baikku. Dan aku harap, tuan sudi untuk berduel denganku. Sekaligus, aku juga ingin mendapat arahan dari tuan," ucap Cakra Buana sopan.


"Hemm, kau sahabatnya?"


"Benar tuan,"


Dalam hatinya, Raja Tombak Emas dari Utara terkejut juga. Dia sudah tahu bagaimana sifat temannya itu. Seumur hidupnya, Pendekar Pedang Kesetanan hanya mempunyai sahabat yang mampu mengalahkan dia.


'Kalau pemuda ini sahabatnya, berarti permainan pedangnya tidak rendah. Hemm, boleh juga. Aku pun ingin mengetahui sampai di mana kehebatan Pendekar Tanpa Nama," batin Raja Tombak Emas.


"Baiklah. Kalau urusan sudah selesai, kita berduel. Bagaimana?"

__ADS_1


"Setuju," jawab tegas Cakra Buana.


Keduanya sudah sepakat untuk berduel, kita tunggu tanggal mainnya.


Untuk diketahui, Raja Tombak Emas dari Utara adalah datuk rimba hijau terlihai dari tiga datuk lainnya. Permainan tombaknya, konon menurut kabar, adalah yang terhebat di Tanah Jawa.


Semua orang menaruh hormat kepadanya. Walaupun sifatnya terkadang aneh, seperti sifat si dia kepadamu, tetapi tidak jarang juga dia melakukan kebaikan. Seperti sekarang ini.


Selama hidupnya, sangat jarang sekali ada orang yang mampu bertahan dari jurus tombaknya. Terutama sekali jurus Tombak Emas Meruntuhkan Istana Langit, jurus terhebat yang dia miliki.


Walaupun ada yang menyainginya, paling orangnya merupakan tokoh kelas atas sama seperti dia sendiri.


Kembali ke inti masalah, ketika Cakra Buana dan datuk itu selesai bicara, semua orang berpikir kembali. Dan saat itu, Raja Tombak Emas kembali angkat bicara.


"Masalah ini, serahkan kepadaku. Nyai Tangan Racun Hati Suci, si datuk dari Barat, tahu banyak tentang informasi organisasi ini," ucapnya.


"Bagus. Kalau begitu, tiga hari lagi kita berkumpul di sini sambil membawa pasukan sendiri. Tiga hari aku rasa waktu yang cukup untuk menyiapkan semuanya. Bagaimana, apakah tuan-tuan setuju?" tanya Tuan Santeno.


"Baik. Kami setuju," jawab lima tamu penting secara serempak.


###


Para tamu sudah pulang, suasana perguruan sepi, hanya semilir angin yang terasa membelai tubuh. Daun-daun pohon bergerak manja seperti tangan gadis yang melambaikan tangannya kepada sang kekasih.


Cakra Buana berdiri bersandar kepada tiang pendopo. Dia menatap kuburan sahabatnya dari jauh. Kenangan lalu terlintas kembali. Alasannya karena tadi siang, dia telah sepakat untuk berduel dengan Raja Tombak Emas dari Utara yang katanya merupakan teman Giwangkara Baruga si Pendekar Pedang Kesetanan.


Selain demi mengasah kemampuan dan pengalaman, alasan Cakra Buana mau berduel juga pastinya karena sahabat baiknya tersebut. Temannya saja bersedia berkorban nyawa untuknya, masa dia tidak?


Ketika sedang melamun memandangi tempat peristirahatan terakhir sahabatnya, tiba-tiba saja mata tajam Cakra Buana melihat sesuatu yang aneh.


Sebuah sinar kuning emas berkelebat ke makam itu. Jumlahnya ada tiga. Sinar tersebut bukanlah sinar biasa, karena detik berikutnya, Pendekar Tanpa Nama melihat ada tiga sosok yang berdiri di depan kuburan Pendekar Pedang Kesetanan.


Dia memperhatikan lebih dahulu tiga sosok tersebut. Cakra Buana yang sekarang bukanlah Cakra Buana yang dulu. Semua tindakan yang dia lakukan, sudah pasti penuh perhitungan.

__ADS_1


Tiga sosok asing masih berdiri di makam itu. Beberapa saat kemudian, ketiganya mulai berjongkok. Pedang Haus Darah milik Pendekar Pedang Kesetanan bergetar.


Setalah ditegaskan lagi, ternyata tiga sosok tersebut sedang berusaha untuk mencabut pedang shabatnya.


Darah Cakra Buana bergejolak. Gemuruh dalam dadanya membara. Helaan nafasnya memburu, kalau dia kerbau, mungkin setiap kali hembusan nafas dari hidungnya, terselip juga asap putih.


Sayangnya Cakra Buana bukanlah kerbau.


Tanpa banyak berpikir, Pendekar Tanpa Nama melesat. Melesat dengan sangat cepat sekali ke kuburan Pendekar Pedang Kesetanan. Hanya dalam sekejap mata, dia hampir tiba di sana.


Sayangnya tiga sosok tersebut keburu menyadari kehadirannya. Sebelum jaraknya semakin dekat, tiga sosok itu seketika langsung melarikan diri.


Tapi apakah Cakra Buana akan membiarkannya begitu saja? Tentu saja tidak.


Siapapun yang berani mengganggu kuburan sahabatnya, maka orang itu akan berurusan langsung dengan Pendekar Tanpa Nama.


Tiga sosok tadi berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah terbilang kelas atas. Bahkan sampai mengeluarkan cahaya kuning emas seperti di awal.


Arah tujuan tiga sosok tersebut tentunya ke dalam hutan. Dan Cakra Buana juga mengejar ke sana.


Dengan kemampuannya yang sekarang, rasanya tidak asa sesuatu yang tidak dapat dikejar olehnya.


Jadi kalau ada di antara kalian yang ingin mengejar cintanya si dia, minta tolonglah kepada Cakra Buana. Mungkin dia sudi untuk membantu.


Ketika tiba di hutan, Cakra Buana berhasil memperpendek jaraknya.


Tangan kanan dia hentakkan ke depan. Seketika terlihat sinar merah membara melesat sangat cepat kepada tiga sosok tersebut.


"Blarrr …"


Serangan jarak jauhnya gagal mengenai sasaran. Dua batang pohon besar menjadi korban tak bersalah. Api langsung membakarnya dalam waktu singkat.


Tiga sosok berhenti. Mereka tidak dapat lagi melarikan diri karena secara tiba-tiba, pohon di sekeliling mereka telah diselimuti api yang membara.

__ADS_1


Seperti api kerinduan ini yang setiap saat terus bertambah besar.


__ADS_2