
Nyai Tangan Racun Hati Suci menghela nafas. Dia meneguk arak yang tersedia di meja hidangan.
Setelah mempersiapkan dirinya, datuk rimba hijau itu lalu mulai bercerita lebih lanjut lagi.
Menurut Nyai Tangan Racun Hati Suci, markas utama Organisasi Tengkorak Maut berada di tengah hutan belantara. Hutan itu bernama Hutan Larangan.
Sebab siapapun tidak diperbolehkan masuk ke dalam hutan kalau tanpa ada izin dari pihak Organisasi Tengkorak Maut sendiri. Hutan Larangan hanya boleh dimasuki oleh anggota organisasi saja.
Selain anggota, maka jangan berharap bisa masuk ke dalam sana. Sekalipun bisa, tidak ada jaminan lagi untuk dapat keluar hidup-hidup.
Letak Hutan Larangan berada di sebelah Utara Tanah Jawa. Jarak dari Perguruan Tunggal Sadewo memang lumayan jauh.
Menurut penjelasan Nyai Tangan Racun Hati Suci, dibutuhkan setidaknya tiga hari untuk sampai ke sana.
"Kalian tinggal mengikutiku dari belakang saja jika sudah dekat jaraknya dengan Hutan Larangan. Jangan ada yang membantah perkataanku nantinya. Karena hanya aku sendiri yang dapat memasuki hutan tersebut," kata Nyai Tangan Racun Hati Suci.
"Baik, kami semua mengerti. Kalau begitu, kapan kita akan berangkat ke sana?" tanya Kakek Sakti Alis Tebas, sesepuh dari Organisasi Pelindung Negeri.
Dia datang bersama dua puluh anggotanya. Walaupun sedikit, tetapi kekuatanya tidak diragukan lagi. Siapapun tahu bagaimana kehebatan Organisasi Pelindung Negeri.
"Malam nanti, saat bulan purnama sudah muncul, kita akan memulai pergerakan kita ini. Jadi sekarang, kita masih punya waktu untuk melakukan persiapan," ucap Nyai Tangan Racun.
"Baik, kami setuju. Kalau begitu, sekarang juga mari kita lakukan persiapan bersama anggota masing-masing," kata Tuan Santeno Tanuwijaya.
Semua orang mengangguk. Mereka menyetujui usulan tersebut karena menurutnya memang sangat tepat.
Setelah semua rencana disetujui, orang-orang tersebut segera membubarkan diri untuk menemui anggotanya masing-masing.
Hanya Cakra Buana, Bidadari Tak Bersayap dan dua datuk rimba hijau yang terlihat tidak sesibuk para tokoh lainnya.
Tentu saja, sebab mereka tidak mempunyai anggota. Namun jangan salah, satu orang di antara mereka saja, sebanding dengan puluhan anggota.
Waktu terus berjalan. Matahari yang menyinari seluruh muka bumi, kini telah lenyap di balik bebukitan.
__ADS_1
Cahaya emas kemerahan menyinari alam raya memancar dengan indah. Rumput-rumput bergoyang tertiup angin yang sejuk.
Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Rembulan purnama mulai muncul menggantung di jagat raya.
Puluhan orang telah bersiap berbaris rapi seperti seorang prajurit kerajaan. Mereka semua adalah para anggota pilihan yang berhasil di kumpulkan.
Terlihat ada sekitar lima puluh anggota pilihan yang akan turut serta. Selain itu, ada juga lima tokoh penting dan tiga orang pendekar pilihan. Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap tentunya turut serta.
Tuan Santeno Wijaya? Jangan ditanya lagi. Dia justru merupakan orang yang mempunyai ide penyerangan ini. Selaku orang yang berperan utama, tentunya dia pasti ikut.
Semua orang telah siap untuk berangkat dengan tujuan yang menurut mereka mulia. Yaitu dengan niatan menghancurkan kelompok iblis berkedok manusia.
Setiap orang yang ikut dalam pasukan itu, sudah siap untuk berkorban nyawa. Walaupun mereka benar akan tewas, baginya tidaklah masalah. Selama tujuan utama mereka dapat terwujudkan.
"Apakah kalian semua sudah siap?" tanya Tuan Santeno Tanuwijaya kepada semua pasukan.
"Siapp …" jawab mereka serempak penuh semangat.
Semua orang mengangguk. Lima tokoh penting bersama dirinya, berada di posisi depan. Pemimpin perjalanan tentunya si Nyai Tangan Racun Hati Suci.
Di belakang semua pasukan, ada Pendekar Tanpa Nama bersama kekasihnya, Bidadari Tak Bersayap. Mereka mengawal para pasukan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mereka semua mulai berangkat dari Perguruan Tunggal Sadewo. Satu orang guru ikut bersama Tuan Santeno dalam rencana penyerangan ini. Sedangkan empat guru lainnya, dia suruh untuk menjaga keamanan perguruan dalam beberapa waktu ke depan.
Hanya dalam sekejap mata saja, puluhan orang tersebut telah lenyap dari pandangan.
Nyai Tangan Racun Hati Suci melesat secepat kilat menembus gelapnya malam yang kelam. Di belakang dia ada tokoh-tokoh penting.
Jalur yang mereka lewati semuanya hutan. Tidak ada yang lain kecuali hutan. Lampu penerangan hanya dari cahaya rembulan saja.
Menurut datuk rimba hijau itu, kalau tidak ada halangan, maka pagi hari sekali mereka akan segera sampai di sebuah desa.
Perjalanan terus dilakukan. Mereka semua beristirahat hanya untuk melakukan kebutuhan pokok saja. Tetapi malam itu, puluhan orang tersebut lebih memilih untuk mempercepat supaya dapat mempersingkat waktu.
__ADS_1
Pagi-pagi hari sekali, ternyata benar kata Nyai Tangan Racun Hati Suci, mereka sampai di sebuah desa yang cukup besar. Keadaan di sana lumayan ramai. Rakyat hidung dengan tenang dan damai.
Melihat pemandangan ini, Kakek Sakti Alis Tebal merasa sangat bahagia. Ternyata Raja yang sekarang memimpin memang sangat bijaksana.
Mereka singgah di desa tersebut tidaklah lama. Hanya sekedar untuk makan dan melakukan kebutuhan pokok lainnya.
Para warga desa tidak takut dengan kedatangan puluhan orang ini. Walaupun para anggota tidak dikenali oleh warga, tetapi para tokohnya dikenal.
Siapa pula yang tidak mengenal tokoh-tokoh tersebut?
Setelah semua keperluan selesai, rombongan tersebut segera melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini mereka tidak terlalu buru-buru.
Dan tanpa terasa, tiga hari sudah berlalu. Puluhan orang yang merupakan satu rombongan itu, telah sampai di tempat tujuan utama mereka tepat setelah matahari terbenam.
Saat ini mereka semua sedang melakukan istirahat di pinggiran hutan sekedar minum, memakan makanan ringan, ataupun mempersiapkan tenaga.
Mereka semua berbincang-bincang ringan. Sesekali terdengar suara tawa yang cukup keras. Walaupun akan menghadapi bahaya dan bertarung mempertaruhkan nyawa, tetapi tidak nampak kekhawatiran dalam diri puluhan orang tersebut.
"Nyai, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tuan Santeno.
"Kita istirahat saja di sini dulu sampai malam. Setibanya rembulan muncul hampir tepat di atas kepala, maka kita baru bergerak. Pada waktu sekarang, orang-orang Organisasi Tengkorak Maut biasanya sedang berkumpul dan melakukan pergantian penjagaan. Jadi lebih baik nanti saja kita bergerak supaya lebih aman lagi. Sekarang, persiapkanlah diri kalian," ucap Nyai Tangan Racun Hati Suci.
"Baiklah kalah begitu. Kami semua mendengarkan ucapanmu," kata Kakek Sakti Alis Tebal mewakili yang lainnya.
Selama dari awal perjalanan sampai sekarang, Cakra Buana tidak banyak melakukan pembicaraan. Pendekar Tanpa Nama hanya bersuara di saat tertentu saja.
Begitupun dengan kekasihnya. Pasangan itu lebih memilih untuk bungkam. Bukan karena mereka tidak akur, tetapi karena keduanya hanya ingin memfokuskan pikiran kepada tujuan utama.
Kepada halang rintangan yang akan mereka temui.
Dan kepada pertarungan hidup mati yang akan segera mereka alami.
Terkadang ada saatnya untuk banyak bicara. Ada pula saatnya untuk diam seribu bahasa.
__ADS_1