
Langlang Cakra Buana mulai tertidur pulas diatas sebuah dahan pohon mangga berbentuk cagak. Di bawahnya ada sebuah jalan setapak yang kadang dilewati oleh orang-orang lainnya.
Rasanya baru saja memejamkan mata, tapi sinar mentari pagi sudah menyorot muka pendekar serba putih itu. Sehingga mau tidak mau Langlang Cakra Buana harus bangun.
Sinar mentari pagi begitu hangat menerpa kulit. Embun-embun pagi masih berjatuhan menetes diujung dedaunan. Burung pagi berkicau riang.
Cakra Buana mencoba untuk duduk di atas dahan pohon itu sekedar mengumpulkan tenaga terlebih dahulu. Jika keadaan sudah benar-benar stabil, pemuda serba putih itu berniat akan melanjutkan perjalanannya lagi.
Dia ingin menuju Gunung Kidul, Banten, seperti yang diamanatkan oleh mendiang gurunya. Cakra Buana hendak melompat ke bawah, tapi sebelum itu terjadi, dari belakang terdengar ada derap langkah kaki yang riuh.
Dia tidak jadi turun, melainkan naik lebih tinggi dan ingin melihat siapa yang akan lewat.
Tak lama kemudian, muncul puluhan orang bersenjata lengkap. Mereka memakai pakaian serba hitam legam dengan kain penutup wajah, masing-masing dari mereka membawa tombak. Tinggi dan bentuk badan mereka sama rata.
Jalannya pun dengan irama langkah kaki yang sama. Wajah orang-orang itu tidak terlihat, yang terlihat hanyalah matanya saja.
Cakra Buana terus memperhatikan mereka yang lewat itu. Jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang. Ternyata mereka itu sedang mengawal pimpinannya yang memiliki penampilan lebih gagah dengan dua golok di pinggang kanan dan kiri. Pemimpin itu menaiki sebuah kuda, di kawan dengan dua orang di sisinya.
Selain itu juga, terlihat ada sebuah kereta kuda yang membawa tiga gadis dan satu orang pria berpenampilan seperti pendekar. Sepertinya mereka berempat tertawan.
Meskipun tidak tahu secara pasti, tapi Cakra Buana yakin bahwa mereka yang lewat itu merupakan bangsa penjajah. Mereka itu tak lain orang-orang dari negeri tetangga.
Seperti yang diceritakan sebelumnya, pada zaman ini tanah Pasundan banyak dijajah oleh bangsa asing. Para penjajah itu memanfaatkan lahan-lahan yang subur untuk ditanami berbagai macam rempah-rempah.
Selain itu juga, mereka memanfaatkan rakyat jelata untuk bekerja secara paksa. Tanpa upah yang setimpal. Paling hanya diberi makan saja.
Jarak desa yang cukup jauh dari kota raja, dijadikan sebagai sarang-sarang bangsa penjajah. Seperti apa yang sekarang dilihat oleh Cakra Buana.
Tapi dia yakin, markas mereka bukanlah di daerah situ. Mereka pasti hanya menumpang lewat.
Cakra Buana lalu memutuskan untuk mengikuti mereka. Dia sungguh merasa penasaran. Apalagi ketika melihat ada empat pribumi yang diangkut dalam sebuah kereta kuda.
Cakra Buana lalu turun dari pohon dan mengikuti para tentara itu dari jarak yang cukup jauh. Entah kemana tujuannya, dia sendiri tidak tahu.
__ADS_1
Tapi pemuda serba putih itu yakin, bahwa pasukan tadi akan menuju ke markas mereka. Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun warga desa yang berani mencegahnya.
Yang ada malah sebaliknya, ketika para warga melihat pasukan serba hitam, mereka langsung masuk ke rumah masing-masing. Tak ada yang berani keluar rumah lagi sebelum para tentara itu benar-benar lenyap dari pandangan.
Cakra Buana masih membuntuti para tentara itu. Setelah tengah hari, barulah para tentara itu berhenti.
Mereka berhenti tepat di sebuah bangunan yang besar dan kokoh. Bangunan itu memiliki halaman yang terbilang luas. Bangunan yang diduga markas penjajah tersebut juga dikelilingi oleh benteng dari tembok setinggi satu tombak.
Orang yang diduga pemimpin mereka pun turun dari kuda perkasanya. Diikuti oleh empat orang pengawalnya. Dia berjalan masuk ke bangunan tersebut.
Di pintu bagian depan, ada juga enam orang pengawal bersenjatakan bedil. Ditengah-tengah halaman, ada sebuah tiang bendera setinggi tiga tombak. Bendera itu memiliki simbol dua golok menyilang.
Tak jauh dari tiang bendera, ada beberapa papan berbentuk salib yang diduga untuk menghukum orang-orang yang berani membangkang perintah mereka.
Cakra Buana masih memperhatikan dari jarak yang cukup jauh. Dia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para penjajah itu kepada pribumi yang tadi dibawa.
Tak lama setelah pimpinan mereka sudah masuk ke dalam gedung, empat pribumi yang tadi dibawa pun diturunkan. Kedua tangan mereka di borgol besi.
Begitu turun dari kereta kuda, mereka didorong secara kasar oleh para tentara Walanda tersebut. Keempatnya dibawa ke suatu tempat.
Ternyata keempat pribumi tadi dimasukan ke sebuah penjara besi berdinding tembok yang letaknya persis di sebelah kiri bangunan gedung yang menjadi markas tersebut.
Betapa kagetnya pemuda serba putih itu saat melihat didalam penjara ada juga beberapa orang yang sebelumnya sudah ditawan.
"Ternyata mereka benar-benar menawan pribumi. Hemmm … aku harus menyelidiki kejadian ini." gumam Langlang Cakra Buana sambil berlalu pergi dari markas penjajah tersebut.
Cakra Buana kembali memasuki sebuah desa yang tadi dia lewati. Pemuda serba putih itu berniat mencari sebuah kedai makan. Perutnya sudah merengek minta diisi.
Tak butuh waktu lama, karena baru beberapa jarak memasuki desa, Cakra Buana menemukan sebuah kedai makan kecil.
"Sampurasun …" kata Langlang Cakra Buana sambil memasuki kedai.
"Rampes, silahkan duduk den. Mau pesan apa?" tanya seorang kakek tua pemilik kedai.
__ADS_1
"Aku ingin pesan makan sekaligus satu guci arak paman," jawab Cakra Buana sambil duduk.
"Baik den, mohon tunggu sebentar." kata pelayan tua itu lalu pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan pun datang. Pemuda serba putih itu langsung saja makan dengan lahapnya.
Karena pengunjung kedai hanya dirinya saja, Cakra Buana tidak malu-malu meskipun gaya makannya mirip seperti orang kelaparan. Karena memang dia sudah menahan lapar dari kemarin malam.
Setelah selesai makam dan perutnya sudah kenyang, barulah dia meneguk arak dalam kendi.
"Paman, bisa kau temani aku duduk? Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan," kata Langlang Cakra Buana memanggil kakek pemilik kedai.
Karena tidak memiliki kesibukan lagi, maka kakek itupun menghampiri Cakra Buana tanpa penolakan.
"Ada apa den?" tanya kakek itu dengan sopan.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu paman. Di sebelah desa ini, ada sebuah bangunan besar dan barisan pasukan, mereka itu siapa?" tanya Cakra Buana tanpa basa-basi.
Sebelum menjawab, pemilik kedai itu celingak-celinguk lebih dulu, mungkin takut ada yang mendengar.
"Itu markas organisasi Golok Setan aden. Aden jangan ke sana, bahaya," kata pemilik kedai.
"Tidak salah lagi. Apa yang mereka lakukan paman?"
"Mereka memeras rakyat dengan cara kerja paksa den. Bahkan mereka juga meminta upeti dari setiap desa. Kelakuannya sangat kejam. Bahkan beberapa pribumi yang memiliki kepandaian ada yang bekerja pada mereka,"
"Kurang ajar. Apakah tidak ada yang mencoba untuk mengusir mereka?"
"Sudah beberapa kali ada yang mencoba untuk mengusir, tapi tidak ada yang berhasil den. Karena jumlah mereka banyak. Selain dibantu oleh orang-orang pribumi, mereka juga memiliki busur panah yang sanggup membunuh dalam satu kali tembak,"
"Keparat. Mereka sudah tidak bisa dibiarkan lagi," gumam Cakra Buana sambil mengepal keras tangan kanannya.
###
__ADS_1
Mohon maaf baru up, karena novel utama sebentar lagi tamat. Nanti kalau sudah tamat, novel ini bakal up rutin setiap hari🙏tetap jadikan favorit ya🙏