Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Empat Datuk Sesat dan Penguasa Kegelapan


__ADS_3

Tiba-tiba saja udara menjadi pengap. Langit pun menjadi sangat mendung. Matahari seakan lenyap dari bumi. Suara petir menggelegar membuat siapapun ngeri. Tanah berguncang keras dan angin berhembus dengan dahsyat.


"Hahaha … sungguh pertunjukan yang menarik. Hemm, drama yang menyedihkan. Semua jagoannya terluka, bahkan yang satu sekarat … hahaha," suara yang penuh dengan ancaman tiba-tiba terdengar di telinga semua pendekar.


"Kau benar kakang, sungguh menyedihkan sekali. Hemm, kalau aku jadi salah satu dari mereka, tentu aku tidak akan melibatkan diri untuk berperang," jawab seorang di antara mereka.


'Siapa mereka ini. Tenaga dalamnya sungguh tinggi. Sangat jarang sekali ada pendekar yang mempunyai tenaga dalam demikian tingginya,' batin Prabu Katapangan yang merasa sedikit gentar.


"Tidak tahu tuan-tuan ini siapa. Tapi tolong tunjukkan diri kalian supaya kami semua bisa mengetahuinya," teriak Cakra Buana sambil menyalurkan tenaga dalam.


"Hahaha … baik, baik. Supaya tidak dibilang pengecut ataupun hantu, sekarang juga kami akan memperlihatkan diri," jawab suara tanpa wujud tersebut.


Tak berselang lama, angin kembali berhembus bahkan lebih kencang daripada sebelumnya. Debu mengepul tinggi menutupi pandangan semua orang gang ada di sana. Tak ada yang tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Namun begitu debu tersebut hilang, kali ini di depan mereka telah berdiri lima sosok manusia berpenampilan seram.


Lima sosok tersebut usianya sudah tidak muda lagi. Sepertinya mereka semua sudah berumur sekitar lima puluh tahun ke atas.


Yang paling kiri berpakaian kuning terang. Rambutnya di ikat dengan sutera merah. Di punggungnya tersoren dua batang pedang yang disilangkan. Wajahnya angker dengan mata mencorong tajam.


Di sisinya ada seorang bertubuh pendek agak bungkuk dengan pakaian berwarna abu-abu lusuh. Rambutnya sudah memutih semua, begitupun dengan kedua alisnya. Di pinggang bagian belakang dia terdapat sebatang trisula perak.


Yang paling kanan berpakaian ungu, sepertinya dia yang termuda di antara empat lainnya. Di punggungnya ada sebatang tombak sepanjang satu meter. Mata tombak tersebut mengkilap walaupun cuaca mendung.


Di sisinya ada seorang berpakain hijau muda. Usianya sekitar lima puluh lima tahun. Dia tidak membawa senjata seperti yang lainnya. Hanya saja, kedua telapak tangannya berwarna hijau pujat. Tubuhnya pun terlihat agak aneh dan berbau agak busuk.

__ADS_1


Yang paling tengah berdiri seorang tua dengan pakaian serba hitam legam. Sorot matanya lebih tajam daripada pisau. Tak ada yang berani memandang mata itu. Dia juga sama tidak membawa senjata apapun. Tapi ada suatu kekuatan besar yang terpancar keluar dari tubuhnya.


Semua orang yang hadir di sana tidak ada yang mengeluarkan suara sekecil apapun. Bahkan semua pertarungan mendadak berhenti. Kedatangan lima orang ini, benar-benar membawa keadaan lain.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti menatap kelima sosok tersebut dari atas sampai bawah lalu sebaliknya. Dua tokoh tua itu merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Ka-kau …" kata Kakek Sakti sambil menunjuk empat orang tersebut dengan bibir bergetar.


"Hahaha … apakah kau si tua bangka Kakek Sakti? Tidak disangka, kita bertemu lagi dan ternyata kau masih ingat kepada kami walaupun sudah bau tanah … hahaha," kata orang berpakaian kuning terang dengan dua pedang di punggung.


Cakra Buana dan yang lainnya merasa heran, sebab tidak ada satupun yang tahu siapa kelima orang ini.


"Kakek, siapa mereka ini?" tanya Cakra Buana keheranan.


"Pangeran, apakah kau masih ingat ceritaku dulu yang mengatakan ada empat pendekar aliran hitam yang dijuluki Empat Dewa Sesat?"


"Nah asal kau tahu saja, mereka berempat itu adalah orang yang aku maksudkan," ucap Kakek Sakti sambil kembali menunjuk keempatnya.


"Degg …" jantung Cakra Buana berdetak tidak karuan. Dia merasakan hal lain dari mereka. Apalagi saat matanya memandang kepada orang yang ada di tengah-tengah, hati Cakra Buana terasa gentar juga. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Namun walaupun begitu, dia tidak berani menunjukkan rasa gentarnya kepada semua orang. Sebaliknya, dia justru mencoba untuk memberanikan diri.


"Maaf, apakah tuan-tuan ini yang mendapatkan julukan Empat Dewa Sesat?" tanya Pendekar Maung Kulon memastikan.


"Hahaha, kau benar anak muda. Biarlah aku kenalkan siapa kita ini. Aku bernama Dewa Pedang Kembar, ini namanya Dewa Tombak, ini Dewa Tapak Racun, ini Dewa Trisula Perak, dan satu lagi maha guru kami … Penguasa Kegelapan," ucap Dewa Pedang Kembar memperkenalkan satu-persatu dari mereka.

__ADS_1


"Degg …"


Jantung semua orang yang mendengar nama-nama itu terasa copot. Tidak ada yang tidak gentar. Sebagian pendekar yang meras kemampuannya masih rendah, langsung lari tunggang langgang.


Mereka yang merasa mempunyai kepandaian lumayan, memilih untuk diam di sana meskipun hati merasa sangat ketakutan. Alasannya karena mereka sudah tahu, bahwa sebentar lagi pertunjukan yang lebih seru dari pertunjukan manapun, akan segera dimulai.


Kalau di ibaratkan, rasanya mereka lebih memilih untuk bertemu dengan raja setan daripada bertemu dengan lima orang ini. Jangankan dua puluh pendekar kelas menengah, lima belas pendekar kelas pilih tanding saja belum tentu bisa mengalahkan sekelompok orang-orang itu. Apalagi maha gurunya yang mendapat julukan Penguasa Kegelapan.


Konon katanya, penguasa dunia persilatan selama sepuluh tahun terkahir adalah Pengusa Kegelapan sendiri. Kakek Sakti pernah bercerita kepada Cakra Buana bahwa Penguasa Kegelapan mungkin hanya dapat dibandingkan dengan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat dan Ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Tapi itu semua masih kemungkinan, bukan sebuah kepastian.


Jadi bisa dibayangkan betapa saktinya orang tua itu. Walaupun keempat muridnya masih bisa dikalahkan oleh satu atau dua orang datuk dunia persilatan, tetap saja tidak ada orang yang berani bertarung dengannya. Sebab itu sama saja dengan mengantarkan nyawa. Menang dari muridnya, belum tentu menang dari gurunya.


Semua orang masih terdiam. Bahkan tubuh mereka tidak bergerak sedikitpun. Bernafas pun hanya bisa pelan-pelan. Andai ada jarum jatuh, pasti akan kedengaran karena saking tegangnya keadaan sekarang.


"Maaf Dewa Pedang Kembar, apa tujuan gerangan kemari sehingga maha guru ikut terjun bersama?" tanya Cakra Buana dengan sopan.


"Anak baik. Aku baru pertama kali ini bertemu seorang pendekar muda berkemampuan tinggi tapi tetap rendah hati," jawab Penguasa Kegelapan memuji Cakra Buana dengan tulus.


"Maha guru terlalu memuji. Aku yang muda tidak pantas menerima pujian dari orang seperti Anda,"


"Hemm, begini anak muda. Sebenarnya kedatangan kami kemari memang bukan tanpa tujuan. Kami kemari ingin sesuatu," kata Dewa Tombak Kembar.


"Kalau boleh tahu, sesuatu apa yang dimaksud oleh Anda?"


"Tiga senjata pusaka yang melegenda. Termasuk Pedang Pusaka Dewa yang sekarang ada di tanganmu," ucap Dewa Pedang Kembar.

__ADS_1


"Kalau kau bersedia menyerahkannya dengan tulus, maka kami semua merasa sangat berterimakasih kepadamu," katanya masih dengan tenang.


"Ini …" Cakra Buana terdiam sesaat, dia tidak meneruskan perkataannya. Bahkan dia sampai melirik semua orang-orang yang ada di pihaknya seolah meminta pertimbangan.


__ADS_2