Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kotaraja Tanah Jawa


__ADS_3

Menjelang tengah hari, Cakra Buana baru selesai mendaki tebing tersebut. Ternyata sekarang dia ada di sebuah lapangan luas di sebuah gunung. Entah tempat ini berada di mana tepatnya, sebab Cakra Buana baru menginjakkan kaki di sini.


Dia memandang berkeliling tempat sekitar barang kali menemukan orang yang mungkin bisa untuk ditanya. Tetapi setelah lama melihat-lihat, hasilnya nihil.


Tidak ada orang sama sekali, yang ada hanyalah suara binatang hutan terdengar saling sahut.


Cakra Buana belum menentukan tujuan pastinya. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang, karena bagaimanapun juga, dia harus menunaikan perintah dari Pendekar Tanpa Nama yang secara tidak langsung menjadi gurunya.


Dia harus pergi ke negeri orang. Ke Tanah Tiongkok. Walaupun dia sendiri belum tahu di mana letaknya, belum tahu bagaimana orang-orang sana, tapi dia harus tetap ke sana. Perintah sang guru sama dengan perintah orang tua. Harus dilakukan, pikir Cakra Buana.


Dia mulai berjalan menuruni gunung tersebut. Rasanya sangat senang sekali setelah hampir satu tahun terjebak di sebuah lembah. Sekarang bisa menyaksikan dunia luar dan berkelana lagi, siapa yang tidak gembira?


Sawah ladang yang luas menghampar hijau. Liukan air sungai yang mirip seperti naga. Orang-orang bercocok tanah di sawah ladang mereka. Suara burung bernyanyi merdu. Hembusan angin membelai lembut, siapa yang tidak ingin melihat pemandangan seperti ini?


Semua pasti ingin, termasuk Cakra Buana. Dan untungnya, sekarang dia sudah bisa menyaksikan semua itu. Apalagi saat dia berjalan tiba-tiba saja ada sebuah suara seruling mengalun merdu tertiup angin. Suara seorang penggembala kerbau atau mungkin sapi, bahkan juga kambing, terdengar bernada gembira.


Cakra Buana mempercepat langkahnya. Di depan sana kira-kira tiga puluh tombak, dia melihat ada warga sekitar. Pemuda itu ingin menanyakan nama daerah ini.


"Permisi paman, kalau boleh tahu, ini namanya daerah apa?" tanya Cakra Buana saat tiba di hadapan warga tersebut.


"Ini namanya Desa Gembor den, Aden mau ke mana?" tanya warga tersebut.


"Saya mau ke kota paman. Kira-kira masih berapa lama lagi dari sini?"


"Kotaraja?"


"Benar paman. Ini Tanah Pasundan atau bukan?"


"Bukan den. Ini Tanah Jawa, kalau mau ke kotaraja, sekitar dua hari lagi aden baru sampai. Tapi kalau ke Pasundan, butuh waktu hampir satu minggu buat ke sana," kata warga itu menjelaskan.


"Oh, baik paman. Kalau begitu terimakasih,"


"Nggeh (iya) den,"

__ADS_1


Informasi sudah di dapat, sekarang tinggal saatnya menentukan tujuan.


"Lebih baik aku ke kotaraja saja. Aku ingin tahu bagaimana keramaian kota ini," gumam Cakra Buana.


Dia mulai mempercepat langkahnya. Ilmu meringankan tubuh langsung dia gelar. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua hari, hanya ditempuh setengah hari oleh Cakra Buana.


Hal ini karena sepanjang jalan dia tidak menemukan suatu masalah apapun. Lagi pula, dia memang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya secara maksimal.


###


Kotaraja.


Pada zaman ini kerajaan yang berkuasa di Tanah Jawab bernama Kerajaan Mayangga Setra. Rajanya bernama Hardayita Kawiswara Wunarman. Sedangkan permaisurinya bernama Nyai Ratu Dewi Purbo Asih Kentala. Mereka dianugerahi tiga orang anak. Dua pria, satu lagi wanita.


Kerajaan Mayangga Setra pada zaman ini terkenal karena kepemimpinan sang raja yang adil dan bijaksana. Keadaan di Tanah Jawa terbilang aman, meskipun masih ada saja masalah yang bermunculan di dunia persilatan.


Cakra Buana berjalan menyusuri kotaraja yang terkenal ramai itu. Banyak orang berlalu-lalang di kota ini. Para pedagang berjejer banyak sepanjang jalan.


Pemuda itu terus berjalan tanpa menghiraukan apapun. Dia berniat untuk mencari rumah makan tentunya. Sudah setahun lebih Cakra Buana tidak merasakan makanan dunia luar.


Setelah menemukan tempat cocok, dia pun segera memasukinya.


Rumah makan itu sepertinya memang sudah langganan bagi para pendekar. Terlihat saat dia masuk pun, banyak orang-orang dunia persilatan sedang makan di sana. Meskipun ada juga beberapa warga biasa.


Cakra Buana duduk di meja pojok sebelah belakang. Kebetulan di sana kosong. Dia sengaja memilih tempat tersebut karena bisa lebih leluasa memandang sekelilingnya.


Sambil menunggu makanan, telinganya dipasang dengan tajam karena ingin mendapatkan informasi penting. Khususnya tentang dunia persilatan.


Ternyata dari obrolan yang dia dengar, di daerah Tanah Jawa pun masalah mulai bermunculan lagi. Kejahatan mulai terjadi lagi di mana-mana, meskipun mereka belum mau bertindak secara terang-terangan.


Berbagai macam informasi sudah Cakra Buana dapatkan. Masalah di rimba hijau Tanah Jawa pun, dia sudah tahu sedikit banyaknya.


Makanan datang, dia buru-buru menyantapnya. Tiba-tiba saat menyantap, terhalang satu meja di depannya, ada segerombolan pria yang mengganggu seorang wanita.

__ADS_1


Nampaknya si wanita juga berasal dari kalangan dunia persilatan, sebab di punggungnya menyandang sebilah pedang.


Gerombolan pria itu mencoba untuk mengganggu si wanita tersebut. Berbagai macam godaan dan rayuan mereka lancarkan. Tapi si wanita tidak menggubrisnya sama sekali. Bahkan dia tetap asyik dalam menyantap makanannya.


Karena merasa di abaikan, gerombolan pria itu merasa malu bercampur marah. Mereka membentak si wanita dengan cacian kasar.


Singkatnya, gerombolan pria itu mulai berani kurang ajar sehingga membuat si wanita naik darah. Dia menggebrak meja lalu pergi melangkah keluar setelah membayar.


Para pria hidung belang itu tentu saja tidak senang. Mereka lalu memburu si wanita keluar.


Melihat hal tersebut, Cakra Buana merasa tertarik. Dia pun segera membayar biaya makan lalu diam-diam mengikuti mereka.


Karena menurut tebakannya, pastilah masalah ini tidak akan selesai begitu saja. Apalagi si wanita sempat menyiram seorang pria dengan air kendi.


Dan apabila tebakannya benar, maka Cakra Buana bisa memastikan bahwa wanita itu tidak akan mampu melawan mereka semua. Apalagi dia juga melihat bahwa pria hidung belang itu mempunyai bekal yang lumayan.


Setelah mengikuti mereka beberapa saat, akhirnya si wanita tadi berhenti di sebuah gang yang sepi. Cakra Buana masih bersembunyi di tempat yang menurutnya aman.


Terlihat bahwa gerombolan pria itu mulai mengurung si wanita. Mereka sempat bertengkar mulut beberapa saat sebelum akhirnya seorang pria maju dan menyerang si wanita.


Pertarungan tak terhindarkan lagi.


Nampaknya si wanita juga tidak mau kalah, dia pun membalas serangan pria tersebut. Jumlah gerombolan pria itu ada enam orang. Begitu melihat seorang teman mereka terdesak, lima orang rekannya segera membantu.


Mereka maju menyerang secara bersamaan. Si wanita nampaknya sedikit terkejut, tapi itu hanya sesaat. Karena detik berikutnya dia sudah memberikan perlawanan yang lebih keras lagi.


Pertarungan mulai berjalan seru. Jurus demi jurus menghiasi pertarungan mereka.


Melihat bahwa si wanita semakin ganas, gerombolan pria itu semakin marah. Jurus berbahaya mulai mereka keluarkan. Pukulan dan tendangan berkelebat di tengah udara.


Memasuki jurus ke lima belas, posisi si wanita semakin terpojok. Keenam pria tadi semakin memburunya dengan berbagai macam serangan.


Sejauh ini, Cakra Buana masih memperhatikan, dia ingin mengetahui semuanya dengan jelas. Sebenarnya dia sendiri masih ingin memperhatikan pertarungan lebih jauh, tapi sepertinya keputusan tersebut kurang tepat. Karena sekarang, si wanita sudah benar-benar berada dalam keadaan genting.

__ADS_1


__ADS_2