
Setelah bersorak-sorai menyambut kemenangan karena bangsa penjajah Walanda berhasil dihancurkan, para warga itu nekad untuk membakar markas dan menjarah harta benda yang ditinggalkan para penajajah.
"Ayo kita bakar markas penjajah ini supaya tidak disalahgunakan lagi," kata salah seorang berteriak diantara orang-orang yang masih merasa bahagia itu.
"Benar …"
"Ayo bakar …"
"Bakar sampai habis …"
Para penduduk desa kembali bersorak-sorai menyetujui usul salah seorang warga itu. Langlang Cakra Buana dan Andi Lumut tidak ikut campur akan hal ini. Keduanya berpikir yang penting tugasnya sebagai pendekar sudah dilaksanakan dengan baik.
Cakra Buana dan Andi Lumut sudah pergi meninggalkan para warga desa itu dengan berjalan santai.
"Cakra, setelah ini kau akan melanjutkan perjalanan kemana?" tanya Andi Lumut.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya Andi, aku akan pergi ke Gunung Kidul, Banten. Disana ada sahabat guruku, dan aku diamanahkan untuk pergi kesana. Kau sendiri akan pergi kemana setelah ini?"
"Aku mungkin akan mengembara ke seluruh tanah Pasundan dulu sebelum ke daerah lain, semoga kita bisa bertemu kembali Cakra," ucap Andi Lumut.
"Semoga saja,"
"Baiklah, kita berpisah disini. Senang berkenalan denganmu Cakra, selamat berpisah," kata Andi Lumut lalu pergi dengan menggunakan ilmu berlari cepat.
"Selamat jalan, sampai berjumpa di lain hari." gumam Cakra Buana sambil memandangi sosok sahabat barunya itu hingga menghilang diantara pohon-pohon.
Cakra Buana berhenti sejenak. Dia masih memikirkan beberapa hal, terutama sekali dia tidak tahu ini sudah di daerah mana dan akan kemana pula melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
"Lebih baik aku cari tempat makan saja, barangkali didepan sana ada kedai." gumamnya lalu mengerahkan Ajian Saifi Angin supaya lebih cepat.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia sudah tiba disebuah kampung kecil. Kampung itu sangat sepi sekali, bahkan hanya ada beberapa rumah saja. Tadinya dia sudah senang karena pasti akan menemukan kedai makan, akan tetapi melihat keadaannya seperti ini, selera makanya jadi hilang. Mana mungkin ditempat seperti ini ada kedai makan, pikirnya.
Cakra Buana kembali berlari lagi dengan cepat. Melewati hutan dan beberapa desa, hingga pada akhirnya pagi pun tiba. Suara kokok ayam jantan sudah terdengar.
Pemuda serba putih itu masih berjalan disebuah hutan. Menjelang siang, barulah dia menemukan sebuah desa seperti pada umumnya. Desa yang lumayan besar dan ada sebuah kedai makan yang dapat ia lihat meskipun jaraknya masih lumayan jauh.
Setalah sampai di kedai, Cakra Buana segera memesan makanan. Hanya beberapa saat, makanan telah tiba didepannya. Sebuah menu makanan sederhana tapi komplit yang ditaruh disatukan pada sebuah tampir (niru) yang cukup besar.
Segera saja dia memakannya dengan lahap. Setelah selesai makan dan membayar biayanya, tanpa berlama-lama dia pun langsung pergi dari sana.
Sepanjang perjalanannya itu, Cakra Buana selalu saja dipertemukan dengan hutan dan hutan lagi. Pada zaman ini keadaann memang seperti itu, apalagi di desa-desa pelosok. Rumah warga masih jarang. Satu desa saja paling hanya beberapa puluh rumah saja. Itupun dengan jarak yang lumayan. Maka tak heran jika pada zaman ini hutan masih ada dimana-mana.
Belum lama dia berjalan disebuah hutan, Cakra Buana melihat ada bayangan putih yang berkelebat didepannya dengan kecepatan tinggi. Gerakannya sangat mencurigakan, karena dorongan hatinya, maka pemuda serba putih itu pun mengikuti bayangan putih yang barusan lewat didepannya.
Bayangan putih itu bergerak dengan kecepatan tinggi. Bahkan seperti terbang layaknya seekor burung rajawali. Untungnya Cakra Buana sudah mencapai tahap sempurna dalam hal ilmu Saifi Angin, sehingga dia tidak kehilangan jejak bayangan putih tersebut.
Ternyata bayangan putih tadi tak lain adalah seorang nenek tua. Rambutnya putih keperakan dengan bagian atas digelung sedikit dan bagian bawahnya dibiarkan menjuntai.
Di tangan kanannya terdapat sebuah tongkat berkepala bulan sabit. Wajahnya sudah keriput dan gigi-giginya sudah menghitam. Akan tetapi matanya masih mencorong tajam.
"Siapapun yang berusaha mengikuti Dewi Bulan, harap keluar dan segera jelaskan apa maksud andika (kamu)," katanya sambil berdiri didepan goa yang tua itu.
Langlang Cakra Buana kaget. Padahal dia sudah menghilangkan hawa keberadaannya dengan baik, lagi pula dia mengikuti dengan gerakan yang sangat halus dan tidak menimbulkan suara. Tapi hebatnya nenek tua yang menyebut dirinya Dewi Bulan itu bisa mengetahui keberadaannya.
Harus Cakra Buana akui bahwa nenek tua itu memiliki kepandaian tinggi tentunya.
__ADS_1
Karena merasa dirinya yang dipanggil, maka diapun segera keluar dari balik batang pohon tempatnya menyembunyikan diri.
"Maaf kalau aku kurang sopan kepada nyai. Perkenalkan, namaku Langlang Cakra Buana," katanya sambil membungkuk memberi hormat.
"Ternyata daun muda yang mengikutiku. Apa alasanmu mengikutiku?" tanya nenek tua itu dengan tatapan menyelidik.
"Tidak ada, aku hanya penasaran saja. Karena ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih lewat tak jauh didepanku. Karena rasa penasaran dan dorongan hati, maka akhirnya aku mengikuti nyai sampai kesini. Sekali lagi mohon maaf jika aku kurang sopan," kata Cakra Buana masih dengan nada merendah.
"Hemmm … berani sekali kau berlaku demikian. Apakah kau tidak mengenal siapa aku?"
"Tidak, mohon maaf. Mungkin karena aku belum lama menginjakkan kaki di dunia persilatan, sehingga aku tidak bisa mengenali nyai yang mungkin memiliki nama besar ini," tutur Cakra Buana.
"Hemmm …" nenek tua itu menatap semakin tajam. "Orng-orang menyebutku dengan sebutan Dewi Bulan. Karena kau sudah terlanjur mengikutiku sampai kesini, sepertinya aku harus menguji sampai dimana kemampuanmu," kata nenek tua yang mengaku dijuluki Dewi Bulan tersebut.
"Maaf nyai Dewi, tapi aku tidak memiliki kepandaian tinggi seperti halnya nyai. Jadi jelas tidak pantas kalau aku menghadapi nyai," kata Cakra Buana.
"Sudah, jangan banyak alasan. Gunakan saja semua kepandaianmu untuk melawanku. Jangan takut, aku bukanlah nenek tua ecek-ecek," katanya sambil menatap tajam.
Cakra Buana tak dapat menolak lagi. Apa boleh buat, pikirnya.
"Jika seperti itu, baiklah. Mohon bimbingannya nyai Dewi," katanya lalu mengambil sikap kuda-kuda.
"Bagus. Sekarang, bersiaplah dan terima serangan pertamaku," kata Dewi Bulan lalu maju menyerang Cakra Buana.
Jarak antara Langlang Cakra Buana dan Dewi Bulan lumayan jauh, kira-kira sekitar dua puluh depa. Akan tetapi hasilnya mengejutkan, baru saja Cakra Buana mengambil sikap kuda-kuda, Dewi Bulan ternyata sudah tiba didepannya dan melayangkan serangan pertama.
"Tahan ini … hiyattt …" Dewi Bulan menerjang dengan kaki kanan yang mengarah ke dada Langlang Cakra Buana.
__ADS_1
###
Satu lagi nanti ya😁