Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sosok Penunggu Pohon Beringin


__ADS_3

Saat ini hari sudah malam, rembulan bersinar terang karena malam ini tepat malam purnama. Gemerlap sang bintang bertaburan di angkasa raya. Menambah indah dan anggun suasana malam itu.


Langlang Cakra Buana sedang berjalan ditengah sebuah hutan. Tidak tahu kemana arah tujuan, karena semuanya gelap. Dia kemalaman.


Mau memaksa keluar hutan, bingung karena luasnya hutan itu. Meskipun bisa keluar, percuma saja. Karena tengah malam seperti ini, pastilah tidak ada sebuah kedai dan penginapan yang buka.


Bahkan jika menumpang tidur di rumah warga pun, pasti sudah tidur. Bukan suatu yang baik mengganggu mereka yang sedang nyaman bersama mimpinya masing-masing.


Langlang Cakra Buana terus melangkahkan kaki ditengah hutan itu dengan tenang. Meskipun bulu kuduknya berdiri, tapi dia mencoba untuk melawan rasa takutnya.


"Sampurasun, punten (permisi) eyang. Saya numpang istirahat disini, nyalingkir-nyingkir (minggir-minggir), hapunten bisi aya anu katoel ku salira (maaf kalau ada yang kepegang oleh saya)," Langlang Cakra Buana bergumam sendiri.


Lalu dia duduk dibawah sebuah pohon beringin yang besar. Hawa dingin yang menusuk tulang dan semilir angin malam, membuat suasana semakin menyeramkan.


Suara binatang malam sayup-sayup terdengar bersahutan. Bahkan sesekali burung hantu pun terdengar mengeluarkan suaranya.


Baru saja sebentar duduk, rasa kantuk mulai menyerangnya dengan hebat. Akhirnya pemuda serba putih itupun tertidur dibawah pohon beringin yang besarnya hampir dua lingkaran orang dewasa.


Baru beberapa saat memejamkan matanya, tiba-tiba dia mendengar ada suara ganjil yang perlahan mendekat. Meskipun sedang tidur, tapi telinganya selalu awas dan seluruh anggota tubuhnya terlatih dengan baik jika ada bahaya.


Langlang Cakra Buana membuka mata kembali. Tapi tidak ada apa-apa. Kecuali ada angin besar yang datang menerpa. Daun-daun kering beterbangan membentuk angin puyuh.


Pemuda serba putih itu lalu mempertajam semua inderanya, tiba-tiba saja, didepannya sudah muncul sesosok dedemit.


Matanya merah menyala, taringnya tajam dan agak panjang hingga melebihi dagu. Rambutnya kusut dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu-bulu hitam.


Sosoknya lebih terlihat menyeramkan jika berada dibawah kegelapan seperti ini.


"Siapa kau kisanak? Dan kenapa menampakkan diri didepanku?" tanya Cakra Buana.

__ADS_1


"Rrrrghh manusia … berani sekali kau tidur dirumahku. Berani menginjak rumahku, berarti sudah siap menanggung resikonya," ucap dedemit itu.


"Maafan aku. Kalau begitu, biarlah aku pergi mencari tempat lain saja,"


"Kau pikir bisa bertindak sesukamu heh. Manusia tidak tahu diri, aku penunggu pohon ini. Aku dikenal sebagai sosok genderuwo, tapi namaku sebenarnya Ki Hideung," ucapnya garang.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan Ki Hideung?"


"Berikan nyawamu," ucapnya enteng.


"Maaf, aku tidak bisa. Masih banyak tugas yang belum aku selesaikan. Lagi pula, nyawa manusia hanyalah kepunyaan Sang Hyang Widhi. Kau tak berhak sama sekali meminta nyawaku," jawab Langlanh Cakra Buana.


"Kalau begitu aku akan memaksamu. Jangan kau pikir aku takut kepada manusia sepertimu," ucap dedemit yang mengaku bernama Ki Hideung itu.


"Aku juga tidak pernah takut kepada makhluk sepertimu. Derajatku lebih mulia diatasmu," jawab Pendekar Maung Kulon itu.


"Manusia memang selalu merasa suci."


Sebenarnya pertarungan seperti ini bisa dibilang tidak masuk akal bagi mereka yang awam. Sebab selain beda dunia, juga beda kedudukan.


Bahkan bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa, tentu tidak akan bisa menyentuh tubuh sosok dedemit ini jika sosok itu tidak menghendaki.


Tapi semua itu akan lain ceritanya jika ditangan orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan. Yang seperti ini adalah hal biasa, bahkan mereka selalu diganggu sosok-sosok yang lebih menyeramkan daripada ini ketika sedang melakukan tirakat.


Langlang Cakra Buana sudah siap daritadi, sehingga ketika Ki Hideung menyerangnya tiba-tiba, pemuda serba putih itu bisa dengan mudah berkelit.


Cakra Buana melompat ke tengah-tengah supaya lebih leluasa, Ki Hideung pun sudah memberikan sebuah serangan lagi. Tangannya yang kuat dan berkuku panjang serta runcing itu, diayunkan ke arah Langlang Cakra Buana.


Ayunan setiap cakarannya menghasilkan suara yang mendesing. Tapi lagi-lagi Langlang Cakra Buana bisa menghindari dengan mudah.

__ADS_1


Pemuda serba putih itu mulai membalas serangan, kedua tangannya juga membentuk sebuah cakar. Serangannya tak kalah hebat dari Ki Hideung, cakaran yang menimbulkan cahaya hingga menyambar-nyambar ke arahnya.


"Wushh … wushh …"


Desiran angin mewarnai perkelahian keduanya. Sosok genderuwo itu pun tak mau kalah, dia mulai balas menyerang juga hingga akhirnya mereka saling adu serangan.


Belasan jurus sudah mereka lewati. Cahaya jingga dan merah terus mewarnai pertarungan keduanya. Langlang Cakra Buana mempercepat serangannya itu, dia tidak ingin berlama-lama lagi.


"Harimau Mengejar Mangsa …"


Pemuda serba putih itu mengubah gaya serangannya, kini dia terus mengejar dan mendesak sosok genderuwo tersebut. Semakin lama sosok itu semakin terpojok.


Tidak disangkanya bahwa manusia yang dia anggap remeh, ternyata memiliki kanuragan yang tinggi.


"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"


"Desss …"


Ajian itu dengan telak menghantam dada Ki Hideung atau lebih tepatnya sosok genderuwo itu hingga dia bergulingan.


Tanpa banyak cakap lagi Langlang Cakra Buana memberikan serangan pukulan tenaga dalam dari jarak jauh. Sebuah cahaya jingga terlihat sekelebat menyambar dedemit tersebut.


"Desss …"


Sosok genderuwo itu berteriak keras kepanasan karena tubuhnya terbakar. Tapi Langlang Cakra Buana tidak menghiraukannya. Dia membiarkan sosok itu terbakar hingga lenyap dari pandangan.


Tepat ketika pertarungannya selesai, ayam jantan hutan sudah bersuara. Menandakan bahwa hari sudah subuh. Di tengah hutan itu, yang ada hanya keheningan lagi.


Langlang Cakra Buana berniat untuk melanjutkan tidurnya walaupun sebentar. Dia memilih untuk tidur disebuah pohon yang dekat dengan jalan hutan.

__ADS_1


Setelah menemukan pohon yang memang bisa dijadikan tempat tidur, pemuda serba putih itu langsung saja memejamkan matanya yang memang sudah perih.


__ADS_2