Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Sang Raja


__ADS_3

Tak perlu waktu yang lama untuk membuat Angga Reksapati dan Saka Lintang dalam keadaan benar-benar terdesak, hanya beberapa saat pun Prabu Ajiraga sudah membuatnya tidak bisa membalas serangan sama sekali.


Kedua pendekar pilih tanding dari Kerajaan Sindang Haji itu hanya bisa menahan setiap serangan datang padanya. Tapi meskipun begitu, mereka merasakan tangannya sangat panas ketika berusaha menahan serangan yang diberikan oleh Prabu Ajiraga.


Ketika pedang Angga Reksapati dan Saka Lintang beradu dengan pedang Prabu Ajiraga, terjadilah adu tenaga dalam yang dahsyat.


Percikan kembang api terlihat beberapa kali, angin pun menderu cukup kencang disekitar mereka. Prabu Ajiraga lalu menambah tenaga dalam yang dia alirkan kedalam pedang pusakanya. Sehingga Angga Reksapati dan Saka Lintang dibuat terpental karenanya.


Kembali telapak tangan kedua pendekar itu terasa panas dan perih. Bahkan pedang yang mereka genggam pun hampir terlepas karena turut memantulkan hawa panas.


Prabu Ajiraga tak berhenti sampai disitu, dia kembali menyerang dengan jurus andalannya bernama "Burung Menari Diatas Angin".


Sebuah jurus pedang yang memiliki gerakan sangat cepat dan penuh dengan serangan-serangan mematikan. Dimana jurus Burung Menari Diatas Angin ini, selalu memberikan serangan tipuan.


Sehingga lawan bakal dibuat pusing dan tak berdaya untuk melawannya. Prabu Ajiraga kini mulai mengganti gerakan pedangnya, dia memainkan pedang itu sambil berputar cepat ke arah Saka Lintang dan Angga Reksapati.


Kedua pendekar tersebut tak mau kalah, Angga Reksapati mengeluarkan jurus pedang bernama "Seribu Sayatan Maut". Sedangkan Saka Lintang mengeluarkan jurus "Tarian Burung Merpati".


Dimana kedua jurus pedang itu adalah jurus andalan yang mereka miliki, setiap jurus dari keduanya memiliki gerakan yang tak kalah cepat dari Prabu Ajiraga.


Tapi sayangnya mereka menghadapi lawan yang begitu tangguh, melawan seorang raja yang adidaya. Jadi bukan hal mudah untuk mengalahkan raja itu meskipun menggunakan jurus andalan mereka.


Pertarungan sengit dengan jurus tingkat tinggi pun terjadi, ketiga pendekar hebat itu sudah mengeluarkan jurusnya masing-masing.


Saat ini giliran Angga Reksapati dan Saka Lintang yang mendapat giliran menyerang. Mereka melakukan serangan dari sisi kanan dan kiri.


Serangannya amat tajam dan berbahaya karena mereka mengincar bagian rawan. Tapi di sisi lain, Prabu Ajiraga tetap bisa mengimbangi keduanya meskipun sedikit kerepotan.


Karena lawan terus berusaha untuk memojokkannya, Prabu Ajiraga pun kini tak tinggal diam. Dia yang tadinya berada dalam posisi bertahan, kini mulai berbalik menyerang.

__ADS_1


Prabu Ajiraga menyerang keduanya secara bergantian dengan gerakan yang sukar dilihat oleh mata biasa. Sinar pedang sudah menggulung ketiganya bagaikan angin puyuh.


Percikan api kembali terlihat akibat senjata yang terus beradu tanpa henti. Tapi kali ini, percikan itu nampak indah dan tidak hilang-hilang. Maklumlah karena ketiganya terus bertarung tanpa henti.


Karena tenaga dalamnya mulai menipis, Prabu Ajiraga pun kini menambah kecepatan serangannya. Karena jika dibiarkan seperti ini, pastilah akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Lagi pula masih banyak hal lain yang harus segera diurus oleh raja Kerajaan Kawasenan tersebut. Jika tidak digunakan secara maksimal saja sudah kerepotan, apalagi sekarang ditambah kecepatan serangannya.


Maka semakin sulitlah Angga Reksapati dan Saka Lintang mengimbangi raja itu. Mereka tetap tidak mampu menahannya meskipun keduanya pun turut menggunakan ilmunya secara maksimal.


Sehingga tak perlu waktu lama, tepat ketika hampir sembilan puluh jurus, Prabu Ajiraga berhasil memberikan sebuah sayatan tepat pada dada Angga Reksapati dan Saka Lintang.


"Ughhh …"


Kedua pendekar itu bahkan hingga terpental ke belakang lalu bergulingan. Darah sudah keluar deras dari dada mereka akibat sayatan itu cukup dalam.


Akhirnya, pertarungan Prabu Ajiraga melawan Angga Reksapati dan Saka Lintang pun sudah berakhir dengan kurang dari seratus jurus. Setelah itu, lalu Prabu Ajiraga langsung pergi dari sana untuk membantu yang lainnya.


Di sisi lain, pertarungan antara Prabu Karta Kajayaan Pasundan melawan Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana pun berlangsung dengan seru.


Kedua pendekar pilih tanding dari Kerajaan Sindang Haji itu saat ini sedang berusaha sekuat tenaga untuk berhasil membunuh atau setidaknya melumpuhkan raja itu.


Tapi sama seperti kedua rekannya, Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana juga kesulitan untuk melawan Prabu Karta Kajayaan Pasundan itu. Ternyata raja itu sungguh tidak bisa dianggap remeh.


Keduanya sudah bertarung menggunakan jurus silat tingkat tinggi yang mereka miliki, tapi Prabu Karta Kajayaan tetap bisa melawan keduanya bahkan tanpa kesulitan yang berarti.


Sekarang pertarungan tiga pendekar itu terhenti, Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana sudah mengambil jarak cukup jauh dari Prabu Karta Kajayaan.


Nafas kedua pendekar tersebut terengah-engah, keringat dingin sudah keluar membasahi punggung. Peluh pun sudah terlihat diantara alis matanya yang tebal.

__ADS_1


Baju kedua pendekar tersebut penuh dengan luka robekan, bahkan sebagian anggota badannya juga ada yang biru dan lebam. Keduanya saat ini sedang mencoba untuk menstabilkan diri sambil berfikir bagaimana cara untuk mengalahkan raja itu.


"Tidak ada cara lain lagi, mari kawan … kita keluarkan kemampuan terakhir kita," ucap Bambang Jaya Anom kepada Agung Jayadrana.


"Baik …" jawabnya.


Kedua pendekar itu lalu melakukan gerakan yang aneh. Kedua tangan mereka diputar sedemikian lupa lalu berhenti tepat ketika kedua tangannya seperti sedang menyembah.


Kedua tangan Bambang Jaya Anom lalu berubah sedikit merah menyala sampai ke pergelangan tangannya. Kemudian pendekar muda itu membuka matanya lalu menatap tajam Prabu Karta Kajayaan.


Inilah yang disebut sebagai ilmu "Racun Pasir Merah", dimana saat ini kedua telapak tangan Bambang Jaya Anom mengandung racun tingkat tinggi. Sekali tubuhmu terkena ilmu ini, maka seluruh tubuh akan berubah memerah dan ada hawa panas yang menjalar.


Sedangkan Agung Jayadrana, dia mengalami perubahan pada kaki sebelah kanannya. Dimana kaki kanan itu tiba-tiba berubah menjadi hitam sampai ke pahanya.


Dia mengeluarkan ilmu terlarang miliknya, yaitu ilmu "Kaki Iblis". Ilmu Kaki Iblis ini mengerikan, karena bisa menghancurkan apapun yang dia tendang. Batu besar saja bisa hancur, apalagi manusia.


Prabu Karta Kajayaan yang melihat hal ini tentu dibuat sedikit terkejut. Karena dia tidak menyangka bahwa kedua pendekar itu ternyata sudah menguasai ilmu yang mengerikan.


Lalu raja dari Kerajaan Galunggung Sukma itu pun tak mau kalah, dia turut mengeluarkan ilmu andalannya. Kedua tangannya ditaruh dipinggang lalu dihentakkan keatas sambil berteriak kencang.


Prabu Karta Kajayaan Pasundan berniat untuk mengeluarkan ilmu "Pukulan Pemecah Sukma". Sebuah ilmu pukulan yang jarang ada tandingannya, bahkan konon katanya, sekali pukul saja lawannya bisa langsung tewas jika tidak memiliki tenaga dalam yang besar.


Sekarang ketiga pendekar sudah siap dengan ilmu pamungkasnya masing-masing. Agaknya pertarungan yang dahsyat pun akan segera terjadi lagi.


Sedangkan Langlang Cakra Buana, saat ini dia terus mengobati prajurit yang terluka. Ternyata memang benar dugaan sebelumnya, bahwa prajurit Kerajaan Sindang Haji lebih hebat daripada prajurit dua kerajaan yang menyerang.


Sehingga sekarang kondisinya berbalik, para prajurit Kerajaan Sindang Haji terus menyerang hingga korban di pihaknya semakin bertambah.


Keadaan ini perlahan membuat Pendekar Maung Kulon itu merasa geram karenanya. Dia sudah ingin turun tangan membantu prajurit, tapi sayangnya masih cukup banyak prajurit yang harus di sembuhkan.

__ADS_1


__ADS_2