Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perguruan Rajawali Putih


__ADS_3

Mau tak mau kedua orang itu berdiri menuruti ucapan Cakra Buana. Keduanya terlihat semakin ketakutan saat memandang mata pemuda serba putih itu. Tatapan mata Pendekar Maung Kulon bagaikan sebilah pedang yang bisa menusuk jantung manusia.


"Katakan yang sebenarnya, siapa yang sudah membunuh kudaku?" tanya Cakra Buana. Tatapan matanya masih tajam.


"Anu, tuan, anu …"


"Anu apa?" bentak Cakra Buana.


"Ma-maaf, yang melakukannya bukan kami tuan. Tapi, tapi … pelakunya teman kami yang bernama Ladu Welang dan Dadi Awug," kata salah seorang.


"Siapa Ladu Welang dan Dadi Awug itu? Apakah masih orang-orang Perguruan Ular Sendok?"


"Be-benar dan. Mereka murid guru besar,"


"Hemm pantas saja mereka berani. Yang kalian ucapkan kemarin tentang rencana penyerangan ke Perguruan Rajawali Putih itu, apakah benar?"


Keduanya diam. Mereka seperti takut untuk menjawab pertanyaan Cakra Buana yang barusan.


"Itu … euu … anu tuan,"


"Cepat jawab. Apa kalian sudah tidak mau melihat dunia lagi?" ancam Cakra Buana sambil mencekik leher kedua orang tersebut.


"Jangan tuan. Ampun, ampun. Baik, kami akan mengatakannya. Apa yang kemarin di dengar oleh tuan memang benar, kami akan melakukan penyerangan ke Perguruan Rajawali Putih,"


"Hemm, kapan penyerangan itu akan dilakukan?"


"Dua hari lagi, dihitung dari hari ini,"


"Apakah ucapan kalian ini dapat dipercaya?"


"Te-tentu tuan. Kami tidak berani berbohong, sungguh," katanya meyakinkan Cakra Buana.


"Bagus kalau begitu, sekarang pergilah. Jangan kembali lagi ke sini, kalau kalian tidak menuruti ucapanku, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam," ucap Cakra Buana mengancam.


"Baik tuan, baik. Kami akan pergi sekarang," kata orang tersebut lalu pergi dari sana.


Cakra Buana lalu mendekati Pendekar Tangan Seribu yang sedari tadi hanya menonton itu. Dia sedang duduk santai di bawah pohon kelapa agak condong.


"Apa yang kau dapatkan pangeran?" tanya Pendekar Tangan Seribu.

__ADS_1


"Aku mendapatkan informasi penting. Paman, kalau kita berangkat sekarang ke Perguruan Rajawali Putih, kira-kira kita akan sampai kapan?"


"Sore hari. Ya, sore hari. Itu pun kalau naik kuda dan kalau tidak ada halangan,"


"Baiklah, kalau begitu tolong carikan dua kuda, untukku dan untukmu. Kita harus segera ke sana sekarang. Sebab dua hari lagi Perguruan Ular Sendok akan menyerang Perguruan Rajawali Putih. Kita sudah tidak ada waktu lagi, kita harus segera ke sana untuk memberitahu rencana keji ini," kata Cakra Buana.


"Baik pangeran. Kalau begitu, aku pergi cari kuda dulu," ucap Pendekar Tangan Seribu.


Cakra Buana mengangguk. Dia menunggu sendirian di bawah pohon kelapa tadi. Setelah sekitar sepeminum teh kemudian, Pendekar Tangan Seribu sudah kembali membawa dua kuda. Tapi kali ini warnanya hitam semua. Terlihat angker dan gagah.


"Maaf pangeran, aku hanya bisa bawakan kuda hitam untukmu. Kuda berwarna putih tidak ada,"


"Tidak masalah paman. Ayo kita berangkat sekarang," kata Cakra Buana sambil menaiki kuda barunya.


"Baik,"


Keduanya menggebrak kuda. Dua ekor kuda berlari kencang menyusuri jalan-jalan hutan dan desa. Sepanjang perjalanan, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu melihat kehidupan rakyat yang berkecukupan. Keduanya sudah hampir memasuki desa perbatasan antara dua kerajaan.


Menjelang sore hari tepat ketika sinar matahari berubah jadi merah tembaga, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu baru tiba di desa yang di tuju. Keduanya memilih untuk ke kedai makan sekalian istirahat beberapa saat.


Kedai itu hanyalah kedai kecil. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu memasuki kedai dan langsung memesan makanan.


"Baik tuan,"


Sambil menunggu makanan datang, keduanya sempat bercerita beberapa hal terkait Perguruan Rajawali Putih. Menurut Pendekar Tangan Seribu, jarak ke perguruan itu sudah dekat. Sehingga mereka bisa sedikit bersantai mengisi perut dulu.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Perguruan Rajawali Putih ini terkenal akibat julukan guru besarnya yang cukup kesohor dalam dunia persilatan. Kakek Rajawali di kenal sebagai tokoh tua yang menjunjung tinggi kebenaran dan paling menentang kejahatan.


Di masa mudanya, Kakek Rajawali sudah mempunyai kepandaian yang lumayan. Sehingga orang-orang rimba hijau banyak yang kagum terhadapnya, apalagi dia terkenal sebagai pendekar tanpa pamrih.


Kakek Rajawali ini terkenal dengan jurus "Kepakan Sayap Rajawali" miliknya yang mampu menerbangkan bebatuan bahkan menerbangkan pohon hingga akar-akarnya. Sayangnya dia sudah lama mundur dari dunia persilatan, dan memilih untuk membuat perguruan yang sekarang di kenal dengan nama Perguruan Rajawali Putih.


Tapi meskipun begitu, orang-orang rimba hijau masih menghormati dirinya. Walau pun Kakek Rajawali terkenal akan kehebatan ilmunya, namun kalau ada yang menyerang dengan jumlah banyak, maka ceritanya lain lagi.


Hal inilah yang membuat Pendekar Tangan Seribu dan Cakra Buana merasa khawatir. Karena dalam sebuah penyerangan, pasti akan memakan korban jiwa yang tidak sedikit.


Setelah keduanya selesai makan, mereka langsung melanjutkan perjalanan kembali. Tak butuh waktu lama untuk tiba di perguruan itu, tepat saat matahari baru tenggelam, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu tiba di pintu gerbang Perguruan Rajawali Putih.


Perguruan tersebut merupakan perguruan kelas menengah. Bangunannya tidak terlalu besar, hanya berukuran sedang. Menurut informasi, Perguruan Rajawali Putih memiliki murid hanya berjumlah sekitar tujuh puluh orang saja.

__ADS_1


Pintu gerbang itu di jaga oleh empat orang murid. Semuanya menyoren pedang di punggungnya. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu turun dari kuda untuk memberikan dalam.


"Sampurasun …" kata Cakra Buana.


"Rampes. Maaf tuan, ada keperluan apa sore-sore begini ke perguruan kami?" tanya salah satu penjaga gerbang.


"Ada hal penting yang ingin kami katakan kepada guru besar kalian. Mohon izinkan kami untuk bertemu dengan beliau," ucap Pendekar Tangan Seribu.


"Maaf sebelumnya, tuan-tuan ini siapa?"


"Ah, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri, sungguh tidak sopan. Perkenalkan, orang-orang menyebut saya dengan julukan Pendekar Tangan Seribu, dan ini keponakan saya, Cakra Buana," katanya menjelaskan sambil menyembunyikan identitas Cakra Buana.


"Ah, ternyata dua pendekar ternama. Mari silahkan masuk. Kebetulan guru sedang ada di ruang belakang," kata murid penjaga gerbang.


Keduanya lalu di antar oleh seorang murid menuju ke tempat yang di maksud. Saat masuk, terlihat para murid perguruan sedang melakukan latihan sore bersama beberapa orang guru. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu langsung di antar untuk meneumi Kakek Rajawali.


"Permisi, maaf guru, ada yang ingin bertemu," kata penjaga gerbang.


"Hemm, siapa orang itu?"


"Mereka mengaku bernama Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Katanya ada hal penting yang akan di bicarakan,"


"Suruh mereka kemari," pinta Kakek Rajawali.


Murid itu mengangguk, lalu pergi ke luar menemui dua tamunya. Setelah mendapatkan izin, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu lalu masuk ke ruangan tersebut.


Di sana terlihat ada seorang pria berumur sekitar tujuh puluh tahun sedang duduk memandangi Gunung Kapol ditemani secangkir kopi pahit. Tubuhnya agak tinggi, sisa-sisa ototnya waktu muda masih terlihat dengan jelas. Wajahnya cukup tampan dengan rambut panjang melewati pundak dan di kuncir. Pria tua itu memakai pakaian putih dengan lambang burung rajawali di bagian depan dan belakangnya. Dialah Kakek Rajawali. Cakra Buana dan Pendekar Tanga Seribu lalu memberikan salam untuknya.


"Sampurasun …" kata Pendekar Tangan Seribu.


"Rampes," jawab Kakek Rajawali lalu membalikan badannya.


"Ah, ternyata aku kedatangan dua pendekar terkenal. Silahkan duduk," kata kakek tua itu.


"Terimakasih paman,"


Ketiganya lalu duduk di sebuah bangku bundar yang dibuat dari batang pohon asem berukuran cukup besar.


"Maaf, menurut muridku, kalian membawa hal penting. Kalau boleh tahu, hal apa yang dimaksud?" tanya Kakek Rajawali tanpa basa-basi.

__ADS_1


__ADS_2