Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Diambang Kematian


__ADS_3

"Lihat Ayu!!! Belum apa-apa kekasihmu ini sudah berani melawan kepadaku. Bagaimana nantinya jika sudah jadi suamimu? Mungkin aku akan diusir dan tak dianggap," kata Nyai Kembang pura-pura membela diri.


"Maaf nyai, saya hanya membela diri saja. Karena jika saya tidak melawan ataupun menahan serangan tadi, tentu aku akan tewas," ucap Cakra Buana sambil memberi hormat.


"Jangan membela diri bocah,"


"Aku tidak membela diri. Aku hanya mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi," jawab Cakra Buana.


"Lancang … lihat serangan …"


Tanpa berlama-lama lagi, Nyai Kembang Ros Beureum sudah kembali menyerang Cakra Buana dengan serangan tangan kosong. Wanita itu mengirimkan serangan yang sangat berbahaya.


Selain gerakannya yang cepat, juga kedua tangan itu mengandung tenaga dalam yang amat besar. Cakra Buana sudah tahu akan hal ini, maka dia pun tidak mau bermain-main. Apalagi ketika sudah menyadari bahwa guru kekasihnya itu memang berniat untuk membunuhnya.


Cakra Buana berkelit ke sebelah kiri. Kemudian dia memukul Nyai Kembang dari pinggir. Tapi serangannya gagal. Karena dengan tiba-tiba Nyai Kembang juga sudah membalikan lagi tubuhnya dengan sangat cepat. Maka otomatis keduanya kembali berbenturan.


Kali ini giliran Cakra Buana yang merasakan kedua telapak tangannya bergetar dan panas. Dengan sigap dia kembali membenarkan posisinya.


"Hemmm … lumayan juga kepandaianmu," puji Nyai Kembang dengan tulus.


"Masih jauh dibawah kepandaian nyai," kata Cakra Buana. Nada bicaranya masih tenang, tapi dibalik ketenangan itu ada sesuatu yang ingin meronta keluar.


Keduanya berdiri saling pandang. Tapi tangan Nyai Kembang seperti merogoh sesuatu dari belakang. Cakra Buana melihat hal ini, maka dia sudah merasa curiga.


"Wuttt …"


Kembali Nyai Kembang melemparkan senjata rahasianya. Jumlahnya ada sekitar tujuh buah. Kecepatannya beberapa kali lebih cepat, apalagi kini dilakukan dengan jarak yang begitu dekat. Untung Cakra Buana juga tidak kalah cepatnya.


Dia menggeser kaki kanan dan kirinya bergantian lalu melompat dan bersalto di udara.


Tapi belum sempat kakinya menginjak tanah, Nyai Kembang sudah kembali menyerang. Kali ini serangannya berbeda.


Tangannya sedikit memerah dan mengeluarkan hawa panas. Seluruh kuku jarinya berubah warna menjadi agak keunguan. Inilah jurus tangan kosong yang menggetarkan siapapun lawannya.


"Selaksa Jari Beracun …"


Jangankan sampai tertancap kuku-kuku itu, tergores sedikitpun bisa dipastikan lawan akan segera tewas jika tidak memiliki dayan tahan tubuh yang tinggi dam memiliki tenaga dalam yang besar.


Jurus Selaksa Jari Beracun. Jurus Ciptaaan Nyai Kembang sendiri yang sudah mengangkat namanya dalam dunia persilatan.

__ADS_1


Wanita itu sudah menyerang Cakra Buana. Sekelebatan sinar merah terlihat menggulung Cakra Buana bersamaan dengan gerakan Nyai Kembang. Cakra Buana yang masih dalam posisi di udara, tentu saja kaget ketika melihat jurus serangan ini.


Buru-buru dia memanfaatkan angin yang diakibatkan oleh serangan Nyai Kembang untuk menarik tubuhnya ke belakang. Cakra Buana sudah mendarat. Tanpa basa-basi lagi dia pun balas menyerang dengan jurusnya yang tak kalah menggiriskan.


Tak tanggung-tanggung, Pendekar Maung Kulon itu langsung mengeluarkan jurus kesembilan Kitab Maung Mega Mendung.


"Harimau Mencabut Nyawa …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Keduanya sudah saling adu pukulan. adu tendangan pun tak terlewatkan. Keduanya bertarung dengan sengit. Hawa disekitar sana menjadi berat dan panas. Tentunya ini merupakan akibat dari dua jurus tingkat tinggi itu.


Lima puluh jurus sudah terlewati oleh keduanya. Tapi belum ada yang terdesak diantara mereka. Justru yang ada pertarungan keduanya semakin menegangkan.


Akan tetapi perlahan-lahan, Nyai Kembanh Ros Beureum terlihat mulai kelelahan. Kekuatan serangannya semakin mengendur, gerakannya semakin melambat. Beberapa kali badannya hampir menjadi sasaran jurus ganas Cakra Buana.


Melihat bahwa gurunya mulai terdesak, diam diam Ayu Pertiwi khawatir juga. Tiba-tiba, dua adik seperguruannya yaitu Citra Kirana dan Dyah Rengganis, ditambah pula dengan Raden Buyut Sangkar mendadak melompat dari posisi mereka.


"Hiaaa …"


"Hiaaa …"


"Haittt …"


Cakra Buana yang sedang berusaha mendesak Nyai Kembang, tentu saja kaget melihat mereka bertiga ikut turun tangan. Melawan gurunya saja dia sudah cukup kerepotan, apalagi jika ditambah tiga orang ini. Terlebih dia belum mengetahui sampai dimana kemampuan pemuda bernama Raden Buyut Sangkar itu.


Karena tak ada pilihan lain, maka Cakra Buana pun segera menarik kedua tangannya yang sedang berusha mendesak lawan, kemudian dia melompat tiga tombak ke belakang.


"Mari kita serang dia bersama-sama guru," kata Dyah Rengganis.


Nyai Kembang mengangguk. Keempatnya lalu berpencar mengepung Cakra Buana.


Pemuda serba putih itu agak jeri juga menghadapi kenyataan ini. Tapi apa boleh buat, dia harus berusaha sekuat tenaga supaya bisa pergi dari sana dengan selamat.

__ADS_1


"Hemmm … majulah …" tantang Cakra Buana dengan sikap gagah dan suara yang mengandung wibawa.


"Sombong …"


"Hiyaaa …"


"****** kau …"


"Haittt …"


Keempatnya maju secara bersamaan. Gerakan mereka sama cepat dan berbahaya. Tapi yang membuat Cakra Buana jeri adalah serangan Raden Buyut Sangkar itu. Dimana kedua tangannya sudah memerah dan mengandung hawa panas. Padahal serangan pukulannya belum sampai.


Inilah jurus yang cukup melegenda. Jurus yang sangat berbahaya jika tidak memiliki kekuatan lebih untuk melawannya.


"Pukulan Brajamusti …"


Sebuah jurus yang konon katanya mampu membuat orang gosong dan serasa terbakar.


Empat serangan datang.


Dyah Rengganis menyerang bagian pundak kiri. Citra Kirana menyerang pinggang sebelah kanan. Nyai Kembang mengincar punggung. Sedangkan Raden Buyut Sangkar mengincar tepat kebagian ulu hatinya.


Tak ada ruang bagi Cakra Buana untuk menghindari semua serangan itu. Semua jalan keluar ditutup rapat. Hanya ada satu harapannya. Yaitu mengadu kekuatan. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menghimpun tenaga dalamnya hingga ke tingkat tertinggi.


"Harimau Menghancurkan Semesta …"


"Rrrrgh …"


Cakra Buana meneriakan jurus terkahir dari ajaran Kitab Maung Mega Mendung. Hanya jurus itu yang dapat dia andalkan saat ini untuk menghadapi jurus pamungkas keempat lawannya tersebut.


"Blarrrr …"


Dentuman keras tercipta ketika kelima jurus bertemu. Semuanya terpental. Akan tetapi karena mereka bekerja sama dengan baik, pihak lawan tidak sampai mengalami luka parah. Mereka hanya muntah darah karena terkena efek jurus Cakra Buana.


Sebaliknya, pemuda itu justru terkapar dengan tubuh penuh luka-luka. Terlebih pada bagian ulu hatinya. Ada bekas menghitam seperti terbakar. Agaknya Pukulan Brajamusti milik Raden Buyut Sangkar berhasil mengenainya. Ditambah punggungnya juga terasa perih bukan main. Agaknya jurus Selaksa Jari Beracun milik Nyai Kembang juga berhasil melukainya.


Dia sudah berada dalam posisi diambang kematian.


Tidak ada harapan lagi bagi Cakra Buana untuk mengelak dari kematian. Keempat lawannya sudah kembali bersiap setelah sebelumnya menyalurkan hawa murni.

__ADS_1


"Sekarang ****** kau anak setan …" kata Raden Buyut Sangkar.


"Haaa …" dia melompat sambil kembali memberikan serangan Pukulan Brajamusti.


__ADS_2