
"Kita bicarakan itu nanti saja Langlang. Sekarang, mari kita hadapi iblis busuk ini. Aku sudah muak melihat kelakuanmya selama ini, setelah mereka mati … baru kita cari dan tangkap kepala desanya. Lalu aku akan menceritakan semuanya kepadamu," kata Ki Jaya Wikalpa dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Baik ki," kata Langlang Cakra Buana. Sesaat pemuda itu menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, terlebih ke bagian tubuh yang mengalami luka dalam akibat tendangan Surapati tadi.
Setelah keadaannya normal, Langlang Cakra Buana langsung berdiri disamping Ki Jaya Wikalpa dengan gagahnya. Begitu pun Surapati dan Raka Gini. Kini empat orang pendekar sudah berhadapan satu sama lain dan siap untuk bertarung kembali.
Mungkin sampai titik darah penghabisan, mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Kelompok Ucing Hideung sudah terlalu melampaui batas.
Dengan begitu, jika semua ketua mereka sudah tewas maka pastinya anak buah mereka tidak akan berani melawan, apalagi kabur.
"Heh orang tua, cepat pergi dan jangan campuri urusanku. Ini peringatan terakhirku kepadamu, kalau kau masih bersikeras, maka jangan salahkan aku jika kepalamu pecah dengan Aji Batu Besi milikku," ucap Surapati dengan nada mengancam kepada Ki Jaya Wikalpa.
"Hahaha … apakah kau yakin bisa menandingi Ajian Bolo Sewu milikku?" ucap Ki Jaya Wikalpa dengan nada mengejek sehingga membuat Surapati menggertak giginya.
Seperti yang kita ketahui, Ajian Bolo Sewu jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya adalah seribu teman/kawan. Artinya, jika seseorang mempunyai ajian ini tentulah dia bisa memanggil seribu bantuan dari alam ghaib.
Dan pastinya bukanlah perkara mudah untuk bisa melawan ajian ini, karena yang menjadi lawan dari pengguna Ajian Bolo Sewu seolah merasa dia bertarung dengan seribu orang.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Surapati dan Raka Gini langsung menyerang Langlang Cakra Buana dan Ki Jaya Wikalpa. Ki Jaya Wikalpa mendapat bagian untuk melawan Surapati, sedangkan Langlang Cakra Buana menjadi lawan Raka Gini.
Keduanya kini sudah mengambil tempat pada jarak tertentu supaya tidak mengganggu satu sama lainnya. Meskipun Raka Gini merasa gentar untuk melawan pemuda asing serba putih itu, tapi apa boleh buat? Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus melawannya apapun yang terjadi.
Raka Gini menyerang Langlang Cakra Buana dengan memberikan hujan pukulan yang cukup merepotkan. Sinar-sinar ungu terlihat menyambar-nyambar saat tanganya diayunkan untuk menyerang Langlang Cakra Buana.
Tapi meskipun serangan itu terbilang berbahaya, bagi murid Eyang Resi Patok Pati untuk menahan dan menangkis serangan ini bukanlah perkara sulit.
Hanya cukup menggeser kaki dan menggerakkan tubuh sedemikian rupa, maka semua hujan pukulan yang digencarkan Raka Gini bisa luput tanpa mengenai dirinya seujung rambut pun.
Di sisi lain, pertarungan antara Surapati dan Ki Jaya Wikalpa pun berlangsung dengan begitu serunya. Keduanya terus memberikan serangan-serangan yang berbahaya secara silih berganti.
Tapi meskipun sudah lewat dari dua puluh jurus, kedua pendekar tua tersebut belum mengeluarkan ajian pamungkasnya masing-masing.
Sebaliknya, mereka sejauh ini hanya bertarung dengan jurus-jurus silat tingkat tinggi yang disertai tenaga dalam baik serangan pukulan maupun tendangan.
Serangan pukulan dan tendangan terlihat begitu hebatnya, masing-masing dari mereka merasa kesulitan untuk menembus pertahanan lawan satu sama lain. Hingga pada akhirnya kedua pendekar tua itu beradu tapak dengan kerasnya.
__ADS_1
"Desss …"
Debu-debu disekitar terlihat beterbangan karena efek beradunya kedua tangan kedua pendekar tua itu. Cukup lama mereka dalam posisi demikian hingga keduanya saling melepaskan tapaknya dan mundur masing-masing satu tombak ke belakang.
"Hebat juga kau Wikalpa, bisa mengimbangiku hingga sejauh ini … hahaha," ucap Surapati dengan suara tawa mengejek.
"Hahaha … aku bukanlah orang yang lemah Surapati. Mari kita akhiri masalah kita dalam pertarungan ini, kita bertarung sampai titik penghabisan," kata Ki Jaya Wikalpa menantang.
"Degg …"
Jantung Surapati langsung berdegup dengan kencangnya. Entah mengapa, yang jelas dia sudah merasakan firasat yang buruk. Padahal sejauh ini sudah yakin bahwa dia bisa mengalahkan Ki Jaya Wikalpa.
Terlebih karena Ki Jaya Wikalpa belum bisa melukainya walau seujung kuku sekalipun. Tapi ketika dirinya ditantang bertarung hingga titik darah penghabisan, ada perasaan aneh yang timbul dihatinya. Sudahlah, itu hanya Surapati saja yang mengetahui secara pasti tentang perasaan tersebut.
"Kenapa kau diam saja heh? Apakah kau tidak berani?" tanya Ki Jaya Wikalpa dengan tatapan mata menyelidik dibarengi senyuman yang mengejek.
"Cuih!!!" Surapati meludah. "Kau pikir kau siapa hingga aku takut padamu? Hahaha … tentu saja aku berani," ucap Surapati dengan lantang supaya menutupi perasaan aneh yang ada dihatinya sekarang.
__ADS_1