Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Harimau Membelah Gunung


__ADS_3

"Jangan besar mulut seperti kaki tanganmu itu adipati. Jika memang mampu, marilah kita buktikan. Seorang pendekar lebih menyukainya banyak bukti nyata daripada hanya omong kosong belaka," kata Cakra Buana dengan sikap tenang.


Namun lebih daripada itu, dibalik sikapnya yang tenang, sesungguhnya hati Pendekar Maung Kulon itu sedang bimbang. Dia tidak yakin bisa mengalahkan lawan dengan mudah. Apalagi jumlah lawannya saat ini lumayan banyak, ditambah pula dengan kekuatannya yang dahsyat. Terutama sekali sang adipati dan Munding Aji. Jalan satu-satunya hanya mengarahkan segenap kemampuan yang dia miliki.


Tapi meskipun hatinya dilanda kebimbangan, pemuda serba putih itu nampak tenang dari luar. Cakra Buana tidak mau keadaan yang sebenarnya diketahui oleh lawan. Sebaliknya, justru dia berusaha untuk menyembunyikan semua rasa itu demi mengelabui lawan.


"Mulutmu memang pantas untuk dirobek. Mungkin lebih baik aku menyiksamu dulu sebelum kau benar-benar aku bunuh," kata adipati Wulung Sangit memberikan ancaman.


"Banyak bicara. Jika memang berniat untuk bertarung, mari kita selesaikan dengan segera. Kau memang pandai bicara omong kosong saja," jawab Cakra Buana sambil berusaha memancing emosi lawan.


"Kutukupret. Dasar pemuda sombong. Tiga Ular Sakti, hajar pemuda keparat ini!" kata adipati Wulung Sangit memberikan perintah kepada tiga pendekar tadi.


Mereka itu dijuluki sebagai Tiga Ular Sakti. Yang pertama bernama Ular Hijau, kedua Ular Hitam, dan ketiga adalah yang paling kuat diantara mereka. Yaitu si Ular Sendok.


Mereka itu dikenal dengan ajian-ajiannya yang mengandung racun berbahaya. Tapi meskipun begitu, ketiganya masih berada dibawah setingkat dengan Lima Setan Darah.


Namun tetap saja, Tiga Ular Sakti tidak bisa dipandang sebelah mata. Cakra Buana pun faham akan hal ini, apalagi jika dibantu dengan adipati Wulung Sangit dan Munding Aji. Maka pertarungan kali ini, pasti sama melelahkan seperti pertarungan sebelumnya.


Setelah mendapatkan perintah dari tuan mereka, Tiga Ular Sakti langsung maju menyerang tanpa basa-basi lagi. Mereka bergerak secepat ular. Ketiganya melompat memberikan pukulan dan tendangan, dimana serangan itu sudah dilambari oleh ajian yang mengandung racun ganas.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tiga serangan dari Tiga Ular Sakti sudah tiba. Hawa panas dan bau busuk mendahului serangan, Cakra Buana menahan nafasnya dengan segera untuk menolak hawa beracun tersebut. Buru-buru dia mengeluarkan ajiannya untuk menandingi jurus lawan.


"Dua Tapak Pembelah Bumi …"


"Wuttt …"

__ADS_1


"Bukkk …"


Tiga serangan itu tertahan oleh jurus Cakra Buana ketika kedua telapak tangannya direntangkan ke depan. Energi berbagai warna terlihat ketika keempat pendekar tersebut mengadu tenaga.


"Haaa …"


Cakra Buana berteriak sambil menghentakkan kedua tangannya. Sektika itu Tiga Ular Sakti langsung terpental.


Sebuah energi besar tak kasat mata menghantam ketiganya. Mereka langsung bergulingan dan muntah darah. Melihat tiga pengawal pribadinya bisa dilukai hanya dengan satu jurus, adipati Wulung Sangit terperangah.


Karena mau bagaimanapun juga, Tiga Ular Sakti merupakan kelompok yang cukup disegani. Tapi kali ini dihadapan seorang pemuda, Tiga Ular Sakti langsung terluka meski baru memulai pertarungan.


Selain adipati Wulung Sangit, Munding Aji pun sama halnya, dia sungguh tidak menyangka melihat apa yang terjadi barusan. Kali ini dia sadar bahwa pemuda yang dihadapannya ini benar-benar sakti mandraguna.


Sekarang Cakra Buana memang sudah serius, maka ketika mengetahui kekuatan lawan dibawah dua sampai tiga tingkat dari dirinya, Pendekar Maung Kulon itu langsung menurunkan tangan kejam.


Tiga Ular Sakti yang tadi terluka, kini mereka sudah bangun kembali setelah menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh. Ketiganya sudah berdiri berjejer. Amarah mereka sudah menggunung, darah terasa mendidih. Ketiganya saling pandang lalu kemudian mengangguk bersamaan.


"Ular Hitam Mematuk Mangsa …"


"Semburan Ular Sendok …"


"Ular Hijau Terbang …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tiga Ular Sakti kembali menyerang. Mereka sudah mengeluarkan jurus-jurus tertinggi yang dimiliki. Jurus yang berbahaya sekaligus kejam dan amat licik.

__ADS_1


Si Ular Sendok melompat lalu menyemburkan uap berwarna hitam pekat ke arah Cakra Buana. Si Ular Hitam menerjang memberikan serangan dengan kedua tangan yang kini membentuk kepala ular. Sedangkan si Ular Hijau terbang melesat ke arah Cakra Buana untuk menyerang pula.


Tiga serangan gabungan yang dahsyat sudah dekat. Cakra Buana pun sudah waspada.


"Harimau Membelah Gunung …"


"Rrrrggghhh …"


Tiba-tiba Cakra Buana berteriak dengan keras. Angin sektika berhembus kencang, tanah retak terbelah. Tubuh Cakra Buana melesat menyambut serangan jurus lawan.


Dengan gerakan yang begitu cepat, Pendekar Maung Kulon itu memberikan serangan jarak jauh yang dahsyat. Kedua tanganya dia gerakan menyilang hingga keluar lima sinar putih saat setiap tangan digerakkan.


"Wuttt …"


"Blarrr …"


"Blarrr … blarrr …"


Sinar-sinar itu bertemu lalu menyambar jurus lawan serta penggunanya sendiri. Debu mengepul tinggi memenuhi istana adipati. Selang beberapa saat kemudian, baik itu adipati Wulung Sangit maupun Munding Aji, dibuat benar-benar terkejut oleh Cakra Buana.


Apa yang mereka lihat bagaikan mimpi buruk. Tiga sosok yang bukan lain Tiga Ular Sakti, kini sudah terkapar dengan luka cakaran yang merobek dada. Mereka tewas tanpa mampu memberikan suara sedikitpun.


Sedangkan Cakra Buana sendiri sudah kembali berdiri dengan posisi siap siaga. Memang setelah berlatih dua tahun dibawah bimbingan ki Wayang Rupa Sukma Saketi, semua ajian dan jurus silat Cakra Buana semakin matang dan sempurna. Maka tak heran jika kali ini dirinya menjadi sosok pendekar muda yang sulit ditakar kemampuannya. Hanya segelintir orang saja yang dapat mengalahkan Cakra Buana.


Suasana dicekam kesunyian beberapa kejap, tapi kesunyian itu segera lenyap karena kini, adipati Wulung Sangit sudah turun tangan. Adipati itu sudah menyerang Cakra Buana secara tiba-tiba.


"Haaa …"


Sebuah pukulan jarak jauh dilontarkan oleh sang adipati. Ada sekelabat sinar ungu ketika adipati itu melancarkan serangannya. Sinar ungu itu kemudian menyerang ke arah Cakra Buana.


###

__ADS_1


Satu lagi nanti ya😁jangan lupa likenya🙏


__ADS_2