Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bertemu Lagi


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Cakra Buana tiba di depan tiga sosok asing tersebut. Api masih membara mengeluarkan hawa panas. Keringat mulai membasahi pakaian empat pendekar tersebut.


Walaupun mereka seorang pendekar, tetapi tetap saja, empat orang tersebut merupakan manusia biasa. Sama seperti orang pada umumnya. Bedanya, mereka ini mempunyai kemampuan dalam hal kanuragan yang belum tentu semua orang dapat memilikinya.


Cakra Buana menatap tiga sosok tersebut dengan wajah garang. Bagaikan seekor harimau yang sedang marah besar karena keluarga mereka diganggu, atau karena wilayah kekuasaannya direbut.


Dia masih diam. Diam seperti patung, tanpa bergerak sedikitpun. Namun walaupun begitu, justru amarah dalam dirinya semakin membara. Seperti halnya api yang saat ini terus berkobar semakin besar.


Tiga sosok itu belum dapat terlihat dengan jelas. Tetapi Cakra Buana bisa menebak, bahwa setidaknya dua orang di antara mereka, merupakan seorang wanita. Masalah tua atau mudanya, Cakra Buana belum bisa memastikan.


Secara tiba-tiba, Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan hawa dingin dari tubuhnya. Hawa dingin langsung merembes deras keluar bagaikan air dari pancuran. Kedua tangannya mulai bergerak sedemikian rupa sehingga hawa dingin tersebut menyeruak ke sekitar area.


Beberapa saat kemudian, api yang sebelumnya berkobar hebat, kini secara perlahan mulai padam. Asap putih membumbung tinggi bersama udara malam.


Tiga sosok asing yang tadi mencoba mencabut Pedang Haus Darah di kuburan Pendekar Pedang Kesetanan, masih berdiri di tempatnya masing-masing.


Mereka tidak melarikan diri. Mungkin karena ketiganya sadar bahwa mereka tidak akan bisa lepas dari cengkraman si pemuda.


Beberapa saat kemudian, asap putih yang tadi membumbung tinggi, kini mulai lenyap terbawa angin malam yang sejuk. Hawa di sana mulai kembali normal seperti sedia kala.


Kedua belah pihak, perlahan mampu mengenali siapa yang sedang mereka hadapi masing-masing.


Cakra Buana melihat dua sosok wanita dan satu sosok pria. Tebakannya benar, dua orang di antara mereka memang merupakan wanita.


Tetapi ada yang aneh, Cakra Buana merasakan adanya hal lain dalam hatinya. Wanita itu, yang memakai pakaian hijau, dia serasa mengenalnya. Terlebih lagi ketika melihat bentuk tubuh dan wajahnya.


Untuk sesaat, Pendekar Tanpa Nama mencoba untuk mengingat-ingat. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat semua kenangan lalu.


Begitu teringat, Cakra Buana terperanjat. Wanita itu, bentuk tubuh itu, tidak salah lagi.


Ayu Pertiwi.


Sosok gadis cantik yang dulu sangat dia cintai sebelum hadirnya gadis-gadis lain. Berbagai kenangan pahit dan manis sudah mereka lewati bersama. Berawal dari pertemuan tidak sengaja, lalu tumbuh rasa cinta yang menimbulkan rasa bahagia.


Sayangnya, semua itu harus berkahir dengan duka dan air mata. Cinta mereka tidak direstui oleh guru sang kekasih.


Cakra Buana sangat yakin bahwa wanita montok nan cantik itu adalah Ayu Pertiwi.


Matanya pasti tidak salah.

__ADS_1


Di sisi lain, si wanita juga merasakan perasaan lain ketika memandangi wajah si pemuda. Hanya saja, seberapa kuat dia berusaha mengingat, tetap saja dia tidak tahu secara pasti siapa sosok pemuda tersebut.


Tentu saja, siapapun yang bertemu dengan Cakra Buana saat ini, sudah pasti tidak dapat mengenali secara langsung. Sebab toh, dari segi apapun, Cakra Buana telah mengalami perubahan.


Perubahan yang tidak sedikit. Baik itu dari postur tubuh, maupun kemampuan.


Setelah Cakra Buana tersadar, dia kembali dikejutkan dengan sosok wanita di sisinya. Wanita itu berumur cukup tua, Cakra Buana pernah menanyakan bagaimana ciri-ciri Wanita Berhati Batu yang membantu memfitnah dirinya dengan cara membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya.


Dan ciri-ciri yang dia dapatkan, tertera semua pada tubuh si wanita tua.


Tidak salah lagi, wanita itu sudah pasti Wanita Berhati Batu. Salah satu orang yang sedang dia cari-cari belakangan ini.


Terkait si lelaki, Cakra Buana tidak mengenalnya. Entah siapa dia. Baginya masih asing, mungkin karena pria itu tidak setenar dirinya. (Ehemm)


"Kau kah yang bernama Wanita Berhati Batu?" tanya Cakra Buana memecah keheningan.


"Benar. Ini aku, dan kau, siapa?" tanya wanita tua itu belum mengenali Cakra Buana secara pasti karena gelap.


"Aku Pendekar Tanpa Nama. Orang yang kau fitnah dengan cara kejam,"


"Hahaha, ternyata kau pemuda keparat. Tidak kusangka kau masih hidup, bagaimana bisa kau mengetahui kedatangan kami?"


Si Wanita Berhenti Batu kaget. Kalau ucapan pemuda itu benar, maka dapat dipastikan bahwa semua usahanya gagal. Dan sudah pasti, dirinya berada dalam bahaya karena menjadi buronan Perguruan Tunggal Sadewo.


Apakah benar? Tentu saja. Rencana gagal, sudah pasti rahasia terbongkar.


"Guru, siapa Pendekar Tanpa Nama itu?" tanya Ayu Pertiwi lirih.


Perkataannya memang pelan. Tapi di telinga Cakra Buana sangat menggema. Jangan pernah lupa, bahwa Cakra Buana mempunyai Ajian Dewa Saptapangurungu. Kalau ajian tersebut sedang dia pakai, maka pemuda itu dapat mendengar siapapun yang sedang membicarakan dirinya. Walaupun terhalang gunung dan lautan.


"Aku Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon, apakah kau masih ingat?"


Cakra Buana sengaja memperkenalkan diri lebih dulu supaya Ayu Pertiwi terkejut. Sebenarnya dia sendiri merasa kaget ketika mantan kekasihnya memanggil Wanita Berhati Batu dengan sebutan guru.


Kalau kenyatannya begitu, berarti Ayu Pertiwi adalah muridnya.


"Degg …"


Jantung Ayu Pertiwi berdetak kencang. Tubuhnya panas dingin. Entah apa yang dia rasakan. Yang jelas, rasa terkejut, tidak menyangka, bahagia, benci, semuanya bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Ka-kau …" katanya dengan bibir bergetar sehingga tidak mampu melanjutkan perkataan.


"Benar, ini aku. Tidak menyangka kita bisa berjumpa lagi. Dan tidak menyangka pula bahwa kau, mempunyai guru seorang iblis …" tegas Cakra Buana.


Ayu Pertiwi merasa naik darah. Tentu saja dia tidak terima.


Sebenarnya Wanita Berhati Batu bukan guru resmi. Wanita tua itu justru guru dari si pria yang bersamanya. Karena si pria kekasihnya, maka Ayu Pertiwi ikut menyebut Wanita Berhati Batu dengan sebutan guru. Seperti sang kekasih.


"Tutup mulutmu," kata si pria membentak.


"Terserah aku lah. Mulut-mulut siapa? Kan ini mulutku, kenapa malah kau yang repot?"


"Jaga ucapanmu. Kalau tidak, aku robek mulut busukmu itu," lanjut si pemuda.


"Kau pikir mulutku kain rombeng? Seenaknya saja main robek," jawab Cakra Buana mengejeknya.


"Kakang. Lebih baik kau segera pergi supaya tidak berurusan bersama kami," ucap Ayu Pertiwi.


"Jangan sebut aku kakang. Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lalukan?" tegas Cakra Buana.


"Terpaksa kami berurusan denganmu. Terlebih lagi, kau telah lancang terhadap guru dari kekasihku," ujar Ayu Pertiwi.


Suaranya tegas. Tapi jelas mengandung kesedihan. Seolah dia sengaja menyebutkan kata itu karena ingin melihat reaksi Cakra Buana. Sayang, pemuda itu justru malah diam dan dingin.


"Ah, dia kekasihmu? Syukurlah. Aku sarankan supaya kalian berdua pergi saja, aku tidak ingin membunuh sepasang kekasih yang berbahagia," tegas Cakra Buana.


Ketika dia berkata seperti itu, ada perasaan lain di hatinya.


Perasaan pedih.


Pedih karena mengingat semua kenangan yang telah mereka lewati bersama.


###


Yang ingin baca novel baru saya, silahkan klik profil aja ya. Nanti bakal ada nobel berjudul Legend Off Lightning Warriors II: Mata Dewa


Semoga pada baca dan semoga terhibur ya mheehe …


Salam rahayu akan sareng nyai☕

__ADS_1


__ADS_2