Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Dua Golok Hitam Dari Utara


__ADS_3

"Sudah aku bilang jangan memanggilku nona. Aku tidak suka dengan panggilan itu, aku bukan keturunan ningrat. Panggil saja namaku," jawab Ling Zhi cemberut.


Entah sudah beberapa kali dia mengingatkan kepada Cakra Buana, bahwa dirinya paling tidak suka dipanggil nona. Gadis itu lebih nyaman dipanggil nama ketimbang nona.


"Baiklah, maaf aku lupa. Maafkan aku non … eh, Ling Zhi,"


"Hihhh …" Ling Zhi membantingkan kakinya.


Gadis itu langsung berjalan mendahului Cakra Buana. Terus berjalan hingga keluar hutan dan menemukan perkampungan. Selama perjalanan keluar itu, Cakra Buana merengek seperti anak kecil. Meminta maaf terus-menerus kepada Ling Zhi.


Setelah berjalan beberapa jarak, keduanya kini sudah berada di sebuah kedai makan. Karena masih pagi, pengunjung pun belum banyak yang berdatangan. Hanya ada dua orang pria saja yang sudah ada di sana lebih dulu. Di lihat dari penampilan, mereka sepertinya berasal dari golongan pendekar juga.


Sebab di pinggang keduanya tersoren sebatang golok berukuran besar.


"Paman, aku pesan sarapan dua porsi," kata Cakra Buana memesan makanan.


"Baik den, silahkan tunggu sebentar,"


Cakra Buana mengangguk, dia kemudian mengajak duduk Ling Zhi di bangku pojokan. Kedua pengunjung tak di kenal itu dengan santainya berbincang-bincang sambil menyantap ubi rebus. Mereka awalnya tak menghiraukan kehadiran Cakra Buana.


Tapai setelah mereka menyadari ada seorang gadis muda yang cantik, keduanya pun mengalihkan pandangan beberapa saat. Mata merka terbelalak saat menyaksikan Ling Zhi.


Gadis itu memiliki tubuh yang padat berisi. Buah dada bulat menggoda serta bibir yang menggiurkan. Dengan pakaian sederhananya yang ketat, mereka bisa lebih jelas melihat bentuk tubuh Ling Zhi yang menawan.


Tapi pandangan mata mereka itu hanya beberapa saat saja, mungkin takut ketahuan.


Pesanan datang, Ling Zhi dan Cakra Buana menyantap sarapan pagi berupa singkong rebus dengan lahap. Setelah selesai dan membayar biaya makan, dua muda-mudi itu segera pergi dari sana.


Waktu Cakra Buana tidak banyak. Dia harua segera tiba di Kerajaan Tunggilis sebelum dua purnama. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, tentunya dengan satu tujuan. Kerajaan Tunggilis.


Cakra Buana dan Ling Zhi tidak mengetahui bahwa dua orang yang bertemu di kedai tadi terus mengikuti mereka. Meskipun Cakra Buana dan Ling Zhi menggunakan ilmu meringankan tubuh, tetapi kedua orang tersebut pun bisa mengejarnya. Bahkan jarak antar mereka tidak terpaut jauh.


"Cakra, kita berhenti dulu. Aku ingin mandi di sungai," kata Ling Zhi tiba-tiba menghentikan langkah ketika tiba di sebuah hutan yang ada sungai.

__ADS_1


"Baiklah. Kau mandi saja, aku tunggu di atas sini," jawab Cakra Buana sambil melangkah pelan menuju sebatang pohon besar.


Ling Zhi pun melompat turun ke bawah. Dia mencari air terjun. Ketemu. Di sana, tapi cukup jauh dari tempatnya, sekitar dua puluh tombak. Ada sebuah air terjun yang lumayan tinggi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ling Zhi pun segera menuju ke sana lalu menceburkan dirinya.


Sungai itu bersih, airnya dingin pula. Di saat cuaca panas, mandi di sungai adalah cara yang paling tepat. Lumayan lama juga Ling Zhi mandi di sungai tersebut, sampai-sampai Cakra Buana tertidur saking kesalnya menunggu.


Sampai sekarang, gadis itu masih tidak menyadari bahwa di balik bebatuan hitam besar, dua orang bertampang bengis sedang mengintip. Keduanya bahkan tak mau berkedip saat melihat kemolekan tubuh Ling Zhi.


Merasa puas, Ling Zhi pun segera naik ke daratan. Baru saja selesai memakai baju, tiba-tiba dua orang tadi melompat ke depannya.


"Hahaha … mau ke mana kau gadis manis? Tubuhmu sungguh menggoda, aku tak tahan lagi. Kemarilah, aku akan membuatmu merasa nikmat," kata salah seorang di antara keduanya.


"*******. Siapa kalian?" Ling Zhi membentak dua orang tersebut.


Mendengar bentakan gadis cantik itu, dua orang tersebut hanya tertawa bergelak. Suaranya agak parau dan terdengar bengis. Mata mereka menatap buas kepada Ling Zhi. Dari atas sampai bawah, mereka perhatikan. Seolah keduanya ingin melahap gadis itu.


"Persetan, aku tanya kalian siapa?" Ling Zhi membentak sekali lagi.


Keduanya lalu menghampiri Ling Zhi, seperti hendak memeluk. Tapi tentu gadis itu tak tinggal diam, dengan tangan kosong, Ling Zhi maju menyerang dua orang yang mengaku Dua Golok Hitam dari Utara itu.


Meskipun masih muda, tapi Ling Zhi bukanlah pendekar wanita biasa. Apalagi dia murid Eyang Rembang, seorang tokoh sakti yang disegani kawan ditakuti lawan.


Kedua tangannya membentuk cakar dan pukulan. Dia langsung mengincar titik berbahaya. Tapi dua orang itu juga bukan pendekar sembarangan, mereka memiliki nama yang cukup terkenal. Apalagi dengan dua jurus golok gabungannya yang terkenal bersatu padu. Ditambah pula dengan gaya bertarungnya yang terkenal licik.


Begitu serangan Ling Zhi hampir tiba, keduanya bergerak. Mereka berniat untuk tidak tinggal diam, sebab keduanya pun tahu bahwa Ling Zhi tak bisa di pandang rendah.


Pertarungan tak terhindarkan lagi. Seorang gadis melawan dua orang pria. Ling Zhi memberikan serangan pukulan dan tamparan secara beruntun. Tapi kedua lawan tak mau mengalah, mereka turut mengeluarkan jurus tangan kosong yang hebat.


Gerakannya sama cepat dan lincah. Awalnya Ling Zhi memang berada di atas angin. Memasuki jurus ke dua puluh, keadaan berbalik. Dua Golok Hitam dari Timur perlahan berhasil mendesak Ling Zhi.


Gabungan jurus tangan kosong mereka sungguh hebat. Beraturan dan berbahaya. Hingga pada suatu ketika, sebuah pukulan berhasil mengenai pundak Ling Zhi.


"Bukkk …"

__ADS_1


Gadis itu terpental tiga langkah. Rasa ngilu mulai menyerang. Ling Zhi tak mau mengalah, dia menyerang lebih ganas lagi. Kali ini, gerakan tangannya berubah total. Dua tangannya membentuk tamparan. Ada hawa panas di balik telapak tangan gadis tersebut. Sebelum tangannya mengenai lawan, hawa panas lebih terasa lebih dulu oleh lawannya.


Merasa terdesak, Dua Golok Hitam dari Utara langsung mencabut senjata andalan mereka. Dua batang golok langsung menyerang Ling Zhi dengan brutal. Tak tanggung-tanggung, mereka mengeluarkan salah satu jurus andalannya.


"Membabat Rumput Liar …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Sambaran angin golok terasa tajam. Baru beberapa saat saja, Ling Zhi terdesak kembali. Terlebih karena dia mencium bau busuk dari dua batang golok tersebut. Ternyata golok itu di lumuri racun.


"Brettt …"


"Ahhh …"


Dada kanan sebelah atas Ling Zhi terkoyak. Darah langsung keluar membasahi bajunya. Ada rasa panas dan nyeri yang langsung menyerang tubuhnya.


Ling Zhi tahu bahwa dia sudah terkena racun. Tapi dia tak peduli, dengan nekad dia kembali menyerang lawan. Berusaha mengambil pedangnya yang tergeletak.


Kesalahan kenapa Ling Zhi bisa terluka adalah karena tanpa sadar dia menghirup bau tersebut. Pula, dia tidak menggunakan pedangnya. Sedangkan jurus-jurus Ling Zhi adalah jurus pedang.


Dia mengharapkan Cakra Buana mendengar suara pertarungan dirinya, tapi sayangnya sampai saat ini pemuda itu belum muncul. Mungkin karena jaraknya cukup jauh.


Ling Zhi mulai limbung, pandangan matanya kabur. Bahkan serangannya sudah tidak terarah. Kedua lawan tertawa bergelak kembali.


Tapi belum sempat bertindak lebih jauh, tiba-tiba keduanya merasa ada sambaran angin besar dari belakang. Keduanya kaget, mereka lalu melompat.


"Blarrr …"


Batu hitam berukuran cukup besar hancur. Seorang pemuda serba putih sudah berdiri dengan tatapan kemarahan di depan Dua Golok Hitam dari Utara.


"Iblis. Berani sekali kau menggangu gadis itu,"

__ADS_1


__ADS_2