
Saat ini Cakra Buana sudah sampai ditempat tujuannya, yaitu kadipaten Ciporoan. Tidak sulit menemukan kadipaten tersebut, selain besar, terlebih dia juga sudah mengetahui arah jalan yang harus dia tempuh.
Cakra Buana tiba disana ketika matahari hampir menjelang terbenam. Dia tidak berjalan-jalan atau mengelilingi kadipaten itu, tapi dia langsung menuju ke tempat kediaman sang adipati.
Tempat kediaman adipati Wulung Sangit sama seperti adipati lainnya. Mewah bagaimana sebuah istana, hanya saja ukuran kediaman adipati lebih kecil.
Cakra Buana sudah tiba didepan gerbang, gerbang itu dijaga oleh dua orang prajurit yang memegang tombak.
"Sampurasun …"
"Rampes … ada keperluan apa den?" tanya prajurit.
"Saya ingin bertemu adipati, ada urusan penting dengan beliau,"
"Oh sebentar," kata pengawal itu sambil berniat masuk ke dalam.
Akan tetapi, tiba-tiba saja dari dalam terdengar suara orang yang berteriak.
"Pengawal, kepung pemuda itu. Dia pemberontak yang melawan kepada kanjeng adipati," kata orang tersebut dengan suara yang lantang.
Tiba-tiba saja dari berbagai penjuru bermunculan sekitar dua puluh orang prajurit. Mereka menuntun Cakra Buana untuk masuk ke pekarangan dan mengepungnya.
Pemuda itu tidak bingung. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Pula, dia tahu siapa yang memberi perintah untuk mengepung dirinya. Kalau bukan Lima Setan Darah, siapa lagi? Pikirnya.
Benar saja, tak lama kemudian muncul kelompok Lima Setan Darah yang kini tinggal berempat saja, di belakang mereka ada seorang pria tinggi kekar dengan pakaian mewah. Usianya paling baru sekitar empat puluh tahun, wajahnya kuning langsat dan matanya mencorong tajam.
"Apa maksudnya ini?" tanya Cakra Buana pura-pura kebingungan sambil memandang Lima Setan Darah.
"Diam kau pemberontak. Beberapa hari lalu kau berani sekali menantang kami. Itu artinya, kau juga berani melawan kehendak kanjeng adipati,"
"Hemmm … perbuatan kalian memang harus ditentang. Karena itu aku terpaksa melawan kalian,"
"Tapi itu semua perintah kanjeng adipati,"
__ADS_1
"Tetap saja hal itu salah,"
"Cukup!!!" teriak adipati Wulung Sangit secara tiba-tiba sambil mengangkat tangan kanan sehingga menghentikan perdebatan antara Cakra Buana dan Munding Aji.
"Apakah kau pemuda yang kemarin membunuh salahsatu anak buahku dari Lima Setan Darah?" tanya adipati.
"Benar. Aku orangnya, memangnya kenapa?"
"Apakah kau tahu siapa aku?"
"Tentu. Kau adipati Wulung Sangit?"
"Benar. Lalu jika kau tahu, kenapa kau berani melawan mereka, itu berarti kau pun berani kepadaku?
"Tentu saja aku melawan, karena apa yang mereka lakukan bertentangan dengan kebenaran. Dan aku adalah orang yang tidak suka melihat kesewenang-wenangan, aku tidak peduli siapapun dalangnya. Selama itu salah, aku tidak takut," kata Cakra Buana dengan tegas.
"Keparat. Kau memang ingin ******. Prajurit!!! Serang pemuda itu," ucap adipati sambil memberi perintah kepada semua prajurit yang mengepung Cakra Buana.
Mendengar perintah tersebut, para prajurit langsung menyerang Cakra Buana dari segala arah. Tombak dan pedang sudah dilayangkan untuk mencincang tubuh Cakra Buana.
"Trangg … trangg … trangg …"
"Krakkk …"
Puluhan senjata berupa tombak dan pedang terhenti seperti terhalang sebuah baja yang keras. Bahkan sebagian dari senjata itu ada juga yang patah.
"Haaa …" Cakra Buana berteriak sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
Seketika semua prajurit itu terpental. Bahkan ada juga yang sampai bergulingan. Melihat semua prajuritnya terpental tanpa tersentuh, adipati Wulung Sangit kaget juga. Sekarang barulah dia percaya akan cerita Lima Setan Darah bahwa pemuda yang membunuh Cukrak Luta memiliki kepandaian luhur (tinggi).
"*******. Lekas serang dia, kenapa kalian hanya diam saja?" adipati berteriak marah kepada Lima Setan Darah.
Seperti tersadar dari lamunan, Lima Setan Darah yang kini tinggal empat orang langsung maju menyerang Cakra Buana. Mereka menyerang secara bersamaan dari empat penjuru.
__ADS_1
Setelah mengetahui kehebatan lawan beberapa hari lalu, Cakra Buana tidak mau bermain-main lagi. Pendekar Maung Kulon itu langsung bersikap serius.
Empat serangan berupa pukulan dan tendangan dari empat penjuru sudah tiba. Serangan itu bahkan sampai secara bersamaan pula.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Wuttt…"
Sambarangan angin tajam tiba lebih dulu sebelum pukulan dan tendangan. Cakra Buana mengumpulkan tenaga dalam kemudian dia mengeluarkan lagi Ajian Benteng Dewa. Serangan Lima Setan Darah tertahan. Cakra Buana dan keempat lawannya mengadu tenaga dalam beberapa saat.
Energi berwarna putih dan merah bersatu membentuk setengah lingkaran.
"Blarrr …"
Kelimanya terpental. Tapi dengan gerakan cepat, Munding Aji dan tiga rekannya sudah kembali menyerang Cakra Buana dengan brutal.
Kali ini Cakra Buana meladeni mereka. Kaki tangannya sudah bergerak menyambut semua serangan lawan. Pertarungan empat melawan satu pun tak terhindarkan lagi. Mereka bertarung dengan serius. Apalagi seperti yang kita ketahui, Lima Setan Darah mempunyai dendam kesumat kepada Cakra Buana akibat kematian rekannya.
"Wuttt …"
"Plakkk …"
"Bukkk …"
Suara beradunya tangan dan kaki mulai terdengar. Kesiur angin tajam sudah terasa. Pertarungan itu kini menjadi lebih sengit, sebab Lima Setan Darah sudah mengeluarkan separuh lebih kekuatan mereka untuk menundukan Cakra Buana.
###
Sabar ya, ceritanya panjang. Jadi ga langsung ke perang besar. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan Cakra Buana.
__ADS_1
Semoga bisa menghibur kalian ya😄