Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bertarung Lagi II


__ADS_3

"Kalau sekiranya kalian tidak niat bertarung denganku, lebih baik pergi saja. Setelah itu kalian segera mengundurkan diri dari dunia persilatan, sebab tidak ada pendekar yang seperti kalian ini," kata Cakra Buana memanas-manasi keempat lawannya tersebut.


Pancingan Pendekar Maung Kulon berhasil. Keempat lawannya semakin marah mendengar perkataan Cakra Buana barusan. Terlihat ada asap tipis mengepul dari kepala dan kaki mereka, hal itu menandakan bahwa pendekar kerajaan itu meredam amarahnya dan salurkan lewat tenaga dalam.


Namun namanya manusia sudah dikuasai oleh amarah dan diperbudak oleh setan, keempat orang tersebut pada akhirnya tak mampu menahan lagi. Sehingga detik berikutnya mereka kembali menyerang Cakra Buana.


"Wushh …"


"Wushh …"


Keempat pendekar maju kembali. Kali ini mereka sudah menggunakan senjata masing-masing. Si pendekar tua menggunakan tongkat, si wanita cantik menggunakan selendang, si kurus kering menggunakan pedang pendek, dan satu lagi seorang pendekar yang memiliki punuk mirip unta, menggunakan tambang sepanjang setengah depa.


Mereka lalu berpencar setelah tiba di hadapan Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon semakin bersikap waspada. Matanya memandang berkeliling. Kedua tangannya di kepalkan kuat-kuat bahkan sampai terdengar suara tulang-tulangnya.


"****** kau …"


"Rasakan ini …"


"Hiatt …"


"Matii …"


Keempatnya mengayunkan senjata secara berbarengan. Pedang pendek mengarah ke lambung dengan tusukan tajam. Tongkat mengincar pinggangnya. Selendang si wanita cantik dan genit, menyambar leher Cakra Buana. Serangan tambang milik si punuk unta, mengincar dada Cakra Buana.


Keempat senjata datang serempak. Pendekar Maung Kulon menghindari semua senjata itu satu persatu. Tak ada yang tahu bagaimana dia bisa lepar dari jeratan empat kurungan senjata itu. Yang jelas, kini Cakra Buana sudah lolos dari mereka.


Pemuda serba putih itu berdiri dengan jarak dua langkah darinya. Keempat pendekar Kerajaan Kawasenan saling pandang. Mereka kebingungan bagaimana cara Cakra Buana membebaskan diri.


Tapi itu tak lama, karena detik berikutnya mereka sudah menyerang kembali.


Gempuran empat senjata pusaka bergerak dengan sangat cepat. Serangan yang berbahaya sekaligus sukar untuk di hindari. Waktu terus berlalu, matahari semakin condong ke barat.


Pertarungan Cakra Buana melawan empat pendekar sudah berjalan lebih dari tiga puluh jurus. Keempat pendekar mulai merasa putus asa, sebab mereka merasa semua serangannya sia-sia belaka.


'Gila. Bocah ini seperti belut. Dia sangat sulit untuk ditangkap,' batin si pendekar tua.


Keempatnya mulai meningkatkan kecepatan serangan mereka. Bahkan tenaga dalam yang disalurkan pun semakin besar. Cakra Buana mulai merasa kewalahan, sebab keempat lawannya sudah melancarkan jurus-jurus maut yang dimiliki.

__ADS_1


"Tambang Kematian …"


"Tongkat Penghancur Bukit …"


"Pedang Pengoyak Harimau …"


"Selendang Setan Neraka …"


"Wushh …"


"Wushh …"


Angin bertiup kencang seperti angin beliung. Pohon-pohon doyong bahkan tumbang karena tak kuasa menahan besarnya terjangan angin. Suara bergemuruh menggelegar membawa hawa menyeramkan.


Empat jurus maut melesat cepat mengincar tubuh Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon mengambil sikap. Ia mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar.


"Pukulan Jagat Buana …"


"Gelegarrr …"


Cakra Buana menghantamkam pukulan tangan kanan ke tanah. Bumi bergetar kencang. Langit bergemuruh dan awan kelabu. Empat jurus maut telah tiba dan berbenturan dengan jurus milik Cakra Buana.


Ledakan keras terdengar menggema. Pepohonan tumbang bahkan terbang terbawa angin. Keadaan hutan porak-poranda seperti baru saja dilanda badai.


Cakra Buana dan keempat lawannya terpental sepuluh tombak. Kelima pendekar itu berada dalam kondisi yang hampir sama. Yaitu terluka parah. Cakra Buana memuntahkan darah segar kehitaman. Wajahnya agak pucat pasi.


Pendekar Maung Kulon berusaha bangkit berdiri dengan susah payah. Kemudian ia segera melesat lagi ke tempat semula.


Di sisi lain keempat pendekar Kerajaan Kawasenan pun mengalami kondisi luka yang parah. Bahkan seorang di antara mereka, yaitu si punuk unta tewas mengenaskan. Tiga lainnya masih selamat meskipun dalam keadaan terluka berat.


Cakra Buana memaksakan tubuhnya. Ia bergerak lagi melancarkan serangan terakhir. Serangkum angin berputar mengelilingi tubuhnya.


Pendekar Maung Kulon bangun lalu mengambil sikap lutut kanan di tekuk. Tubuhnya agak bungkuk dan pandangan mata tajam ke depan mengarah ke tiga lawan.


"Ajian Rengkah Gunung …"


"Haaa …"

__ADS_1


"Wushh …"


Sukma Cakra Buana melesat keluar dengan kecepatan kilat. Sukma itu melancarkan serangan tapak ke tiga lawan yang sedang terluka parah tersebut. Karena keadaan yang tidak memungkinkan, tentu saja ketiganya tak mampu menghindar lagi.


Maka tak ayal dalam hitungan detik, mereka telah tewas di tangan Cakra Buana melalui Ajian Rengkah Gunung. Mungkin ini baru pertama kalinya Ajian Rengkah Gunung berhasil membunuh lebih dari satu orang secara bersamaan. Hanya dia yang berilmu tinggi saja yang bisa melakukan hal seperti ini.


Saat sukma Cakra Buana masuk kembali, Pendekar Maung Kulon itu langsung lemas. Bagaikan bunga yang layu, Cakra Buana tiba-tiba jatuh telungkup. Darah menggenang terus keluar dari mulutnya.


Cakra Buana terlalu memaksakan dirinya. Sebelumnya ia baru saja bertarung yang menguras tenaga, sekarang bertarung lagi. Jadi wajar saja kalai ia sampai seperti itu.


Berbarengan dengan kejadian tadi, pertarungan antara Pendekar Tangan Seribu melawan si kumis tipis dan si gendut pun sudah mencapai puncak. masing-masing dari mereka sudah mengeluarkan segenap kemampuan.


Ketiga pendekar itu mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Dua senjata saat ini sedang meluncur deras ke arah Pendekar Tangan Seribu. Namun yang dituju hanya diam menanti kedua pusaka tersebut.


Begitu pusaka sudah dekat, pendekar tinggi kekar itu bergerak. Kedua tangannya menangkap dua senjata pusaka milik lawan. Dua pendekar kerajaan semakin ganas, tenaga dalam yang disalurkan lewat pusakanya semakin besar.


Pendekar Tangan Seribu menahan dengan satu kaki. Bahkan kaki yang menopang tubuhnya sampai melesak ke tanah sedalam mata kaki. Telapak tangannya berlumuran darah.


Rasa perih mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia sudah tidak kuat lagi sebab kedua lawannya semakin lama semakin menggila. Tanpa pikir panjang, Pendekar Tangan Seribu berniat untuk mengeluarkan salah satu jurus pamungkasnya.


'Tidak ada cara lain selain menggunakan ilmu itu,' batin Pendekar Tangan Seribu.


"Ajian Manggala Yudha …"


"Ggrrr …"


Langit mendung, angin berhembus kencang tidak karuan. Bumi bergetar lagi. Tubuh Pendekar Tangan Seribu bergetar hebat. Bahkan sampai wajahnya juga bergetar.


"Wushh …"


tiba-tiba ia melesat terbang ke atas. Senjata pusaka lawannya patah jadi tiga bagian. Pendekar Tangan Seribu turun menukik memberikan dua pukulan yang dengan telak mengenai ubun-ubun kedua lawannya.


"Bukkk …"


"Ahhh …"


"Heughh …"

__ADS_1


Keduanya melesak sampai sebatas leher. Kepala mereka sebagian pecah. Si kumis tipis dan si gendut tewas tanpa sempat berteriak. Pendekar Tangan Seribu sendiri langsung jatuh telentang dengan pakaian koyak.


Pertarungan hebat berakhir. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu berhasil memenangkan pertarungan. Sayangnya kondisi mereka pun tak jauh berbeda dari orang yang sekarat. Keduanya sudah lemas, seluruh tenaga hampir habis. Wajah pun pucat bagaikan mayat.


__ADS_2