Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kabar Baik


__ADS_3

"Ada Baginda Raja," jawab Kakek Sakti.


"Lanjutkan,"


"Kami sudah mengelilingi daerah Selatan Pasundan, setelah berkeliling beberapa hari, kami akhirnya berhasil menemukan para pendekar yang ada di pihak kita. Jumlahnya sekitar seratus orang," kata Kakek Sakti menceritakan perjalanannya selama menjalankan tugas itu.


"Bagus. Kabar yang baik,"


"Mereka juga sepakat siap untuk berkumpul saat purnama nanti," ucap Nenek Sakti menambahkan.


"Hemm, baik. Terimakasih atas pengorbanan kalian,"


"Kakang Gagak Bodas dan kakang Jalak Putih, kalian sendiri bagaimana?"


"Kami pun mendapatkan kabar baik Baginda Raja. Kurang dari sepuluh hari, kami sudah berhasil mengumpulkan setidaknya seratus lima puluh pendekar yang siap bergabung dengan kita. Mereka ini beberapa ada yang berasal dari perguruan. Mereka siap turut andil jika perang terjadi nanti," ucap Gagak Bodas.


"Apakah mereka juga siap berkumpul saat bulan purnama nanti?"


"Benar. Mereka siap berkumpul saat bulan purnama nanti di Bukit Maut,"


"Bagus. Semuanya merupakan kabar yang yang amat baik. Terimakasih atas pengorbanan kalian. Semoga suatu saat nanti aku bisa membalas semua ini," kata Prabu Katapangan Kresna penuh rasa syukur yang mendalam.


"Terimakasih Baginda Raja. Tapi kami semua, ikhlas atas semua ini. Kami siap mengorbankan nyawa demi kejayaan Tanah Pusandan. Demi negeri yang adil dan makmur, mati pun kami tidak akan menyesal kalau impian kita selama ini bisa terwujud," kata Jalak Putih dengan semangat yang membara.


"Betul …"


"Benar …"


"Kami siap mati …"


Seruan demi seruan di ruangan tersebut mulai terdengar. Semangat mereka berkobar bagaikan api yang telah lama terpendam. Singa yang selama ini tertidur, tak lama lagi akan segera bangun.


Mereka akan kembali menunjukkan taringnya. Mereka akan memperlihatkan bagaimana keganasannya yang selama ini di pendam.


Saat ini di ruangan tersebut, telah dipenuhi oleh semangat para pendekar yang membara.


Harapan yang selama ini di impikan, telah terlihat tanda-tandanya akan terwujud.


Semua pendekar yang menginginkan persatuan, menaruh harapan besar terhadap Cakra Buana. Mereka percaya penuh kepadanya.

__ADS_1


Tinggal menghitung hari, maka ratusan pendekar dari berbagai daerah di Pasundan, akan berkumpul di Bukit Maut. Mereka akan membicarakan langkah demi langkah untuk mengawali perjuangannya.


Persatuan di bayar dengan nyawa. Rasanya cukup adil. Apalagi, mereka berniat untuk menyatukan negeri yang terkenal besar. Tidak ada jalan lain kecuali dengan pertumpahan darah.


Berhasil atau tidaknya, mereka tidak memikirkan. Yang penting ada keyakinan untuk meraih kemenangan. Ada perjuangan sampai akhir yang sebentar lagi akan di buktikan.


Saat mereka semua membicarakan tentang langkah-langkah perjuangan, seorang prajurit istana masuk ke ruangan tersebut. Ia membawa sebuah minuman dan suguhan berupa makanan khas.


Jumlahnya lima orang. Dua orang pria, dan tiga orang wanita. Umur kelimanya baru sekitar tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun. Mereka menaruh semua itu di meja yang telah tersedia di sana.


Setelah selesai memberikan suguhan, mereka lalu keluar kembali.


Pembicaraan dilanjutkan kembali. Mereka terus berbicara hal-hal terkait rencana perang nanti. Tanpa mereka ketahui, salah seorang dari lima prajurit tadi sedang mendengarkan obrolan mereka di balik dinding.


Mereka itu sebenarnya penyusup. Kelima orang tadi merupakan pendekar Kerajaan Kawasenan yang diberikan tugas oleh Prabu Ajiraga untuk membunuh Cakra Buana dan mengawasi pergerakan Kerajaan Tunggilis.


Di pihak kerajaan Tunggilis sendiri, belum ada yang mengetahui bahwa kelima prajurit tadi merupakan telik sandi musuh. Alasannya karena mereka bergerak secara penuh perhitungan. Mereka sudah menyusup ke Kerajaan Tunggilis semenjak beberapa hari yang lalu.


Jadi singaktnya, mereka mengetahui semua rencana yang akan dilakukan oleh Kerajaan Tunggilis. Karena itulah mereka menyuruh dua rekan lainnya untuk segera kembali ke Kerajaan Kawasenan dan memberikan informasi penting yang di dapat beberapa hari yang lalu.


###


Keduanya merupakan pria. Yang satu berumur sekitar tiga puluh tujuh tahun, yang satu lagi berumur sekitar lima puluh tahun.


"Sampurasun Yang Mulia Raja …"


"Rampes, berita apa saja yang kau dapatkan?" tanya Prabu Ajiraga.


"Gawat Yang Mulia, gawat," kata pelapor tersebut sambil tetap berada pada sikap menghormat.


"Apanya yang gawat? Cepat katakan yang jelas," kata Prabu Ajiraga mendesaknya.


"Pihak Kerajaan Tunggulis sudah mengumpulkan para pendekar yang mendukungnya. Mereka akan menyerukan genderang perang dalam waktu dekat ini. Beberapa hari lalu orang suruhan mereka telah berangkat, mungkin sekarang sudah kembali lagi,"


"Krakk …"


"Prangg …"


Gelas kaca yang ia genggam, langsung hancur saat dia meremasnya dengan keras. Wajahnya langsung memancarkan amarah yang besar. Nafasnya memburu dan sorot matanya penuh kebencian.

__ADS_1


"*******! Berita terbaru apa yang kau dapatkan?"


"Untuk sekarang hanya itu saja Yang Mulia. Rekan kita masih berada di sana, mungkin beberapa hari lagi mereka akn segera pulang setelah selesai mengumpulkan informasi lainnya,"


"Bagus. Kalau begitu sekarang juga kau segera pergi. Ajak beberapa pendekar pilihan bersamamu. Kumpulkan semua pendekar yang mau membantu kita. Sekalian, pergi ke Tanah Jawa dan cari juga para pendekar yang mau membantu kita. Setelah tujuh hari, segera kembali dan berikan laporan kepadaku," kata Prabu Ajiraga memberikan perintah kepada pelapor tersebut.


"Tapi Yang Mulia, Tanah Jawa juga luas. Bagaimana hamba bisa mengunjungi semua tempat tersebut dalam waktu sesingkat itu?" keluh si pelapor.


"Aku tidak mau tahu. Bagaimanapun juga, kau harus bisa mengumpulkan para pendekar itu. Setidaknya kau bisa menyuruh mereka menyebarkan berita ini,"


"Baiklah kalau begitu. Hamba pamit undur diri dulu Yang Mulia," kata si pelapor lalu segera pergi dari sana.


"Baik. Semoga berhasil,"


Suasana di sana menjadi tegang. Semua pendekar yang ada, menunggu keputusan Prabu Ajiraga tentang langkah selanjutnya. Yang pasti, genderang perang akan segera di tabuh sebentar lagi.


###


Di Kerajaan Tunggilis, semua orang sudah selesai berbicara serius. Sekarang mereka sedang bersenda gurau bersama yang lainnya.


Prabu Katapangan berniat untuk mencicipi makanan dan minuman yang di suguhkan oleh lima prajurit tadi. Namun sebelum raja itu menyentuhnya, Cakra Buana lebih dulu berkata.


"Jangan Baginda Raja," kata Cakra Buana mencegah sambil memberikan isyarat dengan tangannya.


"Kenapa pangeran? Ada masalah?" tanya Prabu Katapangan kebingungan. Yang lain pun sama, mereka saling pandang untuk beberapa saat.


Cakra Buana segera melangkah ke tempat makanan dan minuman itu. Kemudian ia meremas makanannya.


Mengepul!


Ada asap putih tipis keluar dari makanan tersebut.


Semua orang membelalakan mata.


Kemudian Cakra Buana menuangkan air tersebut ke sebuah wadah kosong. Lagi-lagi semua orang yang ada di sana terkejut. Bahkan lebih terkejut lagi.


Air yang di tuangkan barusan, berubah menjadi warna hitam pekat. Bahkan sedikit mengeluarkan asap dan berbau agak busuk.


Semua orang dibuat tersentak. Termasuk Prabu Katapangan sendiri.

__ADS_1


"Racun …" desis Gagak Putih.


__ADS_2