Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tiga Pembunuh Sadis


__ADS_3

'Bocah ini, sepertinya dia yang daritadi mengerjaiku,' batin ki Suro saat melihat lemparan duri ikannya yang meleset.


"Bocah, pasti kau orang yang sudah mengerjaiku tadi," katanya dengan marah kepada Cakra Buana.


"Maaf ki dulur, aku tidak mengerti maksud ki dulur," jawab Cakra Buana.


"Omong kosong … hiatt,"


Ki Suro maju lagi menyerang Cakra Buana. Tangan kanannya di julurkan ke depan dengan jari tangan terbuka. Secepat kilat Cakra Buana melesat ke luar. Dia tidak ingin bertarung di dalam kedai karena bisa merusak kedai itu sendiri.


"Jlegg …"


Keduanya berdiri berhadapan di luar kedai. Orang-orang yang tadi di dalam kedai, kini berhamburan ke luar. Mereka mengelilingi Cakra Buana dan Ki Suro. Hanya beberapa kejap, keadaan sudah menjadi ramai.


"Bocah, aku sarankan agar kau segera minta maaf kepadaku sebelum kesabaranku habis,"


"Untuk apa aku minta maaf terhadap orang sepertimu? Kalau aku yang salah, aku tidak segan untuk meminta maaf. Tapi ini ceritanya lain lagi," jawab Cakra Buana masih tenang.


"Hemmm, berani sekali kau bicara seperti itu di hadapan ki Suro," katanya dengan angkuh.


"Karena aku di pihak yang benar, maka sudah tentu aku berani,"


"Bedebah … haitt,"


Ki Suro menyerang lagi. Kali ini giliran kakinya yang di julurkan ke depan. Serangan kaki itu terlihat di aliri dengan tenaga dalam cukup tinggi.


Cakra Buana tidak tinggal diam, dia pun menggerakan satu tangannya untuk menangkis tendangan yang di lancarkan ki Suro.


"Plakk …"


Orang tua itu terpundur satu langkah. Tak berhenti sampai di situ, ki Suro langsung maju menggempur Cakra Buana. Dia melesat cepat mengincar jantung lawan. Tangan kanannya membentuk sebuah kepalan tangan yang menghitam.


"Hemmm … dia ternyata golongan hitam. Pukulan itu beracun," gumam Cakra Buana.


Melihat bahwa pukulan lawan berbahaya, maka Cakra Buana pun mengambil tindakan lebih. Ia menyalurkan tenaga dalamnya kepada kedua telapak tangan. Cakra Buana tidak menghindar, pemuda serba putih itu justru berniat untuk menahan serangan tersebut.


Cakra Buana berani melakukan tindakan itu karena dia sudah bisa mengukur kekuatan lawan. Setidaknya ki Suro berada dua tingkat di bawah Cakra Buana.

__ADS_1


"Wuttt …" pukulan datang dengan aroma hangus. Mengincar jantung dan pundak.


Cakra Buana menggerakan tangannya ke atas lalu menahan serangan tersebut dengan kedua telapak tangan.


"Bukkk …"


"Ahhh …"


Ki Suro terpental sampai bergulingan. Darah langsung keluar menyembur dari mulutnya. Tak lama dia merasakan panas yang menjalar mulai dari pergelangan tangan. Ki Suro kaget, buru-buru dia melihat apa yang terjadi.


Orang tua itu menjadi lebih kaget saat melihat kedua tangannya sudah menghitam seperti terpanggang. Dia mulai meringis menahan rasa panas.


Orang-orang di sana melihat kejadian itu dan tidak ada yang berani bicara. Mereka semua memandangi Cakra Buana, hanya dengan sekali gebrak, lawan langsung tumbang. Semua orang dibuat kagum olehnya.


Sementara itu, ki Suro sendiri semakin tak tahan menahan hawa panas. Dia mulai kelojotan. Sebenarnya yang membuat panas adalah karena ulahnya sendiri. Saat tadi dirinya mengeluarkan pukulan beracun, Cakra Buana memilih untuk mengembalikan pukulan itu kepada pemiliknya. Tak di sangka akibatnya hebat, ki Suro langsung diserang oleh jurusnya sendiri. Senjata makan tuan.


Karena kakek tua itu merasa tak tahan lagi, dia pun segera pergi dari sana tanpa pamit. Orang-orang langsung menggunjingkan dua pendekar yang baru saja bertarung itu.


Pertarungan singkat selesai. Cakra Buana langsung kembali masuk ke kedai untuk melanjutkan makannya yang tertunda. Orang-orang langsung bubar sehingga keadaan menjadi sepi seperti sedia kala.


Dia pun langsung melirik ke pintu masuk kedai. Tak lama, tiga orang berseragam pendekar dan bertampang bengis masuk ke sana. Mereka berjalan santai penuh wibawa. Suasana di dalam kedai berubah jadi sedikit aneh. Seperti ada tekanan dari kekuatan.


Pendekar Maung Kulon tertunduk sambil melanjutkan makan. Sesekali matanya melirik kepada tiga orang yang baru datang tersebut.


"Berikan kami arak dan nasi ayam bakar," kata salah seorang berbaju cokelat tanpa lengan. Suaranya serak parau dan datar.


"Baik den. Tunggu sebentar," jawab pemilik kedai.


Sambil menunggu, tiga orang itu ternyata melirik Cakra Buana secara diam-diam pula. Ketiganya semakin kaget saat melihat ada pusaka di punggung pemuda serba putih itu yang dibungkus menggunakan kain.


"Ini bayarannya bi. Terimakasih," kata Cakra Buana sambil memberikan bayaran yang ia letakkan di atas meja. Tanpa menunggu lama, dia langsung bergegas menghampiri kuda putihnya.


Firasatnya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang akan segera terjadi. Apalagi hatinya merasa kenal kepada tiga orang tadi. Di sisi lain, tiga orang pendekar itu tak jadi pesan makan. Ketiganya pergi begitu saja tanpa pamit.


"Ehhh … kok mereka pergi. Katanya pesan makan, haduh dasar mereka ini," gerutu pemilik kedai saat melihat kepergian tiga orang tersebut.


Cakra Buana tiba di sebuah jalan hutan yang sunyi. Dia sedang mengingat-ingat siapa ketiga pendekar yang ia lihat di kedai. Di saat dirinya sedang melamun, tiba-tiba kudanya mendadak berhenti. Kuda itu meringkik dan menaikkan dua kaki depannya.

__ADS_1


Cakra Buana kaget. Dia sempat kebingungan beberapa saat hingga akhirnya, dari pepohonan turun tiga orang yang sedari tadi sedang ia pikirkan.


"Maaf ki dulur, kenapa kalian menghadang jalanku?" tanya Cakra Buana setelah turun dari kudanya.


"Hemm … apakah kau yang bernama Cakra Buana?" tanya seseorang yang memakai pakaian warna putih.


"Benar, saya Cakra Buana. Kalau boleh tahu, ki dulur ini siapa?"


"Dugaanku tak salah. Kami Tiga Pembunuh Sadis. Serahkan Pedang Pusaka Dewa sekarang juga," kata seorang yang memakai baju cokelat tanpa lengan.


'Jadi … mereka bertiga yang kemarin mengintipku saat di Perguruan Gunung Waluh?' batin Cakra Buana bertanya-tanya.


"Maaf, Pedang Pusaka Dewa tidak ada padaku,"


"Bohong. Kau kira bisa menipu kami? Serahkan sekarang atau kami terpaksa harus bertindak kasar,"


"Apakah kalian yang mengintipku beberapa hari lalu di Perguruan Gunung Waluh?" tanya Cakra Buana memastikan.


"Hahaha … pintar juga kau bocah. Benar, kami yang tempo hari mengintipmu. Karena kau sudah tahu siapa kami, lebih baik serahkan pusaka itu, lebih cepat lebih baik," ucap seseorang yang memakai pakaian merah. Dialah si Setan Darah.


"Jangan mimpi untuk bisa mendapatkan Pedang Pusaka Dewa," kata Cakra Buana dengan tegas.


"Kalau begitu terpaksa kami harus bertindak kasar supaya kau mau menyerahkannya,"


"Lakukan. Aku tidak takut, jika memang mampu mengambilnya dariku, ambillah,"


"******* kecil. Hiahhh …"


Salah satu dari Tiga Pembunuh Sadis yang dikenal dengan julukan si Manuk Bodas menyerang Cakra Buana. Dia menghentakkan tangan kanannya ke depan. Dari telapak tangan itu, keluar sinar putih sebesar lidi yang melesat dengan cepat.


"Wuttt …"


Cakra Buana melompat untuk menghindari serangan jarak jauh tersebut. Dia bersalto dua kali di udara sebelum mendarat.


Serangan jarak jauh itu luput dari sasaran dan menghantam sebatang pohon berukuran cukup besar.


"Blarrr …" pohon itu hancur berkeping-keping terkena serangan si Manuk Bodas.

__ADS_1


__ADS_2