
Cakra Buana sudah pasrah. Dia masih belum bisa bergerak bebas. Menahan serangan pukulan Brajamusti secara langsung pun dia tak kuasa. Tak ada cara lain lagi kecuali menyalurkan semua tenaga dalam ke seluruh tubuhnya supaya terlindungi, pikirnya. Meskipun tidak ada jaminan pula apakah dia akan berhasil menahannya atau sebaliknya.
Cakra Buana sudah menyalurkan semua tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Tinggal menanti datangnya serangan lawan saja. Pukulan Brajamusti yang dilancarkan oleh Raden Buyut Sangkar sekarang terasa lebih panas dan lebih menekan, tentu saja, karena dia mengerahkan seluruh tenaganya.
Akan tetapi ketika pukulan itu beberapa jarak lagi mengenai Cakra Buana, tiba-tiba saja muncul seorang kakek-kakek berpakaian hitam yang menahan Pukulan Brajamusti milik Raden Buyut Sangkar hanya dengan satu telapak tangan kanan saja.
"Desss …"
Akibatnya selanjutnya adalah semua orang terbelalak melihat pemandangan tersebut. Bagaimana tidak? Bukannya kakek itu yang terluka, yang ada justru sebaliknya. Raden Buyut Sangkar terpental hingga beberapa tombak, bahkan dia langsung muntah darah dibuatnya.
Tenaga yang semuanya sudah disalurkan menyerang balik tuannya sendiri. Sehingga Raden Buyut Sangkar tidak bisa menghindarinya lagi. Pula, semua yang ada disitu tidak mengetahui kapan dan bagaimana kakek tua itu datang.
"Tak tahu malu. Beraninya hanya main keroyokan saja. Orang-orang jahat," kata kakek itu dengan nada santai.
Tidak ada yang menjawab atas perkataan itu. Apalagi mau menyerang. Karena melihat betapa Pukulan Brajamusti milik Raden Buyut Sangkar bisa ditahan dengan mudah pun, sudah membuktikan betapa lihainya kakek tua itu.
Cakra Buana yang sudah menyalurkan seluruh tenaga dalamnya, tiba-tiba pingsan karena efek dari serangan Nyai Kembang Ros Beureum yang mengandung racun sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ditambah lagi dengan efek Pukulan Brajamusti sebelumnya. Lengkap sudah.
Melihat bahwa pemuda yang ditolongnya pingsan, kakek tua itu pun langsung memondongnya dan pergi tanpa banyak cakap lagi. Entah kemana.
"Raden, kau tidak papa?" tanya Nyai Kembang sambil membantu Raden Buyut Sangkar bangun.
"Tidak nyai. Hanya organ dalamku terguncang akibat tenagaku sendiri," kata Raden Buyut Sangkar.
"Marilah biar aku bantu obati. Duduklah dan ambil sikap bersemedi!" kata Nyai Kembang.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, diapun langsung duduk membelakangi Nyai Kembang. Ada rasa hangat pada punggungnya ketika tangan Nyai Kembang menempel.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, hanya beberapa saat pun, proses penyaluran haws murni itu sudah selesai. Raden Buyut Sangkar pun sudah merasakan tubuhnya membaik. Meskipun masih ada sisa rasa nyeri di dadanya.
"Nyai, siapakah kakek tua tadi? Aku baru kali ini saja melihatnya," tanya Raden buyut Sangkar.
"Entahlah raden. Akupun baru melihat dia barusan. Selama perjalananku dalam dunia persilatan, aku rasa belum pernah melihat kakek tua tadi,"
"Hemmm … sudahlah. Aku akan menanyakan hal ini kepada guru dan ayahku. Sekarang aku pamit dulu. Sepuluh hari lagi aku akan datang kembali bersama ayahku," ucap Raden Buyut Sangkar.
"Baik raden. Salam untuk beliau,"
Raden Buyut Sangkar hanya mengangguk, dia kemudian pulang dengan menunggangi kuda piaraannya yang tadi dibiarkan merumput.
Di sisi lain, Ayu Pertiwi merasa senang bahwa "kekasihnya" selamat dari maut. Meskipun dia tidak tahu siapa yang menolongnya.
Sementara itu, Cakra Buana saat ini sudah berada disebuah goa yang letaknya ditengah-tengah hutan belantara. Dia masih dalam keadaan pingsan, akan tetapi semua luka dan racun yang membahayakan dirinya sudah diobati oleh kakek penolong tadi.
Sekitar sepeminum teh kemudian, pemuda serba putih itu sudah sadar dari pingsannya. Betapa kagetnya ketika dia sudah berada disebuah goa yang nampak asing baginya. Cakra Buana lantas bangun, lebih kaget lagi ketika dia menyaksikan ada seorang kakek tua sedang duduk disebuah batu hitam yang lebar.
Kakek tua itu memakai pakaian serba hitam seperti petani, memakai ikat kepala pula. Tubuhnya sedang, wajahnya sudah keriput dimakan usia. Tapi meskipun begitu, masih nampak jelas sisa kegagahan dan ketampanannya sewaktu muda dulu.
Tatapan matanya tajam tapi meneduhkan. Senyum selalu terhias pada bibirnya. Rambut kepalanya sudah putih dan ada sedikit kumis dan jenggot panjang yang agak memutih.
"Maaf, apakah kakek ini yang tadi menolongku dari Pukulan Brajamusti milik Raden Buyut Sangkar?" tanya Cakra Buana dengan sopan.
__ADS_1
"Benar cucuku. Sekarang kau sudah aman. Mereka tidak akan bisa mengejarmu," jawab kakek tua itu.
"Terimakasih kakek sudah menyelamatkanku. Perkenalkan, aku Cakra Buana kek. Kalau boleh tahu, kakek ini siapa?"
"Aku sudah tahu siapa kamu cucuku. Hemmm … tujuanmu melakukan perjalanan sejauh ini untuk apa?" tanya kakek itu.
"Ehhh … bagaimana kakek bisa tahu? Tujuanku adalah untuk menjalankan titah mendiang guru. Aku disuruh mencari sahabat guru yang tinggal di Gunung Kidul dekat laut Selatan, Bantam. Namanya adalah Ki Wayang Rupa Sukma Saketi," kata Langlang Cakra Buana menjelaskan tujuannya.
"Nah, akulah orang yang gurumu maksdukan itu," ucap kakek tua itu.
"Ehhh … kakek Ki Wayang Rupa Sukma Sketi?"
"Benar. Aku Ki Wayang Rupa Sukma Saketi," jawab kakek itu.
Cakra Buana tidak menjawab. Wajahnya memperlihatkan bahwa dia masih ragu dan terlihat kebingungan. Dan sepertinya kakek tua yang mengaku Ki Wayang Rupa Sukma Saketi itu tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Cakra Buana.
"Tenanglah, jangan ragu cucuku. Memang akulah orang yang selama ini kau cari. Namamu adalah Cakra Buana, dan gurumu menambahkannya jadi Langlang Cakra Buana. Gurumu bernama Eyang Resi Patok Pati. Dia meninggal karena diduga diracun oleh pihak kerajaan Kawasenan. Dia meninggal kurang lebih dua tahun yang lalu. Kemudian sebelum gurumu tiba saatnya untuk pergi, dia menemuimu supaya pergi mengembara mencari sahabatnya yang bernama Ki Wayang Rupa Sukma Saketi supaya kau berguru lagi padanya dan mewujudkan cita-citanya untuk menyatukan tanah Pasundan bukan?" kata kakek tua itu menceritakan semuanya.
Mendengar semua perkataan itu, mau tidak mau Cakra Buana kaget juga. Karena semua penuturan kakek itu memang sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi …"
"Ya … benar. Aku sudah mengetahui semuanya, sahabatku Resi Patok Pati yang memberitahukan semuanya padaku. Akupun sudah tahu bahwa kau memang akan kesini, karena itulah aku selalu mengikutimu dari kejauhan mengggunakan sukmaku. Sehingga ketika kau dalam keadaan bahaya seperti tadi, aku datang dan menyelamatkanmu," kata Ki Wayang Rupa Sukma Saketi.
Semakin kagetlah Cakra Buana. Buru-buru dia bangkit dan langsung menghaturkan hormatnya kepada Ki Wayang.
__ADS_1
"Mohon ampun beribu ampun eyang guru. Abdi (saya) rumaos (merasa) salah karena tidak dapat mengenal eyang guru yang mulia ini," kata Cakra Buana langsung bersujud memberi hormat sedalam-dalamnya.
"Tidak perlu seperti itu cucuku. Bangunlah, jika kau sudah merasa lebih baik, duduklah," ucap Ki Wayang.