
Dua pendekar yang menjadi lawan Dadung Amuk dan Sanca tak menyangka bahwa lawan akan memberikan jurus pamungkas yang seperti ini. Sebab jurus ini saling berhubungan satu sama lain.
Mereka pun turut mengeluarkan jurus pamungkasnya. Naas, keduanya terlambat dua langkah. Sehingga begitu jurus mereka baru keluar, jurus Sanca dan Dadung Amuk lebih dulu menyambarnya.
Tak ayal lagi, keduanya menjadi sasaran telak jurus itu. Mereka mengerang kesakitan sambil memegangi wajah dan lehernya. Seketika dua bagian tubuh itu telah berubah menghitam dan mengeluarkan bau busuk.
Detik berikutnya, mereka sudah terkapar tak bernyawa.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian ini merasa cukup ngeri. Tak disangkanya bahwa dua orang yang terkenal pendiam, menyimpan kekuatan dan jurus yang cukup membuat ciut nyali kawan.
Berbarengan dengan semua itu, Ling Zhi pun sedang bertarung menghadapi penyusup tersebut. Sama seperti Dadung Amuk dan Danca, Bidadari Penebar Maut itu langsung melancarkan serangan jurus tingkat tinggi.
"Bidadari Memetik Bunga …"
Jurus tahapan kedua dari tiga rangkaian jurus Tangan Bidadari Mencabut nyawa sudah keluar. Ling Zhi bergerak dengan indah. Setiap serangan yang dia berikan untuk lawan, membuat orang-orang terkesima.
Pasalnya gerakan wanita itu memang indah. Seperti seorang dewi yang sedang memetik sebuah bunga. Saat mau di petik, tangan sang dewi berpindah ke bunga lain. Begitu pindah, tak lama ia berpindah lagi.
Hal itu sama seperti saat tangan Ling Zhi berniat menyerang perut, namun saat sampai ia ubah jadi ke ulu hati. Saat sampai ke ulu hati, tidak tahunya berpindah lagi jadi ke leher.
Ling Zhi terus bergerak seperti itu hingga pada akhirnya lawan dibuat kebingungan sendiri. Emosi lawan semakin menjadi-jadi karena ia merasa terus ditipu. Akibatnya, serangan yang dia berikan menjadi tidak beraturan lagi. Gerakannya memang cepat, tapi sayangnya tidak melalui perhitungan matang.
Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Ling Zhi. Detik berikutnya serangan Ling Zhi berubah semakin mengganas. Kaki tangannya bergerak sangat cepat. Setiap serangan mengandung tenaga dalam tinggi.
"Plakk …"
"Bukk …"
Ling Zhi mengincar titik lemah di tubuh lawan. Serangan demi serangan terus ia lancarkan bagaikan air bah yang tumpah ruah.
"Tangan Maut Bidadari …" Ling Zhi berteriak kencang sambil melancarkan jurus terakhir dari jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa.
"Wushh …"
"Bukkk …"
__ADS_1
Dengan telak telapak tangannya bersarang di ulu hati lawan. Saking besarnya tenaga dalam yang terkandung di dalamnya, lawan sampai terpental sejauh lima tombak. Ia jatuh berdebum ke tanah lalu bergulingan sebelumnya akhirnya tewas dengan mulut memuntahkan darah kehitaman.
Ia tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.
Sementara itu pertarungan Cakra Buana pun sedang berlangsung secara bersmaana. Pendekar Maung Kulon mendapatkan lawan yang lumayan.
Tapi itu bukanlah sebuah persolan bagi Cakra Buana. Sebab selama pertarungan, dia sama sekali belum terkena serangan lawan. Sebaliknya, justru lawan lah yang terus menerus mendapatkan pukulan dan tendangan telak dari Cakra Buana.
Ia tidak perlu mengeluarkan jurus pamungkas. Hanya dengan serangkaian jurus dari Kitab Maung Mega Mendung, lawan dibuat kelabakan.
Tangan yang sudah berubah jadi sekeras baja itu, memberikan cakaran dan pukulan tanpa henti. Kakinya bergerak ke sana kemari mengikuti irama kedua tangan. Kadang kala, kaki kanan dan kirinya turut memberikan serangan berupa tendangan yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Bunyi tangan dan kaki berbenturan terus terdengar. Setiap kali benturan terjadi, lawan Cakra Buana merasakan ngilu yang lumayan. Beberapa kali wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa sakit itu.
"Plakk …"
"Bukk …"
Lawan terpental akibat serangan telapak tangan Cakra Buana. Ia terpental lima langkah. Secepat kilat dia berdiri lalu menjejakkan kaki ke tanah untuk balik menyerang.
"Menyambar dan Menerkam Mangsa …"
"Wuttt …"
Cakra Buana menyambut serangan lawan dengan jurusnya. Kedua tangannya ia kembangkan. Begitu lawan mendekat, tangan kanan menyerang dengan cakar dari kanan ke kiri. Sedangkan tangan kiri bergerak ke kanan.
"Brett …"
"Ahhh …"
Lawan terpental berputar-putar lalu jatuh ke tanah. Darah segera menggenangi tubuh itu karena dada samping kanan dan kiri robek besar. Begitu jatuh, tak lama dia pun segera tewas.
Pertunjukan selesai. Semua orang terkesima dengan pertarungan yang terjadi barusan. Mereka kagum terhadap keempatnya. Terutama mereka yang sudah berumur, para sepuh itu bangga, sebab pada akhirnya ada juga pendekar yang memiliki kepandaian mengerikan di usia mudanya.
Setelah itu, semua orang segera kembali ke tempatnya masing-masing. Para prajurit di tugaskan untuk mengurusi lima mayat tersebut.
__ADS_1
Kini Cakra Buana dan yang lain sudah berada di ruangan sebelumnya. Sepanjang perjalanan menuju ruangan tersebut, Cakra Buana dan Ling Zhi mendapatkan berbagai pujian.
Para tokoh tua bahkan menyebut bahwa Cakra Buana dan Ling Zhi merupakan pasangan yang sangat serasi.
Ketika orang-orang di sana sedang berbicara, tiba-tiba pintu di ketuk. Tak lama, dua orang telik sandi Kerajaan Tunggilis memasuki ruangan tersebut.
"Hormat saya Baginda Raja. Hamba akan memberikan laporan terkait penyelidikan beberapa hari ini," kata si telik sandi.
"Lanjutkan,"
"Hamba mendapatkan informasi bahwa Kerajaan Kawasenan sudah menyebar telik sandi di berbagai wilayah kita. Sepertinya mereka sudah curiga dan sudah mengetahui akan rencana Baginda Raja untuk melakukan penyerangan dalam waktu dekat ini,"
"Hemm, baiklah. Kalau begitu kau ajak beberapa pendekar pilihan untuk menanami kalian. Kalau ada orang yang mencurigakan, berikan mereka pelajaran,"
"Titah Baginda Raja akan segera hamba laksanakan,"
"Terimakasih. Sekarang pergilah, cari informasi sebanyak mungkin,"
"Hamba mengerti Baginda. Hamba pamit undur diri," kata telik sandi itu lalu keluar ruangan.
###
Tak terasa waktu cepat berlalu. Ini adalah hari ketujuh. Malam nanti adalah bulan purnama, itu artinya di Bukit Maut akan segera di adakan pertemuan besar-besaran.
Tak kurang dari dua ratus lima puluh orang pendekar dari berbagai penjuru Tanah Pasundan, dipastikan akan berkumpul di sana untuk membicarakan hal penting terkait rencana perang besar nanti.
Saat ini hari sudah menjelang sore. Beberapa waktu sebelumnya, dua orang telik sandi yang beberapa hari lalu memberikan laporan, tadi sudah datang lagi dan melapor.
Prabu Katapangan mendapatkan informasi bahwa pihak Kerajaan Kawasenan pun turut memintan bantuan kepada para pendekar yang ada di pihak mereka. Siapa pun itu, selama mau membantu, maka tidak ada masalah.
Tapi menurut analisa Prabu Katapangan dan yang lainnya, para pendekar yang mau membantu Kerajaan Kawasenan, dipastikan hampir semuanya berasal dari aliran hitam.
Hal itu tidak jadi masalah. Yang jadi masalahnya adalah bahwa Kerajaan Kawasenan meminta bantuan sampai ke Tanah Jawa. Ini membuat Prabu Katapangan dan yang lainnya merasa khawatir.
Mereka berpikir bahwa jika benar hal itu terjadi dan para pendekar Tanah Jawa mau membantu, maka pastinya perang ini akan lebih hebat dari yang sudah di bayangkan. Bahkan bisa jadi pembalasan dendam akan terus terjadi seiring berjalannya waktu.
__ADS_1