Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertempuran di Hutan Larangan IV


__ADS_3

"Plakk …"


"Plakk …"


Suara tangkisan terdengar cukup keras. Seperti dua tulang yang beradu.


Dua pendekar tersebut terdorong satu langkah ke belakang sambil menahan sakit. Bagian tangan yang dipakai untuk menangkis langsung memar karenanya.


'Gila. Siapa sebenarnya orang ini, itu tulang atau baja? Keras sekali …' batin salah seorang pendekar sambil menggoyang-goyangkan tangan yang sakit supaya meredakan rasa ngilu.


Dia sebenarnya masih ingin membatin lagi, sayangnya Pendekar Belati Kembar tidak memberikan waktu.


Secepat kilat, dia sudah menerjang kedua lawannya kembali. Kaki dan tangan mengincar titik penting di tubuh lawan. Serangan berupa pukulan yang membawa kekuatan hebat mulai menggempur dua pendekar kelas atas Organisasi Tengkorak Maut.


Tokoh pendekar itu menyerang lebih ganas lagi. Delapan bagian tenaga sudah dia keluarkan untuk melumpuhkan lawan. Benturan tangan dan kaki terjadi tiada henti. Ketiganya terbungkus dalam sinar pukulan atau tendangan yang mereka ciptakan sendiri.


Hingga pada jurus kelima puluh lima, sebuah pukulan keras yang mengandung hawa panas dengan telak bersarang di masing-masing dada kedua lawannya.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Keduanya terpental hingga menimbulkan suara berdebum seperti buah durian jatuh. Dada mereka terasa sangat sesak sekali. Dari mulutnya, keluar darah merah yang kental.


Sementara itu, pertarungan para tokoh lainnya juga tidak kalah seru dengan pertarungan Pendekar Belati Kembar.


Di sebelah Utara, Tuan Santeno Tanuwijaya juga sudah bertarung melawan dua pendekar kelas atas organisasi sesat itu.


Maha guru dari Perguruan Tunggal Sadewo tersebut saat ini sedang berada dalam posisi menyerang. Tubuhnya terbungkus sinar pukulan yang mengandung hawa panas.


Tuan Santeno Tanuwijaya sebenarnya sudah sangat lama tidak turun ke lapangan. Kecuali memang ada hal-hal penting yang harus dia lakukan.


Dan sekarang, dia mendapatkan kesempatan yang langka ini. Maka, orang tua itu tentu tidak mau menyia-nyiakannya.


Jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung yang merupakan bagian terakhir dari serangkaian jurus Pukulan Dewa Bumi, telah dikeluarkan oleh maha guru itu.


Seketika suasana menjadi berubah drastis.


Langit bergemuruh.


Waktu seolah berjalan sangat lambat.


Tanah terus bergetar seolah ada raksasa yang akan bangkit dari dasar bumi.

__ADS_1


Si Tangan Tanpa Belas Kasihan sudah marah. Sangat marah malah.


Kematian Pendekar Pedang Kesetanan yang terbunuh oleh orang-orang Organisasi Tengkorak Maut, baginya tidak bisa diampuni lagi.


Karena itulah dia ingin mempersingkat pertempuran supaya langsung menuju ke adegan utama.


Kedua tangannya bergerak sangat cepat sekali. Setiap kali tangannya melesat, selalu membawa kekuatan dahsyat yang menekan dan bahkan menebarkan hawa panas.


Dua pendekar tersebut mulai terdesak hebat. Pertarungan mereka baru saja dimulai, tapi jurus yang keluar sudah demikian hebat dan dahsyatnya.


Paling-paling ketiganya baru bertempur sebanyak tiga puluh jurus. Dua pendekar sudah melancarkan puluhan jurus, tapi Tuan Santeno Tanuwijaya mampu menangkis semuanya. Sebaliknya, saat orang tua itu melancarkan serangan balasan, justru kedua lawan sudah merasa sangat kewalahan.


Hujan serangan berupa pukulan dahsyat semakin lama semakin hebat. Tubuh Tuan Santeno sesekali memancarkan cahaya hijau yang menyinari kegelapan.


Dia melesat menyerang kedua pendekar dari segala sisi. Kakinya bergerak ke atas memberikan tendangan dadakan ke bagian dada.


Dua lawan terpental tiga langkah.


Mereka berniat untuk mempersiapkan diri, tapi sayangnya serangan susulan telah tiba kembali. Sebuah sinar hijau memanjang menyambar ke arah keduanya.


Kedua pendekar melompat ke atas untuk menghindari sinar tersebut. Mereka berdua sependapat, kalau memaksakan ingin menangkis sinar itu, keduanya sudah pasti tidak akan kuat. Sebab tenaga yang terkandung di dalamnya, sangat besar. Apalagi kini bercampur bersama amarah.


Karena alasan itulah, mereka lebih memilih untuk melompat tinggi.


Kesalahan fatal.


Sebab di sinilah akhir kehidupan keduanya.


Begitu melihat dua pendekar melompat tinggi, Tuan Santeno Tanuwijaya tersenyum.


Senyuman yang menyeramkan.


Senyuman yang membawa kematian.


Kakinya menjejak tanah. Kedua tangannya di tarik ke belakang mengumpulkan tenaga besar dari jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung.


"Mampus kalian …"


Suara yang menggelegar terdengar sangat jelas di telinga keduanya. Mereka ingin menghindarinya, tapi sayang, kali ini sudah terlambat.


Dua buah pukulan keras bersarang telak di ulu hati mereka.


"Blarrr …"

__ADS_1


Saking kuatnya, sampai-sampai pukulan tersebut mengeluarkan ledakan cukup keras.


Kedua pendekar meluncur ke bawah. Tubu mereka jatuh di bebatuan.


Begitu terjatuh, nyawanya sudah melayang meninggalkan raga.


Tuan Santeno menghela nafas. Dia mengatur kembali amarahnya supaya tidak menimbulkan kejadian yang tak diinginkan.


Baru saja dia menghela nafas tenang selama beberapa detik, tiba-tiba muncul kembali sembilan pendekar kelas atas dari Organisasi Tengkorak Maut. Bahkan kali ini, mereka datang bersama pemimpin mereka.


Sepuluh pendekar termasuk si pemimpin telah tiba di hadapan Tuan Santeno Tanuwijaya. Mereka hanya terpaut jarak sekitar sepuluh langkah.


Para pendekar yang baru datang itu memperlihatkan kemarahan mereka yang sudah menggunung.


Berbagai macan senjata telah mereka pegang erat.


Tenaga dalam yang menekan kembali terasa di sekitar area.


Hawa pembunuhan terasa semakin kental.


"Kau yang membunuh mereka?" tanya si pemimpin sembilan belas pendekar kepada maha guru tersebut.


"Benar, aku pelakunya. Kau tak terima?" Tuan Santeno balik bertanya.


Suaranya tenang dan kalem. Jangankan menghadapi sepuluh orang pendekar kelas atas, menghadapi dua puluh sekalipun, dia akan tetap berusaha tenang.


Berusaha untuk tidak panik.


Dalam situasi seperti sekarang ini, ketenangan adalah kunci utama.


Dalam hal apapun, ketenangan adalah kunci penting. Paling utama. Jika seseorang sudah bisa berlaku tenang dalam kondisi apapun, maka bisa dipastikan bahwa jiwa orang itu telah benar-benar matang.


"Hemm, kalau begitu serahkan nyawamu secara baik-baik," kata si pemimpin.


Tuan Santeno tertawa. Tawa yang sangat puas karena melihat kebodohan terjadi di depan matanya.


"Hahaha, kau kira aku bocah kemarin sore? Lagi pula, sekalipun aku anak kecil, nyawaku tidak akan mudah diberikan begitu saja. Nah sekarang coba kau pikir, anak kecil saja tidak mau memberikan nyawanya sia-sia, apalagi aku yang sudah tua? Hahaha … bodoh boleh, tapi jangan diborong semuanya. Seenak jidat sekali kau bicara," kata orang tua itu puas mentertawakan kebodohan si pemimpin.


Merah padam wajah pemimpin itu saat mendengar ucapan Tuan Santeno.


Dia seorang pemimpin, pendekar hebat yang sakti mandraguna. Disebut bodoh di hadapan bawahannya, siapa yang akan terima? Tentu saja dia tidak terima.


"Bangsat. Orang tua tak tahu diri, sudah bau tanah tapi masih juga berlagak di depan Manusia Sakti Tenaga Raksasa," kata si pemimpin yang menyebut dirinya Manusia Sakti Tenaga Raksasa.

__ADS_1


"Serang orang tua tidak tahu di untung itu …" ujarnya geram sambil menunjuk wajah Tuan Santeno Tanuwijaya.


__ADS_2