
Setelah kematian Wanita Berhati Batu, Cakra Buana menghela nafas lalu mengatur tenaga dalamnya. Dia memulihkan semua luka yang disebabkan oleh pertarungan barusan.
Suasana di sana kembali sepi seperti sedis kala. Tidak ada lagi teriakan. Tidak ads lagi sinar terang dari jurus hebat. Yang ada hanyalah dua sosok mayat dan dua manusia muda sedang bertatapan satu sama lain.
Yang satu menatap dalam posisi berdiri. Sedangkan satu lagi menatap dalam posisi terduduk.
Ayu Pertiwi memang masih duduk. Tubuhnya terasa lemas karena melihat sang kekasih dan gurunya tewas di depan mata.
Dia belum bicara sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu. Hanya matanya saja yang memandang tidak percaya atas kejadian itu.
Ayu Pertiwi sangat tidak percaya bahwa kekuatan Cakra Buana ternyata mampu meningkat secara tajam hanya dalam waktu yang singkat. Awalnya dia sangat yakin bahwa dirinya mampu mengalahkan Cakra Buana, terlebih lagi karena beberapa waktu belakang ini, dia telah berlatih keras.
Kekuatannya jauh meningkat dari pada dahulu kala. Jurusnya bertambah hebat dan pengalamannya bertambah banyak.
Sayang, keyakinan tersebut kini harus terkubur dalam-dalam. Hasrta ingin membunuh Cakra Buana, kini lenyap sudah.
Setelah keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama, pada akhirnya Ayu Pertiwi angkat bicara.
"Kenapa kau membunuh kekasih dan guruku?" tanya Ayu Pertiwi sambil bangkit berdiri.
Tidak ada air mata yang keluar. Atau mungkin lebih tepatnya belum. Ucapannya terdengar santai tanpa keraguan.
Hanya saja, di balik itu semua tersimpan sebuah duka yang mendalam dan perasaan campur aduk.
"Aku tidak berniat membunuh kekasihmu. Toh di awal sudah aku beri kesempatan untukmu kabur dengannya. Tapi kalian malah tidak mendengar ucapanku. Sedangkan terkait Wanita Berhati Batu, memang sebelumnya aku punya masalah dengan dia," jawab Cakra Buana santai.
Walaupun wanita yang kini di depannya adalah mantan kekasih, tetapi tidak terlihat kecanggungan dalam diri Cakra Buana.
Hal itu tentu saja karena mantan kekasihnya tersebut, kini telah jauh berubah.
Seseorang yang telah berubah, tentu akan memberikan pandangan berbeda di mata orang lain. Entah itu baik ataupun buruk. Tetapi perubahan baru, selalu memberikan pandangan baru pula.
__ADS_1
Seperti Ayu Pertiwi misalnya. Di mata Cakra Buana, wanita itu sudah sangat jauh berubah. Pandangan kepadanya juga ikut berubah. Yang tadinya baik, kini menjadi buruk.
Namun Cakra Buana mewajarkan. Dia tidak menyalahkan Ayu Pertiwi. Sebab setiap orang berhak melakukan apa yang dia mau. Walaupun hal itu akan berakibat buruk baginya.
Orang lain hanya bisa memberikan saran dan masukan tanpa menentukan.
"Alasan. Kenapa kau tidak membunuhku sekalian? Apakah kau sangat senang melihatku selalu menderita? Dulu, suami dan guruku juga tewas dalam sebuah pertarungan yang melibatkan dirimu. Dan sekarang, kenapa hal itu bisa terjadi kembali. Kenapa? Kenapa? Apakah aku tidak berhak untuk bahagia?"
Ayu Pertiwi mulai meneteskan air matanya. Terlihat bahwa gadis itu menyimpan duka yang mendalam dan beban yang berat.
Dia menatap nanar, matanya jauh memandang kepada kegelapan hutan.
"Semua itu sudah takdir. Andai kau tadi mendengarkan ucapanku, niscaya kekasihmu tidak akan terbunuh. Mungkin kini kau dengannya sudah berbahagia. Lagi pula, semua ini berawal dari kalian bertiga. Kalau kalian tidak berusaha mencabut Pedang Haus Darah, sudah pasti tidak akan kematian di malam ini,"
"Terkait bahagia, ucapan yang kau sebutkan barusan sangat salah. Banyak orang berpikir bahwa bahagia itu sangat sulit. Padahal sebenarnya tidak. Bahagia itu kau yang menciptkannya sendiri. Bahagia bukan dicari, tapi diciptakan. Begitu pun dengan duka. Apapun di dunia ini yang menimpa dirimu, sebenarnya itu semua berasal dari dirimu sendiri,"
"Kau tidak tahu perasaanku. Jadi kau mudah mengatakan itu,"
"Diam …" dia menjerit keras.
Ayu Pertiwi mulai menangis meraung-raung seperti seorang bocah kecil yang direbut mainannya.
Cakra Buana mendekat. Tetapi dia tidak mau menyentuhnya.
Kalau wanita sedang dalam posisi seperti Ayu Pertiwi sekarang, lebih baik kau diam dan jangan berani macam-macam.
"Apakah kau tahu bahwa apa yang kulakukan ini untuk mengubur rasa cintaku padamu? Apakah kau tahu bahwa aku jadi seperti ini hanya demi melupakanmu? Kau tidak tahu bukan? Semua ini gara-gara kau. Kau yang membuatku jadi seperti sekarang ini. Aku ingin membencimu sepenuhnya, tetapi tidak bisa," kata wanita itu dengan air mata yang mulai mengalir deras.
Cakra Buana terkejut mendengar penuturan mantan kekasihnya.
Dia ingin menjawab semua ucapan Ayu Pertiwi. Hanya saja, pemuda itu tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara.
__ADS_1
Kalau seorang wanita sedang melampiaskan seluruh perasaannya, kau harus diam. Jangan berkata sekalipun apa yang dia katakan itu salah. Cukup diam dan dengarkan apa yang dia ucapkan.
Ayu Pertiwi belum berhenti menangis. Dia masih meratapi nasibnya yang selalu dirundung kedukaan.
Melupakan cinta pertama, sama susahnya dengan menghapus sebuah kenangan bersama keluarga. Tidak akan bisa. Sebab cinta pertama, selalu mengajarkan hal indah yang sulit untuk dihapuskan.
Walaupun hanya sedikit atau sebentar, tetapi hal itu akan membekas selamanya.
"Sekarang aku hanya sebatang kara. Tidak ada lagi yang peduli kepadaku. Apa yang harus kau lakukan? Apakah kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang benar-benar kau sayangi?"
Cakra Buana tergetar. Ucapan Ayu Pertiwi barusan mengingatkan dirinya kepada orang-orang yang dia sayangi. Sahabat, keluarga, dan tentunya kekasih.
Ayu Pertiwi sangat salah orang kalau mengatakan hal itu kepada Cakra Buana. Justru beban dan duka yang dirasakan oleh pemuda itu jauh lebih besar dan mendalam. Hanya saja, dia tahu bagaimana cada untuk menghadapinya.
"Ayu, pergilah. Teruskan hidupmu dengan menjadi orang baik. Kalau kau memang masih mencintaiku, kembalilah ke jalan semula. Aku menyayangimu, tapi aku tidak bisa bersamamu," kata Cakra Buana tenang.
Ucapan yang penuh rasa percaya diri dan mengandung makna dalam. Dua orang yang masih saling menyayangi, tetapi tidak dapat bersatu karena keadaan yang sudah jauh berubah.
Bukankah hal itu sangat menyakitkan?
Dan rasa sakit itu yang kini dirasakan oleh Ayu Pertiwi.
"Baik, aku pergi," ucap wanita itu.
Suaranya hambar. Seperti sebuah masakan tanpa bumbu. Ekspresi wajahnya dingin. Bahkan seperti tidak menggambarkan perasaan apapun.
Sebelum Ayu Pertiwi pergi, Cakra Buana lebih dulu meninggalkan hutan itu.
Tetapi dia tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh seperti sebelumnya. Pemuda itu hanya berjalan dengan langkah ringan bersama perasaan tidak karuan.
Entah apa yang dia rasakan saat ini. Tidak ada yang dapat mengetahuinya secara pasti.
__ADS_1
Ketika Cakra Buana mulai jauh jaraknya, tiba-tiba dari arah belakang terlihat tiga sinar dengan warna berbeda membawa sebuah kekuatan hebat yang mengarah kepada dirinya.