
"Hemm, hebat, hebat. Pendekar muda sepertimu mampu mengalahkan mereka dengan mudah. Aku kagum kepadamu," kata Hantu Bertangan Enam memujinya.
Tapi Cakra Buana hanya diam saja. Matanya memandang ke sekelilingnya. Di mana puluhan pasukan Organisasi Tengkorak Maut kini sedang mengepung pemuda itu.
"Apakah masih ada lawan yang lain? Ototku masih kaku, lagi pula, sudah lama aku tidak membuat orang menjadi bubur," kata Cakra Buana penuh ejekan.
Hantu Bertangan Enam tentu mengerti maksud pendekar muda itu. Tanpa terasa dia menggertakkan giginya yang sudah sedikit ompong.
"Sombong sekali kau bocah," katanya sambil menuding.
"Mulut, mulut siapa? Yang bicara siapa? Kenapa kau malah marah-marah? Kalau tidak mau mendengar pembicaraanku, sumpel saja telingamu. Atau bungkam mulutku. Itu juga kalau kau mampu," ucapnya tertawa sambil memiringkan kepala.
Kakek tua itu bertambah geram. Seumur hidup, baru kali ini dia di ejek oleh seorang pendekar muda hingga demikian. Telinganya terasa panas. Bahkan wajahnya sudah memerah pula.
"Serang …" katanya memberikan perintah kepada anggota organisasi yang berjumlah kurang lebih lima puluh tersebut.
Senjata sudah di angkat. Orang-orang itu sudah berputar-putar, niatnya membuat Cakra Buana merasa pusing. Sayang, justru pemuda itu malah duduk bersila.
"Bocah, apa kau menyerah?" tanya Hantu Bertangan Enam.
"Aku menyerah? Hahaha, aku akan menyerah kepadamu kalau yang tuli bisa mendengar dan yang bisu dapat bicara. Kalau itu sudah terjadi, baru aku menyerah,"
"Bocah tolol. Sampai kapanpun hal itu tidak akan terjadi," bentaknya semakin marah.
"Ya sudah, kalau begitu, aku juga tidak akan menyerah kepadamu,"
"Lalu kenapa kau kau malah duduk bersila?"
"Hemm, melawan para tikus ini rasanya tidak perlu aku harus berdiri," ujarnya sombong.
"Keparat … serbu bocah tidak tahu di untung ini,"
Serempak lima puluhan orang itu sudah mulai memberikan serangan kepada Cakra Buana. Tapi sayangnya yang diserang masih duduk dengan santai.
Dia melakukan ini memang sengaja untuk memancing amarah lawan. Lagi pula, dengan kekuatannya yang sekarang, apa susahnya menghabisi nyawa puluhan orang seperti mereka yang tidak mempunyai dasar bela diri kokoh?
Begitu hujan serangan datang, Cakra Buana menggebrak tanah dengan kedua tangannya. Seketika bumi berguncang seperti dilanda gempa bumi. Satu persatu dari puluhan orang tersebut mulai kehilangan keseimbangan dsn terjatuh.
__ADS_1
Hanya dengan satu kali gebrak, lima belasan orang sudah memegangi beberapa bagian tubuh mereka yang terasa sakit karena terjatuh barusan.
Cakra Buana berdiri kembali. Kali ini wajahnya kembali serius.
"Jangan buang nyawa sia-sia. Lebih baik kau saja yang langsung menghadapiku," tantang Cakra Buana.
"Kau kira aku takut padamu?"
"Aku tidak mengira kau takut. Siapa juga yang bicara seperti itu?"
"Aku,"
"Ya sudah. Itu kau yang bicara, bukan aku," ujar pemuda itu polos.
Hantu Bertangan Enam tidak dapat lagi menahan rasa mangkel yang ada di benaknya. Kedua tangannya dia putar sehingga terkumpul tenaga dalam.
"Bocah edan. Bisa mati aku kalau terus bicara denganmu," katanya sambil maju menerjang.
"Matilah," timpal Cakra Buana.
"Bangsat … terima ini,"
Dua tangan kakek tua itu sudah sampai. Dia memberikan dua buah pukulan keras mengarah ke jantung dan kepala. Biasanya, pukulan seperti ini selalu berhasil karena mengincar dua titik berbeda dengan kecepatan tinggi.
Sayangya kali ini dia sedang mengalami nasib sial. Sial se-sial-sialnya. Beberapa kali menyerang, tetap saja serangannya hanya menemui ruang kosong. Beberapa kali menendang, tendangan itu juga sama. Hanya menendang angin.
Hantu Bertangan Enam sudah mengeluarkan beberapa jurus bahaya. Semakin lama, serangannya semakin tajam. Cakra Buana juga mengakui bahwa kakek tua ini memang memiliki kesaktian lumayan tinggi. Selain itu, gerakannya juga sangat cepat. Apalagi pukulan dua tangannya.
Julukan Hantu Hertangan Enam memang cocok untuknya. Kalau orang lain, belum tentu bisa menghindari semua serangan kakek tua itu. Tapi Cakra Buana bukanlah orang lain.
Memasuki jurus kedelapan, Hantu Bertangan Enam menambah lagi daya serang dan kecepatannya. Tapi lagi-lagi semua itu sia-sia.
"Kakek tua, lain kali sebelum bertarung lebih baik belajar memukul dan menendang dulu. Lihat caraku," kata Cakra Buana lalu memberikan serangan pertamanya setelah dari tadi hanya menangkis dan menghindar.
Sekali bergerak, bayangannya telah lenyap dari pandangan Hantu Bertangan Enam. Pemuda itu sudah berdiri di belakangnya lalu memberikan hantaman keras menggunakan telapak tangan kanan.
Sontak si Hantu Bertangan Enam merasakan tubuhnya panas. Hampir saja dia jatuh tersungkur. Belum lagi membalas serangan dan mendapatkan posisi, Cakra Buana sudah kembali bergerak.
__ADS_1
Gerakannya sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada Hantu Bertangan Enam sendiri. Sehingga dalam hatinya dia sendiri menjadi bingung.
'Yang mendapat julukan hantu sebenarnya aku atau bocah ini?' batinnya tak habis pikir.
Pertarungan mereka semakin berjalan dengan seru. Terlebih lagi si kakek tua itu merasakan kemarahan yang sudah memuncak. Bahkan terlihat kepalanya mengepulkan asap putih tipis.
Bagaimana tidak, pertarungan mereka sudah berjalan selama dua puluh jurus, tapi si pemuda itu bahkan tidak merasa terancam sama sekali. Jangankan terancam, serius pun tidak.
"Tetapi bagaimanapun juga, aku harus tetap bisa membunuh bocah edan ini," gumam Hantu Bertangan Enam.
Dia bertarung lebih serius lagi. Kedua tangannya berputar seperi baling-baling. Dia mulai bergerak. Gerakan yang sangat cepat dan mematikan. Tubuhnya berubah seperti asap yang bergerak ke sana kemari.
Pukulan pertama datang dari arah kanan. Cakra Buana segera menghindarinya. Tapi belum sempat pukulan itu mengenai tubuh, dari arah kirinya terasa kembali ada sambaran angin dingin.
Cakra Buana mulai sedikit bingung. Sebab ke mana pun dirinya menahan serangan, justru serangannya dapat berpindah tiba-tiba.
Hantu Bertangan Enam sudah mengeluarkan salah satu jurus pamungkasnya.
Hantu Tiga Bayangan.
Jurus yang jarang sekali dia keluarkan kecuali karena keadaan terdesak. Kalau sekarang dia mengeluarkan jurus tersebut, maka lawan yang dia hadapi tentu bukan main-main.
Ketika Cakra Buana merasa bingung, tiba-tiba saja dari depannya meluncur sebuah pukulan yang sangat cepat dan dahsyat. Pemuda itu menarik dirinya ke belakang.
Tapi sayangnya hal itu sebuah kesalahan patal. Sebab Hantu Bertangan Enam yang asli justru berada di belakangnya.
Maka ketika Pendekar Tanpa Nama ini mundur, tak ayal lagi sebuah pukulan telak menghajar pungungnya.
"Bukk …"
Cakra Buana hampir tersungkur akibat pukulan tersebut. Rasanya bukan main. Kalau di ibaratkan, mungkin pukulan itu lebih sakit daripada ditinggal kekasih. Tapi belum lebih sakit daripada ditinggal menikah.
Hantu Bertangan Enam mulai tertawa. Dia semakin gencar menggempur Cakra Buana dengan jurus lainnya selama pemuda itu belum siap.
Pukulan dan tendangan datang bagaikan badai di tengah malam. Suara pukulan menggelegar di telinga Cakra Buana. Tendangannya bersuit nyaring seperti teriakan seorang ibu memanggil anaknya yang bandel.
Kalau dia tidak melindungi telinganya, mungkin sudah daritadi darah mengalir dari telinga itu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Hantu Bertangan Enam mencecar Cakra Buana dengan perasaan bangga. Dia yakin dirinya akan menang.
Padahal sebenarnya, ini hanyalah awal dari sebuah pertarungan yang akan lebih hebat lagi.