
Bidadari Tak Bersayap turun kembali menjejak bumi dengan gerakan indah. Gemulainya wanita itu, kecantikan wajahnya, lekuk bentuk tubuhnya. Sungguh menggambarkan kesempurnaan yang sempurna.
Cakra Buana baru melihat wanita secantik ini setelah perginya Ling Zhi yang tidak akan pernah kembali lagi.
Bahkan beberapa bagian tubuh si Bidadari Tak Bersayap ada yang mirip Ling Zhi.
Cakra Buana berjalan mendekati gadis itu. Jantungnya berdebar kencang seperti sudah berlari sejauh ribuan tombak. Sosok Ling Zhi kembali terlintas di benaknya.
Dia melihat gadis itu sama seperti melihat Ling Zhi. Tanpa sadar, Cakra Buana tersenyum mesra kepada si gadis. Dia sendiri mungkin tidak tahu bahwa mulutnya melemparkan senyum yang dibalas oleh senyuman lembut pula.
"Ling Zhi …" kata Cakra Buana lirih.
Dia merasa perkataannya barusan sangat pelan. Tapi ternyata Bidadari Tak Bersayap justru mendengarkan perkataan itu.
"Siapa itu Ling Zhi? Aku bukan Ling Zhi. Aku Sinta Putri Wulansari," katanya sambil mengerutkan kening.
Bukan main malunya si Pendekar Tanpa Nama. Wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. Kalau ada tempat unruk bersembunyi, sudah pasti Cakra Buana akan memilih untuk menyembunyikan dirinya. Kalau ada danau di pinggirnya, mungkin dia sudah meloncat ke danau untuk menenggelamkan diri karena tidak tahan saking malunya.
Pria yang melakukan kesalahan seperti ini walaupun dia tidak sadar, sudah pasti merupakan pria bodoh. Bahkan mungkin kurang ajar. Bagaimana bisa Cakra Buana memanggil nama perempuan lain di depan bidadari seperti yang kini di hadapannya?
Tidak ada yang tahu alasan jelasnya. Tapi yang pasti, cintanya kepada Ling Zhi sudah mendarah daging. Walaupun seribu wanita dia miliki, nama Ling Zhi akan tetap berada di urutan pertama di hatinya.
Pria kalau sudah benar-benar mencintai wanita, maka dia tidak lagi main-main. Wanita perlu tahu ini.
Sebenarnya wajar bila Cakra Buana menyebut nama kekasihnya yang sudah tiada seperti barusan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, sosok Bidadari Tak Bersayap ini mempunyai beberapa kemiripan dengan Ling Zhi.
"Ma-maaf. Maksudku Sinta. Terimakasih karena kau sudah menolongku," kata Cakra Buana sambil berusaha melawan rasa malunya.
"Tidak perlu sungkan kakang. Aku senang membantu orang," jawab si gadis dengan suara lembut. Lembut sekali.
Kakang?
Apakah dia tidak bermimpi? Apakah yang didengar oleh telinganya barusan merupakan kenyataan? Gadis itu memanggilnya kakang?
Kalau dia tidak punya rasa malu dan tidak sadar akan posisi serta siapa dirinya, sudah pasti Cakra Buana akan melompat saking girangnya. Bahkan mungkin bisa saja dia bergulingan di tanah.
Di panggil kakang oleh seorang gadis yang cantiknya bagaikan bidadari dan jarang ada tandingan di dunia, bahkan baru pertama kali berjumpa, siapa yang tidak senang? Siapapun akan senang. Orang buta juga mungkin akan mendadak dapat melihat.
"Ba-baiklah. Sekali lagi te-terimakasih," kata Cakra Buana.
__ADS_1
Dia gugup. Gugup segugugup-gugupnya. Bahkan kalau di ibaratkan bertarung melawan tokoh kelas atas, kegugupannya masih kalah dibandingkan saat ini.
Keringat dingin mulai membasahi punggung Cakra Buana. Bahkan mulai menetes dari keningnya.
"Kenapa kau berkeringat? Apakah lelah?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil memperhatikan Cakra Buana.
"Ti-tidak,"
"Lalu kenapa?"
"Aku … aku gerogi," ucap Cakra Buana dengan polos biadab.
Seseorang yang sedang gerogi memang terkadang tidak mampu mengendalikan mulutnya.
"Aish, hihihi. Memangnya gerogi kenapa? Aku kan bukan Puteri Kerajaan," kata si gadis sambil tertawa memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi.
"Kau memang bukan Puteri Kerajaan. Tapi kau seorang bidadari tanpa sayap. Julukan itu memang sangat cocok untukmu. Siapa yang tidak akan gerogi saat dia berhadapan dengan sosok bidadari?" Cakra Buana berkata, dan tiba-tiba ucapannya menjadi lancar.
Entah dari mana datangnya nyali sebesar itu sehingga dia jadi berkata lancar. Cakra Buana memang jarang memberikan rayuan, tapi sekalinya merayu wanita, maka luluh lah hatinya.
Kini bergantian, giliran Bidadari Tak Bersayap yang mukanya merah seperti kepiting rebus. Dia memang sering mendapatkan rayuan dari setiap pria jenis apapun.
"Aku bicara apa adanya," kata Cakra Buana.
"I-iya. Terimakasih. Tapi, kau belajar dari mana sehingga mendadak pintar merayu?" tanya Bidadari Tak Bersayap.
"Dari penulis," jawab Cakra Buana spontan.
Tentu saja si penulis marah. Namun dia tidak berani untuk bertindak, karena kalau bertindak, kisah ini akan selesai sekarang.
"Aih, kau ini bisa saja," ucap gadis itu.
"Kemana tujuanmu?" tanya Cakra Buana.
"Entah, aku sendiri tidak tahu,"
"Hemm, bagaimana kalau kita bicara di rumah makan? Mungkin masih ada yang buka," usul Pendekar Tanpa Nama.
"Boleh, kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan,"
__ADS_1
Cakra Buana mengangguk. Dia mencoba untuk tetap tenang walau dalam hatinya menjerit kegirangan.
Keduanya segera pergi dari sana meninggalkan sepuluh pendekar kelas bawah dan sepuluh mayat manusia.
Setelah beberapa saat mencari tempat, akhirnya Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap berhasil menemukan rumah makan yang masih buka. Biasanya, rumah makan yang masih buka saat tengah malam begini selalu menyediakan arak ataupun tuak.
Dan memang demikian, rumah makan tersebut menyediakan minuman yang sangat digemari kalangan para pendekar itu.
Cakra Buana segera mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Si gadis tepat duduk di hadapannya.
Walaupun sudah tengah malam, ternyata masih ada juga beberapa pengunjung. Mereka pun sama sedang minum arak. Apalagi di kala musim dingin seperti ini. Sambil menunggu pesanan makanan dan arak, kedua muda-mudi itu mulai berbagi cerita tentang pengalamannya masing-masing.
"Kenapa kau bertarung dengan enam tokoh tadi? Apakah ada masalah?" tanya Bidadari Tak Bersayap.
Awalnya Pendekar Tanpa Nama ingin berbohong. Sayang, mulutnya tidak sanggup untuk mengeluarkan kata dusta di hadapan gadis secantik dirinya.
"Benar. Seseorang sudah memfitnahku. Aku di fitnah membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya, sehingga pihak Perguruan Tunggal Sadewo membuat sayembara untuk membunuhku," kata Cakra Buana menjelaskan secara singkat.
Cakra Buana menyangka bahwa gadis itu akan kaget, tetapi nyatanya tidak.
"Oh, jadi orang yang sedang dicari-cari itu adalah dirimu?"
"Benar. Apakah kau sudah mendengar tentang berita ini?"
"Tentu saja. Bahkan aku sempat membacanya sendiri. Ternyata pendekar yang mereka cari adalah kau,"
"Benar. Memang aku orangnya. Apakah kau percaya dengan kabar miring itu?"
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kalau boleh tahu, kenapa alasannya?"
"Karena aku yakin bahwa kau adalah orang baik-baik. Dan lagi, wajahmu tidak menggambarkan kejahatan,"
Bukan main girangnya hati Cakra Buana. Andai giginya kuat, mungkin dia akan menggerogoti meja yang ada di hadapannya karena saking merasa girang.
Entah kenapa, saat gadis itu mengatakan tidak percaya akan berita yang tersebar, ada perasaan gembira lain di dalam hati Cakra Buana.
Tidak ada yang tahu pasti perasaan apa itu selain dirinya sendiri.
__ADS_1