Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Mayat di Dalam Kamar


__ADS_3

Pertarungan tingkat kelas atas selesai. Tiga pendekar yang di kenal sebagai sebagai tokoh tua di Tanah Jawa, khususnya di dunia persilatan, kini telah tewas.


Dua di bunuh oleh seorang pendekar muda bernama Cakra Buana. Sedangkan satu lagi tewas di bunuh oleh Pendekar Pedang Kesetanan.


Tidak ada lagi pertarungan dahsyat. Semua bentakan nyaring dan jurus hebat, kini lenyap tanpa bekas.


Yang ada hanyalah sisa pertarungan mereka yang sempat menghancurkan apa saja. Beberapa pohon tumbang akibat terkena jurus salah sasaran. Sebagian lagi daunnya rontok karena tidak kuasa menahan hawa dari jurus yang dikeluarkan para pendekar tersebut.


Cakra Buana masih termenung sambil memandangi dua pendekar yang berhasil dia bunuh. Pemuda itu menatap kedua mayat dengan tatapan tidak percaya.


Dia sangat kaget karena kedahsyatan jurus terakhir tadi. Pendekar Tanpa Nama tidak menyangka sama sekali bahwa jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang mampu membunuh dua tokoh kelas atas sekaligus.


Di tengah kekagetan tersebut, Cakra Buana juga merasa sangat senang. Karena dengan begitu, dia menjadi yakin dan percaya diri mampu menghadapi semua pendekar yang mungkin kemampuannya lebih tinggi dari si Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari.


Kelak jika bertemu dengan Empat Dewa Sesat, Cakra Buana yakin bahwa dia mampu menghadapinya. Meskipun belum ada jaminan untuk menang, tapi setidaknya dia sudah mempunyai rasa percaya diri.


Saat sedang memikirkan berbagai macam hal, tiba-tiba saja Giwangkara Baruga atau Pendekar Pedang Kesetanan menghampirinya.


"Kau hebat. Kau bisa mengalahkan mereka sekaligus," puji orang tua itu tulus.


"Terimakasih paman. Ini semua karena bantuan paman sudah mempercayai aku," balas Cakra Buana sambil tersenyum.


Pendekar Pedang Kesetanan membalas senyuman pemuda itu. Rasa kagumnya kepada Cakra Buana menjadi bertambah. Entah kenapa, dia sangat salut kepada pendekar muda yang kini menjadi sahabatnya itu.


Setelah berbicara beberapa saat, akhirnya Cakra Buana memutuskan untuk kembali ke penginapan sambil mengajak pula Pendekar Pedang Kesetanan, sahabat barunya.


Namun sebelum itu, keduanya terlebih dahulu mengubur tiga mayat tadi. Hanya dengan beberapa saat saja, tiga lubang sudah terbuat dan mereka segera memasukan semua mayat.


Cakra Buana dan Giwangkara Baruga tidak menyadari bahwa di jarak yang cukup jauh, ada beberapa pasang mata yang dari awal sudah melihat bagaimana dahsyatnya pertarungan mereka.

__ADS_1


Setelah menempuh jarak beberapa saat, keduanya sudah sampai di penginapan. Cakra Buana segera memesan kamar untuk Pendekar Pedang Kesetanan.


Sedangkan dia sendiri langsung pergi ke kamar yang sudah dia tiduri sebelumnya.


Begitu sampai di kamar, rasa kaget segera merasuki tubuhnya. Dengan tatapan percaya dan tidak percaya, Cakra Buana menyaksikan kejadian yang kini dia lihat di depannya.


Di pembaringan, ada satu mayat pria berusia sekitar dua puluh tahunan. Tubuhnya bersimbah darah. Wajahnya masih terlihat tampan walaupun penuh darah yang mulai mengering.


Yang lebih membuatnya kaget adalah hilangnya Ratih Kencana. Pemuda itu tidak tahu ke mana perginya si gadis. Padahal sebelum dia mengejar dua orang tadi, Ratih Kencana belum bisa melakukan apa-apa karena memang Cakra Buana menutup jalan tenaga dalamnya.


Dan dia sendiri yakin bahwa gadis itu tidak mampu membukanya.


Mungkinkah ada yang menolongnya karena melihat ada mayat pemuda?


Cakra Buana tidak bisa menyimpulkan. Dia buru-buru kembali ke bawah lalu mencari Giwangkara Baruga untuk memberitahu sesuatu yang tengah di alaminya.


"Paman, sesuatu telah terjadi," kata Cakra Buana, wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang jelas.


"Apa maksudmu anak muda?" tanyanya.


"Panggil saja aku Cakra," katanya supaya orang tua itu tidak selalu memanggilnya dengan sebutan anak muda. Setelah Pendekar Pedang Kesetanan mengangguk, Cakra Buana kembali melanjutkan, "Sebelum aku pergi ke dalam hutan, di kamarku terdapat seorang gadis yang berusaha membunuhku. Sayangnya dia gagal. Setelah itu aku menutup semua jalur tenaga dalamnya sehingga dia sendiri tidak bisa membebaskannya. Sebelum aku pergi mengejar ke dalam hutan, jalan darah gadis itu belum aku buka. Tetapi anehnya kini dia menghilang tanpa jejak. Di tambah lagi ada mayat pemuda di kamarku yang bersimbah darah," kata Cakra Buana menjelaskan kejadian secara singkat.


Mendengar pernyataan Cakra Buana, Giwangkara Baruga kaget, dia meminta untuk di bwa ke kamarnya. Setelah mengiyakan, keduanya segera naik ke atas dan memasuki kamar Cakra Buana.


"Itu mayatnya paman," ucap Cakra Buana sambil menunjuk mayat tersebut.


Orang tua itu mengangguk. Dia segera mendekati sosok tanpa nyawa itu lalu memeriksa keadaannya. Setelah mengetahui wajahnya dengan pasti, kekagetan kembali tergambar jelas. Kali ini giliran Pendekar Pedang Kesetanan yang mengalaminya.


"Tuan Muda Margono Tanuwijaya," desis Pendekar Pedang Kesetanan serius.

__ADS_1


"Siapa dia, paman?"


"Anak tunggal dari maha guru perguruan terbesar di Tanah Jawa ini. Ayahnya bernama Santeno Tanuwijaya, maha guru Perguruan Tunggal Sadewo," ucap Giwangkara.


"Hemm, pasti ada sesuatu yang sudah terjadi," gumam Cakra Buana sambil menerka apa sebenarnya atas kejadian semua ini.


Dia belum mampu menebaknya dengan jelas. Selain Cakra Buana masih kurang pengalaman, dia juga masih merasa hijau di Tanah Jawa ini. Banyak hal yang masih belum dia ketahui secara pasti.


Sementara itu, Giwangkara Baruga tidak mendengarkan gumaman Cakra Buana barusan. Orang tua itu sibuk memeriksa keadaan kamar dan semuanya. Berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan sebuah petunjuk.


"Seseorang telah menyelamatkan gadis yang kau maksud. Kemungkinan mereka tiga orang, termasuk korban. Sepertinya meraka memang satu kelompok, hanya saja entah apa alasannya mereka membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya," kata Pendekar Pedang Kesetanan.


Dia kembali mencari petunjuk untuk sedikit memperjelas masalah ini.


"Hantu Tanpa Wajah. Manusia Pasir Besi Panas," kembali dia berdesis sambil mengerutkan kening.


Dia adalah tokoh tua. Seorang pendekar pedang ternama. Tentu saja pengalamannya dalam dunia persilatan sudah sangat jauh lebih matang daripada Cakra Buana. Bahkan dia sudah mengetahui karakter orang-orang rimba hijau.


"Siapa mereka itu paman?" tanya Cakra Buana.


"Dua tokoh tua di dunia persilatan Tanah Jawa. Kalau mereka sudah muncul, sudah pasti masalah akan segera terjadi. Sepertinya mereka ingin memiftnahmu. Dengan cara membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya di kamarmu ini, mereka bisa menyebarkan informasi dalam sekejap mata,"


"Maksud paman?" tanya Cakra Buana sambil mengerutkan kening.


"Mereka ingin membunuhmu lewat tangan orang lain. Dengan cara menyebarkan informasi bahwa Tuan Muda Margono Tanuwijaya ditemukan tewas di tanganmu, maka sudah pasti banyak pendekar yang akan mencarimu,"


"Bagaimana mereka akan percaya? Bukankah tidak ada saksi mata?"


"Tentu saja bisa dipercaya. Apalagi yang bicaranya merupakan tokoh terkenal dan gadis cantik. Siapa pula yang akan meragukan perkataan dia? Apalagi kalau mereka sampai membawa bukti yang dibuat-buat," ucap Pendekar Pedang Kesetanan.

__ADS_1


__ADS_2