Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Meraga Sukma


__ADS_3

Semua pendekar mengangguk setuju. Tak bisa di pungkiri, orang-orang itu memuji kepintaran Gagak Bodas. Sangat jarang sekali ada orang secerdas dirinya.


Setelah selesai menjelaskan rencananya, Gagak Bodas segera kembali lagi ke tempatnya semula. Prabu Katapangan bangkit berdiri lalu berbicara sebentar untuk menutup acara tersebut.


Sore hari, acara itu benar-benar selesai. Sebelum pergi dari istana, mereka kembali mengadakan makan bersama. Setelah itu, masing-masing dari pendekar diberikan sedikit bekal oleh Prabu Katapangan. Setidaknya bekal untuk makan mereka.


Ratusan pendekar itu pun segera membubarkan diri. Dari jauh, tampak seperti gerombolan banteng.


Begitu keluar dari gerbang Istana Kerajaan, dua ratus lima puluh lebih pendekar tersebut langsung berpencar ke segala arah. Instruksi yang diperintahkan oleh Gagak Bodas, langsung mereka laksanakan hari itu juga.


Mereka tahu, kalau bukan sekarang, maka kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi. Oleh sebab itu, para pendekar tersebut tidak mau menunda-nunda lagi.


Perang besar tidak bisa terhindarkan lagi. Dua kerajaan saudara sebentar lagi akan bertemu di medan perang demi untuk mencapai tujuannya masing-masing.


Yang satu untuk mempertahankan kekuasaan. Yang satu untuk mencapai kesejahteraan.


Manusia … manusia.


###


Hari sudah pagi lagi, situasi Kerajaan Kawasenan sangat berbeda seperti hari-hari biasa. Saat ini di ruangan utama kerajaan, telah berkumpul tiga puluhan pendekar kelas pilih tanding. Mereka itu sebagian pendekar yang bekerja untuk Kerajaan Kawasenan.


Telik sandi yang kemarin mendapatkan tugas untuk meminta bantuan kepada para pendekar, sudah datang memberikan laporan. Ia menyebut bahwa pertemuan akan di adakan nanti malam.


Pertemuan itu akan berlangsung di halaman utama Kerajaan Kawasenan. Oleh sebab itulah berbagai persiapan mulai di persiapkan untuk jamunan nanti malam. Menurut telik sandi tersebut, para pendekar yang akan hadir nantinya tak kurang dari tiga ratus orang.


Para pendekar ini berasal dari berbagai daerah. Bahkan seperti yang diceritakan sebelumnya, tak sedikit juga di antara mereka ada yang berasal dari Tanah Jawa.


Entah memang mereka murni niat membantu, atau di iming-iming imbalan. Atau juga karena ingin mencari keberadaan Pedang Pusaka Dewa. Mengingat pedang pusaka itu sangat menggetarkan dunia persilatan bahkan sampai saat ini.


Tak sedikit dari mereka yang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk sebuah pedang pusaka.


###

__ADS_1


Hari sudah malam. Di halaman Kerajaan Kawasenan telah berkumpul ratusan orang pendekar. Mereka sedang berdiri mendengarkan Prabu Ajiraga bicara.


Raja itu membicarakan tentang niat dan lain sebagainya di hadapan ratusan pendekar. Tak lupa juga dia menambahkan 'bumbu-bumbu' terhadap semua ucapannya supaya terasa lebih enak. Mengingat raja itu merupakan 'koki' yang handal.


Menjelang tengah malam, pertemuan besar itu selesai. Mereka segera membubarkan dirinya masing-masing. Entah ke mana, yang jelas suasana di halaman menjadi sepi bagaikan sebuah kuburan.


Di sebuah jalanan hutan yang sepi, sepuluh orang pendekar berpakaian serba hitam sedang berjalan di bawah gelapnya malam. Karena suasana gelap, maka keberadaan mereka kadang-kadang tidak terlihat dengan jelas.


Tapi semua itu tak mengurangi ketajaman sepasang mata yang sedang mengintai di balik batang pohon besar.


Orang itu sudah berada di sana sejak tadi. Dia sengaja menunggu kedatangan para pendekar ini. Di lihat dari tenangnya, jelas bahwa dia berilmu sangat tinggi.


Pakaannya serba putih. Dalam kegelapan matanya mencorong tajam seperti mata seekor harimau buas. Rambutnya sebahu dengan wajah yang tampan dan gagah walaupun tertutup sebuah topeng kayu berukir. Di punggungnya, tersoren sebatang pedang yang di bungkus kain putih.


Cakra Buana!


Orang itu memang dia, si Pendekar Maung Kulon. Kalau bukan dia, siapa lagi?


Pada umumnya ilmu meraga sukma memang hanya bisa digunakan untuk bertarung atau melakukan perjalanan ghaib saja. Jarang ada yang bisa melakukannya seperti nyata, namun bukan berarti tidak ada yang bisa.


Bagi mereka para pendekar yang sudah mencapai kelas pilih tanding ke atas, dia bisa meraga sukma seperti melakukan perjalanan nyata. Hanya saja, hal ini sangat beresiko. Bahkan tak jarang bisa berujung maut jika benteng pendekar tersebut kurang kokoh.


Andai kata dia menemukan lawan yang lebih tinggi ilmunya, maka di pastikan sukmanya akan tewas berbarengan dengan raganya.


Karena alasan itulah jarang ada yang menggunakan hal seperti ini. Tidak ada yang mau mengambil resiko setinggi itu, kecuali Cakra Buana.


Akan tetapi dia juga tahu diri, Cakra Buana mencari lawan yang ilmunya jauh di bawah dirinya sendiri. Sehingga dia bisa mengurangi semua resiko.


Saat ini dia masih terus mengawasi sepuluh orang tersebut. Begitu jaraknya sudah dekat, Cakra Buana tiba-tiba melompat keluar dari tempat persembunyiannya.


Hal itu membuat sepuluh pendekar terkejut. Buru-buru mereka membentuk sebuah lingkaran dan mengurung Cakra Buana dengan ketat.


Hawa pembunuhan langsung terasa kental di sana. Mata orang-orang itu menatap penuh kebencian. Pakaian hitam, di hutan, di bawah malam yang gelap. Mereka terlihat persis seperti iblis.

__ADS_1


"Siapa kau?" tanya mereka kepada Cakra Buana.


"Aku? Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawa kalian …" katanya lalu melakukan persiapan untuk bertarung.


Amarah sepuluh pendekar itu seketika meledak setelah mendengar perkataan Cakra Buana. Tanpa banyak kata lagi, serempak mereka maju menyerang.


Masing-masing senjatanya langsung di keluarkan. Kilatan batang golok dan pedang berkilat terkena sinar rembulan. Angin dingin menyapu area sekitar. Sepuluh orang berkelebat secara cepat dan teratur.


Sepuluh serangan datang bersamaan bagaikan badai. Cakra Buana terkepung di bawah sinar-sinar senjata tajam itu. Tapi dengan tenang dia menghadapi semuanya.


Tubuhnya bergerak melayang ke belakang dengan ilmu meringankan tubuh. Begitu terlepas dari kurungan senjata, kakinya bergerak kembali. Ia berputar mengelilingi semua lawan, tangannya mencengkeram dan memukul ke berbagai titik berbahaya pada tubuh lawan.


Gerakannya ringan. Di bawah kegelapan, baju putihnya tampak mengeluarkan cahaya. Ia bagaikan roh halus. Tubuhnya melesat ke sana kemari dengan enteng. Setiap kali bergerak, tangannya pasti mengenai sasaran.


Pertarungan baru berjalan sebentar. Tapi sepuluh pendekar itu tak mampu berbuat apa-apa. Seolah mereka benar-benar sedang bertarung melawan roh halus. Serangan menggunakan senjata, seolah menembus tubuh lawan. Sama sekali tidak berefek.


Keringat dingin mulai menetes dari alis matanya turun ke tanah. Tubuh mereka bergetar. Rasanya baru kali ini menemukan lawan yang lihai seperti sekarang.


Sepuluh jurus sudah berlalu. Cakra Buana semakin berada di atas angin. Dia seperti dewa, tubuhnya melayang lalu turun dengan indah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun bagaikan sebuah kapas.


Pertarungan semakin berjalan seru. Dentingan logam beradu terus terdengar, tapi bukan beradu dengan lawan. Melainkan dengan rekan mereka sendiri.


Detik berikutnya, Cakra Buana mengambil tindakan kejam. Kedua tangannya di aliri tenaga dalam besar, setelah terkumpul, dia menghentakkannya mengarah kepada sepuluh pendekar tersebut.


"Wushh …"


"Blarrr …"


Ledakan kecil terdengar. Sekali serangan maut, mereka langsung tewas.


Sebenarnya sepuluh pendekar itu mempunyai kekuatan yang lumayan. Hanya saja, semua itu masih tidak cukup untuk menyaingi Pendekar Maung Kulon.


Setelah lawan tewas, Cakra Buana segera kembali lagi ke tempat asalnya. Tubuhnya mendadak lenyap dari hutan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2