
Pedang Bunga di tangan Ling Zhi sudah mengeluarkan cahaya merah muda menyilaukan. Dalam cahaya tersebut ada sebuah tekanan besar yang menghambat gerakan keempat pendekar.
Ujung Pedang Bunga bergetar. Batang pedang berkilat terkena sinar matahari, Ling Zhi memainkan Pedang Bunga. Dia menusukkan pedang tersebut ke satu lawannya mengincar ulu hati. Tapi sebelum mengenai sasaran, dia telah mengubah jurusnya kembali.
Pedang Bunga di sabetkan dari bawah ke atas dengan gerakan kilat. Setiap gerakannya mengandung berat satu gunung. Lawan yang Ling Zhi tuju kewalahan menahan gempuran serangan tersebut.
Tiga rekannya datang membantu dengan serangannya masing-masing. Senjata tajam berkilat menghunjam tubuh Ling Zhi. Tapi dengan gerakan indah, wanita itu telah lolos dari hunjaman senjata tajam.
Tubuhnya mencelat ke atas lalu turun menukik sambil terus mmainkan Pedang Bunga. Dengan jurus Turun Membabat Rumput, Ling Zhi menggempur keempat pendekar tersebut hingga dia menguasai kembali pertarungan.
Keempat pendekar semakin marah karena semua serangan mereka gagal. Keempatnya lalu membentak nyaring untuk kemudian melancarkan jurus dahsyatnya.
Empat senjata melesat menuju ke beberapa titik pada tubuh Ling Zhi. Gerakannya sangat cepat, bahkan setiap serangan tersebut mengandung hawa yang berbeda-beda.
Untuk sesaat Ling Zhi terpaku. Tapi itu tak lama, karena detik berikutnya, Bidadari Penebar Maut sudah berteriak nyaring lalu memainkan jurus pedangnya lagi.
Lima senjata pusaka berbenturan memercikan bunga api. Di bawah terik matahari, pertarungan berat sebelah ini berlangsung sangat seru. Andai ada orang yang bisa menyaksikan dengan tenang, mungkin mereka tidak akan berkedip karena takut kehilangan kesempatan satu jurus.
Dua pihak sama-sama tegang. Jurus dahsyat yang mereka miliki sudah keluar, tapi sayangnya masing-masing pihak bisa menahan serangan itu.
Pendekar tua yang tadi ditebas pergelangan tangannya oleh Ling Zhi, tiba-tiba melompat ke pertarungan. Niatnya memukulkan tongkat tepat di atas kepala wanita berdarah blasteran itu.
Sayang, niat tersebut kembali harus gagal karena tiba-tiba, Ling Zhi berputar seperti angin topan. Tubuhnya terbungkus oleh sinar pedang. Semua senjata lawan hampir terpental terkena sabetannya.
Begitu Pedang Bunga dekat dengan si pendekar tua, Ling Zhi langsung menebas keras lehernya.
"Crashh …"
"Keukkh …" suara tertahan terdengar keluar dari leher pendekar tua tersebut sebelum akhirnya kepala itu menggelinding jatuh ke tanah. Tubuhnya seketika ambruk dan darah menyembur ke segala sisi.
Empat rekannya terpaku menatap kematian pendekar tua itu. Untuk beberapa saat mereka tidak berani menatap wajah Ling Zhi.
__ADS_1
Keempat pendekar tersebut tidak habis pikir kenapa ada seorang pendekar wanita yang cantik bagai bidadari, tapi memiliki sifat kejam seperti iblis.
"Wanita iblis. Kubunuh kau …" teriak seorang pendekar yang kini sudah menghunuskan golok panjangnya.
Dia langsung melompat ke depan sambil mengayunkan golol tersebut. Gerakannya lincah seperti seekor serigala menerkam mangsanya.
Ling Zhi hanya tersenyum dingin. Amarahnya sudah naik ke puncak tertinggi. Wajah cantiknya lenyap saat itu juga. Sebenarnya bagi Ling Zhi, ini adalah pertarungan paling sengit selama dirinya mengembara di dunia persilatan.
Oleh sebab itu, sekarang Ling Zhi tidak mau lagi banyak bicara. Sekali menjejakkan kaki, tubuhnya sudah mencelat menahan serangan.
"Trangg …" dua senjata berbenturan.
Tidak cukup sampai di situ, Ling Zhi langsung meneruskan dengan jurus maut yang dia miliki. Ketiga pendekar lainnya segera turun tangan, pertarungan berjalan lebih seru lagi. Tapi sayangnya mereka terlambat satu langkah, mereka menyia-nyiakan kesempatan emas.
Pedang Bunga kembali mengusai pertarungan. Sinar merah mudanya menebarkan kematian. Dalam dua puluh jurus berikutnya, empat pendekar tersebut semuanya telah tewas di tangan Bidadari Penebar Maut.
Luka-luka di sekujur tubuh Ling Zhi nampak cukup banyak. Tapi wanita itu tidak memperdulikannya, sebab itu hanya luka ringan. Hanya kini, wajahnya lebih seram daripada setan. Noda darah yang mulai kering ada di sekujur tubuhnya.
Di penjuru lain, Raden Kalacakra Mangkubumi juga sedang bertarung sengit melawan tiga lawannya. Tiga pendekar itu bukanlah musuh yang enteng. Sebab kekuatan mereka sudah sekelas pendekar pilih tanding.
Ketiganya merupakan pendekar dari Tanah Jawa yang memihak kepada Kerajaan Kawasenan. Dua pria, satu lagi wanita tua dengan badannya yang sedikit bungkuk.
Pertarungan keempat pendekar tersebut sudah berjalan selama lima puluh jurus. Kedua belah pihak sama-sama kuat. Terutama ketiga lawannya, mereka sungguh terkejut saat mengetahui kekuatan Raden Kalacakra Mangkubumi yang mampu mengimbangi kekuatan gabungannya.
Anak sang raja itu bertarung bagaikan singa yang terluka. Gempuran serangannya bagaikan badai di laut lepas. Setiap serangannya mampu menerbangkan gunung. Kekuatannya hebat bukan main.
Walaupun dirinya bertarung menggunakan tangan kosong, tapi sedikit pun hatinya tidak gentar. Justru dia semakin bersemangat. Sebab dengan begini, dia bisa tahu sampai di mana kemampuannya.
Gempuran tiga senjata pusaka mengurunng dirinya. Sinar kematian terus mengejar ke mana pun dia bergerak. Dengan tekad yang kuat, Raden Kalacakra membentak nyaring. Dia tidak berusaha menghindar, justru sebaliknya, pemuda tampan itu malah maju menangkis semua serangan lawan.
Jurus Dua Naga Menggempur Lawan sudah dia kerahkan. Sinar hijau terus keluar dari telapak tangannya. Sinar itu bergulung-gulung seperti dua ekor naga yang mengamuk.
__ADS_1
Suara bergemuruh seperti guntur mengiringi setiap hentakkan tangannya. Sinar hijau perlahan mulai mendominasi pertarungan, tubuh Raden Kalacakra mulai terlihat. Pemuda itu sedang menahan hujan serangan.
Kaki tangannya bergerak lincah ke sana kemari. Serangannya sendiri semakin dahsyat. Ketiga lawan yang ternyata sudah berumur, tampak kaget melihat sepak terbang anak muda ini. Tidak disangka hari ini mereka akan mengalami kejadian memalukan.
"Hari ini kalau bukan aku yang tewas, berarti kalian yang harus ******," teriak Raden Kalacakra lalu meningkatkan kekuatan serangannya.
Dia kembali mengirimkan serangannya. Kali ini pemuda tampan itu berubah menjadi satu sosok bayangan. Ketiga pendekar menjadi kesalahan sebab tidak bisa melihat gerakan Raden Kalacakra dengan jelas.
Terkadang benturan keras terdengar, tapi bukan benturan dengan anak sang raja itu, melainkan benturan senjata dengan rekannya sendiri. Dua puluh jurus berikutnya, Raden Kalacakra sudah berhasil menewaskan satu orang di antara ketiganya. Yaitu si nenek tua.
Kali ini tinggal dua orang, walaupun begitu, dia tetap harus berhati-hati sebab merekalah yang terkuat.
Dua sinar pedang melesat ke arahnya mengincar beberapa titik penting. Raden Kalacakra menghindari tusukan dan sabetan itu dengan cara berjungkir balik ke belakang. Dua senjata tersebut terus menyerangnya.
Tapi dia cerdik, begitu melihat satu kesempatan, tubuhnya naik tinggi ke udara. Beprutar dua kali lalu kembali melancarkan jurus Dua Naga Menggempur Lawan.
"Blarr …"
"Blarr …"
Dua kali sinar hijau sebesar paha orang dewasa meluncur derah menyambar lawan. Dua kali pula ledaka terdengar. Begitu debu perlahan menghilang dan Raden Kalacakra sudah mendarat, terlihat lawannya sedang berlutut menahan getaran pada tubuh mereka.
Dua buah pusakanya patah. Organ dalam mereka terguncang dan aliran tenaga dalam menjadi tidak karuan. Akibatnya, tubuh dua pendekar tersebut bergetar hebat. Raden Kalacakra tidak mau melewatkan kesempatan emas ini.
Dia menarik kedua tangannya ke belakang, lalu di hentakkan ke depan sekuat tenaga.
"Haaa …"
"Blarrr …"
Ledakan terdengar lagi. Kain pakaian musuh terlontar koyak ke segala arah. Sedangkan pemiliknya, sudah tewas dengan kondisi tubuh gosong.
__ADS_1