Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kebahagiaan Jalak Putih dan Gagak Bodas


__ADS_3

Jalak Putih dan Gagak Bodas sudah berdiri sejajar lagi. Senjata mereka sudah kembali kepada tempatnya. Namun tatapan mata Gagak Bodas, masih setajam pedangnya. Dan tatapan mata Jalak Putih, masih setajam ujung kipas mautnya.


Keempat lawan dalam kondisi kesakitan. Paling parah si Pelempar Maut. Dia hampir saja kehabisan darah karena luka di perutnya besar dan agak dalam. Gagak Putih lalu melemparkan sebuah serbuk obat kepadanya.


"Minum serbuk obat itu supaya darahmu tidak keluar lagi," katanya dengan tegas.


Tanpa bicara dua kali, Pelempar Maut lalu mengambil serbuk. Dengan susah payah ia menelannya tanpa menggunakan air. Tapi akhirnya tertelan juga. Tanpa menunggu lama, luka yang menganga lebar dan terus-menerus mengeluarkan darah itu, seketika langsung berhenti.


Keempat pendekar langsung berdiri walaupun susah payah. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka kecuali rintihan pelan rasa sakit akibat menderita luka. Terlebih lagi dia si Bagas Sora. Karena tangan kiri pemuda itu buntung sebatas sikut sehingga terus mengucurkan darah dan belum diberikan obat.


Tiba-tiba Jalak Putih menggerakan jari telunjuknya lalu di arahkan ke tangan kiri Bagas Sora. Ada sekelebat cahaya putih yang menyambar tepat di lukanya. Seketika, luka tertutup rapat dan darah berhenti mengalir.


"Segeralah pergi dari sini. Aku ampuni nyawa kalian untuk saat ini. Tapi jika di lain waktu bertemu dan kalian mencari gara-gara di depan kami, maka kami tidak menjamin apakah kalian masih bisa melihat dunia atau tidak," ucap Gagak Bodas. Ucapannya bernada dingin tapi tajam. Setajam tatapan matanya.


"Baik," jawabnya serempak.


Keempatnya lalu pergi dari sana secara bersamaan. Tidak ada yang tahu ke mana tujuan mereka selanjutnya. Yang jelas, hanya beberapa tarikan nafas saja, orang-orang yang menurut Jalak Putih tidak memiliki sopan santun itu sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.


Gagak Bodas dan Jalak Putih segera menghampiri Cakra Buana yang sedang santai menikmati ubi rebus bersama Pendekar Tangan Seribu di bale-bale bambu.


"Mohon maaf atas gangguan barusan," kata Gagak Bodas lalu duduk di bale-bale dan segera meminum tehnya yang sudah mulai dingin.


"Tidak paman, justru akulah yang haris meminta maaf. Sebab karena adanya aku di sini, ketenangan kalian terganggu," ujar Cakra Buana sedikit menyesal.


"Ah sudahlah, lupakan. Hanya masalah sepele. Toh orang-orang itu sudah pergi lagi," kata Jalak Putih lalu tertawa.

__ADS_1


"Ki dulur, kenapa ki dulur tidak membunuh mereka?" tanya Pendekar Tangan Seribu sedikit penasaran.


Sebelum menjawab, Gagak Bodas terlebih dahulu menyeruput lagi tehnya dan makan singkong rebus sedikit. Setelah tenang, barulah ia menjawabnya.


"Tidak perlu. Kami di ajarkan oleh guru supaya tidak gampang membunuh. Setiap manusia mempunyai kesempatan untuk mengubah dirinya. Dari yang jahat, jadi baik. Bukan sebaliknya. Setidaknya dengan memberikan sedikit pelajaran kepada seseorang, di mana kita tidak membunuh walaupun harusnya di bunuh, orang itu bisa berubah. Atau paling tidak, orang itu akan mengingat kebaikan kita ini," kata Gagak Bodas.


"Paman benar. Setiap orang mempunyai kesempatan dalam hidupnya. Tapi bagaimana kalau mereka tidak berubah?" tanya Cakra Buana.


"Itu hak mereka. Kita tidak bisa memaksanya. Dalam hidup ini, tidak bisa semua hal itu dipaksakan. Salah satunya hak seseorang," katanya.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu mengangguk tanda mengerti. Setidaknya mereka mendapatkan pelajaran obrolan singkat ini. Bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa dipaksakan.


"Ah iya, aku akan meneruskan obrolan kita yang tadi sempat terpotong," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Tapi sebelum itu, aku minta supaya kalian merahasiakan dulu hal ini. Sebab belum saatnya semua orang tahu siapa pemuda di sampingku ini," ucapnya.


Jalak Putih dan Gagak Bodas saling pandang, lalu mereka menganggukkan kepalanya.


"Baik. Aku berjanji akan merahasiakannya,"


"Terimakasih. Sebenarnya dia adalah orang yang sudah dinanti-nantikan oleh kita semua. Dialah orang terpilih yang akan menjadi pemimpin besar. Dia ini anak dari Prabu Bambang Sukma Saketi dan Ratu Dewi Sekar Arum. Jadi sebenarnya, dia adalah Pangeran Cakra Buana," kata Pendekar Tangan Seribu.


Seketika, ekspresi Gagak Bodas dan Jalak Putih berubah total. Wajah mereka nampak semakin menua beberapa tahun. Keduanya merasa petir menyambarnya. Apakah dia tidak salah dengar? Apakah ini bukan mimpi?


"A-apakah yang kau katakan ini bukan omong kosong?" tanya Gagak Bodas. Bibirnya bergetar saat bertanya.

__ADS_1


"Aku harap kalian tidak lupa bahwa aku bukanlah orang yang suka berbohong," kata Pendekar Tangan Seribu bernada serius.


"Akhirnya … akhirnya …"


Gagak Bodas dan Jalak Putih berseru kegirangan. Bahkan air mata mereka tiba-tiba keluar membasahi pipi. Kedua kakek tua itu lalu memegangi pundak Cakra Buana. Wajah mereka benar-benar bahagia. Wajah yang baru saja sempat menua, kini menjadi muda kembali. Senyum cerah terus menghiasi keduanya.


Cakra Buana hanya bisa tersenyum juga. Pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa dirinya banyak dinanti dan dirindukan oleh orang-orang. Terlebih mereka yang sudah tua.


"Sang Hyang Widhi memang benar-benar sengaja mempertemukan kita. Tidak menyesal aku menyepi dan terus berdoa selama ini untuk segera dipertemukan dengan penerus beliau –kedua orang tua Cakra Buana–. Ternyata semua doaku di jawab," kata Jalak Putih.


"Terimakasih paman sudah sudi mendoakanku. Aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi orang yang kalian inginkan," kata Cakra Buana merendah.


"Tentu pangeran. Kau harus tahu, kami dulunya termasuk pendekar yang mengabdi kepada orang tuamu bersama dengan guru. Semenjak malapetaka itu, kami bersembunyi dari dunia luar. Keluar hanya pada saat-saat tertentu. Waktu malapetaka itu terjadi, kau masih sangat kecil. Sekarang kau sudah dewasa dan segagah ini. Kami sungguh bangga," kata Gagak Bodas.


Cakra Buana semakin bingung. Ia hanya bisa tersenyum dan terus tersenyum. Dalam hati, ia juga memuji kesetiaan dua orang tua itu. Padahal peristiwa tersebut sudah sangat lama berlalu. Tapi ternyata mereka masih setia kepada ayah dan ibunya.


Mereka kemudian bicara hal lainnya. Termasuk bicara tentang rencana Kerajaan Tunggilis yang akan segera menyerang Kerajaan Kawasenan. Dengan semangat yang masih membara, Gagak Bodas dan Jalak Putih menyetujui rencana itu. Bahkan keduanya berencana untuk kembali pulang ke Kerajaan Tunggilis. Mereka akan ke istana secepatnya untuk bertemu dengan Prabu Katapangan Kresna.


Tak terasa hari semakin larut malam. Suara lolongan serigala di kedalaman hutan menggaung menimbulkan kengerian bagi binatang malam lainnya. Keempat orang itu memutuskan untuk segera beristirahat.


Gagak Bodas dan Jalak Putih mengangguk setuju. Karena mereka pun mulai ngantuk. Keempatnya masuk segera masuk lalu tidur untuk menyambut hari esok.


###


Catatan. Bagian awal pengisahan Cakra Buana sudah di revisi ya. Di mana kejadian hancurnya kerajaan orang tua Pendekar Maung Kulon, terjadi saat dirinya masih bayi.

__ADS_1


__ADS_2