Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Menunggu Kematian


__ADS_3

Begitu pedang pusaka itu patah, trisula lawan pun kembali bergerak. Tusukan maut sudah datang memberikan ancaman. Tusukan itu bahkan kebih cepat daripada sambaran kilat.


Masih untung bahwa Cakra Buana bisa lebih cepat. Tetapi tak urung juga pinggang bagian kirinya terkena sedikit tusukan trisula tadi.


"Brett …"


Suara kain robek terdengar. Cakra Buana langsung terpental ke belakang. Darah segar mengucur deras dari pinggang itu. Kain yang putih mulai berwarna merah darah. Rasa perih yang tiada tanding mulai menjalar ke seluruh tubuh.


Untuk sesaat dia terdiam dan menyalurkan hawa murni supaya darahnya berhenti.


"Apakah kau masih berniat untuk melanjutkan pertarungan ini? Kalau tidak kuat, lebih baik jangan. Belajar lagi dengan tekun, setelah merasa sanggup, baru kau cari kami lagi untuk membalas dendam. Asal kau tahu saja, seumur hidup, aku belum pernah mengampuni musuhku. Tetapi terhadap dirimu ada pengecualian," kata Dewa Trisula Perak sambil membersihkan pusakanya dari darah Cakra Buana.


"Selama aku masih bernafas, selama nyawa belum melayang, maka aku tidak akan menyerah kepada siapapun juga," jawab pemuda itu dengan suara menahan rasa kesal.


"Bocah keras kepala. Baik kalau begitu, kau telah menolak kebaikanku. Maka aku tidak akan memaksamu lagi. Bersiaplah untuk pergi ke neraka," ucap Dewa Trisula Perak penuh amarah.


Saat itu Cakra Buana sudah berhasil menghentikan pendarahan yang dia alami. Sehingga pemuda tersebut sudah bisa berdiri lagi walaupun masih harus menahan rasa sakit.


"Kita mulai pertarungan yang sesungguhnya," ucap Cakra Buana penuh amarah.


Dia berteriak sekencang mungkin. Kekuatan dahsyat segera terasa menyelimuti arena pertarungan. Ajian warisan dari gurunya akan dia keluarkan. Walaupun ajian ini tidak cocok apabila bertarung jarak dekat, tapi apa salahnya untuk mencoba?


"Ajian Curuk Dewa …"


Cakra Buana berteriak nyaring. Suaranya terdengar seperti guntur yang menggelora.


Lima jarinya langsung dia julurkan ke arah Dewa Trisula Perak dan Dewa Tapak Racun. Lima buah snar semerah darah keluar menyambar mereka. Kecepatannya sulit untuk dilukiskan.

__ADS_1


Kedua murid Penguasa Kegelapan hanya bisa untuk terus menghindari kedua serangan tersebut. Tetapi ke manapun mereka menghindar, sinar merah itu selalu mengejarnya.


"Jangan terus menghindar. Kau tangkis dengan trisula milikmu, dia masih belum sempurna menggunakan ajian tersebut. Jadi guru yakin kau mampu menahannya. Biarkan Tapak Racun yang mencoba menyerang lebih dekat," kata Penguasa Kegelapan kepada muridnya lewat ilmu mengirimkan suara.


Dewa Trisula Perak akhirnya mengerti. Saat itu juga dia langsung membagi posisi dengan Dewa Tapak Racun.


Sinar yang dikeluarkan oleh Cakra Buana semakin terlihat banyak. Pohon dan batu entah sudah berapa puluh yang hancur karena jurus itu. Beberapa tanah juga berlubang dibuatnya.


Tetapi kejadian selanjutnya membuat Cakra Buana semakin tercengang. Semua sinar yang dihasilkan dari Ajian Curuk Dewa ternyata dapat ditangkis oleh Dewa Trisula Perak. Ketika sinar itu meluncur, pria itu menahannya dengan trisula.


Bahkan begitu berbenturan, sinar tersebut seperti lenyap tanpa bekas. Hanya ledakan cahaya yang terlihat menyilaukan mata.


Untuk beberapa saat Cakra Buana tertegun. Namun selanjutnya dia masih tetap melancarkan Ajiann Curuk Dewa karena merasa penasaran.


Hanya saja hasilnya membuat dia semakin kecewa. Semua sinar itu tidak memberikan harapan untuk memenangkan pertarungan ini. Sedangkan tenaga dalamnya semakin lama semakin habis.


Sinar merah dan perak masih menyilaukan mata siapapun. Cakra Buana sendiri tidak tahu bahwa di depannya kini sudah ada Dewa Tapak Racun. Tanpa membuat waktu lagi, dia segera mengirimkan serangan tapak beracunnya ke dada Cakra Buana.


Cakra Buana telat menyadari kehadiran lawan. Dia baru sadar saat terasa ada serangkum menerjang ke arahnya. Sayang, semuanya sudah terlambat.


Pemuda itu terlempar lima belas langkah. Dia menabrak dinding goa. Darah segar kehitaman segera dimuntahkan keluar dari mulutnya. Wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat.


Racun!


Dia telah terkena racun paling ganas di dunia. Tak ada orang lain yang memiliki obatnya kecuali si pengguna itu sendiri yaitu Dewa Tapak Racun.


Dewa Trisula Perak berniat untuk segera menusukan trisulanya ke Cakra Buana. Tetapi tiba-tiba saja gurunya menahan.

__ADS_1


"Jangan bunuh langsung anak itu," cegah Penguasa Kegelapan.


"Tapi guru," katanya kurang puas.


"Bocah ini sudah terkena racun mematikan milikku. Dalam waktu dua hari saja, dia pasti sudah tewas dengan keadaan mengerikan. Tubuhnya akan membusuk dan burung pemakan bangkai langsung menjadikan santapan empuk baginya," ucap Dewa Tapak Racun.


Walaupun Dewa Trisula Perak dengan keputusan gurunya, tetapi mau tidak mau dia harus menuruti. Lagi pula, apa yang di ucapkan oleh Dewa Tapa Racun merupakan suatu kebenaran. Dia sangat percaya kepada saudara seperguruannya itu.


"Anak muda, aku sungguh menyesalkan perbuatanmu yang terbilang nekad itu. Aku memujimu dengan tulus, aku menyukaimu, andai kau mau menjadi muridku, tentu kau tidak akan berakhir seperti sekarang ini," ucap Penguasa Kegelapan menyesalkan.


Pada saat itu Cakra Buana masih bisa mendengar semua ucapan yang dibicarakan oleh guru dan murid tersebut. Walaupun tubuhnya sudah tidak mampu berdiri lagi, tetapi setidaknya dia masih tersadar.


"Te-terimakasih atas kebaikan tuan. Biss tewas di tangan muridmu merupakan kebanggaan bagiku. Kalau memang aku ditakdirkan aku tewas, maka apa boleh buat. Tetapi kalau ada suatu keajaiban, aku berjanji suatu saat nanti akan mencari kalian untuk kembali meminta petunjuk lewat pertarungan," kata Cakra Buana dengan susah payah.


"Bagus. Tidak salah aku mengagumi seorang pendekar muda sepertimu. Semoga saja keajabian itu akan datang kelak. Dan kami, tentu bersedia bertarung lagi denganmu. Asal dengan syarat, kau harus mengalami peningkatan jauh lebih hebat lagi," kata Penguasa Kegelapan.


"Ba-baik. Te-terimakasih atas kemuarah hati tuan sekalian," ujar Cakra Buana.


Selesai berkata demikian, kelima pendekar itu mengangguk. Tak lama mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Hanya dalam satu kedipan mata, kelima guru dan murid itu sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Sekarang di sana tidak ada siapa-siapa lagi kecuali seorang pemuda yang tinggal menunggu waktu kematiannya.


Sisa pertarungan itu meninggalkan kerusakan yang lumayan. Pohon tumbang. Tanah berlubang. Dan batu hancur berkeping-keping masih mengepulkan debunya ke udara.


Cakra Buana tidak menyesal bertarungan Dewa Tapak Racun dan Dewa Trisula Perak. Yang dia sesalkan adalah kenapa dirinya harus berkahir mengenaskan seperti sekarang ini?


Dengan para pendekar belum dia balaskan. Dendam kematian Ling Zhi juga sama, bahkan barusan dia sudah bertarung dengan pelaku pembunuhannya. Dua dendam itu belum terbalas, apalagi tentang tiga pusaka legenda?

__ADS_1


Mengingat semua ini, Cakra Buana hanya bisa menghela nafas menerima takdirnya. Tugasnya masih banyak yang harus diselesaikan. Tetapi apa daya, kematian sebentar lagi akan datang menghampirinya.


Dengan susah payah, dia berjalan seperti ular menggunakan badannya menuju ke dalam goa. Jarak goa keluar padahal hanya beberapa tombak. Tapi baginya saat ini, jarak tersebut seperti ribuan bahkan puluhan ribu tombak jauhnya.


__ADS_2