Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Selamat Datang di Kerajaan Tunggilis


__ADS_3

Gada Maut dan dua rekannya sudah tiba di istana Kerajaan Kawasenan. Ketiganya segera memasuki istana lalu ke ruangan tabib untuk mengobati luka mereka terlebih dahulu.


Setelah selesai mengobati luka dan menghimpun tenaga dalam yang telah terbuang, ketiga pendekar tua itu segera menuju ke ruangan utama Kerajaan, tempat singgasana Prabu Ajiraga.


Di ruangan itu sudah ada sepuluh pendekar yang tadi bertarung melawan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu, karena yang satu tewas. Wajah mereka semuanya murung. Kekesalan masih nampak di wajah mereka.


Prabu Ajiraga sendiri terdiam. Raja itu masih kesal kepada sepuluh pendekar karena di anggap tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.


"Hormat kepada Yang Mulia Raja. Semoga bahagia selalu," kata Gada Maut memberikan salam hormat mewakili yang lainnya.


Prabu Ajiraga tidak menjawab. Bahkan mengangguk pun tidak. Mungkin karena dia sudah tahu jawabannya.


"Mohon maaf Yang Mulia, kami …, kami tidak dapat membawa kepala Cakra Buana," ucap Bambu Hijau agak gugup.


"Bodoh. Kalian memang bodoh. Menangkap bocah kemarin sore saja tidak becus," Prabu Ajiraga berkata dengan nada yang tinggi. Kemarahannya meledak lagi.


"Tapi Yang Mulia, mereka dibantu oleh Gagak Bodas dan Jalak Putih," kata Golok Pembelah Kepala menerangkan.


"Kenapa tidak kalian bunuh juga mereka? Kenapa?" ia semakin marah saat mendengar bahwa dua saudara seperguruan itu membantu musuhnya.


"Kami, kami tidak sanggup melawan mereka Yang Mulia," kata Gada Maut.


"Bahkan kami terluka," Bambu Hijau menambahkan.


"Terserah. Kenapa kalian tidak mati saja sekalian?"


Semua orang terdiam kembali. Tak ada yang berani bicara kalau raja sedang marah. Beberapa saat kemudian, Prabu Ajiraga bertanya kepada penasihatnya.


"Paman, menurutmu rencana apa yang harus kita lakukan?" tanya Prabu Ajiraga kepada Wahyu Pamungkas.

__ADS_1


"Kalau sudah seperti ini, aku yakin masalahnya akan menjadi rumit Yang Mulia. Pihak Kerajaan Tunggilis pasti tidak terima jika sampai mereka mendapatkan laporan bahwa utusannya mendapatkan perlakuan buruk. Walaupun memang niat mereka mungkin ingin mencari masalah supaya bisa melangsungkan peperangan, tapi menurutku saat ini bukanlah waktu yang tepat," kata Wahyu Pamungkas.


"Kalau begitu, apa hang harus kita lakukan?"


"Untuk sementara kita diam dulu. Lebih baik kirim beberapa orang telik sandi untuk mencari informasi di Kerajaan Tunggilis. Supaya kita bisa menentukan langkah selanjutnya,"


"Baik kalau begitu. Aku ikuti saranmu. Segera perintahkan tiga pendekar pilihan lainnya untuk pergi ke sana. Kali ini jangan sampai gagal lagi, cari pendekar yang mempunyai kepandaian pilih tanding. Atau kalau perlu, tanpa tanding," ucap Prabu Ajiraga.


###


Tiga hari sudah berlalu. Cakra Buana dan yang lainnya sebentar lagi akan tiba di Kerajaan Tunggilis. Mereka tidak mendapatkan halangan selama perjalanannya. Saat ini empat pendekar itu sedang berhenti di sebuah kedai makan.


Sejak kemarin perut mereka belum di isi makanan apapun. Bahkan istirahat pun hanya seperlunya saja. Sebab menurut Gagak Bodas, mereka harus bisa sampai sesegera mungkin karena bisa jadi pihak Kerajaan Kawasenan mengirimkan pendekar untuk mengejarnya.


###


Di taman khayangan, Ling Zhi sedang duduk seorang diri. Semenjak perginya Cakra Buana, ia memang sering datang ke taman ini sekedar untuk menenangkan diri.


Ling Zhi tahu, kekasihnya itu pergi karena dia tidak ingin dirinya ikut. Karena mengingat bahwa saat itu Ling Zhi baru sembuh dari lukanya. Ia juga faham bahwa Cakra Buana tidak mau menempatkan dirinya dalam keadaan bahaya. Tapi yang dia kesalkan, kenapa perginya tidak bilang?


Selama kepergian Cakra Buana, Ling Zhi sering menyendiri atau melatih jurus-jurus silatnya. Ia melampiaskan semua kekesalannya dalam berlatih ilmu silat. Ling Zhi ingin bertambah kuat supaya tidak menjadi beban Cakra Buana di kemudian hari. Kalau sudah begitu, ia yakin bahwa Cakra Buana ke mana pun akan mengajak dirinya.


"Kakang, kapan kau akan kembali? Sudah seminggu lebih kau pergi. Tidak ada kabar juga, apakah kau tidak tahu bahwa di sini aku mengkhawatirkanmu? Cepatlah pulang kakang," Ling Zhi bergumam sendiri sambil memandangi kolam ikan yang ada di sana.


Kalau rindu sudah datang, Ling Zhi akan berhenti melakukan kegiatan apa pun. Dia pasti lebih memilih untuk menyendiri di Taman Khayangan ini. Karena di sini ia bisa melihat ikan yang berenang bebas, air terjun buatan, atau hal lainnya yang bisa mengurangi kerinduannya kepada Cakra Buana.


Rasa rindu kepada seseorang memang begitu. Bisa di sebut bahwa ia kejam. Karena kerinduan bisa datang kapan saja tanpa mengenal batas waktu.


Hari sudah senja saat Cakra Buana dan tiga lainnya sampai di gerbang Kerajaan Tunggilis. Para penjaga gerbang langsung memberikan hormat mereka begitu mengetahui siapa yang datang.

__ADS_1


Tanpa menunda waktu, keempatnya segera menuju ke dalam Istana Kerajaan Tunggilis.


Di ruangan utama Kerajaan Tunggilis, ada beberapa orang pendekar termasuk Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang lumayan penting. Tapi entah apa itu.


Cakra Buana dan yang lain segera masuk ke ruangan tersebut sambil memberikan salamnya.


"Sampurasun …, salam hormat untuk Baginda Raja dan para paman yang lain," kata Cakra Buana diikuti yang lainnya.


"Rampes, panjang umur kau pangeran. Aku sedang membicarakan dirimu dan Pendekar Tangan Seribu bersama yang lainnya. Kalian pergi terlalu lama sehingga membuat kami semua khawatir. Kalau sampai besok kau belum pulang juga, terpaksa aku akan mengutus beberapa orang ke sana untuk mencarimu. Tapi untunglah bahwa kau sudah pulang lebih dulu," kata Prabu Katapangan merasa senang karena keponakannya sudah kembali.


"Maafkan aku Baginda Raja. Tidak ada maksud untuk membuat Baginda Raja dan yang lainnya khawatir," kata Cakra Buana.


"Sudahlah lupakan. Yang penting kau sudah pulang sekarang. Pangeran, siapa dua orang yang bersamamu itu?" tanya Prabu Katapangan sambil melirik Gagak Bodas dan Jalak Putih.


"Aih, aku lupa. Perkenalkan Baginda, yang ini bernama paman Gagak Bodas, dan ini paman Jalak Putih," ucap Cakra Buana memperkenalkan keduanya.


Gagak Bodas dan Jalak Putih kemudian memberikan hormat kembali.


"Selamat datang di Kerajaan Tunggilis, sebuah kehormatan besar menerima kedatangan kalian," kata Prabu Katapangan.


"Terimakasih, Baginda Raja terlalu berlebihan," kata Jalak Putih.


"Apakah Baginda Raja sudah lupa kepada kami berdua?" tanya Gagak Bodas tiba-tiba. Ia sengaja mengatakan hal tersebut karena memang dirinya kenal kepada Prabu Katapangan sebelum dia menjadi seorang raja.


"Hemm …" sang raja termenung sejenak memandang jauh. Dia seperti tidak asing denganmu nama kedua pendekar tersebut.


"Aihh, aku ingat sekarang. Aku ingat. Benarkah ini paman Gagak Bodas dan paman Jalak Putih, murid Eyang Resi Bungbulang?"


"Benar Baginda Raja, beliau memang guru kami," kata Jalak Putih.

__ADS_1


Seketika itu juga Prabu Katapangan turun dari kursi singgasananya, ia menghampiri Jalak Putih dan Gagak Bodas lalu memeluknya bergantian.


Entah apa yang telah terjadi di masa lalu. Yang jelas, ketiga orang itu nampak bahagia sekali.


__ADS_2