
"Jadi kau akan tetap memaksakan diri untuk pergi ke medan perang?" tanya Gagak Bodas yang sudah berubah menjadi dingin pula.
Di sisinya ada Jalak Putih, melihat gelagat saudara seperguruannya ini, dia pun menjadi tegang. Sebab Jalak Putih sangat paham bagaimana sifat asli Gagak Bodas.
"Tentu,"
"Apapun yang terjadi?"
"Ya, apapun yang terjadi,"
"Termasuk jika aku mengajukan syarat bahwa kau harus bertarung denganku terlebih dahulu sebelum ke medan perang?"
Cakra Buana tertegun sebentar. Dia tidak takut kepada Gagak Bodas. Hanya saja dia merasa segan dan hormat. Selain itu, Cakra Buana juga pernah diselamatkan dari kematian olehnya.
Akan tetapi, keinginan untuk terjun ke medan perang lebih besar daripada gunung sekalipun. Maka setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Cakra Buana segera menjawab.
"Tentu. Bukan bermaksud aku mengurangi rasa hormat terhadap paman, hanya saja, rasa ingin turun tangan dalam perang ini lebih besar daripada apapun. Apalagi, kalian semua mempercayakan aku untuk menjadi seorang pemimpin besar," kata Cakra Buana dengan mantap.
"Bagus, bagus, kalau begitu caranya, terpaksa kita harus bertarung. Jika kau bisa mengalahkanku, maka aku izinkan kau untuk ikut berperang. Tapi jika tidak, jangan harap," kata Gagak Bodas.
Suasana menjadi lebih tegang. Semua orang tidak menyangka bahwa kejadian seperti ini akan terjadi di saat yang tidak tepat. Prabu Katapangan Kresna memandangi dua orang itu silih berganti. Dia sendiri bingung harus berkata apa.
"Kakang, apakah tidak ada cara lain untuk memutuskan hal ini?" tanya Prabu Katapangan kepada Gagak Bodas dengan wajah gelisah.
"Tidak ada rai. Pangeran tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Aku juga berpegang erat pada maksud dan tujuanku. Aku bukan melarang dia, hanya saja aku mengkhawatirkan keselamatannya. Aku melakukan ini semua demi keselamatan dia sendiri," kata Gagak Bodas.
"Haihhh … aku harus bagaimana sekarang?" Prabu Katapangan berpikir sebentar kemudian dia melanjutkan, "Baiklah, kalau kalian memang tetap akan bertarung, tapi aku akan mengajukan satu syarat,"
"Silahkan rai," kata Gagak Bodas.
"Saat bertarung nanti, kalian jangan sampai saling melukai, apalagi sampai membuat sesuatu yang berakibat fatal. Ingat, pertarungan ini hanya menentukan Cakra Buana harus ikut berperang atau tidak. Bukan pertarungan karena dendam. Hanya saja, karena semuanya tidak mau mengalah, maka terpaksa cara ini menjadi jalan keluarnya," ucap Prabu Katapangan penuh wibawa.
"Baik, aku setuju," kata Cakra Buana.
"Aku juga," kata Gagak Bodas.
Setelah keduanya berkata demikian, mereka segera melompat ke tengah-tengah ruangan yang kosong. Semua orang yang ada di sana, menjadi saksi pertarungan ini.
"Silahkan paman mulai lebih dulu," ucap Cakra Buana tenang.
__ADS_1
"Baik, mohon terima seranganku ini," kata Gagak Bodas lalu memulai serangannya.
Selesai berkata demikian, Gagak Bodas menghentakkan kakinya untuk memulai serangan pertama kepada Cakra Buana. Tubuhnya meluncur deras, dua tangannya di julurkan untuk memberikan pukulan dan cengkraman.
Cakra Buana sudah tahu bagaimana kelihaian kakek tua ini, maka dia pun tidak berani main-main.
Begitu jaraknya sudah mendekat, Cakra Buana mengambil tindakan. Tubuhnya di miringkan lalu tangan kanannya memapak serangan Gagak Bodas. Tubuh kakek tua itu berputar satu kali di udara.
Tapi dengan cepat, dia kemudian mengirimkan serangan lagi berupa sodokan yang mengarah ke dada Cakra Buana. Tangan kiri Cakra Buana bergerak menahan sodokan itu. Kemudian, tangan kanannya balas memberikan serangan mengarah ke pundak kiri.
Baru berjalan sesaat saja, pertarungan itu sudah berhasil membuat orang-orang seisi ruangan tegang. Pertarungan terhenti sejenak, tapi dengan gerakan tiba-tiba, Cakra Buana sudah mengirimkan serangannya.
Kedua pendekar itu tidak menggunakan tenaga dalam besar pertarungan ini, namun tetap saja angin pukulan dan tendangan yang mereka lancarkan, mampu mengibarkan rambut dan baju orang-orang di sekitarnya.
Gagak Bodas mengubah gaya serangannya. Kali ini dia memberikan serangan beruntun mengincar ke berbagai jalan darah Cakra Buana. Namun gerakan Cakra Buana juga tidak lambat, sehingga dia masih bisa menahan semua gempuran yang dilancarkan oleh Gagak Bodas.
Pertarungan sudah berjalan belasan jurus. Kedua belah pihak sama-sama kuat, keduanya mengeluarkan jurus-jurus jarak dekat karena tidak ingin melukai lawan. Hanya perlu mengaku menyerah saja, pertarungan akan dianggap selesai.
Saat ini giliran Pendekar Maung Kulon yang melancarkan serangan. Kedua tangannya memberikan serangan mencengkeram mengincar ke leher dan ulu hati Gagak Bodas.
Kakek tua itu sudah bersiap untuk menerima serangan tersebut, tapi tanpa diduga, Cakra Buana malah menarik kembali kedua tangannya dan berniat mencengkram kedua pergelangan tangan Gagak Bodas.
Untuk sesaat dia tersentak, tapi tak lama dia pun mengubah gaya bertahannya.
"Wuttt …"
Serangan Gagak Bodas datang membawa angin menderu-deru. Desiran angin itu cukup besar dan membawa hawa dingin.
Sekarang giliran Cakra Buana yang kaget. Dia menarik tubuhnya ke belakang lalu sedikir dimiringkan.
Pukulan Gagak Bodas hanya lewat dua buku jari di depan wajahnya. Begitu serangan gagal, Gagak Bodas menekuk pergelangan tangan lalu secepat kilat menyerang dengan totokan mengarah ke leher samping Cakra Buana.
Gerakan ini berjalan sangat cepat. Kalau orang lain, mungkin tidak bisa menahan serangan dadakan ini. Tapi tidak dengan Cakra Buana.
Begitu tangan Gagak Bodas hendak menotok lehernya, seketika itu juga kepala Cakra Buana berputar mengikuti arah putaran lengan lawan.
Tangan kanannya lalu menyodok perut Gagak Bodas.
"Bukkk …"
__ADS_1
Berhasil!
Cakra Buana berhasil memukul mundur Gagak Bodas. Tapi tak ayal juga, Cakra Buana terdorong mundur hingga terhuyung dua kali akibat tapak tangan kiri Gagak Bodas yang mengenai bahu kirinya.
Kedua belah pihak sama-sama terpukul mundur. Pertarungan belum dianggap selesai. Maka setelah mengambil nafas, keduanya kembali menyerang dengan gerakan lebih cepat lagi.
Tubuh kedua pendekar tersebut berputar memberikan serangan masing-masing. Suara tangan dan kaki yang berbenturan mulai terdengar lagi. Gulungan angin menutupi pertarungan mereka.
Suara angin menderu mewarnai pertarungan ini. Beberapa saat, keduanya terus beradu serangan tanpa mau mundur. Cakra Buana dan Gagak Bodas sama-sama tetap kokoh dalam pendiriannya.
Akan tetapi, gulungan angin dan suara menderu itu segera terhenti setelah suara teriakan salah satu dari mereka terdengar cukup kencang.
"Kena …"
"Bukkk …"
"Heughh …"
Suara itu ternyata suara Cakra Buana. Dan yang terpukul mundur, adalah Gagak Bodas. Dia keluar dari gulungan angin tadi sambil memegangi pundak kirinya. Wajahnya meringis menahan sakit.
Dia hanya bisa tersenyum pahit sambil menghampiri Cakra Buana.
"Terimakasih paman sudah mau mengalah padaku," kata Cakra Buana.
"Kau memang hebat pangeran. Kalau sudah begini, maka akupun tidak bisa melarangmu lagi," ucap Gagak Bodas tersenyum pahit.
"Terimakasih. Aku berjanji tidak akan mengecewakan paman," katanya lalu memeluk orang tua itu.
Pertarungan penentuan selesai. Mungkin memang sudah takdirnya seperti itu.
Pada akhirnya, Cakra Buana akan terjun dalam perang nanti. Bahkan dia sendiri berkata ingin menjadi garda terdepan.
Tidak ada yang berani menolak lagi saat ini. Selain itu, semua pendekar yang ada di sana juga mengetahui bagaimana kepandaian Cakra Buana.
###
Kalau pertarungannya di tulis detail dan berbeda dengan cerita silat yang sekarang ramai, maaf ya. Karena sudah author jelaskan bahwa ini cersil masuk dalam genre wuxia.
Seperti cerita silat zaman dahulu, di mana setiap pertarungan suka detail. Dan menurut author, itu lebih seru wkwk.
__ADS_1
Tapi kembali ke selera juga si. Kalau pembaca juga pernah baca cersil jadul, pasti paham maksud author.
Oke gengs, see you☕