
"Gila!!! Bocah ini benar-benar bukan bocah biasa. Dia sama sekali tidak bisa di anggap enteng. Bahkan dia sanggup menahan seranganku," Tengkorak Muka Putih mengumpat kesal.
Kejadian seperti barusan, tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bahkan mimpi pun tidak, bagaimana bisa ada seorang pendekar muda mampu menahan serangan seorang datuk rimba hijau. Tapi mau bagaimanapun juga, Tengkorak Muka Putih tetap percaya bahwa semua ini bukanlah mimpi.
"Bocah keparat. Curut buduk, mati kau …"
"Wuttt …"
Tengkorak Muka Putih melompat kembali. Dia berniat untuk menyerang Cakra Buana dengan jurus jarak dekatnya yang sulit dihindari. Cakra Buana yang masih mencoba membenarkan posisi, terlihat sedikit terkejut dengan kecepatan datuk itu.
Tapi karena Cakra Buana sudah nekad, maka dia tidak mau lagi berpikir panjang. Mati atau hidup, urusan belakangan. Yang penting sekarang, dia harus melawan Tengkorak Muka Putih semaksimal mungkin.
"Wuttt …"
"Bukkk …"
Tangan Cakra Buana bertemu dengan tangan Tengkorak Muka Putih. Pendekar Maung Kulon itu merasakan tubuhnya bergetar dengan hebat. Ada hawa panas yang merasuki tubuhnya. buru-buru Cakra Buana menyalurkan hawa murni untuk menetralisir hawa panas.
Kini Cakra Buana dan Tengkorak Muka Putih sudah kembali melanjutkan pertarungan. Dua pendekar itu sudah saling pukul dan saling tendang. Sesekali Cakra Buana menyerang Tengkorak Muka Putih dengan jurus-jurus jarak dekat andalannya.
Tapi yang paling dominan tentu saja di Tengkorak Muka Putih. Bahkan ketika dirinya diserang pun, datuk rimba hijau itu malah menyerang balik lawan. Menggempur Cakra Buana hingga kedudukan berbalik.
Pertarungan mereka terus berjalan. Semakin lama semakin menegangkan. Jurus-jurus berbahaya sudah mereka keluarkan masing-masing. Adu tenaga luar dan dalam sudah tidak terhitung lagi berapa kali terjadi.
Cakra Buana sudah merasa kelelahan. Tenaga dalamnya semakin lama semakin menipis. Berbeda dengan Tengkorak Muka Putih, meskipun sisa tenaga dalamnya terbilang masih banyak, tapi nafasnya sudah tidak karuan. Tubuhnya sudah tak kuasa berlama-lama lagi untuk bertarung.
Dua pihak mengalami hal yang sama, mereka sudah amat lelah. Hampir satu jam bertarung, tapi belum ada yang tewas di antara keduanya.
__ADS_1
"Kalau seperti ini caranya, aku tidak akan bisa membunuh bocah keparat itu. Hemmm … baiklah, mungkin ini saatnya untuk memperlihatkan kehebatan Tengkorak Muka Putih yang terkenal kejam. Biar kau ****** sekalian," gumamnya sendiri sambil menyalurkan tenaga dalam yang tersisa.
Udara bagaikan tersedot. Angin besar menerpa Tengkorak Muka Putih. Daun-daun kering yang ada didekatnya, berputar-putar hingga membentuk sebuah pusaran. Mirip pusaran angin topan. Semakin lama, pusaran itu semakin cepat dan membesar. Pusaran itu mendekat ke arah Tengkorak Muka Putih.
"Ajian Iblis Tengkorak …"
"Wuttt …"
Bagaikan sebuah ilusi, tempat di sekitar arena pertarungan antara Cakra Buana dam Tengkorak Muka Putih mendadak gelap gulita. Suasana mencekam, suara-suara iblis terdengar menakutkan. Terngiang-ngiang di telinga Pendekar Maung Kulon.
Di belakang Tengkorak Muka Putih, mendadak muncul bayangan tengkorak yang amat besar. Warnanya putih pucat. Inilah ajian terkuat salah satu datuk rimba hijau itu. Dan karena ajian ini pula, dirinya diberi julukan Tengkorak Muka Putih.
Cakra Buana hampir saja terkena ilusi yang amat sangat berbahaya ini. Tapi untungnya dia bukanlah pendekar muda kaleng-kaleng. Dia merupakan murid seorang pendekar nomor satu pada zamannya. Maka secepat yang ia bisa, Cakra Buana pun mengeluarkan sebuah ajian yang tak kalah digdayanya.
Ajian ini bahkan merupakan ajian pamungkas gurunya sendiri, Ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Konon katanya, jika dia sudah mencapai taraf kesempurnaan dalam ilmu kanuragan seperti Ki Wayang sendiri, maka bisa dipastikan tidak akan ada yang mampu untuk menahannya. Jika pun ada, mungkin bisa dihitung dengan sebalah jari tangan.
"Ajian Curuk Dewa …"
"Wuttt …"
Cakra Buana langsung menunjukkan telunjuk kanannya ke Tengkorak Muka Putih. Secarik sinar keluar lalu melesat dengan sangat cepat sekali. Sebenarnya dia tidak yakin bisa membunuh datuk itu, tapi karena tidak ada cara lain lagi, apa boleh buat. Kekuatan ajian itu menjadi berlipat ganda, hal ini terjadi karena Cakra Buana mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Bumi bergetar hebat. Langit seperti berguncang, suara gemuruh menggelegar. Pertarungan yang lain sampai terhenti ketika menyaksikan keanehan alam ini. Tengkorak Muka Putih pun terkejut. Hatinya langsung bergetar hebat saat melihat ada sinar putih yang melesat dengan kecepatan cahaya menuju ke arahnya.
"Blarrr …"
"Ahhh …"
__ADS_1
Belum sempat melakukan apa-apa, tahu-tahu tubuh Tengkorak Muka Putih langsung terpental hingga dua puluh tombak jauhnya. Badannya meluruk secepat anak panah yang di lepaskan sekuat tenaga.
Disaat seperti itu, sebenarnya nyawa Tengkorak Muka Putih sudah lepas dari raganya. Hanya saja tidak ada yang menyadari hal ini, maka ketika tubuhnya menabrak sebuah batu besar, tubuhnya langsung hancur. Darah muncrat kemana-mana. Tidak ada yang bisa menyaksikan hal tersebut dengan jelas kecuali Cakra Buana dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
Bahkan tokoh tua itu bengong melihat kesaktian Cakra Buana. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pendekar semuda Cakra Buana, mampu membunuh seorang datuk rimba hijau. Bahkan terhitung lebih daripada membunuh.
Setelah semua yang ada di sana sadar dengan apa yang terjadi, suasana di kembali hening. Tidak ada yang berani buka suara. Cakra Buana pun hanya terdiam mematung, dia sendiri juga tidak menyangka bahwa Ajian Curuk Dewa sedahsyat barusan. Padahal dia menggunakannya belum sempurna sama sekali, tidak bisa dibayangkan jika ia sudah memiliki tenaga dalam setingkat gurunya.
Semua pendekar kembali berkumpul dengan pihaknya masing-masing. Mereka sama-sama terluka. Hanya Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat saja yang terlihat tidak ada luka di tubuhnya.
Sedangkan Raja Sembilan Nyawa, jangan di tanya lagi. Baik luka luar maupun luka dalam, sudah ia terima. Bahkan sangat parah. Jika bukan dirinya, pastilah sudah tewas. Untung saja dia orangnya. Agaknya julukan Raja Sembilan Nyawa memang tidak terlalu berlebihan.
"Satu rekan kalian sudah tewas dengan cara mengenaskan. Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa melakukan itu, sekarang apa yang akan kalian lakukan?" tanya Eyang Rembang kepada tiga datuk rimba hijau yang tersisa.
Tidak ada jawaban yang terdengar keluar dari mulut mereka. Ketiganya hanya saling pandang saja. Kekesalan dan dendam terpampang jelas di mata mereka. Tapi tidak berani di ungkapkan.
"Aku tanya, kenapa kalian diam? Jawab saja, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Jika ingin melanjutkan pertarungan lagi, aku tidak keberatan. Hanya saja aku ingatkan, entah bakal ada yang selamat atau tidak di antara kalian ini,"
Kembali tidak terdengar jawaban. Suara Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat, benar-benar mengandung tenaga dalam yang sangat mumpuni hingga membuat lawan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Baiklah jika kalian tidak mau menjawab. Sekarang pegilah,"
"Saciduh Metu Saucap Nyata (Satu air liur keluar, satu ucap nyata kenyataan) …"
"Wuttt …"
Eyang Rembang mengibaskan tangan kannua ke arah tiga datuk rimba hijau. Meskipun kibasan itu nampak perlahan, tapi akibat yang ditimbulkan sangat hebat. Ketiganya langsung melayang entah kemana. Bahkan pada saat sambil melayang, ketiganya tiba-tiba muntah darah. Mereka mendadak mendapatkan luka dalam yang sangat parah.
__ADS_1
Datuk dunia persilatan yang dikenal sangat digdaya, kini sudah berubah seperti seekor semut di hadapan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
Memang, Ajian pamungkas Eyang Rembang yang dia berinama Ajian Saciduh Metu Saucap Nyata, adalah sebuah ajian yang sangat sulit ditahan. Sebab ajian ini adalah salah satu ajian terkuat yang pernah ada di bumi Pasundan setelah Ajian Curuk Dewa.